Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 [Legenda Api yang Menghilang]
Langit malam berubah menjadi merah.
Api menyala di seluruh medan perang, memantulkan cahaya di ribuan pedang yang beradu di bawahnya. Tanah dipenuhi suara jeritan, logam yang berderak, dan derap kaki makhluk yang bukan manusia.
Pasukan iblis.
Mereka muncul seperti gelombang hitam yang tidak ada habisnya. Mata mereka bersinar merah di antara asap dan kobaran api yang membakar benteng kerajaan.
“Barisan kiri runtuh!”
“Tahan mereka! Jangan biarkan mereka menembus gerbang!”
Para prajurit manusia berteriak saling memberi perintah, tetapi suara mereka tenggelam oleh raungan para iblis yang menyerbu tanpa henti.
Cakar tajam menghantam perisai.
Taring menembus daging.
Malam itu, seolah-olah dunia berada di ambang kehancuran.
Kerajaan Solvaria, kerajaan besar yang terkenal dengan penyihir api mereka, berada dalam situasi yang hampir putus asa.
Di dinding benteng, seorang jenderal tua memandang medan perang dengan wajah pucat.
“Ini… mustahil,” gumamnya.
Pasukan iblis terlalu banyak.
Bahkan para penyihir elit kerajaan mulai kehabisan mana.
Jika situasi ini terus berlanjut…
Solvaria akan jatuh sebelum fajar.
Namun tepat ketika keputusasaan mulai menyelimuti para prajurit
Langit tiba-tiba berubah.
Udara di atas medan perang bergetar.
Panas yang luar biasa menyebar seperti gelombang yang tak terlihat.
Para iblis berhenti bergerak.
Beberapa di antara mereka menggeram, seolah merasakan sesuatu yang sangat berbahaya.
Lalu
BOOOOM.
Sebuah ledakan api raksasa meledak dari tengah langit malam.
Api itu tidak seperti api biasa.
Warnanya merah terang, bercampur dengan kilatan emas yang menyilaukan.
Seolah-olah matahari kecil baru saja lahir di langit.
Semua orang di medan perang menoleh ke arah yang sama.
Di sana…
Seseorang berdiri di udara.
Seorang pemuda.
Rambutnya hitam gelap yang berkibar tertiup angin panas, dan matanya bersinar seperti bara api yang menyala.
Ia mengenakan mantel perang merah yang berkibar di belakangnya.
Tangannya perlahan terangkat.
Dan ketika ia berbicara
Suaranya terdengar jelas di seluruh medan perang.
“Menjijikkan.”
Nada suaranya tenang.
Namun kata-kata itu membawa tekanan yang membuat para iblis berhenti bergerak.
“Berani sekali kalian menginjak tanah manusia.”
Salah satu iblis raksasa mengaum dan melompat ke udara.
Tubuhnya besar seperti menara.
Cakarnya terangkat, siap mencabik pemuda itu menjadi dua.
Namun pemuda itu bahkan tidak bergerak.
Ia hanya mengayunkan tangannya dengan santai.
Satu ayunan.
Hanya satu.
Dan dunia berubah.
Api raksasa meledak seperti badai.
Gelombang api menyapu langit dan tanah sekaligus, melahap ratusan iblis dalam sekejap.
Jeritan mereka menghilang dalam kobaran cahaya yang menyilaukan.
Para prajurit manusia membeku di tempat.
Beberapa bahkan menjatuhkan senjata mereka.
“Dia… dia…”
Seorang penyihir kerajaan berbisik dengan suara gemetar.
“Grandmaster Api…”
Nama itu menyebar seperti bisikan yang terbawa angin.
Orang yang berdiri di langit malam itu bukan sembarang penyihir.
Ia adalah puncak kekuatan manusia.
Legenda hidup.
Namanya
Shiranui Akihara.
Pada usia enam belas tahun, ia telah mencapai tingkat kekuatan yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh kebanyakan penyihir.
Api miliknya bukan sekadar sihir.
Api itu adalah bencana.
Api itu adalah kekuatan yang bisa membakar pasukan iblis hanya dengan satu gerakan tangan.
Di malam itulah, perang mulai berubah.
Dengan Akihara di garis depan, pasukan manusia perlahan mendorong mundur para iblis.
Ledakan api menyapu medan perang berkali-kali.
Langit malam berubah menjadi lautan cahaya merah.
Ketika fajar akhirnya datang
Tidak ada satu pun iblis yang tersisa di medan perang.
Perang besar yang mengancam dunia manusia berakhir dengan kemenangan.
Dan nama Shiranui Akihara menjadi legenda.
Namun legenda tidak selalu bertahan selamanya.
Beberapa bulan setelah perang berakhir
Akihara menghilang.
Tidak ada pesan.
Tidak ada jejak.
Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.
Kerajaan Solvaria mengirim pasukan pencari.
Para Grandmaster dari kerajaan lain juga mencoba melacak keberadaannya.
Tetapi semuanya sia-sia.
Seolah-olah sang legenda benar-benar lenyap dari dunia.
Akhirnya, dunia menerima satu kesimpulan yang pahit.
Shiranui Akihara…
Telah gugur.
Dua tahun berlalu.
Dunia perlahan kembali damai.
Namun jauh dari kota-kota besar dan istana kerajaan
Ada sebuah desa kecil yang hampir tidak dikenal oleh dunia.
Namanya Hinomura.
Desa itu terletak di antara perbukitan hijau dan ladang gandum yang luas.
Rumah-rumah kayu sederhana berdiri berjajar di sepanjang jalan tanah.
Angin pagi bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Suara ayam berkokok terdengar dari kejauhan.
Seorang pemuda berjalan di jalan desa sambil membawa seikat kayu bakar di pundaknya.
“Pagi!”
Seorang wanita tua melambaikan tangan dari depan rumahnya.
Pemuda itu tersenyum kecil.
“Pagi, nenek.”
Ia berhenti sebentar dan menurunkan kayu bakarnya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Wanita tua itu tertawa.
“Kamu terlalu rajin, Akira. Kalau terus begini, semua pekerjaan desa nanti kamu yang ambil.”
Pemuda itu hanya menggaruk kepalanya dengan canggung.
Di desa ini, ia dikenal dengan nama Akira.
Tidak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya.
Tidak ada yang tahu bahwa pemuda yang sekarang memotong kayu, memperbaiki atap rumah, dan membantu para petani memanen gandum
Adalah legenda yang pernah menyelamatkan dunia.
Shiranui Akihara.
Kini ia berusia delapan belas tahun.
Dan ia memilih menjalani hidup sederhana di desa kecil ini.
Setelah membantu wanita tua itu memperbaiki pagar rumahnya, Akihara berjalan menuju tepi desa.
Di sana terdapat sebuah bukit kecil yang menghadap ke ladang luas.
Ia duduk di bawah pohon besar.
Angin sore bertiup pelan.
Untuk sesaat, dunia terasa sangat damai.
Namun kedamaian itu tidak benar-benar menghapus masa lalu.
Mata Akihara perlahan menutup.
Bayangan perang kembali muncul di pikirannya.
Jeritan.
Api.
Kematian.
Teman-teman yang tidak pernah kembali.
Tangannya mengepal pelan.
“…cukup,” gumamnya pelan.
Ia membuka mata dan menatap langit biru.
Hidup seperti ini sudah cukup baginya.
Tanpa perang.
Tanpa gelar pahlawan.
Hanya kehidupan biasa di desa kecil.
Namun jauh di tempat lain
Di sebuah kota tua yang jauh dari Hinomura.
Seorang pendeta tua membuka gulungan naskah kuno yang berdebu.
Tangannya gemetar ketika membaca tulisan yang ada di dalamnya.
Matanya melebar.
“Ini… tidak mungkin…”
Tulisan itu menceritakan legenda yang sangat tua.
Legenda tentang neraka iblis.
Legenda tentang seorang penguasa yang seharusnya hanya ada dalam cerita.
Pendeta itu berbisik pelan.
“Argiel… Lucifer…”
Lilin di meja tiba-tiba berkedip.
Angin dingin menyapu ruangan.
Seolah-olah sesuatu yang lama tertidur…
Mulai bangkit kembali.
Dan di desa kecil Hinomura
Seorang pemuda yang pernah membakar pasukan iblis sendirian…
Masih belum menyadari bahwa kedamaiannya tidak akan bertahan lama.
Legenda yang pernah mengubah dunia
Akan segera dipanggil kembali.