Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa Rania
“Rania.”
Rania menghentikan langkahnya lalu menoleh. “Hmm,” balasnya dengan deheman singkat pada Willy—tetangganya yang berdiri di sampingnya bersama seorang temannya.
Willy yang sudah tahu sifat cuek Rania berusaha mencari topik pembicaraan.
“Lo dari mana?” tanyanya.
“Perpustakaan,” jawab Rania singkat.
“Lo lagi sibuk?”
Rania menggeleng pelan. “Nggak. Kenapa memang?”
“Ngobrol yuk. Kita kan sekompleks, tapi jarang ngobrol,” jawab Willy sambil menggaruk tengkuknya.
Rania terdiam sejenak. Ia menatap wajah Willy yang tampak seperti sedang memohon.
“Baiklah,” ucapnya akhirnya. Tak ada salahnya juga mengobrol dengan teman masa kecilnya.
Willy tersenyum tipis, lalu mengajak Rania duduk di bangku kosong yang ada di dekat mereka.
“Oh ya, gue lupa kenalin. Rania, ini Rendra, teman gue,” ucap Willy memperkenalkan Rendra pada Rania.
“Rendra,” ucap Rendra dengan senyum tipis.
“Gue udah tahu lo kok,” jawab Rania.
“Kapan lo kenalnya?” tanya Willy dengan nada bingung.
Tanpa ragu, Rania langsung menepuk kepala Willy dengan buku yang ia bawa.
“Lo kenalin gue waktu gue ke rumah lo, pas SMP,” ucapnya dengan nada sedikit kesal.
Willy tampak berpikir keras.
“Kapan? Emang pernah?” ucapnya masih kebingungan.
“Iya, lo pernah kenalin gue ke Rania saat kita SMP, waktu itu Rania juga ke rumah lo,” jelas Rendra.
“Rendra aja ingat,” ucap Rania.
Willy akhirnya mengangguk-angguk kecil.
“Iya, iya. Gue ingat sekarang. Gue pikir lo udah lupa, Ran.”
Rania hanya menatap Willy dengan malas.
Beberapa detik kemudian, Willy kembali membuka suara.
“Hmm, Ran?”
“Apa?”
“Gue gak maksud ikut campur, tapi gue dengar lo balikan lagi sama mantan lo,” ucap Willy dengan nada ragu.
“Udah putus gue,” balas Rania santai.
“Serius? Cepat amat?” ucap Willy dengan nada tidak percaya.
“Dia cuma manfaatin gue,” ucap Rania. Matanya tak sengaja menangkap sosok Adrian yang sedang berjalan bersama seorang cewek di kejauhan.
Willy mengikuti arah pandangan Rania sebentar, lalu kembali menatapnya.
“Gue turut prihatin, tapi... bagus dong lo putus sama dia. Tuhan cepat memperlihatkan kelakuan buruknya. Lo juga sih, ngapain balikan sama dia. Nyesal kan lo,” sambungnya dengan nada kesal.
“Namanya juga lagi dibutakan cinta,” balas Rania sambil menatap malas ke arah Willy.
“Semoga lo dapat yang lebih baik dari dia, Ran,” ucap Willy sambil mengedipkan matanya pada Rendra.
Namun Rendra justru membalasnya dengan tatapan horor.
Willy tidak peduli. Ia kembali menatap Rania.
“Rania, gue punya pertanyaan buat lo.”
“Tanya apa?” ucap Rania sambil menaikkan alisnya.
“Misalnya ada yang suka lo diam-diam dari dulu, gimana menurut lo?” tanya Willy.
Rendra yang sedang minum langsung tersedak mendengar pertanyaan itu. Ia menatap tajam ke arah Willy.
“Kalau minum hati-hati, Ndra,” ucap Willy dengan nada menyindir sambil mengelus punggung Rendra, tetapi langsung ditepis oleh Rendra.
Rania tidak langsung menjawab. Ia menatap Willy dan Rendra secara bergantian.
“Lo suka gue diam-diam?”
“Nggak! GR amat lo,” jawab Willy cepat. “Gue cuma nanya doang.”
Rania terkekeh kecil.
“Iya deh, gue percaya. Gue juga tahu siapa yang lo suka,” ucapnya sambil tersenyum miring.
“Jangan sok tahu lo ya. Gue suka siapa?”
“Padahal gue niat bantu lo biar lo dekat sama sahabat gue.”
Ucapan Rania membuat mata Willy langsung membelalak. Dalam hatinya ia bertanya-tanya dari mana Rania tahu.
“Ran, lo ya… arghhh,” kesal Willy. “Iya deh gue ngaku. Gue suka sahabat lo,” ucapnya akhirnya dengan nada kesal.
Hahaha…
Rania langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Willy. Kenapa Rania tahu Willy menyukai salah satu sahabatnya? Karena dulu Willy pernah sering bercerita padanya tentang perasaannya itu. Hanya saja, Willy sendiri tampaknya sudah lupa dengan masa itu. Itulah yang membuat Rania sengaja mengerjainya tadi, sekadar membalas kelupaan Willy sekaligus menggoda temannya itu.
Rendra yang sejak tadi memperhatikan Rania seketika terdiam saat melihat gadis itu tertawa lepas.
“Cantik,” gumamnya pelan tanpa sadar.
“Gak usah ketawa, gak lucu tahu,” kesal Willy.
Rania akhirnya menghentikan tawanya sambil menyeka air mata di sudut matanya.
“Nanti gue bantuin lo dekat sama sahabat gue.”
Mata Willy langsung berbinar.
“Serius lo?”
Rania mengangguk, lalu beranjak dari duduknya.
“Gue duluan ya, sebentar lagi masuk.”
“Iya, ingat ya bantuin gue.”
Rania hanya mengangkat jempol tanpa berbalik, lalu berjalan meninggalkan mereka.
Begitu Rania sudah sedikit menjauh, Rendra menatap Willy.
“Lo sengaja, kan?”
Willy mengangguk tanpa merasa bersalah.
“Iya. Itung-itung kode buat Rania.”
Rendra menghela napas pelan. “Lo ini…”
Willy menepuk bahu sahabatnya itu. “Saran gue, kalau memang lo suka sama Rania, buktiin.”
Rendra menoleh menatapnya.
“Buktiin dengan tindakan, bukan janji manis." Lanjut Willy.
Rendra terdiam beberapa saat, memikirkan ucapan Willy.
“Lagipula,” tambah Willy santai, “daripada lo cuma kagum diam-diam dari dulu, mending coba deketin.”
Rendra menatap ke arah Rania yang sudah berjalan cukup jauh.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Iya,” ucapnya pelan.
Dari kejauhan, Revano melihat Rania sedang mengobrol dengan dua orang pria—Willy dan Rendra. Ia memperhatikan mereka cukup lama.
Saat Rania tertawa bersama mereka, entah kenapa hal itu membuat perasaan Revano sedikit terusik.
“Lo gak boleh cemburu, lo bukan siapa-siapanya Rania.”
Suara Reyhan tiba-tiba terdengar dari belakang sambil menepuk bahu Revano.
“Lo jangan berpikir yang negatif dulu sebelum jadi boomerang buat diri lo sendiri,” sambung Reyhan santai.
“Gue paham,” ucap Revano singkat.
Reyhan mengangguk pelan, lalu kembali bertanya, “Kapan lo ngungkapin perasaan lo?”
“Gue belum tahu. Tapi gue pastikan secepatnya. Gue akan berusaha ngerebut hati Rania. Sekarang waktunya belum tepat—Rania belum membuka hati buat siapa-siapa,” jawab Revano dengan nada tenang.
“Apa Rania belum bisa move on dari mantannya?” tebak Reyhan.
Revano langsung menggeleng cepat.
“Nggak mungkin Rania belum move on. Dia cuma menutup hatinya,” ucapnya. Lalu ia tersenyum tipis. “Lo tahu semalam gue ngobrol bareng Rania?”
“Serius? Di mana?” tanya Reyhan penasaran.
“Taman, dekat mansion teman mama gue.”
“Ngapain dia di taman malam-malam?”
“Main game. Katanya dia gabut,” jawab Revano sambil terkekeh kecil.