Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Sekitar jam dua siang, Jasmine tiba di restoran bergaya klasik yang sudah disepakati. Suasana restoran itu cukup tenang. Dari kejauhan, ia melihat sosok pria yang sangat familiar duduk di sudut ruangan dekat jendela.
Sagara, yang menyadari kehadiran adiknya, langsung berdiri dan melambaikan tangannya dengan semangat. Jasmine mempercepat langkahnya, wajahnya yang semula tegang kini berubah cerah penuh kegembiraan.
Begitu sampai di depan Sagara, Jasmine langsung menghambur ke pelukan kakaknya itu. Ia memeluk Sagara dengan sangat erat, seolah melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul sendirian.
"Kak Sagara... Jasmine kangen banget sama Kakak," ucap Jasmine.
Sagara mengusap punggung adiknya dengan penuh kasih sayang, lalu mengecup puncak kepalanya. "Kakak juga rindu sekali sama kamu, Dek. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bicara seperti ini."
Sagara perlahan melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Jasmine, memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan khawatir.
"Gimana kabar kamu? Kamu kelihatan sedikit pucat, apa kamu sakit?" tanya Sagara lembut.
Jasmine tersenyum tipis, mencoba menenangkan kakaknya. "Kemarin sempat demam sedikit, Kak, tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Kakak sendiri bagaimana kabarnya?"
Sagara menarik kursi untuk Jasmine, mempersilakannya duduk sebelum mereka memulai pembicaraan yang lebih serius.
"Kakak baik, tapi hati Kakak nggak tenang sebelum melihat kondisi kamu langsung seperti sekarang."
Jasmine menyesap minumannya sejenak, lalu menatap kakaknya dengan mata berbinar. "Gimana kabar Kak Mawar, Kak? Dia sehat, kan?" tanya Jasmine menanyakan kakak iparnya.
Sagara tersenyum lebar, raut kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya. "Kakak iparmu baik. Oh iya, dia sudah melahirkan bulan lalu, Jasmine. Laki-laki."
Mata Jasmine membelalak kaget sekaligus bahagia. "Hah? Jadi aku sudah punya keponakan? Ya ampun, Kak! Kok nggak kasih tahu Jasmine? Kapan-kapan aku harus main ke sana ya, Kak, mau peluk dede bayinya."
Sagara terdiam sejenak, senyumnya sedikit memudar berganti dengan tatapan serius.
"Jasmine, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Kakak bicarakan," ucap Sagara pelan. "Kakak nggak tenang melihat kamu tinggal sendirian, apalagi setelah tahu kamu sempat sakit kemarin."
Jasmine mendengarkan dengan saksama.
"Tinggallah di rumah Kakak, Dek. Pindah ke sana ya? Mawar juga sudah setuju, malah dia senang sekali kalau kamu ada di rumah. Ada banyak kamar kosong, dan kamu bisa bantu Mawar jaga bayinya kalau kamu mau. Kakak hanya ingin memastikan kamu aman dan ada yang mengurus," lanjut Sagara dengan nada memohon.
Jasmine tertegun. Tawaran itu sangat menggiurkan, terutama karena ia merindukan suasana hangat sebuah keluarga.
"Tapi Kak..." Jasmine menggigit bibir bawahnya, bingung harus menjawab apa.
"Kak, sebenarnya..." Jasmine menjeda kalimatnya, menarik napas panjang. "Jasmine nggak bisa pindah ke rumah Kakak. Jasmine... Jasmine akan menikah lagi."
Sagara tertegun, matanya membelalak kaget.
"Menikah lagi? Sama siapa? Kenapa tiba-tiba sekali?"
Jasmine mendongak, menatap mata kakaknya dengan ragu. "Sama Aksa, Kak."
"Hah?! Maksud kamu Aksa mantan suami kamu itu?" Suara Sagara meninggi karena terkejut, beberapa pengunjung restoran sempat menoleh ke arah mereka.
"Yang dulu nyakitin kamu? Yang bikin kamu menderita. Kalian mau rujuk?!"
"Iya, Kak," jawab Jasmine cepat, mencoba menenangkan Sagara. "Tapi Aksa sudah berubah. Dia sudah menjelaskan semuanya. Dia punya alasan kuat kenapa melakukan itu dulu, Kak. Dia nggak sejahat yang kita kira."
Sagara menggelengkan kepala dengan keras, wajahnya memerah karena emosi yang tertahan. Ia memundurkan kursinya dan menatap Jasmine dengan tatapan tidak percaya.
"Nggak! Kakak nggak setuju!" tegas Sagara.
"Alasan apa pun tidak bisa membenarkan cara dia memperlakukan kamu dulu, Jasmine. Kakak sudah bersumpah tidak akan membiarkan kamu jatuh ke lubang yang sama. Jangan bodoh karena perasaan, Dek. Orang seperti dia tidak akan berubah dalam semalam!"
"Tapi Kak, tolong dengerin dulu....."
"Cukup, Jasmine," potong Sagara tajam. "Kakak tetap pada keputusan Kakak. Kamu harus ikut Kakak pulang. Jangan temui laki-laki itu lagi."
......................
Aksa melangkah masuk ke dalam penthouse-nya dengan perasaan ringan, berharap disambut oleh senyum Jasmine atau aroma masakannya. Namun, kesunyian yang mencekam justru menyambutnya. Lampu-lampu belum semuanya menyala, dan suasana terasa dingin.
"Jasmine?" panggil Aksa, suaranya menggema di ruangan luas itu.
"Sayang, aku pulang."
Tidak ada sahutan. Aksa mulai berjalan cepat, mengecek dapur, ruang tengah, hingga kamar mandi, namun semuanya kosong. Ia berlari ke kamar tidur, membuka pintu dengan kasar, tapi yang ia temukan hanyalah tempat tidur yang tertata rapi.
"Jasmine! Kamu di mana?!" teriaknya, mulai dikuasai kepanikan. Pikiran buruk mulai merayap di kepalanya.
Aksa baru teringat ponselnya. Sejak siang tadi, ia sengaja mematikannya karena rapat yang sangat penting. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan ponsel itu. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi masuk, termasuk pesan dari orang suruhannya yang ditugaskan untuk mengawasi Jasmine secara diam-diam.
Jarinya bergetar saat membuka sebuah pesan yang berisi beberapa foto.
Di foto pertama, ia melihat Jasmine sedang tertawa lepas di sebuah restoran. Di foto kedua, dadanya terasa seperti dihantam palu godam, terlihat Jasmine sedang dipeluk erat oleh seorang pria, dan Jasmine membalas pelukan itu dengan sangat mesra. Foto terakhir menunjukkan pria itu membukakan pintu mobil dan Jasmine masuk ke dalamnya.
"BAJINGAN!" raung Aksa.
Ia melempar ponselnya ke atas ranjang dengan amarah yang membuncah. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Ia tidak tahu bahwa pria itu adalah Sagara, kakak kandung Jasmine. Yang ada di pikiran Aksa saat ini hanyalah pengkhianatan. Baru tadi pagi mereka berpelukan dan berjanji, tapi sore ini Jasmine sudah masuk ke mobil pria lain.
"Jadi ini alasan kamu minta keluar? Untuk menemui laki-laki itu?!" desis Aksa dengan tatapan mata yang gelap dan penuh kemurkaan.
Ia tidak akan membiarkan Jasmine pergi begitu saja, tidak setelah ia menyerahkan seluruh hatinya.
Sejak awal, ia telah memasang pelacak GPS pada ponsel yang ia berikan kepada Jasmine.
Titik merah di layar menunjukkan sebuah lokasi di kawasan perumahan kelas atas, bergerak perlahan sebelum akhirnya berhenti di sebuah rumah besar.
"Ketemu," desis Aksa tajam.
Ia langsung berlari menuju rubanah, masuk ke dalam mobil sport-nya, dan menginjak pedal gas dalam-dalam hingga ban mobil berdecit keras di atas beton. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menyalip setiap mobil yang menghalangi jalannya. Pikirannya benar-benar gelap, ia tidak peduli siapa pria di foto itu, yang ia tahu hanya Jasmine adalah miliknya dan tidak ada yang boleh menyentuhnya.
Hanya butuh waktu singkat bagi Aksa untuk sampai di depan gerbang rumah yang tertera di GPS. Ia melihat mobil yang sama dengan yang ada di foto mata-matanya terparkir di sana.
Aksa keluar dari mobilnya, membanting pintu dengan keras. Ia tidak memencet bel, melainkan menggedor gerbang kayu jati itu dengan kasar.
"JASMINE! KELUAR KAMU!" teriak Aksa, suaranya menggelegar di lingkungan yang tenang itu.
"JASMINE!"
Tak lama kemudian, gerbang terbuka. Sagara muncul dari balik pintu dengan wajah yang tak kalah tegang. Namun, sebelum Sagara sempat mengucapkan satu kata pun, Aksa sudah merangsek maju dan mencengkeram kerah baju Sagara dengan kasar.
"Di mana Jasmine?! Berani-beraninya kamu menyentuh milikku, bajingan!" bentak Aksa dengan mata yang memerah karena murka.
"Bajingan!" raung Aksa. Tanpa peringatan, ia melayangkan tinjuan keras tepat ke rahang Sagara.
Sagara tersentak mundur, terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Sudut bibirnya langsung berdarah. Namun, Sagara bukan pria lemah. Melihat Aksa kembali menerjang, ia menghindar dan membalas dengan pukulan telak ke perut Aksa.
Bugh!
Aksa terbatuk, amarahnya semakin memuncak. Mereka berdua terlibat dalam perkelahian brutal di teras rumah. Saling pukul, saling banting, mengabaikan rasa sakit demi melampiaskan emosi masing-masing. Pot bunga pecah berserakan, kursi teras terguling akibat pergulatan mereka.
"Berani-beraninya kamu menyentuh milikku!" bentak Aksa sambil mencoba mencengkeram kerah baju Sagara lagi.
"Dia adikku, bodoh! Dia tidak akan pernah jadi milik pria brengsek seperti kamu!" balas Sagara seraya melayangkan tinjuan ke mata Aksa.
Bugh!
Jasmine yang mendengar keributan dahsyat itu dari dalam rumah, berlari keluar dengan wajah pucat pasi. Ia histeris melihat Aksa dan Sagara yang sudah babak belur di tanah.
"Aksa! Kak Sagara! Berhenti! Aku mohon berhenti!" teriak Jasmine histeris.
Ia mencoba melerai, namun Aksa dan Sagara seolah tidak mendengarnya. Mereka masih saling mencengkeram dengan tatapan mata yang penuh kebencian.
"Aksa, lepaskan! Itu Kakakku! Kakak kandungku!" jerit Jasmine lagi, kali ini dengan suara serak.
Kata-kata itu akhirnya menembus kabut amarah di kepala Aksa. Gerakannya terhenti. Ia menatap Jasmine dengan tatapan tidak percaya, lalu beralih menatap Sagara yang masih mencengkeram kemejanya dengan napas terengah-engah.
sekali up 1 aja