Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecew
Sudah hampir seharian Kenzie terbaring lemas di atas tempat tidur, kini tubuhnya sudah mulai lebih baik dan kepalanya tidak merasa pusing lagi. Rasa kantuknya mulai hilang dan kedua bola matanya kini bisa terbuka dengan mudahnya tidak berat seperti kemarin.
Pandangannya sudah mulai jelas dan sempurna, kini wajahnya tidak pucat seperti kemarin. Kenzie mencoba untuk bangun dari tidurnya, selang infus yang menggantung sejak kemarin ke tangannya sudah tidak ada lagi. Ia melihat ada bubur yang sudah dimakan hanya sedikit tersimpan di samping laci lampu tempat tidur. Siapa yang membuatnya? Apakah Jeevan datang ke sini untuk mengurusnya?
Tapi tebakan Kenzie salah karena ia melihat dari dalam kamar ada seseorang perempuan berambut panjang, dilihatnya dengan seksama perempuan itu dari belakang. Sepertinya tidak asing bagi Kenzie meski melihat hanya dari belakang saja, ia bisa mengenalinya. Lama Kenzie terdiam sambil berpikir keras dan menduga-duga. Deg, tidak lama kemudian Kenzie teringat akan seseorang, dia adalah Rania.
Dengan rasa penuh penasaran Kenzie turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar menghampiri Rania yang sedang memasak di dapur, semakin dekat Kenzie bisa melihat dengan jelas jika perempuan itu adalah Rania. Sudah dari tadi pagi Rania berada di sana selepas pulang kerja, dan sekarang hari sudah menjelang sore tapi Rania belum juga beristirahat.
"Ngapain lo di sini?" tanya Kenzie dengan nada tegas dan kaget melihat keberadaan Rania di apartemennya.
Mendengar suara membuat Rania yang sedang memasak sup spontan menoleh, dan mendapati Kenzie sudah berdiri lebih dulu di belakangnya. Ada rasa sedikit ketakutan pada Rania saat melihat ekspresi Kenzie yang begitu tajam menatapnya.
"Kemarin sewaktu gue mau mengembalikan jas, tiba-tiba aja lo pingsan nggak sadarkan diri. Hampir seharian juga lo nggak sadarkan diri, jadi gue..." jelas Rania yang belum sempat menyelesaikan pembicaraannya dengan cepat Kenzie memotong pembicaraannya.
"Kenapa nggak panggil dokter aja dan nggak usah lo repot-repot ngurusin gue karena gue nggak mau punya hutang sama lo!"
"Gue juga dokter, dan gue ngelakuin ini nggak terpaksa," jelas Rania mematahkan ucapan Kenzie.
Benar saja jika Rania juga adalah seorang dokter, yang seharusnya memberikan pertolongan kepadanya. Tapi maksud Kenzie adalah ia tidak mau Rania berada di sini, apapun alasannya.
"Tapi gue nggak suka sama kehadiran lo di sini?" tolak Kenzie dengan tegas.
"Kenapa?" tanya Rania tidak mau Kalah menatap Kenzie begitu lekat karena merasa tersinggung dengan ucapan Kenzie yang tidak menghargainya.
Kenzie hanya takut kepada perasannya semakin lama semakin hebat dan kuat kepada Rania, bukan takut kepada dr. Geonathan yang tidak menyukainya. Memang harus Kenzie akui jika dirinya sudah mulai menyukai Rania sejak pertama kali mereka bertemu, tapi dirinya sadar jika disandingkan dengan Biyan, ia bukanlah apa-apa.
"Kenapa lo nggak suka gue di sini? Bukannya bilang makasih, malah ngomel?" tanya Rania lagi ketika Kenzie hanya terdiam tidak menjawab sedikitpun akan pertanyannya.
"Gue nggak mau buat masalah lagi sama lo. Udah cukup kemarin, dan gue ucapkan makasih karena udah ngerawat dengan baik. Dan gue minta sama lo pergi dari sini," jelas Kenzie mengusir Rania secara halus.
Tidak ada niat bagi Kenzie untuk kembali melukai hati Rania karena jika melihatnya sedih hatinya terluka, tapi jika Rania masih ada di sini semua akan semakin kacau balau. Mata Rania mulai berkaca-kaca karena Kenzie tidak jujur dengan ucapannya. Hanya air mata yang bisa Rania lukiskan tentang perasannya saat ini.
"Lo mau gue pergi, tapi nggak sama foto yang jadi penghuni wallpaper laptop lo?" ucap Rania menyindir Kenzie membahas tentang foto mereka berua yang diam-diam Kenzie pakai untuk wallpaper laptopnya.
Deg, Kenzie menatap Rania dengan tajam. Bagaimana bisa Rania tahu tentang foto wallpaper laptopnya? Darimana dia tahu tentang hal itu? Tatapan Kenzie tidak bisa membohongi Rania karena perempuan cantik bermata indah sudah mengetahui semuanya.
"Gue nggak ngerti sama apa yang lo bilang," tampik Kenzie mencoba menghindari ucapan Rania dengan ekspresi terlihat sedikit gugup.
Hanya tawa ringan yang bisa Rania lakukan saat Kenzie berusaha untuk berbohong kepadanya. Tapi Rania tidak akan menyerah begitu saja, tatapan tajam Rania membuat Kenzie merasa tidak nyaman.
"Cepat pulang sebelum nanti ada yang cariin lo ke sini," titah Kenzie sambil pergi meninggalkan Rania dan melangkahkan kakinya kembali ke kamar.
"Memang susah jawab pertanyaan gue?" Rania kekeuh terus mencecar Kenzie membuat lelaki yang mempunyai senyum manis sedikit kesal dibuatnya.
Langkah kaki Kenzie terhenti sesaat lalu terdiam, beberapa menit kemudian ia membalikkan tubuhnya menoleh ke arah Rania yang masih berdiri mematung. Tatapannya sendu dan hatinya mulai berkecamuk, ia ingin sekali bisa jujur dengan perasaannya tapi dirinya juga belum yakin apakah perasaannya selama ini benar atau tidak.
"Pertanyaan yang mana?" Kenzie berbohong balik bertanya.
Rania hanya terdiam membalas tatapan Kenzie dengan lekat dan tajam, ia tidak menjawab pertanyaannya karena merasa sedikit kesal dan kecewa.
"Masalah foto?" tebak Kenzie mulai kesal dan Rania masih terdiam membisu saat Kenzie mulai membahasnya.
"Kenapa sama foto itu? Ada masalah? Memang salah kalau gue jadiin wallpaper di laptop gue? Terus lo berpikir kalau gue suka sama lo, gitu?" emosi Kenzie mulai memuncak namun ia berusaha untuk menutupi perasannya kepada Rania.
"Ternyata lo itu gampang banget baper-nya, ya? Cuma masalah foto aja Lo bisa berpikir kalau gue suka sama lo?" sindir Kenzie dengan tersenyum sinis terlihat jahat.
Hati Rania semakin sakit mendengar ucapan Kenzie, tidak seharusnya ia bertanya seperti itu dan mungkin juga tidak ada artinya bagi Kenzie. Namun Rania terlanjur bahagia saat tahu Kenzie sepertinya mempunyai perasaan kepadanya.
"Mulai sekarang jangan pernah ketemu lagi, dan gue akan berusaha buat menghindari setiap kali bertemu sama lo," kata terakhir Kenzie sambil pergi meninggalkan Rania sendirian menuju kamarnya.
Dilihatnya jam dinding di ruang TV menunjukan pukul 23:00 WIB tapi Valerie belum juga pulang. Rasa khawatir dan gelisah dirasakan oleh Jeevan sejak tadi karena beberapa pesan darinya tidak dibalas olehnya. Sampai akhirnya Jeevan memutuskan untuk tidur lebih dulu tidak menunggu kepulangan Valerie yang entah dari mana.
Sudah hampir tiga hari ini Valerie selalu pulang larut jam 1 pagi. Valerie pulang di saat Jeevan sudah tertidur, tapi nyatanya Jeevan selalu menunggu kepulangannya dengan di kamar. Ada rasa penasaran di hati Jeevan ke mana Valerie pergi sampai larut malam, tapi Vale selalu tidak memberitahu dirinya.
"Udah beberapa hari ini kamu selalu pulang malam, memang dari mana?" tanya Jeevan saat mereka berdua sedang menikmati sarapan pagi sebelum melanjutkan aktifitasnya masing-masing.
Glek, Valerie yang terlihat biasa saja kini mulai terusik dengan pertanyaan Jeevan. Apa suaminya kini mulai mencurigainya, apalgi tatapan mata Jeevan yang begitu dingin namun terkesan sinis.
"Ada kerjaan tambahan," jawab Valerie berbohong sambil terus menikmati sarapannya meski sedikit terlihat gugup.
"Sampai larut pagi? Pemotretan apa?"
"Kenapa kamu pengen tahu? Bukannya kita udah sepakat nggak usah tahu dan mencampuri urusan masing-masing?" Valerie mulai kesal dan terganggu dengan sikap Jeevan yang mulai ikut campur dengan kehidupan pribadinya.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain, dengan tatapan sinis Valerie membalas tatapan Jeevan. Suasana di ruang makan mulai tegang dan rasanya sudah tidak ada nafsu makan lagi bagi mereka berdua menikmati sarapannya.
"Aku suami kamu dan berhak tahu dari mana. Seorang istri yang pulang larut malam, bukan larut malam tapi pagi buta. Apa itu pantas?"
"Bukannya aku udah bilang kalau ada pekerjaan."
"Pekerjaan apa yang sampai buat kamu pulang malam? Memang mereka nggak tahu kalau kamu udah nikah dan pemotretan apa sampai pagi buta?" nada bicara Jeevan mulai terdengar tidak enak di telinga membuat Valerie mulai marah.
Valerie sudah tidak ingin berdebat dengan Jeevan karena akan memperkeruh suasana saja. Tidak ada yang bisa Valerie beritahu kepada Jeevan tentang apa yang dilakukan selain pemotretan. Bahkan sejak masih bersama dengan Nathan juga Valerie tidak memberitahu apa kesibukannya yang lain.
"Kayanya kamu udah kelewat batas dan kamu lupa apa perjanjian kita sebelum memutuskan buat menikah. Aku pinta jangan melewati batas," kata terakhir Valerie sambil pergi meninggalkan Jeevan sendirian yang masih menikmati sarapan paginya.
Menghindari perselisihan antara Jeevan dengan dirinya adalah hal yang paling benar dilakukan oleh Valerie. Meskipun ia belum menyelesaikan sarapannya lebih baik pergi dari sana karena emosi keduanya akan semakin memuncak dan lama-kelamaan akan pecah seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Wajahnya terlihat sangat muram sejak tadi, pekerjaannya selalu saja salah dan tidak pernah fokus di ruang rapat membuat Kenzie begitu khawatir dengan sahabatnya. Sepertinya sepulang honeymoon mereka berdua baru bisa berbicara lagi.
"Kenapa lagi?" tanya Kenzie sambil memberikan kopi kesukaan Jeevan yang dibelinya di kantin bawah.
Jeevan yang sedang melamun di meja kerjanya sontak tersadarkan saat sebuah kopi mendarat di depan matanya, apalagi suara Kenzie yang menyadarkan lamunannya. Jeevan menarik napas panjangnya terkesan berat dan pikirannya masih kacau.
"Gue lagi kesel," jawab Jeevan singkat masih dengan sikapnya yang terkesan dingin.
"Tahu gue, keliatan dari muka lo. Kusut," tebak Kenzie sedikit menyindir membuat Jeevan kesal dibuatnya.
"Soal siapa lagi?" tanya Kenzie lagi saat Jeevan masih terdiam tidak berkata apa-apa.
"Menurut lo siapa?" Jeevan mulai kesal dibuatnya dengan pertanyaan Kenzie yang menuntut satu persatu tidak sekaligus.
Sontak amarah Jeevan membuat Kenzie kaget melihatnya, sepertinya sahabatnya memang benar-benar sedang kesal dan ada masalah dengan Valerie.
"Masalah rumah tangga, nih," tebak Kenzie lagi sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus apa dia inget kalau lo itu cowok waktu SMP yang lagi deket sama dia?" tanya Kenzie mulai membahas tentang masalah lalunya.
Sebagai Jeevan tidak memberitahu jika dirinya adalah Putra, lelaki yang pernah ada di dalam kehidupannya meski hanya sesaat dan sebentar. Tapi dialah lelaki yang sudah menyelamatkan Valerie dari kebakaran di gudang sekolah sehingga membuat bagian tubuhnya Jeevan mendapatkan luka bakar yang serius.
"Kayanya nggak," jawab Jeevan dengan rasa kecewa dan tatapan kosong.
"Tapi lo tanya kenapa waktu itu dia pakai nama Namira bukan nama aslinya?"
Pertanyaan Kenzie bukan membuat Jeevan tenang tapi semakin kesal dibuatnya, bagaimana bisa Jeevan bertanya akan pertanyaan yang diberikan oleh Kenzie sementara Valerie saja tidak mengingatnya?
"Gimana bisa gue tanya sama dia kalau nyatanya dia aja nggak inget sama gue!" Amarah Jeevan mulai kesal membuat Kenzie merasa bersalah dengan pertanyaan.
Kenzie hanya tertawa ringan menyeringai dan merasa bersalah, sepertinya pertanyaannya tidak pas dan tepat. Tapi mana mungkin Valerie bisa lupa dengan Jeevan, lelaki yang menyukainya sejak masa SMP dulu. Memang mereka hanya bersama kurang lebih hanya dua bulan selebihnya Valerie pergi begitu saja. Tapi seharusnya Valerie ingat masa-masa indah yang telah dilewati olehnya bersama Jeevan.
"Kenapa nggak kasih tahu dia kalau ternyata lo adalah lelaki yang pernah deket sama dia waktu SMP, dulu?" Kenzie memberikan saran yang sebenarnya tidak ingin Jeevan lakukan.
Sengaja Jeevan tidak memberitahukan siapa dirinya, karena Jeevan masih merasa kecewa saat Valerie meninggalkannya dulu tanpa pesan dan alasan. Jeevan masih merasa kecewa saat Valerie pergi begitu saja tanpa memberitahunya siapa nama aslinya dan tidak mendapatkan pengakuan jika ternyata namanya bukanlah Namira tapi memalingkan Valerie. Entah kenapa Valerie harus berbohong kepadanya.
"Terus setelah kasih tahu semua akan happy ending?" Jeevan balik bertanya dengan rasa ragu di hatinya jika semua akan baik-baik saja.
"Seenggaknya nanti dia inget, bukannya lo sendiri yang bilang kalau kertas origami berbentuk bintang yang lo bikin satu toples masih dia simpen?"
"Apa itu jaminan kalau perasaan dia masih sama kaya dulu? Lagian dulu juga gue nggak tahu kalau dia suka apa nggak sama gue? Dan yang bikin gue ragu kalau dia masih menyimpan perasannya sama cinta pertamanya, cowok yang ada di foto sama di watu SMA."
Kalau mengingat semuanya membuat Jeevan merasa sedih, alasan Jeevan tidak memberitahukan siapa dia adalah agar Valerie ingat dengan sendirinya tapi nyatanya Vale tidak mengenalinya sedikitpun.
"Terus sekarang lo mau apa?" Kenzie juga dibuat bingung dengan ucapan sahabatnya yang entah apa yang akan dilakukan.
"Mungkin mau bikin dia jatuh cinta sama gue," jawab Jeevan singkat.
"Biar bisa punya anak dengan begitu lo bisa mendapatkan perusaahan?" tebak Kenzie seolah tahu isi pikiran Jeevan.
"Iya," jawab Jeevan singkat dengan nada tegas.
Glek, tubuh Valerie mematung saat mendengar pembicaraan antara Jeevan dan Kenzie. Rasa sedih dan kecewa menghampirinya, kini Valerie semakin yakin jika Jeevan mendekatinya agar bisa membuatnya jatuh cinta untuk mendapatkan perusahannya, bukan karena benar rasa cinta. Semua ucapan mereka berdua terdengar sangat jelas di telinga Valerie.
Valerie datang ketika Kenzie bertanya mau apa yang dilakukan oleh Jeevan, ia tidak mendengarkan pembicaraan mereka berdua sebelumnya. Tangannya gemetaran ketika hendak membuka pintu ruangan Jeevan, tatapannya sendu dengan air mata yang mulai memenuhi kelopak matanya. Memang Jeevan tidak pernah berubah, ia mempergunakan dirinya untuk mendapatkan semua keinginannya.
bagus² nama tokohnya.
maaf sebelumnya
narasinya itu di tiap chapter semuanya panjang
mungkin bisa dipecah untuk kenyamanan pembaca kak
sebagian pembaca ada yang sensitif liat narasi panjang satu blok penuh
cuma saran teknis aja kak 👍
semangat ya.