NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Dalam Dekapan Gelap

Aisha tidak tahu berapa lama ia tidak sadarkan diri. Yang ia ingat hanyalah benturan keras, suara kaca pecah, lalu semuanya menjadi gelap. Ketika ia membuka mata, langit di atasnya tampak kelabu—bukan karena mendung, tapi karena kabut tipis khas pagi hari di pedesaan Bali.

Kepalanya berdenyut hebat. Ia mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Perlahan, ia menggerakkan jari-jari tangannya, lalu tangannya, lalu lengannya. Semuanya masih berfungsi. Tidak ada rasa sakit yang luar biasa selain di kepala dan leher.

Ia menoleh ke samping. Di sebelahnya, Arka terbaring dengan wajah penuh luka. Keningnya berdarah, lengan bajunya robek, memperlihatkan memar di sana-sini. Tapi dadanya masih naik turun. Ia masih bernapas.

“Arka,” bisik Aisha, suaranya serak. “Arka, bangun.”

Arka tidak bergerak. Aisha merayap mendekat, jari-jarinya meraba leher Arka untuk memeriksa denyut nadi. Masih ada. Lemah, tapi masih ada.

Aisha menghela napas lega. Lalu ia teringat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak.

Baskara.

Ia menoleh ke kursi belakang. Mobil terbalik di sisi kanan, membuat kursi belakang berada di posisi yang lebih tinggi. Tapi Baskara tidak ada di sana.

“BASKARA!” teriak Aisha, suaranya memecah kesunyian pagi.

Tidak ada jawaban. Hanya suara burung-burung yang mulai berkicau di kejauhan.

Aisha meronta, berusaha melepaskan diri dari sabuk pengaman yang masih mengikatnya. Jari-jarinya gemetar hebat saat membuka kunci sabuk itu. Begitu lepas, ia jatuh ke sisi mobil yang lain, berbenturan dengan Arka.

Ia merangkak keluar melalui jendela yang pecah. Kaca-kaca kecil melukai telapak tangannya, tapi ia tidak merasakan apa-apa. Yang ia rasakan hanyalah panik yang luar biasa.

“BASKARA! NAK, KAMU DI MANA?”

Mobil itu terbalik di sawah yang becek. Ban masih berputar pelan, mesin mengeluarkan asap tipis. Aisha melihat sekeliling. Tidak ada Baskara. Tidak ada Tono juga.

Kemudian ia mendengar suara tangis. Tangis anak kecil, dari balik semak-semak di pinggir sawah.

Aisha berlari. Kakinya terasa goyah, tubuhnya masih pusing, tapi ia berlari. Ia menerjang lumpur, rerumputan, dan duri. Ia tidak peduli.

Di balik semak-semak, Baskara duduk bersandar pada pohon kelapa. Wajahnya penuh lumpur dan air mata, tapi tidak ada luka serius. Tangannya memegangi lengan kirinya yang terlihat sedikit bengkok.

“Bu... sakit, Bu...” isak Baskara.

Aisha berlutut di hadapan anaknya, memeriksa lengan Baskara dengan hati-hati. Tangan kanannya menyeka lumpur dari wajah anak itu.

“Di mana sakitnya, Nak? Tangan?”

Baskara mengangguk sambil terisak. “Aku jatuh dari mobil. Waktu mobilnya jungkir balik, aku terlempar.”

Aisha memeluk Baskara dengan hati-hati, berusaha tidak menyentuh lengan kirinya. “Ibu di sini, Nak. Ibu tidak akan ke mana-mana. Kita akan cari pertolongan.”

“Ayah mana, Bu? Om Tono mana?”

“Ayah masih di mobil. Om Tono... Ibu belum lihat. Tapi kita akan cari mereka. Kamu bisa jalan?”

Baskara mengangguk. Aisha membantunya berdiri. Lengan Baskara tergantung lemas—mungkin patah, mungkin terkilir parah. Aisha tidak punya waktu untuk mendiagnosis. Yang penting, anak itu masih hidup.

Mereka berjalan kembali ke mobil. Di tengah jalan, Aisha melihat Tono terbaring di sawah, beberapa meter dari mobil. Pria itu tidak bergerak. Aisha menghampiri, memeriksa denyut nadinya. Masih ada, tapi lemah. Wajah Tono pucat, mungkin karena kehilangan banyak darah dari luka di kepalanya.

“Om Tono! Om!” panggil Baskara, menangis.

Tono tidak merespons. Aisha menenangkan Baskara, lalu kembali ke mobil untuk memeriksa Arka.

Arka masih tidak sadar. Tapi napasnya lebih stabil dari sebelumnya. Aisha mengambil ponsel Arka dari sakunya—layarnya retak, tapi masih menyala. Tidak ada sinyal. Di tengah sawah terpencil ini, sinyal ponsel adalah barang mewah.

Aisha memejamkan mata, berusaha berpikir jernih. Ia tidak bisa membawa Baskara dan Tono dan Arka sendirian. Ia butuh bantuan. Tapi di mana? Desa terdekat mungkin berjarak beberapa kilometer. Jika ia meninggalkan mereka, siapa yang akan menjaga?

“Bu, aku takut,” bisik Baskara, bersembunyi di balik tubuh Aisha.

“Tidak usah takut, Nak. Ibu di sini.”

Dari kejauhan, Aisha mendengar suara mesin. Mesin mobil, pelan tapi mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang datang? Mia? Atau tim penyelamat?

Ia membawa Baskara ke belakang mobil, menyuruh anak itu bersembunyi. “Diam di sini, Nak. Jangan bersuara. Ibu akan lihat siapa yang datang.”

Baskara mengangguk, matanya penuh ketakutan.

Aisha merangkak ke pinggir jalan, mengintip dari balik semak-semak. Sebuah mobil jeep berwarna hijau melaju pelan di jalan desa itu. Mobil itu berhenti tidak jauh dari lokasi kecelakaan.

Dua orang turun. Pria dan wanita. Pria itu mengenakan seragam polisi, wanita itu berbaju putih dengan jaket tebal. Mereka berdua menghampiri mobil yang terbalik.

“Ada orang di sini!” teriak polisi itu. “Cepat panggil ambulan!”

Aisha berdiri, melambaikan tangan. “Kami di sini! Tolong!”

Polisi itu berlari menghampiri. “Ibu baik-baik saja? Ada yang luka?”

“Anak saya patah tangan, suami saya tidak sadar, dan teman kami juga tidak sadar. Tolong, kami butuh pertolongan segera.”

Polisi itu mengambil radio komunikasinya, memanggil bantuan. Wanita berbaju putih—seorang perawat dari puskesmas setempat—mulai memeriksa Arka dan Tono.

“Denyut nadi masih ada, tapi lemah. Kita harus segera evakuasi,” kata perawat itu.

Aisha membawa Baskara keluar dari persembunyiannya. Perawat itu segera memeriksa lengan Baskara. “Patah, tapi tidak terlalu parah. Kita akan bidai dulu.”

Dalam waktu dua puluh menit, sebuah ambulan tiba. Arka dan Tono dibawa ke dalam, sementara Aisha dan Baskara mengikuti dengan mobil polisi. Baskara menangis pelukan di pangkuan Aisha, menggenggam tangan ibunya erat-erat.

“Bu, Ayah nggak akan mati, kan?” bisiknya.

“Tidak, Nak. Ayah kuat. Ayah akan baik-baik saja.”

Aisha mengecup rambut Baskara. Matanya menatap ke luar jendela, melihat sawah-sawah yang berlalu cepat. Pikirannya kacau. Mia masih di luar sana. Mia mungkin masih mengejar mereka. Dan sekarang mereka berada di rumah sakit—tempat yang paling rentan.

---

Rumah sakit kecil di kota Tabanan terasa sesak meski hanya beberapa pasien. Aisha duduk di kursi plastik di lorong, menunggu kabar dari ruang UGD. Baskara sudah ditangani oleh dokter ortopedi; lengannya akan dipasang gips. Arka dan Tono masih dalam pemeriksaan.

Aisha memegang ponsel Arka yang layarnya retak. Tiba-tiba, ponsel itu bergetar. Sebuah pesan masuk. Nomor tidak dikenal.

Aisha membukanya dengan tangan gemetar.

*“Kau pikir kau bisa selamat? Rumah sakit adalah tempat yang sempurna untuk mengakhiri semua ini. Aku akan datang, Aisha. Aku akan datang untuk Arka. Jika kau mencoba melindunginya, Baskara yang akan membayar.”*

Aisha menekan tombol balas. Jarinya mengetik cepat, penuh amarah.

*“Mia, jika kau menyentuh Baskara, aku tidak akan pernah berhenti memburumu. Aku akan mencarimu ke ujung dunia. Aku akan memastikan kau membusuk di penjara. Ini peringatan terakhirku.”*

Pesan terkirim. Tidak ada balasan.

Aisha memegang ponsel itu erat-erat. Ia melihat sekeliling lorong. Beberapa perawat mondar-mandir, seorang dokter lewat dengan berkas di tangan, beberapa keluarga pasien duduk di kursi lain. Tidak ada yang mencurigakan.

Tapi Mia bisa menyamar. Mia bisa menjadi salah satu perawat itu, atau salah satu pengunjung, atau bahkan salah satu pasien. Aisha tidak bisa mempercayai siapa pun.

Ia berdiri, berjalan ke ruang perawatan Baskara. Anak itu sedang tidur setelah lengannya dibidai. Dokter bilang tidak ada patah tulang yang serius, hanya retak. Baskara akan sembuh dalam beberapa minggu.

Aisha duduk di samping tempat tidur Baskara, meraih tangan anak itu yang sehat. “Ibu di sini, Nak. Ibu tidak akan pergi.”

Baskara membuka mata sebentar. “Bu, aku mau pulang.”

“Iya, Nak. Nanti kita pulang. Setelah Ayah sehat.”

“Aku mau ke rumah kita yang dulu. Rumah di permata hijau. Aku kangen kamarku.”

Aisha menunduk, menahan air mata. “Iya, Nak. Nanti kita ke sana.”

Baskara tersenyum tipis, lalu memejamkan mata lagi.

---

Dua jam kemudian, dokter keluar dari ruang UGD. Arka sadar, tapi masih lemah. Ia mengalami gegar otak ringan dan beberapa memar di sekujur tubuh. Tono lebih parah—tulang rusaknya retak dan ia masih belum sadar.

Arka dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Aisha masuk, duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Arka membuka mata, menatap Aisha dengan tatapan sayu.

“Aisha... Baskara...”

“Baskara baik-baik saja. Tangannya patah, tapi tidak parah. Dia sedang tidur di ruang sebelah.”

Arka menghela napas lega. “Syukurlah.”

“Arka, Mia mengirim pesan. Dia bilang dia akan datang ke rumah sakit. Dia akan mengakhiri semua ini.”

Arka menutup matanya. Tangannya mengepal di atas selimut. “Kita harus pindahkan Baskara. Keluarkan dia dari rumah sakit.”

“Ke mana? Kita tidak punya tempat yang aman lagi. Tempat persembunyian Tono sudah diketahui Mia.”

“Aku punya satu tempat. Tempat yang tidak akan pernah Mia duga.”

“Di mana?”

Arka membuka matanya. “Rumah kita yang dulu. Di permata hijau. Rumah itu sudah kosong. Tidak ada yang tinggal di sana. Mia tidak akan pernah berpikir kita kembali ke sana.”

Aisha mengerutkan kening. “Apakah itu aman? Rumah itu besar, banyak pintu dan jendela. Sulit dijaga.”

“Kita tidak perlu menjaga. Kita hanya perlu bersembunyi sementara waktu, sampai aku cukup kuat untuk menghadapi Mia. Aku akan menelepon polisi, meminta perlindungan. Tapi aku butuh waktu.”

Aisha ragu. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Rumah sakit ini terlalu terbuka. Terlalu banyak orang. Mia bisa masuk kapan saja.

“Baik. Tapi bagaimana dengan Tono?”

“Tono akan dirawat di sini. Aku akan minta polisi menjaganya. Dia tidak ada hubungan langsung dengan Mia, jadi dia mungkin aman.”

Aisha mengangguk. “Aku akan siapkan Baskara.”

---

Mereka meninggalkan rumah sakit pukul tiga sore. Aisha menyewa mobil pribadi, dengan sopir yang dipercaya oleh pihak rumah sakit. Arka masih lemah, tapi ia bersikeras ikut. Baskara duduk di kursi belakang, lengannya digips, matanya mengantuk.

Perjalanan menuju bandara memakan waktu satu jam. Mereka terbang kembali ke Jakarta malam itu. Aisha memegang tangan Baskara sepanjang penerbangan, sesekali menatap Arka yang duduk di sebelahnya dengan wajah lelah.

Di Jakarta, mereka langsung menuju rumah lama di permata hijau. Rumah itu gelap, berdebu, dan sunyi. Aisha membuka pintu dengan kunci yang masih ia simpan.

Baskara masuk, melihat sekeliling. “Bu, rumahnya jadi kotor.”

“Besok kita bersihkan, Nak. Sekarang kita istirahat dulu.”

Mereka membersihkan satu kamar tidur untuk Baskara, dan satu kamar untuk Arka. Aisha tidur di sofa ruang tamu, dekat pintu, agar bisa mendengar jika ada yang masuk.

Malam itu, setelah Baskara tertidur, Aisha dan Arka duduk di ruang tamu. Lampu hanya satu yang menyala, memberikan cahaya temaram.

“Arka,” Aisha memulai. “Setelah semua ini selesai, apa yang akan kau lakukan?”

Arka menghela napas. “Aku akan menyerahkan diri pada polisi. Aku akan jelaskan semuanya—tentang keluarga angkatku, tentang Mia, tentang apa yang mereka lakukan padanya. Aku akan bersaksi.”

“Kau bisa dipenjara.”

“Mungkin. Tapi setidaknya aku melakukan sesuatu yang benar untuk pertama kalinya.”

Aisha menunduk. “Dan kita?”

Arka menatapnya lama. “Aku tidak tahu, Aisha. Luka kita masih terlalu dalam. Tapi... aku tidak menyesal kau ada di sini. Terima kasih untuk Baskara.”

Aisha tersenyum tipis. “Dia anak kita. Aku akan selalu ada untuknya.”

Mereka terdiam. Di luar, angin malam berembus, menerbangkan daun-daun kering di halaman.

Tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari belakang rumah.

Aisha berdiri, jantungnya berdegup kencang. Arka juga berdiri, meraih gagang sapu yang bersandar di dinding.

“Diam,” bisik Arka. “Matikan lampu.”

Aisha mematikan lampu. Ruangan menjadi gelap gulita. Mereka berdua berdiri diam, mendengar suara langkah kaki di lantai belakang.

Langkah kaki itu mendekat.

Aisha meraih ponselnya, menekan nomor polisi darurat. Tapi sebelum panggilan tersambung, suara itu terdengar dari balik pintu ruang tamu.

“Aisha, Arka, aku tahu kalian di sini. Keluar sekarang. Aku tidak akan menyakiti Baskara jika kalian menurut.”

Mia.

Aisha menutup ponselnya. Ia menatap Arka dalam gelap. Arka mengangguk.

Aisha membuka pintu.

Mia berdiri di lorong dengan sebatang linggis di tangan. Wajahnya tidak marah. Matanya kosong, seperti orang yang sudah kehilangan segalanya.

“Di mana Baskara?” tanya Mia.

“Jauh dari sini,” jawab Arka tegas. “Kau tidak akan menemukannya.”

Mia tersenyum tipis. “Kau bohong. Aku tahu dia di kamar depan. Aku lihat lampu kamarnya menyala dari luar.”

Aisha berusaha menutup pintu kamar Baskara, tapi Mia sudah lebih dulu berlari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!