Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Berkutat dengan dunia bengkel dan juga Elia cukup membuat Arka stres, bahkan dalam satu bulan ke belakang ini dirinya menjadi lebih kurus. Setidaknya itulah yang di katakan sang mama, sebelum beliau memberikan Arka tiket honeymoon untuknya dan sang istri Aruna__Arka yang awalnya enggan pun menjadi berpikir sebaliknya setelah di sadari kalau selamabini dia telah bekerja cukup keras dan tak punya waktu untuk sekedar jalan-jalan dan liburan.
Lagipula Aruna adalah partner yang cukup asik. Setidaknya wanita itu cukup menurut. Ya, walau akhir-akhir ini agak menyebalkan, tapi tidak apa. Justru dengan adanya Aruna cukup membuat Arka terhibur.
“Kamu sudah selesai?.“Tanya Arka pada Aruna yang baru saja keluar dari kamarnya. Tatapan Arka pun menilik penampilan Aruna dari atas sampai bawah. Wanita itu memakai dres selutut dengan sebuah cardigan yang menutupi dres itu dan Arka duga, kalau dres itu cukup seksi makanya di tutupi oleh cardigan. Rambutnya yang cukup panjang pun terlihat di gerai dengan poni yang mempercantik wajahnya dan make-upnya tidak terlalu berlebihan, masih bisa di katakan cukup natural dan ya, di mata Arka cantik, walau lebih cantik Elia.
Ehm.. entah sejak kapan Arka mulai membandingkan antara Elia dan Aruna. Tetapi ya, begitulah adanya. Walau minusnya Elia telah pergi meninggalkannya di hari pernikahan mereka. Baiklah, sejenak memang Arka harus melupakan sejenak masalah yang menderanya dan honeymoon sepertinya merupakan solusi yang tepat buatnya.
“Ya. Tapi bagaimana dengan kerjaan saya?“Jawab Aruna sedikit ragu mengingat dia belumlah izin kepada bosnya di dealer. Pasalnya hari ini kebetulan rekannya juga tidak masuk. Harusnya sih Aruna yang masuk, tapi karena tiket honeymoon yang di berikan mama mertuanya juga mendadak dan kalau di tolak. Aruna merasa amat sangat bersalah sekali. Makanya ia pun memutuskan untuk ikut rencana mertuanya, walau Aruna juga cukup kebingungan bagaimana caranya izin kepada bosnya.
“Siniin ponsel kamu.“Tukas Arka yang membuat Aruna mendelik ke arahnya. Pasalnya ponsel adalah salah satu benda yang cukup privasi, Arka mendengus lalu pria itu pun mengambil paksa ponsel dari tangan Aruna.
“Mas Arka jangan seenaknya, itu ponsel saya lho, benda privasi__.“
Pria itu berdecak kesal dan kini melirik tajam pada Aruna. Mendadak Aruna pun bungkam dan seolah menunggu sampai pria itu selesai dengan ponselnya.
“Sandinya?.“
“250795.“Ucap Aruna dan terlihat Arka mengotak-ngatik ponsel milik Aruna selama beberapa menit lalu mengembailkannya pada Aruna.
“Apa yang mas lakuin?.“
“Lihat aja!.“
Dan begitu melihatnya, Aruna pun membelalakan matanya tak percaya. Arka benar-benar di luar prediksi BMKG, Bagaimana mungkin, sih? Dan kenapa harus?
“Mas.“Ucap Aruna pelan dengan wajah nelangsa juga kesal, sementara pria itu terlihat biasa saja, padahal baru saja berbuat sesuatu yang mungkin nantinya akan menempatkan Aruna pada posisi yang cukup pelik di tempat kerjanya.
“Udah, saya udah bantuin dan bos kamu juga jawab, gak papa kan? Yaudah ayok, kita harus segera pergi, kita flight tinggal sejam lagi lho.“
*****
Bali yang menjadi tempat mereka honeymoon dan Aruna hanya bisa membelalakan matanya takjub sekaligus merasa terpana pada sebuah resort tempat merema honeymoon, sebuah resort yamg bertempat di dekat pantai ubud__resort itu menghadap pantai dan dari kamar mereka jelas sekali pemandangan indah pantai, sorenya mereka bisa melihat sunrise paginya sunset, di tambah dengan angin sepoi-sepoi nuga deburan ombak yang terasa hangat.
Mertuanya memang paling the best memilihkan tempat yang sangat bagus sekali.
“Mas, ngomong-ngomong kamar ini jadi milik saya, kan?.“Tanya Aruna sambil tiduran di atas ranjang yang terasa empuk dan nyaman, wanita itu bahkan langsung tiduran begitu saja dan membiarkan beberapa kelopak mawar merah yang kini bercampur dengan seluruh tubuhnya__ya, kamar ini di buat seperti kamar ala-ala pengantin di televisi, di hias dengan berbagai lilin yang membentuk love di lantai, di atas ranjang terdapat kelopak mawar merah yang di bentuk serupa dengan sepasang handuk yang di buat seperti angsa yang sedang saling berciuman.
Ckkk!! Buat apa sih? Ribet bener, padahal jelas honeymoon ini bukanlah honeymoon pasangan pengangin yang berbahagia. Sungguh, andai tidak ingat perjanjian dengan Arka, maka mungkin Aruna akan mengatakan dengan tegas begitu pada mertuanya. Tapi tentu saja tidak di lakukannya, Aruna masih cukup waras untuk tidak memulai konflik.
Kening Arka mengerut”Kata siapa? Ini kamar kita berdua.“Tukasnya dan detik itulah rahang Aruna terlihat merosot di sertai dengan kedua bahu yang lemas seketika. Kamar milik Aruna dan Arka katanya, yang benar saja? Jadi dengan kata lain, Arka dan Aruna akan berbagi ranjang? Beneran?
“Mas, saya gak mau ya, kalau di suruh tidur di sofa, saya gak akan ngalah pokoknya. Kalau mau, ya mas aja sana tidur sofa.“Ucap Aruna seraya menarik selimut lalu menutupkannya ke tubuhnya dan memunggungi pria itu__jangan di kira karena ogah seranjang, maka Aruna yang akan mengalah. No way, dia tidak akan mengalah sama sekali, lagi pula siapa suruh pake acara sekamar berdua..ckckck
Arka terdengar menghela nafas panjang dan suaranya tak terdengar seiring langkah kaki yang terasa menjauh. Di saat inilah Aruna bisa menghela nafas lega. Arka sudah pergi dan Aruna bebas.
Mudah-mudahan saja dia tak kembali kalau bisa, supaya Aruna merasa leluasa. Lagi pula, Aruna lebih memilih tidur sendirian di kamar ini, ketimbang ada Arkanya. Bagaimana pun Aruna gugup dan sedikit agak ngeri kalau ada Arka bersama dengannya di satu ruangan, apalagi mengingat kejadian terakhir mereka.
Oh ya Tuhan, sungguh Aruna benar-benar malu kalau ingat kejadian itu.
*****
Kesenangan Aruna pun tak berlangsung lama. Sebab nyatanya pria itu telah kembali dengan kantung kresek yang ada di tangannya dan otomatis bibir Aruna mencebik melihat suaminya yang sudah kembali.
“Kenapa?.“Tanya Arka keheranan melihat ekspresi manyun Aruna.
“Enggak, lagi sariawan.“Ujarnya asal, padahal mah kesal karena nyatanya Arka kembali, di kira Arka nyewa kamar lainnya atau kemana kek, yang penting tidak satu kamar dengan Aruna saja.
“Oh, yaudah nih. Kebetulan saya beli susu beruang.“Tukasnya dan menyodorkan sekaleng susu beruang untuk Aruna, karena sudah di sodorkan dan tak mau kebohongannya terbongkar, terpaksa Aruna pun membuka kaleng dan meminumnya sedikit.
“Oh ya, mas gak punya niatan buat nyewa kamar lain gitu?.“Tanya Aruna sambil menatap penuh selidik.
“Enggak Aruna, saya gak bisa.“
“Kenapa? Jangan bilamg gak punya uang, ya! Saya gak percaya lho.“
Arka menggelemgkan kepalanya seraya menghela nafas berat”Ada saudara mama di resort ini dan sudah pasti mama akan curiga jika saya menyewa kamar lain.“
Lho, Aruna baru tahu lho, ternyata bukan hanya mereka saja yang honeymoon tetapi ada bibi Arka juga.
“Lho, kok gak bilang sama saya!!.“Tekan Aruna sedikit kecewa karena Arka tidaj jujur.
“Barusan kan saya bilang.“
“Maksud saya sebelumnya, mas!!.“Tekan Aruna dengan nada kesalnya, Arka menghela nafas panjang.
“Saya lupa, lagian ada ata enggak ada mereka, kita tetap harus honeymoon Aruna.“Ujarnya, Aruna mendengus keras. Ahh tetap saja, kalau begini kan Aruna jadi sedikit takut salah langkah, gerak-geriknya seolah di awasi oleh bibi Arka.
“Mas Arka ini lama-lama ngeselin, ya?“Cetusnya sambil mendelik tajam.
“Lha, kamu juga kok.“
“Kok, jadi saya? Saya enggak, ya! Mas Arka justru.“
“Udah Run, jangan ngajak saya adu mulut, saya capek lho. Ini juga saya beli minyak angin.“Ucap pria itu lirih dan sedikit membuat Aruna merasa bersalah seketika, pantas saja Arka terlihat agak sedikit lesu dan tak bertenaga, sepertinya pria itu sedang masuk angin.
“Mas Arka masuk angin, ya?.“
“Hmmm..“
“Mau saya bantu, nggak?.“Tawar Aruna dan membuat Arka menaikan sebelah alisnya lalu menatap Aruna dalam. Rasanya sedikit sanksi saja.
“Tuh kan, saya berniat baik lho. Kalau gak mau, ya sudah sih. Mending saya tidu__.“
“Mau, tolong saya Run. Tubuh saya udah gak enak kayak gini.“Potong Arka sambil memegang tangan Aruna dan membuat wanita itu terkekeuh kecil, lalu Aruna meminta Atka untuk segera membuka kaosnya dan berbaring telungkup di atas ranjang.
“Astaga, Run.. kamu apa-apaan sih? Sa..kit.“Jerit Arka dengan tubuhnya yang sudah bergerak ke kanan dan kiri. Tak lupa mulutnya berdesis nyaring karena kesakitan di kerok oleh Aruna menggunakan koin yang sudah di balur memakai minyak angin.
“Diem mas. Saya lagi bantu mas Arka lho.“Tukas Aruna dan sama sekali tidak ada niatan menghentikan aksinya itu, tentu saja Aruna sedikit memakai tenaga dan sengaja, Aruna benar-benar kesal dan ia meluapkannya dengan mengerok tubuh Arka sedikit kencang.
Beberapa menit berlalu sampai Aruna pun selesai dengan aksi mengeroknya. Sejenak wanita itu memandangi hasil karyanya yang terlihat bagus sekali. Punggung Arka sudah berhiaskan hasil kerokannya dan berwarna merah. Bagus juga, ternyata Aruna cukup berbakat untuk membuat sebuah karya seni, ya?
“Kamu mah bunuh saya, ya? Gila.. sakit banget.“Keluh pria itu dengan tubuh yang sudah tegap dan bersandar di kepala ranjang lalu menoleh kepada sang istri yang kini duduk di sebelahnya.
“Enggak ya, lagian buat apa? Saya gak mau lho jadi janda dengan cepat.“Sahutnya cepat dan membuat Arka mendengus kesal.
“Tapi kamu ngerok saya kenceng banget Rauna, saya bahkan merasa kulit saya sampai mengelupas lho.“
Aruna terkekeuh”Masa sih? Perasaan mas Arka aja. Lagian pria itu harus kuat dan tahan banting lho.“Tuturnya dengsn senyum mencemooh dan membuat Arka mendelik tajam ke arahnya.
“Kamu sengaja, ya?.“Tanya pria yang entah sejak kapan, namun kini tubuhnya sudab berada cukup dekat dengan tubuh Aruna, kepalanya sudah di condongkan dan bahkan Aruna bisa membaui aroma nafasnya yang tercium bau min itu.
“Apaan sih mas, enggak ya! Harusnya mas. Berterimakasih lho sama saya, kalau enggak saya kerokin. Mungkin mas gak akan bisa tidur.“Tukas Aruna pongah dan berhasil membuat Arka mencibir.
“Yaudah, sekarang kamu yang gantian di kerok..“Ujarnya dan begitu saja tangan Aruna di tarik hingga kini tubub Aruna sudah terbaring ke atas ranjang dengan tubuh Arka yang mengukungnya dari atas__pria itu menyeringai puas melihat ekspresi wajah Aruna yang terlihat blingsetan karena cemas dan takut.
“Mas..“Panggil Aruna. Alarm otaknya mengatakan tanda bahaya, apalagi dengan posisi riskan seperti ini.
“Kamu harus merasakan apa yang saya tadi rasakan, Runa!.“
“Mas, saya ngerok punggung bukan bagian dada lho.“Tukas Aruna cepat dan Arka tersenyum penuh arti, matanya menggelap dan di saat itulah Aruna menyadari kalau dirinya berada dalam bahaya.