NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:633
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10

"LILYY!!!"

Seruan itu begitu keras. Membuat orang-orang yang ada di taman menoleh untuk mencari dimana sumbernya. Kecuali tiga orang diujung sana yang masih asik dengan dunia mereka, seolah tak terganggu.

Jeffrey berlari kencang. Menerjang siapa saja yang menghalangi jalan. Ia tak peduli cemoohan orang-orang disekitar. Yang ia pedulikan hanya lah satu, yaitu keberadaan Lily yang telah ditemukan. Dan ia harus bergegas agar tak kehilangan jejaknya lagi.

Sepatunya menghentak tanah dengan keras. Memberikan tekanan yang tak main-main disetiap langkah yang ia ambil. Wajahnya terlihat lelah, keringat telah banyak berjatuhan, membasahi kulit dan juga bajunya. Sementara sorot matanya jelas menampakkan kelegaan yang tak bisa disembunyikan.

Pada saat itu, ia merasa kebahagiaan bukan sesuatu yang jauh. Tetapi ada di depan matanya. Melihat Lily ada di depan sana sedang makan sesuatu dengan lahap membuat ia merasa senang.

"Lily..." Panggil Jeffrey lagi. Kali ini tidak ada teriakan. Hanya panggilan lembut yang di balut rasa haru.

Kepala Lily mencari-cari. Ke kanan dan ke kiri. Dan ketika ia melihat Jeffrey mendekat kearahnya, binar bahagia tak dapat ditutupi. Tangannya yang gemuk melambai, memperlihatkan apa yang sedang ia pegang. "Mass..."

Begitu juga dengan kakek dan nenek yang masih sibuk mengunyah, mereka ikut menoleh. Pupil mata mereka menyempit, menatap penuh tanya.

Satu plastik kue pancong diatas meja yang berisi 20 buah, kini tinggal 5 yang tersisa. Beberapa masuk ke dalam perut Lily, beberapa masuk ke dalam perut mereka. Bahkan meski gigi telah banyak yang tanggal, terasa tak menyulitkan. Mereka tetap asik makan.

Jeffrey sampai disana dengan nafas yang terengah-engah, diikuti Andra di belakangnya yang saat itu langsung berlari mengejar. Keduanya memberi salam, lalu mengutarakan tujuan mereka datang.

"Ohh jadi gadis kecil ini adik kalian?" Tanya kakek memastikan.

Keduanya sama-sama mengangguk. "Iya kek. Tadi dia lagi main pasir disana sama Jeffrey. Terus karena saya di ganggu anak-anak lain, Jeffrey pergi nolongin saya sebentar dan ninggalin Lily. Pas balik lagi, dia udah nggak ada." Jawab Andra dengan satu tarikan nafas.

"Sini duduk dulu, kalian pasti cape nyari-nyari." Kata nenek.

Keduanya menurut. Jeffrey berjalan memutar untuk duduk di samping Lily, sementara Andra menempatkan diri disebelah kakek. Rasa lelah itu baru terasa saat mereka duduk, juga rasa haus yang makin lama kian terasa mencekik.

"Ini ada kue, makanlah." Tawar nenek.

Andra menatap penuh minat, perutnya memang sudah lapar lagi. Bahkan sudah berbunyi sejak tadi. Tapi di banding itu, ia lebih ingin meminum sesuatu yang menyegarkan untuk mengurangi rasa hausnya.

Melihat keterdiaman anak-anak, nenek tersenyum lembut. Seolah mengerti. "Mang, es teh nya yah dua." Katanya pada si penjual.

"Baik bu."

Andra yang awalnya tertunduk, langsung mengangkat wajahnya. Menatap nenek penuh dengan rasa syukur. Kejadian ini akan menjadi pengingat untuknya. Untuk selalu berhati-hati dalam menjalani hidup, terutama jika ia membawa Lily bersamanya. Selain itu, kemanapun ia pergi, ia pastikan tidak akan lupa untuk membawa uang, berapapun nominalnya. Bahkan jika itu hanya cukup untuk membeli air mineral.

Sementara diseberang meja, Jeffrey diam saja. Tangannya sibuk menyuapi Lily kue pancong.

"Ini bu minumannya." Ujar si penjual.

"Makasih mang."

Dua gelas di letakkan diatas meja. Kakek mengambil mangkuk buburnya yang telah kosong. Kemudian menumpuknya menjadi satu dengan milik nenek, supaya lebih ringkas. Sementara kue pancong yang tersisa ia geser ke depan anak-anak. Begitu juga dengan air minumnya.

"Minum lah dulu. Habis itu makan kuenya. Kalian pasti haus dan lapar setelah mencari adik kalian sejak tadi."

Kali ini tak ada penolakan. Setelah mengucapkan terima kasih. Andra mengambil gelas miliknya, lalu meminumnya dengan cepat. Rasa dingin mengalir melalui tenggorokan, terasa menyegarkan. Rasa haus pun perlahan hilang.

Hal yang sama juga dilakukan Jeffrey. Setelah selesai minum, ia menyodorkan gelasnya pada Lily, menyuruh anak itu untuk minum juga.

"Jadi kalian kesini bertiga?" Tanya nenek.

"Kita sama ayah nek. Dia lagi lari tadi." Balas Jeffrey.

Nenek mengangguk. Mereka terus berbincang seru. Menanyakan nama masing-masing dan dimana rumah satu sama lain. Lalu Andra menceritakan kehidupannya di sekolah. Siapa nama gurunya dan bagaimana ia mengajar. Juga siapa saja teman-temannya.

Jeffrey hanya diam saja mendengarkan, bersama Lily yang juga ikut mendengarkan. Terkadang kepala kecilnya mengangguk, terkadang menggeleng. Seolah ia mengerti apa yang di maksud.

Selanjutnya giliran nenek. Ekspresinya lucu saat bercerita, suaranya berubah-ubah. Terkadang kecil seperti anak-anak, terkadang suaranya lebih besar dan dalam seperti laki-laki dewasa. Tak jarang ia meniru suara kartun di televisi.

Lily sangat senang saat mendengarnya. Hal itu menjadi salah satu alasan yang membuatnya semakin menyukai nenek.

Dari obrolan yang berlangsung lama itu dapat simpulkan bahwa nenek tinggal di belakang rumah mereka. Hanya berdua bersama kakek. Sementara anak dan cucunya tinggal di luar kota. Sangat jauh dari sana. Bahkan sampai menyebrangi lautan.

Cucu mereka seumuran dengan Lily. Berjenis kelamin laki-laki. Bernama Kenzy. Anaknya periang dan lucu. Ia baru saja bisa berjalan.

Nenek berencana untuk mengenalkan Kenzy pada Lily nanti bila ada kesempatan. Membuat gadis kecil itu sangat senang. Ia merasa akhirnya akan memiliki teman main yang seusia.

Nenek juga bilang, anak dan cucunya akan pulang satu kali dalam setahun, yaitu saat hari raya. Masih sangat lama. Lily akan menunggu dengan sabar hingga hari itu tiba.

Dari kejauhan, Rama berlari pelan untuk menghampiri. Wajahnya tak tampak panik. Sebaliknya, ia tampak tenang dan penuh wibawa.

Sebelumnya Rama telah memastikan keberadaan anak-anak saat berlari mengitari taman tadi. Saat itu matanya terus memindai sekeliling untuk mengawasi. Pergerakan sekecil apapun ia selalu tahu. Bahkan saat Andra diganggu anak-anak lain, ia juga tahu itu. Alasannya tak mendekat adalah karena ia ingin melihat bagaimana anak-anak menyelesaikan masalahnya sendiri.

Rama juga tahu saat Lily pergi dari kolam pasir. Dan anak-anak yang panik mencari. Ada hal yang bagus yang mereka lakukan untuk bertanggung jawab pada kelalaian yang mereka perbuat. Itu merupakan sesuatu yang baik. Mereka akan belajar bagaimana cara menjaga dan memprioritaskan sesuatu. Namun melibatkan orang dewasa juga tidak ada salahnya. Apalagi dalam kasus kehilangan orang.

Ia akan memberi pemahaman lagi nanti pada mereka sebagai orangtua.

Saat jarak semakin dekat, Rama memelankan langkah. Lalu berjalan dengan pasti.

Sepasang lansia itu menyambut dengan hangat kedatangannya, tanpa bertanya. Mereka seolah bisa menebak siapa dirinya.

"Anak-anak mu sangat lucu." Ucap nenek. Yang disetujui oleh kakek.

Rama tersenyum. "Yang ini putra saya." Balasnya sembari menunjuk Jeffrey.

"Sementara yang dua ini anak teman saya." Tambahnya.

Kakek dan nenek itu sedikit terkejut.

"Saya pikir yang dua ini anak kembar, sementara itu adiknya." Kata kakek.

Rama terkekeh. Memang tak sedikit yang berkata begitu. Tak hanya satu atau dua. Dan dia sudah terbiasa mendengarnya. Lagipula tak ada yang salah, wajah mereka memang mirip. Dengan potongan rambut yang sama pula.

Mereka berbasa-basi sebentar, sebelum akhirnya pamit untuk pulang. Rama berencana untuk mengganti uang nenek yang di pake anak-anak jajan. Namun di tolak. Nenek berkata ia senang dengan kehadiran mereka. Anggap lah sebagai tanda terima kasih karena anak-anak telah menemani mereka, para orangtua mengobrol.

Karena nenek sudah berkata begitu, Rama tak lagi memaksa. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali, Yang diikuti oleh anak-anak.

"Adah enek... Ily uyang yah?" Pamitnya sembari melambaikan tangan.

(*Dadah nenek, Lily pulang yah?)

Sepasang lansia itu juga ikut melambai. Mengantar kepergian mereka dengan senyum yang merekah. "Iya, hati-hati yah dijalan."

Pagi yang cerah hari itu, seolah menjadi pengiring akan takdir yang terjalin dari keduanya di masa mendatang.

Malam harinya, Andra kembali mengambil kertas gambar diatas meja belajarnya. Kali ini ia tidak hanya membawa satu, tapi membawa tiga sekaligus. Karena ia yakin Lily akan kembali merecokinya. Jadi, satu akan ia berikan untuk Lily, lalu satu untuk dirinya sendiri, sementara satunya lagi untuk berjaga-jaga.

Ia membawa kertas-kertas itu, juga alat kelengkapan lainnya ke ruang tamu. Jeffrey berkata akan datang sebentar lagi, karena itu ia memilih untuk mengerjakannya disana. Selain karena lampunya lebih terang, juga karena gerbang depan dibuka oleh sang ibu sejak sore, jadi ia bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya sembari melihat ke luar. Siapa tahu ada orang jualan yang lewat.

Andra berjalan melewati kamar sang adik. Disana ia melihat ibunya tengah mengganti baju Lily.

Sebelumnya, anak itu mencoba minum sendiri dari gelas. Tapi sayangnya, hal itu berakhir dengan tumpah kemana-mana. Meja basah, lantai basah dan semua yang Lily kenakan juga basah.

Genggaman tangannya yang memang tidak stabil, serta benturan yang terjadi antara sikunya dan ujung meja, membuat gelas itu akhirnya mengenai dagu dan jatuh ke lantai. Untungnya itu hanya gelas plastik yang tidak mudah pecah. Jadi kaki Lily aman. Ia hanya menangis karena terkejut.

Setelah meletakkan barang-barangnya diatas meja, Andra berjalan keluar. Lalu berhenti di tengah jalan. Suasana tampak sepi. Tidak seperti biasa. Rumah-rumah yang berdiri rapi dengan taman-taman yang indah, tampak tertutup rapat pintunya. Suara tawa dan musik lembut yang biasa terdengar memenuhi udara pun tak ada.

Diatas sana, langit begitu gelap. Seolah tak berujung. Tak ada bintang, bulan pun tak nampak. Seolah mendukung kesunyiannya.

Tak lama, Jeffrey keluar dari rumah dengan ransel dipunggungnya. Ia menatap heran Andra yang terus menatap ke langit. "Lagi ngapain kamu?"

Andra hampir melompat karena terkejut. "Ngagetin aja kamu." Protesnya.

Jeffrey layaknya hantu karena kehadirannya tak menimbulkan suara. Bahkan langkah kakinya pun tak terdengar.

"Ayo, masuk. Banyak nyamuk di luar." Ajaknya.

Andra menurut, lalu mengikuti Jeffrey masuk ke dalam rumah.

Ransel yang tergantung di punggung, memantul setiap kali Jeffrey mengambil langkah. Hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Suara sandal yang beradu dengan jalan beraspal pun mengeluarkan bunyi, samar tapi masih terdengar.

Lalu, kenapa tadi ia tidak mendengar apapun?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!