Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 24
"Kamu yakin bukan bangsat ini pelakunya?"
Rendy tak segan mengatai Bram, hingga wajah Bram kembali merah padam.
"Justru kamu yang lebih cocok jadi tersangka! Kamu bajingan yang sudah menghancurkan hidup Zenna sampai ia kehilangan segalanya!" geram Bram, bogemnya hampir kembali melayang.
"Tahan diri kalian!" tegur Ridwan keras. "Aku yakin seratus persen bukan kalian yang ingin membunuh Zenna--sebab kalian sama-sama sangat mencintai Zenna. Karena itulah, aku mengajak kalian bekerja sama, untuk melindunginya dari ancaman pembunuh yang sebenarnya!"
Sesaat hening. Ekspresi dan gestur Rendy dan Bram sama-sama sekaku arca batu.
"Apa kamu sudah tahu siapa pembunuh itu?" tanya Rendy dengan suara rendah.
Ridwan menggeleng. "Belum pasti. Tapi aku punya dugaan. Dan aku perlu bantuan kalian untuk bisa menemukan buktinya."
"Bantuan apa?" tanya Bram tajam. "Dan siapa yang kauduga sebagai pembunuh Zenna?"
Ridwan menatap lurus Bram.
"Kemungkinan besar, dia salah satu anggota keluarga Atmaja... keluargamu sendiri, Bram."
Bram tampak sangat terkejut.
"Bagaimana kamu bisa berpikir begitu?"
"Sesuai dugaanku," Rendy menyeringai lebar. "Kali ini, aku siap membantu. Katakan, apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan kepala pelaku?"
"Tidak--tunggu! Kamu harus memberiku argumen yang jelas--kenapa kamu bisa berpikir bahwa pembunuh Zenna adalah keluarga kami sendiri? Jika sampai kamu salah tuduh--"
"Yang bisa mengakses dapur dan para pelayan pesta malam itu hanya anggota keluarga Atmaja, kan?" sela Ridwan. "Itu adalah wilayah kekuasaan keluargamu, Bram. Orang luar akan sulit melakukan intervensi tanpa menimbulkan kecurigaan. Selain itu, jika orang luar yang melakukannya, apa motifnya? Apa untungnya?"
Garis-garis di dahi Bram mengerut dalam. Rendy mendecak sinis saat meliriknya.
"Sudah jelas tak ada. Yang paling untung jika Zenna tiada, ya jelas keluarga Atmaja itu sendiri--semua demi warisan, iya kan?"
Ridwan mengangguk.
Bram membelalak, ekspresinya berang.
"Tidak mungkin--"
"Berhenti bersikap bodoh dan jangan mempersulit keadaan!" bentak Rendy. "Kalau kamu ingin Zenna tetap hidup, kamu harus bisa meminggirkan perasaan dan menemukan kebenaran, meski itu artinya kamu harus melawan keluargamu sendiri! Atau jangan-jangan kamu juga bagian dari mereka? Kalau sampai iya--"
"Aku bukan pembunuh Zenna!" teriak Bram, urat-urat di lehernya mengencang, dan tinjunya kembali mengepal. "Baik! Kalau memang kalian butuh bukti, akan kubuktikan--apakah aku dan keluargaku bersalah, atau tidak!"
Rendy tersenyum mengerikan, mata gelapnya berkilat, seperti monster.
"Ini akan jadi sangat menarik. Aku tak sabar melihat siapa di antara kalian yang terbukti sebagai pelakunya. Akan kupastikan orang itu mati membusuk di penjara, karena dia sudah berani menyakiti Zenna--aku bersumpah!"
Bram membelalak murka. Sementara Ridwan menatap Rendy dengan sorot tajam dan membara.
Kamu sendiri sudah berkali menyakiti Zenna... dasar gila!
Ridwan menggeleng sejenak, berusaha menjernihkan diri dari opini dan perasaan pribadinya, lalu melanjutkan dialog yang lebih penting.
"Baik. Jadi kita sepakat untuk bekerja sama. Sebagai langkah awal, sebaiknya kita memperketat keamanan Zenna. Aku yakin si pelaku akan berusaha menghabisinya lagi. Apa kamu bisa jamin rumah sakitmu ini aman dari penyusupan dan pembunuhan selama Zenna dirawat di sini, Rendy?"
Rendy mengangguk, ekspresinya serius.
"Bisa kuatur itu. Mulai sekarang, akan kuperintahkan tim security khusus menjaga kamar Zenna selama dua puluh empat jam non-stop. Tak ada yang boleh mendekati Zenna, kecuali atas izinku. Dan aku akan menunjuk dokter dan suster yang benar-benar kompeten dan terpercaya untuk menangani kondisi Zenna. Aku sendiri yang akan memantau dan memeriksa laporan perawatan medis hariannya. Dengan begini, tak ada celah bagi lalat sekalipun untuk menyentuh Zenna."
"Terima kasih, Rendy," giliran Ridwan mengangguk lega. Lantas ia menoleh ke arah Bram. "Dengan begini, kamu bisa lebih leluasa bergerak di luar untuk mengumpulkan bukti dan menemukan pelaku sebenarnya, Bram. Aku akan membantumu untuk itu."
"Kamu ingin aku meninggalkan Zenna di saat dia masih kritis seperti ini?" Bram memandang nyalang Ridwan, tampak tak senang dan keberatan.
"Bukan begitu. Kamu tentu masih bisa mendampingi dan menjaganya, tapi tidak harus terus-terusan seperti sekarang, apalagi Rendy sudah memperketat keamanan. Ingat, kamu juga harus segera mengungkap identitas pelakunya demi keselamatan Zenna. Tentu kamu paham itu, kan?" jelas Ridwan perlahan.
Bram menghela napas panjang, kemudian mengangguk.
"Baik. Kita jalankan rencana itu..."
Tetapi tiba-tiba, suara perawat menggema di dinding dan mengejutkan semua orang.
"Code blue! Code blue! Pasien Zenna Amalia di kamar ICU 1 mengalami henti jantung. Code blue! Code blue!"
Bram merasa jantungnya-lah yang terhenti saat itu. Dunia sekitarnya kehilangan warna dan suara dalam sekejap mata.
Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari secepat kijang menuju ruangan tempat Zenna kini meregang nyawa.
"ZENNA!"
***
Belum pernah Zenna merasa begitu ringan dan bahagia.
Entah bagaimana, dirinya kembali menjelma kanak yang bermain ceria di suatu padang rumput luas bermandikan cahaya jingga. Ia tak sendiri. Ada ibunya, Amalia, yang setia menemani. Amalia juga tampak jauh lebih muda, lebih segar, dan lebih jelita--mirip Zenna di usia kepala dua.
"Zenna... coba lihat! Ada siapa di sana?"
Amalia menunjuk satu titik. Sesosok lelaki jangkung mengenakan pakaian serba putih berdiri di bawah sebatang pohon rindang berdaun keemasan.
Zenna tak ingat pernah bertemu lelaki itu, yang begitu tampan dengan rahang kuat berbentuk persegi, hidung mancung, dan mata lebar berbinar. Rambut ikalnya yang berkilau seakan mengandung cahaya mirip rambut Zenna--hanya saja lebih pendek.
"Zenna," lelaki itu merentangkan kedua lengannya. "Anakku Sayang..."
Zenna menekap mulutnya. Air matanya nyaris tumpah.
"Papa...?"
Zenna tanpa ragu berlari ke dalam pelukan lelaki itu. Untuk pertama kalinya, ia bersua dan berpelukan dengan ayahnya, Zahir Atmaja. Haru dan bahagia tak terkira menyelimuti wajah keduanya.
"Papa sayang sekali Zenna," kata Zahir seraya membelai dan mencium puncak kepala Zenna. "Terima kasih sudah menjadi anak Mama dan Papa yang sangat berbakti... kami bangga dan bersyukur punya permata hati sepertimu, Nak."
Zenna menangis sejadinya di pelukan ayahnya. Sang ibu turut memeluk dan menenangkannya.
"Tenanglah, Sayang... kami akan selalu bersamamu. Mama dan Papa akan selalu ada untukmu. Kami janji."
Kata-kata ibunya begitu lembut dan menyentuh. Perlahan, isakan Zenna pun mereda.
"Mau main ayunan sama Papa?" tanya Zahir sembari tersenyum hangat dan menunjuk buaian yang tergantung di salah satu dahan pohon.
Zenna duduk di buaian itu. Zahir dan Amalia bergantian mengayunkannya. Zenna tak bisa berhenti tersenyum dan tertawa. Hatinya sungguh bahagia.
Daun-daun emas mulai berguguran. Semakin lama, pohon itu tak lagi mewujud rindang.
Zahir menghentikan ayunan saat daun terakhir jatuh ke pangkuan Zenna.
"Nak...," Zahir menatap putrinya sendu. "Sudah saatnya kamu kembali."
Zenna terpaku. Entah bagaimana, ia paham.arti kata-kata itu.
"Aku masih ingin di sini, Papa...," suara Zenna bergetar. "Aku ingin terus bersama kalian... tolong izinkan aku--"
"Tidak bisa, Nak," Zahir menggeleng. "Suatu hari, kita pasti akan berkumpul lagi. Tetapi bukan sekarang. Kembalilah..."
"Tapi Mama bilang kita akan selalu bersama--Mama sudah berjanji tadi--"
"Papa dan Mama memang akan selalu bersamamu di mana pun kamu berada, Sayang. Kami selalu ada dalam hatimu. Karena itu jangan khawatirkan apapun, dan kembalilah...," bujuk Amalia lembut.
Zenna menggeleng, mati-matian bertahan.
"Tidak... aku tidak mau kembali! Aku tetap di sini bersama kalian!"
"Zenna..."
"TIDAK!!!"
***