Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahu yang Menjadi Sandaran Nyata
Perjalanan pulang dari panti asuhan terasa sangat tenang. Rey datang menghampiri mereka karena laporan dadakan dari kantor. Di dalam mobil Rolls-Royce yang kedap suara itu, hanya terdengar deru mesin halus dan suara napas yang teratur. Eleanor, yang energinya terkuras habis setelah menjadi target kejar-kejaran puluhan anak kecil, mulai merasakan kelopak matanya berat.
Awalnya ia mencoba tetap tegak, menatap ke luar jendela melihat pepohonan yang berlalu. Namun, goyangan lembut mobil dan aroma kabin yang menenangkan—campuran wangi kulit mewah dan parfum sandalwood milik Edward—membuatnya menyerah. Perlahan, kepalanya terkulai ke samping, dan tanpa sadar mendarat tepat di bahu kokoh Edward.
Edward, yang sedang memeriksa beberapa surel di tabletnya, tersentak kecil. Ia menoleh dan menemukan Eleanor sudah terlelap. Rambut hitamnya yang ikal di bagian bawah menutupi sebagian wajahnya yang tampak sangat damai saat tidur.
Kali ini, Edward tidak menyeringai licik. Ia tidak sedang memikirkan cara untuk menjebak Eleanor dengan rasa bersalah lagi. Sebaliknya, ia mematikan tabletnya dan meletakkannya di kursi samping. Dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah takut memecahkan porselen yang sangat mahal—Edward membetulkan posisi kepala Eleanor agar lebih nyaman di bahunya.
Edward menyandarkan kepalanya sendiri di atas kepala Eleanor, menghirup aroma bando dan rambut gadis itu. Tidak ada kamera, tidak ada Bi Elena, dan tidak ada musuh bisnis yang melihat. Di sini, Edward membiarkan dirinya menjadi pria biasa yang sedang jatuh hati.
'Kau benar-benar badai yang paling indah, Eleanor,' batin Edward.
Tangannya perlahan turun, menyelimuti jemari Eleanor yang mungil dengan telapak tangannya yang besar. Ia tidak menyadari bahwa sepanjang sisa perjalanan, ia terus tersenyum menatap jalanan di depan. Rasa nyaman yang kemarin ia pertanyakan, kini terasa semakin nyata dan menakutkan, namun ia tidak ingin melepaskannya.
Mansion Pribadi Zollern – 18:00 Sore. Mobil berhenti di depan lobi mansion dengan sangat halus. Rey yang bertugas membukakan pintu tertegun melihat tuannya memberikan isyarat tangan untuk diam.
"Bawakan tasnya ke dalam, Rey. Jangan berisik," bisik Edward tajam.
Edward tidak tega membangunkan Eleanor. Ia memilih untuk menggendong Eleanor keluar dari mobil. Kali ini, ia tidak memukul tengkuknya, tidak ada obat bius, hanya ada kelelahan yang murni. Eleanor meracau kecil dalam tidurnya, tangannya secara refleks mencengkeram kemeja Edward, mencari kehangatan.
Edward membawanya naik ke lantai dua. Namun, bukannya membawa Eleanor ke kamarnya sendiri, Edward justru membawanya ke kamar utama miliknya. Ia membaringkan Eleanor di atas tempat tidur besarnya yang empuk, menyelimutinya hingga sebatas dada, dan mengecup keningnya dengan sangat lembut.
"Malam ini, tidurlah di sini. Aku akan menjagamu," gumam Edward.
Sementara itu, di sebuah kelab malam di London, Lyodra sedang duduk bersama seorang jurnalis gosip papan atas. Wajahnya yang sudah diperbaiki dengan riasan tebal tampak tegang.
"Aku punya informasi tentang masa lalu Eleanor Lichtenzell yang tidak diketahui publik," ucap Lyodra ketus. "Ini tentang semua Eleanor dan beberapa pria yang pernah dijodohkan dengannya. Aku yakin ada satu atau dua yang sakit hati dan mau bicara tentang betapa liarnya putri Lichtenzell itu."
Lyodra tidak tahu, bahwa saat ia sibuk merencanakan kehancuran Eleanor, Edward sudah memindahkan seluruh dunianya hanya untuk memastikan Eleanor tetap aman di sisinya.