Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Kami nggak berhenti. Tapi aku lebih khawatir ada yang coba manfaatin kita. Lagipula, kita bukan satu-satunya di sini!” jawab Bos Janip sambil menyeringai, mengelus pistolnya sambil melirik orang-orang di sekitar.
Budi tidak terlalu mempedulikan soal pembagian hasil. Tujuannya jelas: membunuh raja tikus untuk menyelesaikan misi level E- itu. Berapa banyak orang yang ikut membagi, itu urusan belakangan. Tentu saja dia akan senang kalau dapat porsi lebih besar, tapi kalau lebih kecil juga tidak masalah. Toh dia sudah bertekad pergi ke daerah lain untuk berburu organisme level biru. Tidak perlu ribut soal “kacang kecil” seperti ini. Lagipula, kalau lebih banyak orang, risiko bisa dibagi dan peluang menyelesaikan misi justru meningkat. Tapi tentu saja dia tidak akan bilang begitu di depan semua orang. Setelah berpikir sejenak, Budi berkata, “Mungkin kita bisa bicara dulu dengan mereka dan buat aturan bersama. Saya rasa tidak banyak yang berani maju sampai akhir.”
“Aku yang bicara. Aku kenal beberapa pemimpin kelompok besar di sini,” kata Andi setelah ragu sebentar.
“Silakan, lakukan sekarang,” jawab Budi acuh tak acuh. Dia bisa lihat Andi orang yang sangat ambisius. Sepanjang jalan dia selalu di garis depan, proaktif sekali. Tapi itu bukan urusan Budi. Malah menguntungkan kalau orang ini lebih aktif.
Benar saja, saat ratusan orang menghadapi ribuan tikus mutan plus raja tikusnya, banyak yang ragu-ragu. Yang bertahan tinggal sekitar lima puluh orang, terbagi jadi tiga tim kasar. Setelah mereka menunda-nunda, gerombolan tikus sudah mulai menyeberang salah satu gunung sampah besar. Melihat mereka hampir menghilang di kegelapan, Budi sangat gelisah tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Tak lama, Andi kembali. Dia melirik ke depan dan berkata cepat, “Waktu terbatas, kita bicara sambil jalan.” Dia langsung berlari, sambil menjelaskan, “Hasil diskusinya begini: tiga tim serang dari tiga arah berbeda. Tim yang berhasil membunuh raja tikus duluan dapat setengah bagian. Dua tim lain bagi rata separuh sisanya. Keuntungannya, meski kita nggak yang bunuh, tetap dapat jatah!”
“Itu bagus. Kalau tidak, bisa-bisa kita ditipu meski kita yang bunuh. Orang-orang yang bertahan di TPA ini bukan tipe mudah diatur. Demi untung, mereka bisa apa saja,” kata Dani sambil mengangguk setuju.
TPA memang tempat yang kacau dan kejam, seperti dunia lain dibanding kota yang masih teratur. Nyawa manusia di sini tak ada harganya. Setiap hari ratusan orang mati atau hilang. Ada yang dibunuh tikus mutan, ada yang dibunuh sesama manusia. Mayat-mayat itu jadi tulang sebelum matahari terbit. Manusia memakan tikus mutan, tikus mutan juga memakan manusia.
Kalau spesies darat tidak punya disiplin ketat, kecepatan gerak mereka akan melambat saat bergerombol besar. Setelah sekitar sepuluh menit, tim berhasil mengejar gerombolan tikus itu.
Pertarungan langsung meledak. Setelah beberapa bentrokan kecil, gerombolan tikus tiba-tiba berhenti bergerak. Mungkin mereka sadar jumlah musuh sudah berkurang, jadi ini kesempatan bagus untuk balik menyerang. Mereka langsung datang seperti gelombang laut.
Saat itu Budi merasakan ketegangan melonjak tiba-tiba. Dia melangkah maju-mundur, bergoyang ke kiri-kanan, parangnya berayun seperti fatamorgana di bawah cahaya bulan. Tikus-tikus mutan yang nekat itu langsung terpotong begitu melompat mendekat. Bilah parangnya tak berwujud, tapi setiap tebasan akurat. Dia membela diri dari serbuan tikus mutan, merobek gerombolan itu dengan pedang tajamnya. Setiap langkah sulit yang diambil meninggalkan mayat tikus mutan dan tanah berlumur darah segar.
[Bip, satu poin untuk keterampilan pisau.]
Budi tak peduli pesan itu. Dia fokus penuh pada pertarungan. Tubuhnya memancarkan aura yang membuat hati orang berdegup kencang. Aura itu juga membuat setiap tikus mutan yang mendekat sedikit bergidik, mengganggu gerakan mereka.
Kurang dari satu menit, jumlah anggota tim sudah berkurang. Bos Janip dan dua anak buahnya tertinggal karena menggunakan senjata api. Kalau hanya gerombolan kecil, mereka aman. Sayangnya ini gerombolan besar, datang dari segala arah.
Seekor tikus menggigit salah satu dari mereka dari belakang. Begitu pria itu membunuhnya, dua tikus lain langsung menyerbu. Dia terus menembak untuk membunuh keduanya dalam kepanikan, tapi baru sadar sudah terpisah dari tim. Lebih banyak tikus mengalir masuk. Dia hanya sempat berteriak sekali sebelum dilahap gerombolan.
“Sialan!” Bos Janip ingin menolong, tapi sudah terlambat. Dia mengumpat keras, wajahnya suram. Lalu dia mengedip ke anak buah terakhirnya. Keduanya langsung merapat ke tengah tim.
Pak Harun dan timnya mengikuti ketat di belakang Budi, membantu menahan tekanan dengan memblokir tikus mutan dari sisi kiri-kanan. Tapi lama-lama mereka mulai terluka parah. Melihat situasi genting, Andi dan Dani langsung bergabung. Mereka membentuk lingkaran sepuluh orang untuk memblokir serangan dari segala penjuru.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari kejauhan. Gerombolan tikus terkejut, lalu bergegas ke arah lain. “Sial! Itu tentara ya?” Andi menoleh, langsung marah besar. Dia menggertakkan gigi. “Kalau tahu siapa yang lapor, gue bunuh!”
Ada sekitar sepuluh tentara yang menembak ke arah gerombolan tikus dengan senapan otomatis. Tikus mutan yang terkepung langsung berpindah ke arah mereka, mengurangi tekanan di sisi Budi.
Budi mencari celah dengan ekspresi berubah-ubah, lalu akhirnya menghela napas kecewa. “Ayo mundur. Dengan kehadiran mereka, kita bahkan nggak bakal dapat hasil. Mereka nggak akan pernah biarkan warga sipil bunuh pemimpin mutan.”
“Kita mundur gitu aja?” tanya Pak Harun tak percaya, sambil menyentuh luka di lengannya.
“Apa lagi yang bisa kita lakukan? Mau berantem sama tentara demi makanan?” Dani melampiaskan amarahnya dengan menghantam tikus mutan pakai perisainya, lalu meludah kesal. Setelah capek-capek bertarung, mangsa yang sudah di depan mata direbut begitu saja. Siapa pun pasti kesal berat.
“Bang! Bang!”
Dua tembakan senjata api terdengar nyaring, memecah kegelapan malam.
“Aaooo!”
Jauh di depan, dua luka bakar tiba-tiba muncul di tubuh Raja Tikus putih keperakan itu. Makhluk itu meraung keras, suaranya menggema seperti binatang buas yang terluka parah. Ekor panjangnya dikibaskan dengan ganas hingga terdengar ledakan sonik yang memekakkan telinga udara di sekitarnya bergetar hebat!
“Bang!”
Luka bakar ketiga mendarat di tubuhnya. Raja Tikus mencicit panik, sadar betul ancaman yang datang. Ia tak lagi peduli pada gerombolan tikus mutan biasa di sekitarnya. Langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga, meninggalkan pasukannya. Tikus-tikus pengawal di sekitarnya langsung tercerai-berai, menghilang ke segala arah seperti kabut yang tersapu angin.
“Bang! Bang! Bang!”
Suara senapan sniper yang berat terus bergema, tapi Raja Tikus terlalu gesit. Tiga tembakan berikutnya meleset, hanya mengoyak tanah atau menembus tumpukan sampah. Darah segar menyembur dari luka-lukanya, meninggalkan jejak merah di sepanjang jalan berlumpur TPA. Makhluk itu semakin menjauh, menghilang ke balik gunung sampah yang lebih dalam.
“Kesempatan bagus!” pikir Budi dalam hati. Tanpa pikir panjang, dia langsung melesat mengejar.