Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 29
"Ya, itu benar."
Kata-kata yang meluncur dari bibir Rendy menyambar Aurel bagai halilintar di malam lengang. Sangat mengejutkan, dan membikin jeri.
"A-apa katamu?" bisik Aurel, napasnya terputus.
"Yang kamu katakan tadi benar--kecuali satu hal: kamu tak berhak mengataiku brengsek!" bentakan Rendy seperti lecutan cemeti berapi bagi Aurel. "Berkaca dulu kamu! Kata itu lebih pantas buatmu daripada aku!"
Aurel limbung. Dadanya seakan retak dihujam tombak.
"JANGAN GILA KAMU, REN!" jerit Aurel. "AKU ISTRIMU! IBU DARI ANAK-ANAKMU! BAGAIMANA BISA KAMU MEMPERLAKUKANKU BEGINI--?"
"Kenapa tidak?" balas Rendy dingin, sama sekali tak terpengaruh amukan gila istrinya. "Kamu kira kamu layak dengan semua itu--gelar sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku? Kamu tak ubahnya pelacur sebelum menikah denganku, dan kalau bukan karena keuntungan bisnis yang ditawarkan keluargamu dan sedikit kemurahan hatiku, mana sudi aku menikahi jalang sepertimu--"
"KETERLALUAN KAMU, REN!"
Aurel menggampar keras Rendy hingga limbung.
Wajah Rendy seketika merah padam, tanpa melewati merah terlebih dulu. Ia menegakkan diri dan maju dengan cepat, lalu mencengkeram kuat rahang Aurel.
"Jaga sikapmu--tangan kotormu tak pantas menyentuhku!" teriak Rendy, ludahnya berhamburan di wajah sang istri. "Kamu perempuan murahan dan penyakitan--siapa laki-laki di dunia ini yang sudi bersanding denganmu? Hanya aku! Dan meski itu demi keuntungan materi, kamu tetap harusnya berterima kasih! Dasar tak tahu diuntung!"
Rendy melepas Aurel kasar. Perempuan berambut merah itu terhuyung dan membeku. Air matanya membanjir. Rasa sakit di pipinya yang membiru tak setara dengan luka yang kini menganga parah dalam kalbu.
"Jadi jangan mengataiku lagi kalau kamu sadar kamulah yang sampah!" cerca Rendy tanpa iba. "Dan kalau kamu tak terima aku mencintai Zenna bahkan berhubungan dengannya, itu urusanmu--bukan urusanku! Kuingatkan sekali lagi--jaga sikapmu, jangan kelewat batas, atau kamu akan menyesal sampai liang kubur!"
Satu per satu, meski pendek, napas Aurel kembali memburu. Segala luka dan amarahnya mulai menggumpal jadi dendam yang membikin sorot pandangnya mengelam.
"Bukan urusanku, ya...?" desisnya. "Jika aku tak lagi menjadi istrimu, apa menurutmu, kamu pun akan baik-baik saja? Kamu akan kehilangan hak atas perusahaan sebesar milik keluargaku dan semua keuntungannya--ingat, Sanjaya Group itu perusahaan finansial ketiga terbesar di negeri ini! Posisimu tak sekuat dan sebesar sekarang jika tidak disokong keluargaku...! Apa kamu pikun?!"
"Kalau begitu, lebih baik kita berpisah," kata Rendy dingin.
Aurel bagai disambar petir lagi.
"Kamu kira aku takut kehilangan dukungan dan perusahaan keluargamu? Cih!" Rendy meludah ke lantai. "Aku bukan boneka yang bisa kalian mainkan seenaknya! Aku lebih berkuasa dari yang kalian kira! Dan apalah artinya kamu dan perusahaan keluarga yang kamu bangga-banggakan itu, jika dibanding perempuan yang sangat kucintai, yang adalah pewaris perusahaan agraris dan properti terbesar di negeri ini?"
Netra Aurel membeliak, hingga pembuluh-pembuluh halusnya tak ragu menebar tiruan retak.
"Kamu...," Aurel merangkai lisan terpatah. "Kamu... bermaksud..."
"Menceraikanmu dan menikahi Zenna?" Rendy tersenyum lebar, matanya berkilat mengerikan. "Bingo!"
Belum pernah Aurel terguncang hingga hilang akal seperti itu. Sampai ia tak bisa lagi meledak. Entah bagaimana hampir tertawa. Tapi juga menjerit penuh derita dan murka di dasar jiwa.
"Kamu sudah gila...?"
Rendy terbahak.
"Aku HARUS GILA untuk bisa meraih kekuasaan tertinggi sekaligus keinginanku sendiri. Harusnya kamu sadar, cuma orang gila yang mau menikahi perempuan pengidap penyakit kelamin sepertimu!"
Setiap kata Rendy seperti panah berapi yang menusuk dalam inti jantung Aurel. Meski benar, tetap terasa panas menyakitkan.
"Kalau aku waras, aku akan seperti Bram, menjauhimu sampai rela melempar dirinya sendiri dari ketinggian agar tak tertular virus busuk itu! Meski nasibnya mujur masih hidup, dan bahkan terus hidup sampai menikahi wanitaku..."
Rendy mulai mondar-mandir, ekspresinya kini penuh tekad dan dendam.
"Tapi keberuntungannya akan kupastikan berakhir, tak lama lagi. Zenna akan jadi milikku, berikut semua warisan Atmaja--aku akan menjadi pengusaha terkuat dan terkaya, dan aku juga akan bersanding dengan perempuan yang kucintai, selamanya!"
Aurel merasa dirinya lama-lama akan menggila oleh lara tak terkira. Namun melihat sisi gila Rendy, justru memberinya setitik kewarasan--ia sadar ia tidak sesinting suaminya. Atau belum.
"Kamu kira kegilaanmu itu akan terwujud dengan mudah?" Aurel tertawa singkat, tanpa humor, hampa. "Kamu kira semudah itu bercerai denganku? Atau membuat Bram dan Zenna berpisah, kemudian kamu bisa menikahi Zenna...? Mimpi pasien rumah sakit jiwa pun tak sesinting kamu...!"
"Hmm. Kenapa tidak? Atau kamu mau bertaruh?"
Aurel berdiri di batas tipis kewarasan sekarang. Ia sadar Rendy gila, tapi di sisi lain, ia juga tiba-tiba ingin tak kalah gila.
"Ya... kenapa kita tidak bertaruh saja, wahai suamiku tercinta?" bisik Aurel di tengah rekahan senyum yang tidak mencapai ujung mata, namun nada bicara dan ekspresinya menyiratkan bahaya. "Cobalah wujudkan kegilaanmu itu... atau kita berlomba, siapa yang paling bisa berdiri di akhir dengan keinginan terbesar kita menjadi nyata--aku, atau kamu!"
Rendy menyeringai, serupa monster. "Deal!"
Aurel mematung untuk beberapa lama. Ekspresinya berubah-ubah--kesakitan, hampa, tawa tanpa suara, gelap.
Ia berbalik dengan raut muka menyerupai monster--mirip suaminya. Kilatan matanya meniru api neraka. Bibirnya mengatup rapat tanpa suara. Satu tekad tergelap tak putus membahana dalam benaknya.
AKU AKAN MEMBUNUHMU, ZENNA! TAK AKAN KUBIARKAN RENDY MENDAPATKANMU! TUNGGU DAN LIHAT SAJA!
***
bram pantai aja dari jauh
Semangat nulisnya thor... makin ke sini makin seru ceritanya, narasinya juga bagus, layak dimarathon dan ditunggu updatenya /Good/