NovelToon NovelToon
Sistem Kepelatihan Xiao Han

Sistem Kepelatihan Xiao Han

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.

Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)

Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Huanglong Sport Center Stadium. Tribun tengah, siang menjelang sore hari.

Xiao Han tidak pernah menyangka bahwa kakinya yang patah akan membawanya ke sini lagi, duduk di tribun, dengan catatan dan pulpen di pangkuan paha.

Ketiga rekannya duduk berderet, Wei Ying dari kiri, lalu Shen Yuexi, di sebelahnya Xiao Han, dan Ye Chen berdampingan.

“Kau tahu akan seperti apa pertandingan ini?” suara Ye Chen berbisik dari belakang. “Secara kekuatan, Guangzhou FC lebih unggul daripada kita bukan?”

“Ya, kau benar.” Xiao Han menggenggam buku catatan kecilnya yang dikeluarkan dari saku bajunya itu, lebih erat. Jari-jarinya menelusuri formasi 4-4-2 yang sudah ia gambar ulang tiga kali. “Aku akan menganalisanya.”

Ye Chen mendengus. “Ya, itulah kau, jenderal kami di lapangan tengah.”

Shen Yuexi dan Wei Ying hanya senyap, menunggu pertandingan dimulai.

Xiao Han tidak menjawab. Matanya tertuju pada lapangan hijau yang membentang di balik gemuruh suporter memenuhi tribun. Tapi yang lebih keras di telinganya adalah detak jantungnya sendiri.

Dum. Dum. Dum.

Seperti sundulan bola ke palang gawang.

Pak Guan Tian, pelatih botak yang masih menolaknya lewat WhatsApp, mungkin akan terkejut dengan kemampuan Xiao Han dalam menganalisa pertandingan. Di sisi lain, dialah yang menanamkan mental tim hingga ke Final Turnamen Nasional, membentak-bentak tatanan pemain soal posisi kiper hingga ke ujung tombak serangan. Suaranya berat, parau, penuh tekanan. Xiao Han tahu tekanan itu. Ia merasakannya di setiap serat ototnya yang dulu.

“Zhejiang main dengan formasi apa?” tanya Ye Chen tiba-tiba, menoleh ke arahnya.

Xiao Han terkesiap. “4-3-3. Seperti biasa.”

“Kau yakin?”

“Ya. Mereka tidak pernah mengganti formasi kandang dalam dua musim terakhir.”

“Kecuali?”

Xiao Han menghela napas. “Kecuali lawan mereka memiliki penyerang sayap yang terlalu cepat. Maka mereka akan menarik satu gelandang ke belakang, jadi 4-4-2 diamond.”

Ye Chen mengangguk kecil. Matanya berbinar, seakan ia dibawa pulang ke masa-masa SMA dua bulan lalu.

Dari lapangan di sebelah kanan, wilayah Guangzhou FC di babak pertama, terdengar sorakan kecil. Mungkin motivasi. Mungkin yel-yel. Xiao Han mendengar satu nama diteriakkan berulang. Lu Gacheng. Lu Gacheng. Lu Gacheng.

“Bukankah ... terlalu dini memainkan pemain 18 tahun sebagai starter?” kata Shen Yuexi. “Aku memang tidak terlalu mengerti, tapi yang namanya tingkat professional pasti jauh lebih sulit dari hanya anak-anak SMA.”

Jari-jari Xiao Han menekan buku catatan hingga kuku memutih. “Dia starter,” katanya melihat pemain yang dirinya kenal. “Lu Gacheng nomor 69, posisi striker tengah. Guangzhou pakai 4-3-3 juga.”

Xiao Han tidak perlu data. Matanya sudah menangkap bayangan pemain itu saat pemanasan. Tinggi, lincah, gerakan tanpa bola yang cerdas. Tepat seperti yang ia lihat di televisi rumah sakit dua bulan lalu.

Jika aku yang bermain, aku tahu cara menghentikannya, pikir Xiao Han. Kaki kiri dia lebih lemah. Tekan dari sisi kanan, jangan beri ruang cut inside.

Tapi ia tidak akan bermain.

“Ye Chen, line-up Zhejiang bagaimana?” Ye Chen.

“4-4-2.”

“Bukan 3-4-3?”

“Bukan.”

Xiao Han terdiam. Selama dia mengenal tim ini, Pelatih Zhejiang tidak pernah meninggalkan 3-4-3, hampir serupa dengan Pak Guan Tian. Dan sekarang, di pertandingan terbesar musim ini, ia berganti formasi.

“Kenapa?” Xiao Han bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.

Karena Lu Gacheng? Dia main di penyerang tengah. 3-4-3 kita terlalu lemah di poros. Bek sayap ke dalam, lubang di depan kotak penalti. Dia akan makan habis.

Xiao Han mengerjap. Ini bukan Zhejiang yang ia kenal. Pelatih mereka itu dikenal keras kepala, anti-kritik, dan mati-matian mempertahankan sistemnya. Tapi sekarang.

“Dia sudah mendapat kritik publik,” kata Ye Chen, membaca pikiran Xiao Han. “Tapi dia tidak bodoh, kan?”

Ye Chen menunjuk lembaran kertas di pangkuan Xiao Han. “Itu formasi yang kau gambar, kan?”

Xiao Han mengangguk. 4-4-2 klasik. Dua striker, empat gelandang sejajar, dua bek tengah yang saling menutup. Formasi yang ia pelajari dari buku sistem di meja belajarnya. Formasi yang menurutnya paling cocok melawan Guangzhou.

“Apa kau sudah tahu ke mana arah pertandingan berlaku?” tanya Ye Chen.

Wei Ying hanya mendengarkan. “A-Apa kak Xiao Han bisa membaca pertandingan?” akhirnya bersuara.

“Tentu, seorang gelandang harus punya visi, untuk apa bertahan, untuk apa menyerang, dan itu hanya untuk satu misi, bola terus mengalir untuk tim, dan mencetak gol,” kata Ye Chen, diikuti mata Shen Yuexi dan Wei Ying.

Xiao Han hanya membeku. Dia tidak bisa jawab pertanyaan Ye Chen. Semua ini dari sistem yang muncul di kepalanya, setelah dia menangis di rumah sakit.

“Dari game,” jawabnya akhirnya. “PS4. Mode manajer.”

Ye Chen kembali mendengus. Kali ini hampir terdengar seperti tawa. “Dulu aku juga belajar dari game. WE 2010. Masih ingat? Kalian anak sekarang mana tahu.”

Xiao Han tahu, tapi ia tersenyum untuk candaan rekan setimnya dulu yang sebaya.

Di lapangan, wasit mulai meniup peluit untuk memanggil kapten kedua tim. Sorak-sorai tribun meninggi. Spanduk hijau bergelombang seperti laut. Dan di dalam dadanya, sesuatu yang mati perlahan mulai berdenyut lagi.

Bukan sebagai pemain.

Tapi sebagai pelatih.

Ding!

Sistem muncul di ujung pandangannya, transparan, hanya ia yang bisa melihat.

[ Misi Analisis Aktif ]

[ Gunakan Talent Eye untuk membaca susunan pemain Guangzhou FC ]

[ Catatan: Semakin detail analisis, semakin besar EXP yang diperoleh ]

Xiao Han menegakkan punggung.

“Ye Chen,” katanya, suaranya lebih tenang dari yang ia duga. “Guangzhou akan main dengan tekanan tinggi di 15 menit pertama. Mereka percaya Lu Gacheng bisa mencetak gol cepat. Tapi formasi 4-4-2 itu justru bisa memanfaatkan itu.”

Ye Chen menaikkan alisnya. “Ohh ...”

“Jika mereka menekan tinggi, bek sayap mereka akan naik. Itu meninggalkan ruang di sisi. Gelandang sayap Zhejiang bisa memotong dan memberi umpan silang ke dua striker. Mereka tidak butuh penguasaan bola. Mereka butuh efisiensi.”

Ye Chen tak menjawab. Ia hanya memandang Xiao Han dengan mata yang tidak bisa dibaca.

Kemudian, tanpa sepatah kata, ia berjalan menuju pagar pembatas.

Tapi sebelum melangkah terlalu jauh, ia berhenti. “Kau,” katanya tanpa menoleh. “Serius ingin menjadi pelatih?”

“Ya?”

“Kupikir mentalmu ikut cedera.” Ye Chen melenggang sedikit dari pembatas tribun. “Tapi ... kau tetap kau.”

Di belakangnya, Wei Ying bersiul pelan. “Kukira Kak Ye Chen itu orang yang cuman pentingin bucinannya saja.”

Xiao Han hanya tersenyum, lalu menyoroti kaki yang cedera, terasa sangat sakit saat ia berdiri. Tapi ketidakpedulian adalah milik, dia hidup bersama ketidakpastian, dari sisi yang berbeda, dengan pola pikir masing-masing.

“Aku akan menjadi pelatih, Ye Chen.” Xiao Han menatap raut wajah temannya. “Gagal bukan berarti harus menyerah, menepi saja sejenak temanku, duduk dulu di jalan berbuntu.”

Xiao Han berdiri, menghampiri, walau pincang derapnya. “Dan berputarlah arah, kembali ke jalan sebelumnya, jalan harapan.”

Ye Chen, terlihat di matanya penuh genang tak mengalir, dia menahannya. “Aku selalu merasa diriku berbakat,” katanya halus. “ Tapi di final itu, Lu Gacheng adalah tembok yang tak dapat ku hancurkan.”

Ye Chen berjalan ke pagar pembatas lagi, membiarkan angin sore membelai wajahnya. Xiao Han menyusul, pincang namun mantap.

Plak.

Tangan Xiao Han yang kasar menepuk lembut pundak Ye Chen, seakan ada sesuatu yang hancur jika terlalu kuat.

“Aku selalu percaya padamu, maka dari itu, saat kita masih bermain sebagai tim, aku selalu mencarimu untuk umpan-umpanku.” Xiao Han enggan melepaskan tangan di pundak Ye Chen. “Teruslah melangkah, walau harus patah kaki sekalipun.”

Ye Chen tertunduk sunyi, senyum terpatri tabir jingga, di antara awan-awan yang saling tersinggung, air pun enggan beranjak dari irisnya.

Hanya sudut bibir yang menaik.

Di balik mata yang sendu itu.

Bukan malam yang akan tiba, tapi kelam dari dalam hatinya.

Ada sinar yang bertahan, sebelum gelap benar-benar datang.

Tangan pun beranjak dari pundak yang nyaris runtuh.

Xiao Han memegang jurnal kecilnya, menatap lapangan hijau yang terbentang luas, ia merasa berdiri di tempat yang seharusnya, menuju mimpi-mimpi yang telah pupus dahulu.

Untuk dirinya, untuk teman-teman yang pernah ada dalam hidupnya. Xiao Han lantas menolehkan kepala, pada dia yang selalu ada. Tak luput juga, untuk Shen Yuexi yang terus berdiri di sisinya.

Di atas langit, senja nyaris menyempurnakan dirinya. Xiao Han kembali memandang lapangan, pada Lu Gacheng.

Ding!

[ Talen Eye : Gagal (Target terlalu jauh) ]

1
Hong Biyeon Adolebit
keren bgt kak, Xiao Han😍
heroestupai: berakkkkkk
total 1 replies
Apakah transgender disunat?
sudah 39 chapter dan tidak ada insect😡
heroestupai: /Smug//Smug//Smug/
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
Pak Chen Hao kerjanya ngapain? Eh iya motivasinya kan kecil 🗿
Limian Avina
Iyap, aku pun malas baca itu, jadi diskip/Proud/
Limian Avina: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Ini kayaknya enggak terlalu diperlukan deh/Sweat/
heroestupai: skill issue aja kak, maklumin, cmn ngindarin yg repetitif aja
total 3 replies
Limian Avina
Kebelet ganti PoV😂
Limian Avina
Kenapa jadi PoV satu/Sweat/
heroestupai: ahh iya, bocor POV, nanti saya revisi kak
total 3 replies
Limian Avina
Iya, mengerikan seperti ...
Limian Avina: Enggak jadi/Blackmoon/
total 2 replies
Limian Avina
Beliau terlalu percaya diri :v
Limian Avina: 🗿🗿🗿🗿🗿
total 2 replies
Limian Avina
Gambarnya kayak kamar pribadi🗿
Manusia Biasa: wkwkw tapi masih bagus kok kak, dari ai sih😂🙏
total 1 replies
Limian Avina
Ada gacha-nya/Scare/
heroestupai: masih jauh sih di gacha sistem itu /Facepalm/
total 1 replies
Limian Avina
/Curse//Curse/ Namanya kenapa harus Gacheng?!
heroestupai: Kepikiran itu aja 🗿
total 1 replies
Limian Avina
Nulisnya "Goal" deh seharusnya/Sweat/
Limian Avina: /Scare//Scare/ Secara arti goal = tujuan/sasaran/Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Woah~! Riset sejarah .../Blush//Blush/
heroestupai: huum 🗿🗿
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
cukup menghibur
heroestupai: makasih kak
total 1 replies
Penjaga Gerbang
keren
Ren si Pegawai Kantoran
ditunggu Thor updatenya
Ren si Pegawai Kantoran
developmentnya sedikit terasa di sini, sistem gak semata-mata Deus ex machina, ada konsekuensi juga dari analisa MC, dan emang jadi pelatih itu harus mikirin pemain, bukan semata2 sistem novel lain yg bikin pemain jadi OP kah? 🤔
Ren si Pegawai Kantoran
Thor, jangan lupa huruf miring kalo monolog batin PoV 3 ya 🗿
Ren si Pegawai Kantoran
kambek 4-3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!