NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Di sebuah restoran nasi Padang yang tidak terlalu besar di pinggir jalan, suasana siang itu terasa cukup ramai. Aroma santan, cabai, dan rempah-rempah yang kuat memenuhi udara, bercampur dengan suara sendok yang beradu dengan piring dan percakapan pengunjung yang datang silih berganti.

Di meja dekat jendela, empat orang perempuan duduk bersama. Piring-piring berisi nasi hangat, rendang, ayam pop, dan gulai nangka tersusun di atas meja. Sambal merah yang menggoda juga tersaji di mangkuk kecil di tengah meja.

Namun percakapan di antara mereka jauh lebih hangat daripada makanan yang tersaji.

Bu Rika memandang Novita dengan tatapan lembut. Sejak beberapa waktu terakhir ia memang memperhatikan gadis itu. Novita masih sangat muda, tetapi etos kerjanya benar-benar luar biasa. Ia tidak pernah terlihat mengeluh, selalu datang tepat waktu, dan bahkan sering membantu pekerjaan orang lain.

Akhirnya Bu Rika membuka percakapan.

“Novita,” katanya pelan sambil menyendok sedikit nasi ke piringnya. “Ibu sebenarnya sudah lama ingin bertanya. Kamu ini kelihatannya sangat terbiasa bekerja keras. Dari mana kamu belajar semua itu?”

Novita yang sedang memegang gelas teh manis berhenti sejenak. Bahunya sedikit menegang.

“Ah… tidak ada yang istimewa, Bu,” jawabnya pelan.

Yanti langsung menimpali dengan nada bercanda.

“Jangan merendah terus, Vit. Kita semua tahu kamu kerja di mana-mana. Pernah jadi pegawai toko, pernah juga jadi pelayan restoran. Itu bukan hal biasa.”

Risa mengangguk setuju.

“Iya, aku saja baru tahu setelah kamu cerita kemarin. Kamu masih kuliah tapi bisa kerja sebanyak itu.”

Novita tersenyum kecil, tetapi senyum itu tampak sedikit dipaksakan.

Bu Rika memperhatikan perubahan kecil di wajah gadis itu. Ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam di balik cerita itu.

Dengan suara yang lembut ia berkata,

“Kalau kamu tidak keberatan… kamu boleh cerita. Ibu tidak akan menghakimi apa pun.”

Novita menunduk.

Sendok di tangannya ia putar-putar pelan di atas piring, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

“Cerita saya… tidak terlalu bagus untuk didengar, Bu.”

Bu Rika menggeleng perlahan.

“Kadang justru cerita yang berat itulah yang paling penting untuk dikeluarkan.”

Yanti menepuk bahu Novita pelan.

“Iya, Vit. Kita di sini teman.”

Risa ikut tersenyum memberi dukungan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Novita akhirnya menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian yang selama ini ia simpan.

“Orang tua saya bercerai saat saya masih sepuluh tahun,” katanya pelan.

Suasana meja itu langsung berubah hening.

Novita melanjutkan dengan suara yang lebih lirih.

“Ayah saya… menikah lagi dengan perempuan yang sebenarnya sudah lama menjadi selingkuhannya.”

Yanti dan Risa saling pandang, sementara Bu Rika hanya diam mendengarkan.

“Ibu saya tidak bisa menerima itu,” lanjut Novita. “Sejak perceraian itu… ibu berubah. Beliau sering diam, murung, dan sulit diajak bicara.”

Ia berhenti sejenak.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Sebagai anak kecil waktu itu… saya tidak tahu harus melakukan apa.”

Bu Rika meraih gelas air putih dan mendorongnya sedikit ke arah Novita.

“Minum dulu kalau perlu,” katanya lembut.

Novita mengangguk kecil.

Setelah meneguk sedikit air, ia kembali melanjutkan ceritanya.

“Untungnya nenek saya datang menjemput saya. Beliau membawa saya tinggal bersama beliau.”

Nada suara Novita sedikit berubah ketika menyebut neneknya.

Ada kehangatan di sana.

“Nenek saya yang merawat saya… menyekolahkan saya… bahkan memastikan saya tidak kekurangan apa pun.”

Yanti tersenyum tipis.

“Kedengarannya nenekmu orang yang hebat.”

Novita mengangguk perlahan.

“Beliau memang orang yang paling baik yang pernah saya kenal.”

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

“Sayangnya… nenek meninggal saat saya baru mulai kuliah.”

Kata-kata itu keluar dengan sangat pelan, hampir seperti bisikan.

Risa langsung menutup mulutnya dengan tangan.

“Ya Tuhan…”

Novita menatap meja.

“Sejak saat itu saya harus mengurus semuanya sendiri.”

Ia menarik napas lagi.

“Saya mulai mencari pekerjaan apa saja. Kadang jadi pegawai toko, kadang jadi pelayan restoran. Yang penting bisa bayar makan dan biaya kuliah.”

Yanti menggenggam tangan Novita.

“Kamu melakukan semua itu sendirian?”

Novita mengangguk.

“Tapi saya beruntung,” katanya mencoba tersenyum. “Saya dapat beasiswa. Jadi saya masih bisa kuliah sampai S1.”

Bu Rika yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya tidak bisa menahan emosinya.

Air mata perlahan mengalir di pipinya.

Ia menunduk sebentar, mencoba menenangkan diri.

“Ya ampun, Nak…” ucapnya lirih.

Yanti dan Risa yang baru saja memahami sepenuhnya kehidupan yang dijalani Novita langsung memeluk sahabat mereka itu dari kedua sisi.

“Vit… kamu hebat sekali,” kata Yanti dengan suara bergetar.

“Iya,” tambah Risa. “Aku tidak tahu kamu sudah melalui semua itu.”

Novita mencoba tersenyum, tetapi matanya sudah dipenuhi air.

Ia cepat-cepat mengangkat tangannya dan mengucek matanya.

“Ah… sepertinya mataku kemasukan debu,” katanya sambil tertawa kecil, mencoba menutupi perasaannya.

Namun Bu Rika segera meraih tisu dari kotak di meja.

Dengan gerakan lembut ia menyodorkannya kepada Novita.

“Jangan digosok begitu,” katanya pelan. “Nanti malah sakit matanya.”

Novita berhenti mengucek matanya.

Ia menerima tisu itu dengan senyum kecil.

“Terima kasih, Bu.”

Ia lalu menempelkan tisu itu ke sudut matanya, berusaha menghapus air mata yang tidak berhenti mengalir.

Beberapa detik mereka hanya duduk dalam diam.

Suasana restoran yang ramai terasa jauh dari meja mereka.

Yang terdengar hanya napas pelan dan sesekali suara piring dari meja lain.

Bu Rika akhirnya berkata dengan suara yang hangat.

“Kamu sudah melalui banyak hal, Novita.”

Novita menunduk.

“Tapi kamu tetap berdiri sampai sekarang.”

Yanti mengangguk kuat.

“Dan kamu masih bisa tersenyum.”

Risa menambahkan,

“Tidak semua orang sekuat kamu.”

Novita menatap mereka satu per satu.

Untuk pertama kalinya sejak mulai bercerita, senyumnya terlihat lebih tulus.

“Terima kasih… sudah mau mendengarkan.”

Bu Rika menggeleng pelan.

“Bukan kami yang harus berterima kasih.”

Ia menatap Novita dengan mata yang masih sedikit basah.

“Kami justru bersyukur kamu mau mempercayai kami.”

Beberapa saat kemudian Bu Rika menoleh ke arah pelayan yang sedang lewat.

“Mbak,” panggilnya ramah. “Tolong nanti dibungkuskan nasi dan lauk juga ya.”

Novita yang mendengar itu langsung menoleh.

“Dibungkuskan, Bu?”

Bu Rika tersenyum.

“Iya. Untuk kalian bertiga.”

Yanti langsung terlihat senang.

“Wah, Bu Rika baik sekali!”

Novita juga ikut tersenyum lebar.

“Iya, Bu. Terima kasih banyak.”

Namun Risa tiba-tiba menggeleng.

“Eh, tunggu dulu.”

Semua mata langsung tertuju padanya.

Risa menunjuk Novita.

“Kalau menurutku… jatahku kasih saja ke Novita.”

Novita langsung mengangkat kepala.

“Hah? Jangan begitu.”

Yanti yang mendengar itu tiba-tiba ikut berbicara.

“Kalau begitu… punyaku juga buat Novita saja.”

Novita membelalakkan mata.

“Kalian ini kenapa?”

Risa tersenyum jahil.

“Ya biar kamu punya stok makanan di kos.”

Yanti mengangguk setuju.

“Iya, Vit. Kamu kan sering lupa makan kalau lagi sibuk kerja.”

Novita langsung menggeleng cepat.

“Tidak, tidak. Itu terlalu banyak. Aku tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya sendiri.”

Risa tertawa kecil.

“Tenang saja. Nasi Padang itu awet.”

Yanti ikut tertawa.

“Iya, tinggal dipanasin lagi.”

Novita masih terlihat keberatan.

“Serius, ini kebanyakan.”

Bu Rika yang melihat perdebatan kecil itu akhirnya tersenyum hangat.

“Sudah, jangan diperdebatkan.”

Ketiganya langsung menoleh kepadanya.

Bu Rika melanjutkan dengan lembut,

“Kalau memang tidak habis, kamu bisa bagi dengan teman kos.”

Novita terdiam.

Matanya kembali terasa hangat, tetapi kali ini bukan karena kesedihan.

Ia menatap Bu Rika, Yanti, dan Risa bergantian.

Orang-orang yang baru ia kenal beberapa waktu lalu.

Namun kini terasa seperti keluarga.

Akhirnya ia mengangguk pelan.

“Baik… terima kasih.”

Di meja kecil restoran nasi Padang itu, makanan di piring mereka mungkin mulai dingin.

Namun kehangatan yang mereka rasakan justru semakin terasa hangat.

1
viellia
next yuuuk kaaak
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!