NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Sudah tiga bulan sejak malam pertunangan megah itu.

Tiga bulan sejak Zara resmi dipanggil “calon istri Pak Kenzy” oleh hampir seluruh karyawan.

Dan tiga bulan sejak mereka berdua sepakat…ini hanya sandiwara.

Masalahnya?

Tidak ada yang terasa seperti sandiwara lagi.

Awalnya semua terasa canggung.

Pegangan tangan hanya saat perlu.

Duduk berdampingan hanya di depan umum.

Senyum manis hanya untuk kamera.

Tapi sekarang?

Setiap hari zara dijemput dan di antar pulang oleh kenzy.

Kenzy refleks membuka pintu mobil untuk Zara tanpa sadar itu bagian dari “akting”.

Zara refleks merapikan dasi Kenzy sebelum meeting besar.

“Pak, miring.”

Kenzy menunduk sedikit.

“Kamu makin cerewet.”

“Ini demi citra tunangan sempurna.”

“Atau demi aku?”

Zara terdiam setengah detik.

“Demi perusahaan,” jawabnya cepat.

Kenzy hanya tersenyum tipis.

Terlalu tipis untuk dibaca.

Suatu siang, seorang klien wanita muda datang ke kantor.

Cantik. Elegan. Percaya diri.

Ia tertawa terlalu sering pada Kenzy.

Zara yang duduk di samping pura-pura fokus pada tablet.

Tapi jarinya berhenti mengetik sejak lima menit lalu.

“Pak Kenzy memang selalu jadi topik hangat,” kata wanita itu sambil tersenyum manis.

Kenzy menjawab profesional.

“Tolong fokus pada proposalnya.”

Wanita itu melirik Zara.

“Ah iya, maaf. Saya hampir lupa sudah ada yang mengisi.”

Nada bercandanya tipis.

Zara tersenyum manis.

Tatapan mereka bertemu.

Klien itu terdiam sebentar.

Sesuatu terasa berbeda.

Setelah klien itu pergi, Zara merapikan file dengan sedikit lebih keras dari biasanya.

Kenzy memperhatikan.

“Kamu marah?”

“Tidak.”“Tablet kamu hampir jadi korban.”

Zara berhenti.

“Aku cuma… tidak suka dia senyum-senyum begitu.”

Kenzy mendekat satu langkah.

“Cemburu?”

Zara langsung defensif.

“Enggak!”

Kenzy menahan senyum.

“Baiklah.”

“Bapak juga senyum-senyum tadi…centil!”

“Itu sopan santun.”

Zara menyilangkan tangan.

“Ya sudah sana lanjut sopan santun sama dia.”

Kenzy akhirnya tertawa pelan.

Langkah kecil.

Ia mendekat dan menurunkan suara.

“Zara.”

“Iya”

“Saya tidak tertarik.”

Jantung Zara berdetak sedikit lebih cepat.

“Ke siapa?”

Kenzy menatapnya.

“Kamu tahu jawabannya.”

Zara langsung memalingkan wajah.

“Pak ini jam kerja.”

Tapi pipinya sudah mengkhianati.

 Hujan deras mengguyur kota malam itu.

Zara tetap memaksakan diri lembur.

Besok ada presentasi besar.

Kenzy sudah menyuruhnya pulang lebih dulu.

Zara keras kepala.

Dan hasilnya?

Demam tinggi.

Pagi-pagi Bibi panik menelpon Kenzy.

“Nak Kenzy, hari ini Zara tidak bisa ke kantor badannya demam tinggi.”

Dalam tiga puluh menit, Kenzy sudah berdiri di depan rumah.

Dengan dokter pribadi.

Dan wajah yang jelas tidak tenang.

Zara terbaring lemah di kamar.

“Pak… ngapain kesini…”

“Saya dilarang?”

Zara ingin menjawab galak.

Tapi kepalanya terlalu berat.

Dokter selesai memeriksa.

“Demam karena kelelahan. Harus istirahat total.”

Kenzy duduk di samping ranjang.

Bibi dan Kakek Jo berdiri di pintu, saling melirik.

Misi berhasil tahap satu.

“Pak, ada meeting hari ini, bapak harus di kantor…”

“Meeting bisa di reschedule, lagipula ada Rendy di kantor, dia bisa handle.”

Zara memandangnya lemah.

“Ini cuma pura-pura loh Pak… nggak perlu segitunya.”

Kenzy terdiam.

Lalu pelan menjawab,

“Saya tidak pernah pura-pura soal kesehatan kamu.”

Zara membeku.

Kenzy mengambil kain hangat dan dengan hati-hati mengompres keningnya.

Sentuhannya lembut.

Tidak seperti bos.

Tidak seperti presdir.

Seperti… seseorang yang benar-benar peduli.

Zara menatapnya lama.

“Kenapa Bapak baik banget…”

Kenzy menjawab tanpa ragu.

“Karena kamu penting.”

Sunyi.

Zara memalingkan wajah, pura-pura mengantuk.

Padahal jantungnya hampir keluar.

Di luar kamar, Bibi menutup mulutnya menahan senyum.

Kakek Jo berbisik pelan,

“Sudah tidak bisa dibilang sandiwara lagi.”

Bibi mengangguk.

“Dari awal memang bukan.”

Flashback

Beberapa hari setelah acara pertunangan

Kakek Jo datang sendiri ke rumah Zara.

“assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam…loh pak Jo…zara belum pulang.”

“Ada yang ingin saya bicarakan sama ibu.”

Bibi menyuguhkan teh hangat.

Suasana lebih serius dari biasanya.

“Saya ingin jujur, Bu.”

Bibi terdiam.

“Sejak awal… saya memang membuat pengumuman itu dengan sengaja.”

Bibi tersenyum kecil.

“Oh ya….”

Kakek Jo terkekeh.

“Anak muda itu butuh didorong.”

Ia menatap serius.

“Saya tidak pernah melihat Kenzy sedekat ini dengan perempuan manapun.”

Bibi mendengarkan dengan tenang.

“Saya menyayangi Zara seperti cucu sendiri. Tapi saya juga melihat bagaimana Kenzy berubah sejak mengenalnya.”

Ia menatap Bibi dalam.

“Saya benar-benar ingin Zara menjadi satu-satunya wanita yang bersanding dengan cucu saya.”

Bibi terdiam beberapa detik.

Lalu tersenyum hangat.

“Kalau memang niatnya tulus…saya izinkan.”

Ia menambahkan pelan,

“Zara terlalu polos untuk permainan sebesar ini… Kalau Bapak serius, saya akan bantu.”

Kakek Jo tersenyum lega.

“Berarti kita satu tim.”

Bibi tertawa kecil.

“Tim orang tua licik.”

Mereka saling tersenyum penuh arti.

Di ruang tamu itu.

Aliansi terbentuk.

Bukan untuk sandiwara.

Tapi untuk masa depan!!!

 Ke esokan harinya…

Zara sudah lebih baik.

Kenzy membawakan sup hangat.

“Kakek mana?” tanya Zara.

“Rapat.”

Zara menyipitkan mata.

“Tumben nggak gangguin.”

Kenzy tersenyum tipis.

“Dia mungkin sedang merencanakan sesuatu.”

Zara tidak tahu.

Bahwa yang direncanakan bukan lagi sekadar pertunangan pura-pura.

Kenzy duduk di sampingnya.

Hening nyaman menyelimuti mereka.

“Zara.”

“Iya?”

“Kalau suatu hari saya serius…”

Zara menoleh.

“Serius apa?”

Kenzy menatapnya.

“Tidak lagi pura-pura.”

Jantung Zara kembali berdebar.

Ia menelan ludah.

“Pak…”

“Iya?”

“Kita lihat saja nanti.”

Tapi kali ini.

Tidak ada penolakan.

Tidak ada pengingat tentang sandiwara.

Hanya senyum kecil yang tidak bisa disembunyikan.

Karena cinta memang kadang perlu sedikit rekayasa.

Tapi yang tumbuh setelahnya?

Itu tidak pernah palsu.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!