Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Frekuensi
Liana menatap layar ponselnya sekali lagi. Pesan dari Derby adalah bahan bakar yang ia butuhkan untuk melewati hari yang menyesakkan ini. "Pelarian," bisiknya pelan. Kata itu terdengar seperti simfoni indah di tengah heningnya apartemen Morgan yang steril. Namun, sebelum ia melarikan diri sore nanti, ia tidak akan membiarkan Morgan menang begitu saja pagi ini. Rasa pahit dari smoothie bayam itu masih tertinggal di pangkal tenggorokannya, memicu keinginan besar untuk membalas dendam.
Liana melirik jam dinding. Lima menit. Morgan sudah berada di ruang kerjanya untuk melakukan koordinasi singkat via daring dengan Dekan Fakultas Ekonomi sebelum mereka berangkat. Pria itu adalah pemuja ketepatan waktu dan profesionalitas. Baginya, gangguan sekecil apa pun adalah noda pada reputasi akademisnya yang cemerlang.
"Kau ingin ketenangan, Pak Dosen? Aku akan memberimu konser," gumam Liana dengan seringai nakal.
Liana melangkah berjinjit menuju ruang tengah, tangannya meraih remote speaker Bluetooth besar yang terhubung dengan sistem suara apartemen. Morgan jarang menggunakannya, tapi sistem itu memiliki dentuman bas yang bisa menggetarkan kaca jendela. Dengan jemari yang lincah, Liana mencari daftar putar House Music dengan bitrate tertinggi di akunnya.
Lagu berjudul "Scream for Freedom" dengan tempo 130 BPM menjadi pilihannya. Ia menaikkan volume hingga angka maksimal, menekan tombol 'Play', dan seketika apartemen minimalis itu meledak dalam kegaduhan.
BOOM! BOOM! BOOM!
Suara bas yang dalam menghantam dinding marmer, membuat pajangan buku-buku Morgan bergetar hebat. Liana tidak berhenti di situ. Ia berlari masuk ke kamarnya, menyalakan radio tua miliknya ke frekuensi statis yang menghasilkan suara bising melengking, lalu ikut berteriak seolah sedang berada di tengah konser rock.
Di seberang lorong, di dalam ruang kerja yang kedap suara namun tidak kebal terhadap getaran frekuensi rendah, Morgan sedang menatap layar laptopnya. Di hadapannya, wajah Dekan dan beberapa kolega dosen muncul dalam kotak-kotak kecil.
"Ya, Pak Dekan, mengenai alokasi anggaran riset semester ini—" Morgan mendadak terhenti ketika getaran bas yang masif mengguncang meja kerjanya.
"Pak Morgan? Suara apa itu? Apakah ada konstruksi di unit Anda?" tanya sang Dekan, mengerutkan kening di layar.
Morgan memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya menonjol. Ia tahu persis siapa pelakunya. Di luar, suara musik house itu semakin menjadi-jadi, bercampur dengan teriakan Liana yang sengaja menyanyi dengan nada sumbang.
"Mohon maaf, Pak Dekan. Tampaknya ada gangguan teknis pada sistem suara lingkungan saya. Izinkan saya mematikan audio sejenak," ucap Morgan dengan suara yang tetap terkontrol, meski jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga memutih.
Morgan bangkit dari kursinya. Ia tidak berlari, tidak juga berteriak. Langkah kakinya yang tenang namun berat melintasi lorong menuju kamar Liana. Ia melihat gadis itu sedang berjingkrak di atas tempat tidur, memegang sisir rambut seolah itu adalah mikrofon, dengan pintu yang sengaja dibuka lebar-lebar untuk memaksimalkan kebisingan.
Liana melihat Morgan berdiri di ambang pintu. Ia memberikan senyuman paling menantang, menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama bas yang memekakkan telinga. "Goyang sedikit, Pak Tua! Kau terlalu kaku!" teriak Liana di tengah kebisingan.
Morgan tidak membalas provokasi itu dengan kata-kata. Ia hanya menatap Liana dengan tatapan yang sangat dingin—begitu dingin hingga membuat Liana merasa seolah-olah musik di sekitarnya perlahan membeku. Pria itu berbalik tanpa berkata apa-apa, membuat Liana merasa menang.
"Itu saja? Kau menyerah?!" seru Liana penuh kemenangan.
Namun, kemenangan itu hanya bertahan tiga detik.
ZAP.
Seketika, seluruh apartemen jatuh ke dalam kesunyian yang mengerikan. Musik berhenti. Lampu di kamar Liana padam. Kipas angin yang berputar pun berhenti mendesis. Liana tertegun, masih berdiri di atas tempat tidur dengan satu kaki terangkat.
Ia melihat Morgan kembali ke ambang pintu kamarnya, kali ini pria itu memegang sebuah kunci panel kecil di tangannya.
"Apa yang kau lakukan?!" Liana melompat turun dari tempat tidur. Ia mencoba menyalakan saklar lampu berkali-kali, namun tidak ada respons. "Kau mematikan listriknya?!"
"Hanya di kamarmu dan sistem suara ruang tengah," Morgan memasukkan kunci panel itu ke dalam saku celananya dengan gerakan yang sangat lambat dan elegan. "Aku sudah memperingatkanmu, Liana. Setiap aksi memiliki konsekuensi. Kau ingin kebisingan? Sekarang kau punya keheningan yang sempurna untuk merenung."
"Ini tidak adil! Aku butuh listrik untuk mengisi daya ponselku! Aku butuh lampu!" Liana berlari menghampiri Morgan, mencoba meraih saku celana pria itu, namun Morgan menangkap pergelangan tangan Liana dengan satu tangan, menahannya dengan kekuatan yang tak tergoyahkan.
"Kau tidak butuh apa-apa untuk merenung," bisik Morgan, suaranya kini terdengar sangat tajam di tengah kesunyian apartemen. "Aku sedang melakukan rapat penting yang menyangkut karierku, dan kau memilih untuk bermain-main seperti anak balita yang haus perhatian. Sekarang, nikmati kamarmu dalam kegelapan dan tanpa koneksi apa pun sampai aku memutuskan sebaliknya."
"Aku benci kau! Aku benar-benar benci kau!" Liana mencoba menyentakkan tangannya, namun Morgan justru menariknya lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
Morgan menatap tepat ke dalam manik mata Liana yang berkaca-kaca karena amarah. "Kebencianmu tidak akan menyalakan lampu itu, Liana. Sekarang, masuk ke mobil. Kita sudah terlambat tiga menit karena ulahmu."
Liana terpaksa mengikuti Morgan dengan langkah gontai. Saat melewati dapur, ia melihat Morgan dengan tenang menutup laptopnya di ruang kerja, seolah badai kebisingan tadi tidak pernah terjadi. Pria itu benar-benar monster yang tak memiliki emosi. Liana belajar satu hal penting pagi ini: Morgan Bruggman tidak bisa dilawan dengan amarah yang meledak-ledak. Pria itu adalah ahli strategi yang akan mematikan sumber kekuatanmu sebelum kau sempat menyerang.
Di dalam lift menuju parkiran, suasana mencekam kembali menyelimuti. Liana menggenggam ponsel di sakunya, merasakan getaran pelan. Ia tahu itu mungkin pesan dari Derby.
"Jangan berpikir untuk membalas pesan itu di dalam mobilku," ucap Morgan tanpa menoleh, seolah ia memiliki mata di belakang kepalanya. "Atau ponsel itu akan menyusul nasib listrik di kamarmu."
Liana menggertakkan gigi, namun ia tidak berani membantah. Ia menyimpan amarahnya untuk sore nanti. Sore ini, saat bel pulang berbunyi, ia akan meninggalkan "penjara" ini dan pria es ini selamanya.
Sesampainya di mobil, Morgan menyalakan mesin dengan suara yang halus. Sebelum ia memindahkan persneling, ia menoleh ke arah Liana yang cemberut di kursi penumpang.
"Satu hal lagi, Liana," Morgan meraih sabuk pengaman Liana, menariknya dengan gerakan cepat melintasi tubuh gadis itu dan menguncinya dengan bunyi klik yang tegas. "Jika aku mendengar kau membuat masalah di kelas rekan-rekanku hari ini sebagai balasan atas masalah listrik tadi, aku tidak akan segan menghubungi Liam untuk membatalkan rencana liburan musim panasmu ke Bali. Mengerti?"
Liana hanya membuang muka ke jendela, air mata frustrasi hampir jatuh. "Ya," jawabnya pendek, nyaris tidak terdengar.
Morgan melajukan mobilnya keluar dari gedung apartemen.
Sinar matahari pagi menerangi wajahnya yang kaku, sementara Liana terus memikirkan pesan Derby. Tunggu aku di gerbang belakang.
Liana tidak menyadari bahwa Morgan sesekali melirik melalui spion tengah, memperhatikan jemari Liana yang gelisah meremas ujung bajunya. Morgan tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan gadis itu. Bagaimanapun, Morgan adalah seorang pria yang terbiasa membaca pola, dan pola Liana pagi ini terlalu terbaca.
Mobil berhenti di gerbang depan kampus. Morgan membuka kunci pintu mobil. "Ingat, jam tujuh malam kau harus sudah di rumah. Jika tidak ..."
Liana tidak menunggu Morgan menyelesaikan kalimatnya. Ia keluar dari mobil dan membanting pintu sekuat tenaga, lalu berlari menuju gedung fakultas. Namun, langkahnya melambat saat ia melihat sebuah mobil polisi terparkir tidak jauh dari gerbang belakang—tempat di mana Derby berjanji akan menunggunya.
Liana menoleh ke belakang, menatap mobil Morgan yang masih diam di tempatnya, seolah sedang mengawasi setiap gerakannya. Apakah Morgan sengaja memanggil polisi itu? Ataukah ini jebakan lain dari pria yang akan menjadi suaminya tersebut? Liana berdiri di persimpangan jalan, antara lari menuju Derby yang terancam ditangkap, atau kembali tunduk pada aturan Morgan demi keselamatan kekasihnya.
"Liana!" Sebuah suara berbisik dari balik semak-semak di dekat gerbang belakang. Itu suara Derby. Namun, di saat yang sama, Morgan membunyikan klakson mobilnya sekali, sebuah peringatan dingin yang membuat jantung Liana hampir copot.