Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Tradisi yang Sangat Biadab
Cambuk kulit itu membelah udara dengan suara desingan yang mengerikan, mengarah tepat ke wajah Sawitri.
Namun, Sawitri tidak memejamkan mata.
Ia sudah memperhitungkan lintasan dan kecepatan cambuk itu.
Dengan gerakan menyamping yang terukur, ia menghindari ujung cambuk yang menghantam keras ke tiang ranjang kayu jati hingga paku-paku berkaratnya tertancap dalam.
"Refleks yang bagus," kekeh Dhaniswara, menarik kembali cambuknya dengan kasar.
"Tapi sampai kapan kowe bisa menghindar?"
Sawitri tak menjawab.
Matanya dengan cepat memindai anatomi pemuda yang tengah mabuk itu.
"Otot brachioradialis tegang, keseimbangan bertumpu pada kaki kanan."
"Dia akan menyerang dari arah kiri," batin Sawitri.
Benar saja, Dhaniswara kembali mengayunkan cambuknya dari sisi kiri.
Kali ini, Sawitri tidak menghindar.
Ia justru maju satu langkah, menabrak zona aman serangan cambuk itu.
Tangan kirinya dengan cepat menangkap lengan Dhaniswara sebelum cambuk itu sempat melesat penuh.
Dhaniswara terbelalak kaget.
Cengkeraman gadis itu di lengannya terasa seperti jepitan besi.
"Anatomi manusia memiliki kelemahan yang mboten bisa diubah oleh arogansi," desis Sawitri dingin.
Tangan kanannya yang memegang pisau bedah kuno bergerak dengan kecepatan kilat, menyayat tipis pergelangan tangan Dhaniswara tepat di atas urat nadi.
Sayatan itu tidak dalam, namun sangat presisi mengenai tendon yang mengendalikan gerakan jari-jari.
Dhaniswara mengerang kesakitan, refleks melepaskan cambuknya yang jatuh berdebum ke lantai.
"Kowe... batur sialan!" umpat Dhaniswara, mencoba menggunakan tangan kirinya untuk mencekik Sawitri.
Namun, Sawitri sudah mengantisipasinya.
Ia menendang lutut kanan pemuda itu dengan keras, membuatnya terhuyung ke depan.
Di detik yang sama, Sawitri mencabut botol kaca berisi ekstrak kecubung dari lipatan kembennya, membuka sumbatnya dengan gigi, dan menyiramkan cairan kental itu tepat ke wajah dan mata Dhaniswara.
"Arghhhh! Mataku! Panas!" jerit Dhaniswara histeris, jatuh berlutut sambil memegangi wajahnya yang terasa seperti dibakar hidup-hidup.
"Ekstrak Datura metel dosis tinggi."
"Diserap melalui mukosa mata dan hidung dalam hitungan detik," gumam Sawitri datar, mengamati reaksi korbannya layaknya eksperimen laboratorium.
"Dalam tiga menit, jenengan akan mengalami halusinasi visual yang parah, kelumpuhan otot sementara, dan takikardia akut."
Sawitri memungut cambuk kulit itu, lalu membuangnya ke sudut ruangan dengan jijik.
Ia berdiri menjulang di hadapan Dhaniswara yang kini bergulingan di lantai, meracau tak karuan tentang bayangan iblis yang menyerangnya.
"Sekarang," Sawitri berjongkok, menempelkan ujung pisau bedahnya yang dingin tepat di leher pemuda yang sedang berhalusinasi itu.
"Beritahu kulo, di mana kunci penjara bawah tanah?"
"Iblis! Menjauh dariku! Kuncinya... kuncinya ada pada Ki Patih!" racau Dhaniswara, matanya melotot liar ke arah sudut ruangan yang kosong.
Sawitri mendengus sinis.
"Menyedihkan."
"Psikopat yang kehilangan akal sehatnya hanya karena ekstrak tanaman liar."
Ia bangkit berdiri, menyarungkan kembali pisaunya.
Menguliti pemuda ini sekarang hanya akan membuatnya tertangkap basah oleh prajurit Demak.
Ia butuh rencana pelarian yang lebih rasional.
"Kulo akan membiarkan racun itu bekerja menghancurkan sistem sarafmu malam ini, Raden," bisik Sawitri sebelum melangkah menuju jendela.
Ia mencoba mendongkel terali besi itu menggunakan penjepit bedahnya yang tebal.
Setelah beberapa menit berjuang, satu batang terali berhasil dilonggarkan, menyisakan celah yang cukup untuk tubuh rampingnya menyelinap keluar.
Malam di istana Demak sangat sunyi.
Para prajurit penjaga tampaknya sengaja menjauh dari paviliun utara, mengira majikan mereka sedang 'bersenang-senang'.
Sawitri menyelinap menembus bayang-bayang pepohonan, menuju bangunan utama tempat Ki Patih biasa beristirahat.
Otak forensiknya terus bekerja, merekam peta lokasi dan menghitung estimasi waktu sebelum prajurit Demak menyadari keadaan Pangeran mereka.
"Aku punya waktu kurang dari dua jam sebelum efek halusinasi akut Dhaniswara mereda menjadi kejang-kejang," batin Sawitri.
Ia berhasil mencapai bangunan utama.
Jendela kamar Ki Patih terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk.
Sawitri mengintip dari celah tirai bambu.
Ki Patih tertidur pulas di atas ranjang besarnya, mendengkur keras dengan bau arak yang tak kalah menyengat.
Di atas meja kecil di samping ranjang, tergolek sebundel kunci besi kuno.
Sawitri tak membuang waktu.
Ia melompat masuk tanpa suara, langkahnya seringan hembusan angin.
Ia meraih bundelan kunci itu.
Namun, di saat yang bersamaan, mata tua Ki Patih terbuka lebar.
Pria bengis itu langsung terbangun dan meraba keris di bawah bantalnya.
"Siapa kowe?!" bentaknya parau.
Sawitri tak ragu sedetik pun.
Sebelum Ki Patih sempat mencabut kerisnya, Sawitri menekan titik saraf karotis di leher pria tua itu dengan dua jarinya.
Tekanan yang sangat spesifik dan kuat, menyumbat aliran darah ke otak.
Dalam hitungan detik, mata Ki Patih kembali meredup, dan pria itu jatuh pingsan tak sadarkan diri.
"Anatomi leher adalah titik terlemah yang mboten pernah dilindungi," gumam Sawitri sangat pelan, menyambar kunci itu dan melompat keluar jendela secepat kilat.
Penjara bawah tanah Kadipaten Demak tersembunyi di balik bangunan dapur istana.
Bau apak dan lembap langsung menyengat hidung Sawitri saat ia menuruni anak tangga batu yang licin.
Di ujung lorong, dua prajurit penjaga tengah asyik bermain dadu, bertaruh kepingan tembaga.
Sawitri menyelinap di balik tong-tong air.
Ia mengambil sepotong batu kecil, lalu melemparkannya ke arah sudut lorong yang berlawanan.
"Tuk!"
Suara batu itu memecah keheningan.
Kedua penjaga itu langsung menghentikan permainannya, mencabut tombak mereka dan berjalan perlahan menuju sumber suara.
"Sopo niku?!" seru salah satu prajurit, menyipitkan matanya ke arah kegelapan.
Saat mereka berdua memunggunginya, Sawitri melesat keluar dari persembunyiannya.
Ia menyergap penjaga yang paling dekat, menusukkan jarum peraknya tepat di pangkal leher, membuat pria itu lumpuh tanpa suara.
Penjaga kedua menyadari serangan itu dan berbalik cepat, mengayunkan tombaknya.
Sawitri menunduk menghindari ayunan tombak yang kikuk, lalu menyapu kaki penjaga itu dengan tendangan bawah yang keras.
Penjaga itu terjatuh, dan Sawitri segera membungkamnya dengan pukulan presisi ke pelipisnya.
Ia mengambil napas panjang, merapikan letak jariknya, lalu berlari menuju sel-sel besi yang berjajar di sepanjang lorong.
"Nyi Inggit! Ndari!" panggil Sawitri tertahan.
"Ndara Ayu?!" suara Ndari yang gemetar terdengar dari sel paling ujung.
Sawitri bergegas ke sana, mencoba satu per satu kunci dari bundelan besi yang ia bawa.
Pintu berderit terbuka, menampilkan Nyi Inggit dan Ndari yang berpelukan ketakutan di sudut sel yang basah.
"Gusti nu agung! Ndara Ayu selamat!" Nyi Inggit menangis tersedu, memeluk kaki Sawitri.
"Mboten ada waktu untuk menangis, Nyi."
"Kita harus keluar dari sini sekarang," perintah Sawitri efisien, menarik kedua abdi dalemnya itu berdiri.
Namun, saat mereka baru saja mencapai anak tangga teratas, suara terompet bahaya menggema membelah malam.
Obor-obor di pelataran istana dinyalakan secara serentak, membuat malam menjadi benderang bak siang hari.
"Celaka! Mereka sudah menemukan Raden Mas Dhaniswara!" bisik Ndari panik, kakinya gemetar hebat tak bisa melangkah.
Prajurit Demak berhamburan dari segala penjuru, mengepung bangunan dapur dengan senjata terhunus.
Sawitri, Nyi Inggit, dan Ndari terjebak.
Tidak ada jalan keluar yang rasional.
"Serahkan diri kowe, Raden Ajeng!" teriak pimpinan prajurit dari luar, suaranya menggema di halaman batu.
"Jika kowe mboten keluar, kami akan membakar bangunan ini!"
Sawitri mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Ia telah memperhitungkan segalanya, namun ia tak menyangka prajurit Demak akan bereaksi secepat ini.
"Ndara Ayu... kita akan mati di sini..." rintih Nyi Inggit putus asa.
"Kulo mboten akan membiarkan siapapun membakar kulo hidup-hidup," desis Sawitri dingin.
Tangannya meraba sisa jarum peraknya, bersiap untuk pertempuran terakhir yang sangat tidak imbang.
Namun, sebelum Sawitri sempat melangkah keluar, sesosok bayangan hitam melesat dari arah atap bangunan dapur, mendarat dengan anggun tepat di depan pasukan Demak yang mengepung.
Surjan hitamnya berkibar diterpa angin malam.
Di tangan kirinya, ia menggenggam sebilah pedang panjang yang berkilat tajam memantulkan cahaya obor.
Raden Cakrawirya berdiri di sana, memunggungi Sawitri yang menatapnya dari balik pintu dapur.
"Kulo rasa, membakar calon istri adalah tradisi yang sangat biadab, Kadipaten Demak," suara bariton Cakrawirya mengalun tenang, namun dipenuhi aura membunuh yang membuat seluruh prajurit Demak menahan napas.
"S-siapa kowe?! Beraninya menyusup ke istana kami!" bentak pimpinan prajurit itu, meski suaranya sedikit bergetar melihat aura pria misterius itu.
Cakrawirya tertawa pelan, tawanya dalam dan mematikan.
Ia memutar pedangnya dengan lihai, mata elangnya menyipit tajam.
"Kulo? Kulo hanyalah pria yang datang untuk menagih janji bedah otak pada wanita di belakang sana," jawab Cakrawirya santai, tak peduli dengan puluhan tombak yang kini mengarah padanya.
"Dan kulo sangat mboten suka jika objek penelitian kulo diganggu oleh segerombolan tikus."