NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.Undangan Makan Malam Beracun

Hujan rintik mulai meresap ke dalam aspal Kota Karasu, membuat permukaan jalan seperti berpakaian kilauan hitam yang samar. Tiba-tiba, sebuah mobil limusin hitam panjang melaju dengan keanggunan yang menyakitkan mata, kemudian berhenti tepat di depan gerbang SMA Sakura Harapan. Bentuknya yang gagah mencolok di tengah keramaian siswa yang sedang berdesakan siap pulang—semua mata tertuju pada mesin mewah itu, termasuk pasangan mata yang menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.

Ren memegang amplop tebal berwarna hitam di telapak tangannya, bagian bawah amplop menutupinya dengan segel lilin emas yang membentuk logo Asuka Jaya: dua sayap yang menjepit piring perak.

"Seandainya dia punya sedikit rasa malu, dia tidak akan berani muncul di sini lagi," ucap Hana dengan nada menggertak, tubuhnya berdiri kokoh di samping Ren. Matanya seperti jarum yang menujuk ke arah sopir berseragam putih yang berdiri dengan sikap kaku di sisi mobil, seolah-olah dia adalah bagian dari mesin itu sendiri. "Setelah semua yang dia lakukan untuk menyabotase klub kuliner kita—sekarang dia mengundang makan malam? Ini bukan undangan, ini adalah jeruji yang sudah kita kenal bentuknya."

Suara langkah kaki cepat menghampiri mereka. Yuki keluar dari arah ruang klub, tas ranselnya masih tergantung di bahunya dan wajahnya terpampang ekspresi khawatir yang tidak bisa disembunyikan. "Ryuji tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan tersembunyi. Ini bukan sekadar jamuan makan malam—dia ingin menunjukkan kepada kita betapa besar 'empire'-nya. Seolah kita adalah sekelompok anak kecil yang bermain-main dengan masakan, sementara dia memegang kendali atas masa depan kuliner kota ini."

Ren tidak menjawab langsung. Jempolnya menyentuh permukaan amplop yang kasar, kemudian ia membukanya dengan gerakan yang tenang. Di dalamnya ada kartu undangan berlapis perak yang mengkilap di bawah cahaya lampu jalan—kalimatnya tercetak dengan huruf emas yang elegan: "Tim SMA Sakura Harapan Undang untuk Hadiri Private Tasting Eksklusif di Restoran Sky-Lounge, Puncak Menara Asuka Jaya."

"Kita pergi," ucap Ren dengan suara yang datar namun penuh kepastian.

Hana terkejut, suaranya melengking sedikit. "Apa?! Kamu benar-benar mau datang? Kamu tidak takut ini jebakan?"

Ren menoleh ke arah Hana. Matanya tenang seperti permukaan danau yang tidak bergerak, namun ada kilatan api yang tersembunyi di dalamnya. "Jika kita menolak, dia akan tahu dia sudah menang sebelum babak final dimulai. Kita akan datang dengan penampilan terbaik, menikmati makanannya dengan sopan, dan aku akan melihat sejauh mana dia bersedia mengorbankan esensi masakan hanya untuk mengejar ketepatan teknis."

Dua jam kemudian, mobil taksi membawa mereka hingga kaki Menara Asuka—gedung pencakar langit yang menjulang tinggi seperti tongkat sihir di tengah kota. Saat lift membawa mereka ke lantai paling atas, pandangan Kota Karasu perlahan terbentang di bawah mereka, lampu-lampu kota seperti ribuan bintang yang jatuh ke bumi.

Pintu lift terbuka ke dalam ruangan yang merupakan mahakarya arsitektur modern. Dinding kaca setinggi lima meter membelai seluruh sisi ruangan, memungkinkan mereka melihat seluruh bentangan kota yang tertutup malam. Meja panjang kayu ek berkualitas tinggi di tengah ruangan sudah diatur dengan rapi—peralatan makan kristal dan perak berkilau seperti bintang, dan setiap tempat duduk dihiasi dengan serbet lipat yang rumit.

Di dekat jendela terbesar, seorang pria muda berdiri dengan sikap yang penuh keanggunan. Ryuji Asuka memegang gelas wine berisi cairan merah pekat, pakaian seragam sekolahnya sudah digantikan dengan setelan jas hitam custom-made yang menempel sempurna pada tubuhnya—menjadikannya tampak seperti penguasa muda yang siap meraih seluruh dunia dengan tangan dingin.

"Selamat datang di masa depan kuliner Kota Karasu," sambutnya dengan senyum yang hanya menyentuh bibirnya, tidak pernah mencapai mata yang dingin seperti es. "Hana, Yuki... kalian memang tampak cantik dengan pakaian formal ini. Dan Ren..." dia mengangkat gelasnya perlahan, seolah menghormati sesuatu yang tidak sepadan. "Aku harus akui, kamu punya keberanian yang luar biasa untuk memasuki wilayahku sendiri."

Suara langkah kaki yang mantap terdengar dari belakang mereka. Bu Keiko muncul dengan gaun malam hitam yang elegan, rambutnya disusun rapi dan wajahnya menunjukkan ketegasan yang tidak bisa ditentang. "Cukup dengan ucapan sambutan yang penuh tipuan, Ryuji. Katakan saja apa yang kamu inginkan dari kita."

Ryuji mengangkat bahu dengan anggun, kemudian memberi isyarat kepada pelayan untuk mengajak mereka duduk. "Ini hanya jamuan untuk mempererat hubungan, Sensei. Aku ingin menunjukkan kepada kalian apa yang kami bangun di sini—sesuatu yang akan membuat semua usaha kecil di pinggiran kota terlihat kuno dan tidak berharga."

Pelayan-pelayan mulai menghampiri meja dengan langkah yang teratur dan sama persis. Mereka bergerak dengan kecepatan yang sama, tangan mereka mengangkat piring dengan posisi yang tepat—seolah mereka telah diprogram untuk melakukan itu. Hidangan pertama yang disajikan adalah Molecular Scallop: irisan kerang yang tampak sempurna, diletakkan di atas alas puri buah zaitun yang diolah menjadi bentuk seperti pasir, dan di atasnya ada busa lemon yang putih dan mengembang seperti awan kecil.

"Kerang ini dimasak dengan suhu yang dijaga hingga akurat 0,1 derajat Celsius," jelas salah satu pelayan dengan suara yang rata tanpa emosi. "Busa dibuat melalui proses sentrifugasi bertekanan tinggi untuk memastikan teksturnya sempurna."

Hana mengambil garpu dengan ragu, menusuk sepotong kecil kerang dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ekspresi wajahnya berubah dari keraguan menjadi kebingungan. "Rasanya... sangat bersih. Tidak ada rasa pahit atau amis sama sekali. Tapi..."

"Tapi tidak ada jiwanya," lanjut Ren, yang sudah mencicipinya dan langsung meletakkan garpunya kembali ke piring. Ia menatap Ryuji dengan tatapan yang jelas. "Kamu berhasil membuat tekstur yang sempurna, Ryuji. Tapi dalam prosesnya, kamu menghilangkan semua yang membuat kerang menjadi kerang. Kamu terlalu fokus membersihkannya dari 'ketidakteraturan' hingga kamu juga menghilangkan rasa laut yang menjadi jiwanya."

Rahang Ryuji mengencang secara tidak sengaja, dan jempolnya yang memegang gelas sedikit menggigil. "Rasa laut adalah simbol dari ketidakpastian dan kekacauan. Di sini, kami hanya menyajikan kemurnian dalam setiap suapan."

Suasana di meja makan menjadi sangat menyesakkan, seperti udara yang dipampatkan dalam ruang kecil. Hana meremas serbet di bawah meja hingga kain itu hampir sobek, matanya tidak bisa lepas dari wajah Ryuji yang semakin memerah karena kemarahan yang tertahan. Yuki di sisi lain mengamati setiap detail hidangan dengan seksama, alisnya terkepal dan ekspresi wajahnya menunjukkan rasa tidak puas yang dalam.

Ren tetap duduk dengan tenang. Ia tidak lagi melihat hidangan di mejanya—matanya mengikuti gerakan pelayan-pelayan yang bergerak seperti boneka yang dikendalikan tali. Tidak ada senyuman, tidak ada sapaan, tidak ada sentuhan manusiawi antara mereka dan orang yang menikmati masakan yang mereka sajikan.

"Kota Karasu bukan hanya tentang kemurnian atau ketepatan teknis," ucap Yuki dengan suara yang pelan namun jelas terdengar di seluruh ruangan. "Orang-orang di sini mencintai masakan yang bisa meninggalkan bekas di hati mereka—kenangan yang bisa mereka ingat setiap kali mereka merasakan rasa yang sama. Masakanmu hanya memberikan kepuasan sementara pada lidah, bukan kenangan yang abadi. Itulah perbedaan yang kamu tidak pahami."

Kata-kata itu seperti bara yang menyentuh api. Ryuji berdiri dengan cepat, tangan kanannya membanting serbet ke atas meja dengan suara yang keras dan menusuk. "Kenangan hanyalah beban dari masa lalu! Dan masa lalu itu adalah apa yang menyebabkan kebakaran besar di restoran keluarga Akira dua puluh tahun yang lalu—menghancurkan segalanya, termasuk harapan mereka untuk menjadi yang terbaik!"

Suasana seketika membeku. Udara terasa seperti es yang menusuk dada. Hana terbelalak, matanya penuh kekagetan dan kemarahan. Tanpa berpikir dua kali, ia meraih tangan Ren yang ada di bawah meja, menggenggamnya dengan erat—jari-jari nya mengepal agar bisa memberikan kekuatan sebanyak mungkin.

Ren berdiri perlahan, gerakannya lambat namun setiap langkahnya penuh kekuatan. Ia berjalan maju hingga hanya ada beberapa langkah lagi dari Ryuji, kemudian menatapnya tepat di mata—sebuah tatapan yang dalam dan penuh api yang membuat pewaris keluarga kaya itu tanpa sadar mundur setengah langkah.

"Kamu baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Ryuji," suara Ren terdengar sangat rendah, seperti bisikan yang membawa pesan maut. "Kamu berpikir dengan membuka luka lama itu, aku akan runtuh dan kehilangan fokus? Justru sebaliknya. Kamu baru saja mengingatkanku dengan sangat jelas mengapa aku harus mengalahkanmu dengan cara yang paling menyakitkan—di depan seluruh warga Kota Karasu."

Ren berbalik tanpa melihat lagi Ryuji, menuju pintu keluar dengan langkah yang mantap. "Terima kasih atas makanannya. Itu adalah hidangan paling membosankan yang pernah kumakan sepanjang hidupku—karena tidak ada cinta yang tertanam di dalamnya."

Hana segera mengikuti Ren, Yuki dan Bu Keiko mengikutinya dari belakang, meninggalkan Ryuji yang berdiri sendirian di tengah kemewahan ruangan kaca itu. Tubuhnya sedikit gemetar karena amarah yang tidak bisa dikendalikannya, dan gelas wine di tangannya hampir terjatuh.

Saat mereka masuk ke dalam lift yang mulai turun dengan cepat, Hana masih tidak melepaskan tangan Ren. Kedinginan masih terasa di tubuhnya, bukan karena udara dingin lift tapi karena kata-kata Ryuji yang menusuk.

"Ren... kamu benar-benar baik-baik saja?" bisiknya dengan suara yang sedikit menggigil.

Ren menatap pantulan wajahnya di permukaan pintu lift yang mengilap. Cahaya dari lampu kota yang berlalu membuat wajahnya tampak seperti sedang diterangi oleh nyala api. "Aku baik-baik saja, Hana. Bahkan lebih dari itu—sekarang aku tahu dengan pasti. Asuka Jaya bukanlah gunung yang tidak bisa didaki seperti yang mereka kira. Mereka hanya sebuah balon besar yang dipenuhi dengan udara kosong dan kesombongan. Dan aku sudah menemukan jarum yang akan menusuknya hingga hancur."

Malam itu, bayangan Menara Asuka menjulang tinggi di atas mereka. Tapi bagi Tim Sakura Harapan, gedung itu tidak lagi terlihat seperti simbol kekuasaan yang mengerikan. Mereka keluar dari sana dengan tujuan yang lebih jelas dan tajam dari sebelumnya: bukan hanya untuk memenangkan kompetisi kuliner, tapi untuk meruntuhkan benteng kesombongan yang dibangun di atas luka dan air mata masa lalu.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!