Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"Kau tidak baik-baik saja!" kata Dokter Rahmat terdengar dengan penuh kekhawatiran sambil ia segera cepat ke arah Abram dan menopangnya dengan kedua tangannya.
Tangan Dokter Rahmat merasakan kulit Abram yang hangat dan basah karena keringat yang menetes deras dari dahi hingga lehernya. Wajah Abram yang biasanya cerah kini tampak pucat dan lelah, bibirnya sedikit mengering.
"Eh, kau tidak apa-apa?" tanya Dokter Rahmat lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas sambil membawanya ke kursi di dekat dinding. Ia segera mengambil handuk bersih dari rak di sudut ruangan dan mengelap keringat di dahi serta leher Abram.
Abram mengangguk perlahan, menutup matanya sejenak untuk menenangkan diri. "Cukup... cukup lelah saja, Dokter. Saya tidak menyangka, menyalurkan energi untuk membantu menyebarkan energi yang terperangkap bisa menghabiskan begitu banyak kekuatan saya." ujarnya dengan suara yang lemah.
Sementara itu, di atas brankar, Sinta mulai menunjukkan perubahan yang lebih jelas.
Kelopak matanya bergerak sedikit, jari jemari tangannya mulai menggenggam seprai dengan lembut, dan wajahnya kini sudah penuh warna kemerahan yang sehat.
Suara napasnya menjadi lebih kuat dan teratur, bahkan terdengar sedikit napas hangat yang keluar dari bibirnya.
Dokter Rahmat melihat ke arah Sinta lalu kembali ke Abram. "Tapi hasilnya luar biasa. Lihat dia... dia mulai menunjukkan tanda-tanda sadar. Padahal tadi hanya terbaring lemas tanpa ada harapan sama sekali."
Ia mengambil termometer digital dan mengukur suhu tubuh Sinta. "Suhu tubuhnya sudah kembali normal, 36,5 derajat Celcius. Ini luar biasa!"
Abram membuka matanya perlahan, melihat ke arah Sinta dengan tatapan yang lelah namun penuh harapan.
"Tapi itu bukan berarti dia sudah sembuh total, Dokter," ujarnya sambil mencoba berdiri perlahan.
"Energi kuning sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, tapi masih ada sebagian kecil yang belum bisa keluar. Selain itu, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari energi itu, ada jejak kekuatan lain yang menyertainya, seperti jika energi itu sengaja dimasukkan ke dalam tubuhnya, " kata Abram dengan suara yang masih terdengar lemah.
Dokter Rahmat mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Sengaja dimasukkan?"
"Saya belum bisa pasti. Tapi energi itu tidak seperti energi alami yang terperangkap karena kesalahan atau kecelakaan. Ada pola tertentu di dalamnya, seolah ada tangan yang sengaja mengatur jalannya agar terkunci di dalam tubuh Sinta," jawab Abram sambil menggosok bagian dahinya yang masih sedikit pusing.
Sebelum mereka bisa melanjutkan pembicaraan, pintu ruangan isolasi terbuka dengan tergesa-gesa.
Seorang perempuan muda dengan rambut ikal hitam yang terjepit ke belakang memasuki ruangan dengan wajah yang penuh khawatir.
Ia langsung berlari ke sisi brankar Sinta dan meraih tangan sang anaknya dengan gemetar.
"Nak! Nak, kamu baik-baik saja?" ujar perempuan itu dengan suara yang bergetar. Ia adalah Maya, ibu Sinta yang telah menjaga anaknya selama dua minggu di rumah sakit ini.
Saat Maya menyentuh tangan anaknya, tiba-tiba Sinta menggerakkan jari jemari tangannya dan membuka matanya perlahan.
Matanya yang tadinya kusam kini mulai menunjukkan yang jelas. Ia melihat ke arah Maya dengan tatapan yang lembut.
"Ibu," ucap Sinta dengan menggerakkan bibirnya.
Malu sedikit melihat wajahnya ke arah Abram dan Dokter Rahmat.
"Terima kasih..." bisik Sinta dengan suara yang masih lemah namun jelas terdengar.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya