Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.
Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.
Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.
Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Jalanan menuju rumah sakit terasa seperti labirin malam yang tak berujung. Rafiq membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, menerobos gelapnya malam di jalan raya selatan yang berkelok-kelok.
Tangannya yang memegang setir mencengkeram erat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Pikirannya hanya terisi satu nama: Fatih.
Fatih minta Abinya.
Kalimat mertuanya itu berputar-putar di kepalanya seperti rekaman yang rusak.
Ia teringat pagi itu. Ketika Fatih masih setengah tidur, mata bulatnya yang masih sayu menatap Rafiq.
Anak itu memeluk leher Rafiq dengan tangan mungilnya dan berbisik, "Abi jangan lama-lama ya? Fatih takut kalau Abi pergi lama."
Dan Rafiq, dengan polosnya, tertawa dan mengecup pipi Fatih. "Abi cuma dua hari, Nak. Abi bawain mainan, ya?"
Fatih menggeleng. "Fatih nggak mau mainan. Fatih mau Abi."
Tapi Rafiq tetap pergi. Karena ada proyek. Karena ada target. Karena ada masa depan yang harus ia bangun untuk keluarganya.
Dan di saat ia pergi membangun masa depan itu, istrinya menghancurkan segalanya dari dalam. Sementara anaknya—anak satu-satunya—terbaring sakit dan memanggil-manggil nama ayahnya yang tidak ada di sana.
Air mata kembali mengalir di pipi Rafiq. Kali ini bukan air mata sakit hati karena perselingkuhan. Ini adalah air mata penyesalan. Penyesalan seorang ayah yang tidak berada di sisi anaknya ketika anaknya membutuhkannya.
"Fatih... sabar, Nak... Abi datang..." gumamnya dengan suara tercekat.
Fortuner melaju di jalan raya yang lurus. Lampu-lampu jalan sesekali menyorot ke dalam kabin, memperlihatkan wajah Rafiq yang pucat dan basah oleh keringat dan air mata.
Kemeja putihnya sudah basah menempel di dada. Sepatu ketsnya masih hanya terselip di ujung kaki karena ia tidak sempat mengikat tali sepatu dengan benar.
Di kejauhan, ia melihat persimpangan. Perempatan yang cukup besar dengan lampu lalu lintas yang di malam hari biasanya berkedip kuning. Di perempatan itu, ia harus belok kanan menuju RS Islam.
Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Fortuner melaju semakin kencang.
Tapi di saat yang sama, dari arah kiri, ia melihat sorot lampu mobil lain yang juga melaju cepat. Terlalu cepat. Mobil itu—Avanza silver—seperti tidak melihat keberadaan Fortuner.
Rafiq menginjak pedal rem dengan sekuat tenaga. Ban Fortuner mengeluarkan suara decitan panjang yang memekakkan telinga. Asap ban mengepul di udara malam yang dingin.
Tubuh Rafiq tersentak ke depan, hampir membentur setir jika sabuk pengaman tidak menguncinya.
Avanza silver itu juga berusaha menghindar. Pengemudinya membanting setir ke kanan. Tapi—
BRAKKK!
Suara benturan keras memecah keheningan malam. Rafiq menoleh ke kiri. Jantungnya berhenti berdetak.
Avanza silver itu tidak sempat menghindar sepenuhnya. Mobil itu menabrak pembatas jalan di sisi kanan perempatan, kehilangan keseimbangan, lalu terguling. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Akhirnya berhenti dalam posisi terbalik di tengah persimpangan.
Kaca-kaca mobil pecah berhamburan. Lampu-lampu mobil masih menyala, menyorot ke langit malam yang gelap. Asap mengepul dari kap mesin yang ringsek.
Rafiq mematikan mesin Fortunernya. Tangannya gemetar hebat saat membuka sabuk pengaman. Ia membuka pintu dan turun dengan kaki yang terasa lemas seperti kapas.
Orang-orang mulai berdatangan dari rumah-rumah di sekitar perempatan. Ada yang membawa senter, ada yang berteriak-teriak meminta tolong. Suasana malam yang tadinya sunyi kini berubah menjadi hiruk-pikuk.
Tapi Rafiq tidak mendengar semua itu.
Matanya tertuju pada plat nomor Avanza silver yang terguling itu.
B 1234 ZX.
Dunia Rafiq berhenti berputar.
Itu plat nomor mobil mertuanya.
"Tidak... tidak... tidak..." Rafiq bergumam, suaranya nyaris tak terdengar. Kakinya mulai berlari. Berlari menuju mobil yang terguling itu dengan jantung yang terasa seperti akan meledak dari dalam dadanya.
"Fatih! FATIH!"
Ia berteriak. Berteriak sekencang-kencangnya. Suaranya memecah keramaian malam. Orang-orang yang tadinya sibuk berteriak meminta pertolongan kini menoleh ke arahnya, melihat seorang pria dengan kemeja putih kusut dan wajah pucat pasi berlari seperti orang kesurupan menuju mobil yang terguling.
Rafiq sampai di samping mobil. Kacanya pecah semua. Pintu di sisi pengemudi ringsek parah. Ia melihat ke dalam.
Di kursi pengemudi, mertuanya—Bapak H. Abdul Rozak—terjepit di antara setir yang hancur dan jok. Wajahnya berlumuran darah. Matanya terpejam. Tidak bergerak.
"Pak... Pak Rozak!" Rafiq mencoba membuka pintu, tapi pintu itu tidak mau terbuka. Ia memukul-mukul kaca yang sudah pecah dengan tangan kosong, tidak peduli bahwa pecahan kaca melukai telapak tangannya.
Darah merah segar menetes dari telapak tangannya, bercampur dengan darah mertuanya.
Dari kursi penumpang depan, ia melihat Bu Sumarni. Mertuanya yang tadi menelepon. Ibu dari Aisyah. Tubuh wanita paruh baya itu tersungkur di antara dashboard dan jok yang penyok.
Tangannya yang keriput terlihat patah, tertekuk di sudut yang tidak wajar. Matanya terbuka, tapi tidak berkedip. Mulutnya setengah terbuka, seolah sedang hendak mengatakan sesuatu.
"Bu... Bu Sumarni..." suara Rafiq pecah. Air mata mengalir deras. Tangannya yang berlumuran darah meraih tangan mertuanya yang patah itu. Dingin. Tangannya sudah dingin.
Tapi Rafiq tidak punya waktu untuk larut dalam kesedihan.
"Fatih! FATIH, NAK!"
Ia merunduk, berusaha melihat ke kursi belakang. Kaca belakang mobil sudah pecah berkeping-keping. Di balik kursi depan yang ringsek, ia melihatnya.
Muhammad Al Fatih. Anaknya. Berusia empat tahun. Dengan baju tidur bergambar mobil-mobilan kesayangannya. Tubuh mungilnya tergeletak di antara kursi belakang yang terbalik dan atap mobil yang kini menjadi lantai.
Kepala kecilnya menghadap ke samping. Matanya terpejam rapat. Wajahnya pucat—bukan pucat karena demam, tapi pucat karena sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Di pelipis kanan Fatih, ada darah. Darah merah segar yang mengalir pelan membasahi rambut hitam halusnya. Darah itu menetes ke lantai mobil yang terbalik, membentuk genangan kecil.
"FATIH!"
Rafiq tidak peduli lagi dengan pecahan kaca. Ia meraih gagang pintu belakang, menariknya dengan sekuat tenaga. Pintu yang ringsek itu tidak mau terbuka. Ia menarik sekali lagi. Dua kali. Tiga kali. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia merobek pintu itu hingga terbuka paksa.
Ia meraih tubuh mungil anaknya. Tangannya yang berlumuran darah menggendong Fatih dengan hati-hati, seperti menggendong benda paling berharga di dunia yang bisa hancur kapan saja.
"Fatih... Nak... Abi datang... Abi di sini..." Rafiq mendekap anaknya ke dada. Air matanya jatuh membasahi wajah Fatih yang pucat. Ia merasakan dada anaknya. Bergerak. Naik turun. Pelan. Sangat pelan. Tapi masih bergerak.
Fatih masih hidup.
"TOLONG! PANGGIL AMBULANS! CEPAT!"
Rafiq berteriak ke arah kerumunan yang mulai berkumpul. Beberapa orang langsung mengangkat ponsel, menelepon ambulans dan polisi.
Rafiq tidak bisa menunggu ambulans. Tidak bisa. Setiap detik terasa seperti setahun. Anaknya membutuhkan pertolongan sekarang.
Ia berlari. Berlari membawa Fatih dalam gendongannya menuju Fortuner hitam yang masih terparkir di sisi perempatan. Kakinya terasa lemas, tapi ia memaksa berlari.
Tubuh mungil Fatih terasa berat di tangannya yang berlumuran darah, tapi ia tidak akan melepaskannya. Tidak akan pernah.
Ia membuka pintu belakang Fortuner dengan satu tangan, meletakkan Fatih dengan hati-hati di jok belakang. Anak itu masih tidak sadar. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya kebiruan. Dadanya naik turun dengan ritme yang tidak teratur.
"Fatih... tahan, Nak... Abi bawa ke rumah sakit..." Rafiq mengecup kening Fatih. Dingin. Kening anaknya dingin. Sangat dingin. Bukan hangat seperti biasanya ketika Fatih demam.
Ia menutup pintu, berlari ke kursi pengemudi, dan menyalakan mesin dengan tangan yang gemetar hebat. Dari kejauhan, ia mendengar suara sirine ambulans mulai terdengar. Tapi ia tidak bisa menunggu. Ia harus bergerak sekarang.
Fortuner itu melaju meninggalkan perempatan, meninggalkan mobil Avanza silver yang terguling dengan dua orang yang tak sadarkan diri di dalamnya. Meninggalkan kerumunan warga yang sibuk dengan ponsel masing-masing. Meninggalkan genangan darah di aspal yang mulai mengering.
Di dalam mobil, Rafiq terus berbicara. Bukan pada dirinya sendiri. Pada Fatih.
"Fatih, Nak... Abi di sini... Abi nggak akan pergi lagi... Abi janji... Abi janji, Nak... Tahan ya, Nak... Sabar... Rumah sakit sudah dekat... Abi lihat lampunya sudah keliatan..."
Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Fortuner melaju kencang di jalan raya yang mulai sepi. Lampu-lampu rumah sakit sudah terlihat di kejauhan. Lima ratus meter. Empat ratus. Tiga ratus.
Di kursi belakang, Fatih tidak bergerak. Dadanya masih naik turun. Pelan. Sangat pelan. Tapi masih bergerak.
"Fatih, Nak... Abi minta maaf... Abi minta maaf nggak ada di rumah waktu Fatih sakit... Abi minta maaf... Abi janji, setelah ini Abi nggak akan ninggalin Fatih lagi... Abi akan jaga Fatih... Abi akan lindungi Fatih... Abi nggak akan biarin siapa pun menyakiti Fatih lagi..."
Air mata Rafiq tidak berhenti mengalir. Ia tidak menyeka air matanya. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya satu.
Fatih. Anaknya. Satu-satunya yang tersisa dari rumah tangga yang ia bangun dengan cinta dan doa.
Fortuner memasuki area parkir rumah sakit. Rafiq memarkir mobil sembarangan di depan pintu UGD. Ia turun, membuka pintu belakang, dan menggendong Fatih keluar.
"TOLONG! DOKTER! ANAK SAYA!" teriaknya sekuat tenaga.
Dua orang perawat yang sedang bertugas di depan UGD langsung berlari mendekat. Mereka melihat kondisi Fatih—pucat, tidak sadar, dengan luka di pelipis—dan segera mengambil alih.
"Letakkan di sini, Pak!" salah satu perawat membawa strecher. Rafiq meletakkan Fatih dengan hati-hati.
"Anak saya... dia demam tinggi... dan kecelakaan... mobil terguling..." Rafiq berbicara terputus-putus, berusaha menjelaskan meskipun pikirannya kacau balau.
"Kami akan tangani, Pak. Bapak tunggu di ruang tunggu."
Perawat-perawat itu membawa strecher masuk ke dalam UGD. Pintu ruang gawat darurat tertutup di depan wajah Rafiq.
Rafiq berdiri di sana. Sendirian. Di lorong rumah sakit yang dingin dengan lampu neon yang menyala pucat. Kemeja putihnya kini berlumuran darah—darah mertuanya, darah Fatih, darahnya sendiri dari telapak tangan yang terluka pecahan kaca.
Sepatu ketsnya masih hanya terselip di ujung kaki, satu di antaraya hampir terlepas. Wajahnya pucat, basah oleh keringat dan air mata yang tak lagi bisa ia bedakan.
Ia menatap pintu UGD yang tertutup.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Rafiq Al Farisi—pria yang tadi malam menyaksikan kehancuran rumah tangganya, pria yang menemukan perselingkuhan istri dan sahabatnya, pria yang menyaksikan mertuanya terguling dalam kecelakaan—jatuh berlutut di lorong rumah sakit.
Ia tidak peduli dengan tatapan aneh dari perawat yang lewat. Ia tidak peduli dengan kemejanya yang berlumuran darah. Ia tidak peduli dengan telapak tangannya yang masih mengucurkan darah.
Ia hanya menunduk, menyandarkan kepalanya ke dinding dingin rumah sakit, dan berdoa.
"Ya Allah... selamatkan anakku... jangan ambil anakku... ambil nyawaku saja kalau Engkau mau... tapi jangan ambil Fatih... dia satu-satunya yang aku punya... satu-satunya yang tersisa..."
Di kejauhan, sirine ambulans masih terdengar. Tapi Rafiq tidak mendengar itu.
Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, dan di balik pintu UGD itu, suara samar monitor detak jantung yang berbunyi pelan.
Tit. Tit. Tit.
Masih ada. Fatih masih hidup. Untuk saat ini, itu cukup.