Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Usaha yang gagal
Davin telah kembali ke tenda. Dia menatap uang berwarna hijau di tangannya. Uang kertas dengan nominal dua puluh ribu rupiah pemberian Melodi. Dia tersenyum tipis. Entah apa yang di dalam pikirannya.
"Kenapa, Dok? Kok, uangnya dilihatin terus?" tanya Leo yang kebetulan melihatnya.
"Oh, nggak kok, Mas. Ini tadi kembalian dari warung, beli air mineral," jawab Davin.
Entah sejak kapan dirinya jadi pintar berbohong seperti ini. Apa karena sejak ketulusannya yang hanya dimanfaatkan seseorang? Hanya dia yang tahu.
"Oh, kirain uang dari seseorang yang spesial." Leo berkelakar dan berlalu.
Namun, tanpa Leo sadari wajah Davin langsung berubah, sedikit memerah. Dia mengulum senyumnya sembari menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian dia mengambil handuk, lalu pergi ke kamar mandi portable yang disediakan oleh pihak Dinas Kesehatan pemerintah setempat.
Tak perlu berlama-lama Davin kini telah berpakaian rapi lengkap dengan snelli, membungkus tubuhnya yang atletis.
Davin mengayunkan langkahnya menyusuri jalanan desa. Tampak olehnya sebagian penduduk yang rumahnya tidak terdampak banjir mulai beraktivitas seperti biasa. Ada yang bekerja di pabrik, di pasar atau ke sawah membenahi dari sisa-sisa banjir yang melanda.
.
Di sisi lain, Melodi mengayuh sepedanya meninggalkan rumah Pak Lurah. Ia sadar tidak seharusnya terpancing emosi oleh perkataan Dahlia. Akan tetapi, ia merasa harga dirinya terinjak-injak atas tuduhan yang tidak pernah dilakukannya.
'Apa karena dirinya miskin jadi orang bisa memperlakukannya sedemikian hina?'
Miskin bukan pilihan tetapi karena keadaan. Setiap orang tidak ada yang bercita-cita menjadi orang miskin. Toh, selama ini dirinya tak pernah meminta-minta. Ia selalu bekerja untuk mendapatkan uang, apa saja yang penting halal. Sebagai buruh tani misalnya, saat musim tanam atau musim panen. Maka ia akan bergabung dengan warga yang lain untuk mengais rejeki di sana.
Melodi menghentikan sepedanya di tepi jalan, berjongkok menghadap hamparan sawah yang sebagian tanamannya telah tersapu banjir. Membiarkan air berlomba keluar dari matanya, sebagai ungkapan rasa sedih, kecewa, juga amarah. Bahunya terguncang hebat menumpahkan segala beban yang dirasakannya.
Tak ada tempat baginya mengeluh atau mengadu, selain kepada Tuhan. Selama ini ia selalu memendamnya sendirian, berpikir untuk menjadi kuat di depan adiknya yang membutuhkan dorongan dan semangat hidup. Tak ada waktu untuk menangisi keadaan. Karena hanya mengeluh dan meratapi nasib tak akan merubah apapun dalam hidupnya.
"Ayo, Mel. Jangan lemah! Kamu harus kuat demi Alvian."
Melodi menghela napas sambil menepuk dadanya berulangkali, berharap dapat meredakan sesak yang menghimpitnya. Ia mengusap airmatanya lalu berdiri dan berbalik.
Namun...
Netranya membeliak sempurna kala mendapati sesosok pemuda tampan telah berdiri di di hadapannya entah sejak kapan. Menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Melodi seketika membalikkan badan kembali. Wajahnya yang memerah habis menangis kini bertambah memerah karena malu.
Davin yang menyadari bahwa mungkin Melodi merasa malu melihat kehadirannya hanya bisa diam, bingung harus berbuat apa. Sejatinya dirinya telah berdiri beberapa menit lalu begitu melihat orang yang dikenalnya tengah berjongkok dengan bahu terguncang hebat. Dia mendekat, tetapi tak enak hati untuk menyapa.
Saat itu Davin telah sampai di persimpangan jalan menuju Puskemas Pembantu, melihat Melodi berhenti di tepi jalan. Dia lalu mendekat berniat untuk mengembalikan uang Melodi yang diberikan padanya pagi tadi.
Davin masih diam mengamati, ketika Melodi berdiri sambil menunduk.
"Mari, Pak Dokter," ucap Melodi lalu membawa sepedanya menjauh dan mengayuhnya secepat mungkin, meninggalkan Davin yang masih bengong menatapnya kayak sapi ompong.
"Aaaish... Bodoh -- bodoh, kamu, Vin! Napa aku nggak nyapa dia, sih?" rutuknya penuh penyesalan.
"Ah ya, sudahlah. Nanti aku bisa kasih ke Alvian saja uangnya," ujarnya menghibur dir sendiri, lalu melanjutkan perjalanan.
Dari kejauhan terdengar suara motor dan berhenti tepat di sisinya. "Selamat pagi, Pak Dokter," sapa Dahlia.
Ia menampilkan senyuman semanis mungkin. Bibirnya yang dipoles lipstik warna merah cerah tampak menggoda.
Namun, Davin yang kurang menyukai wanita dengan tampilan menor, justru terlihat mengerikan di matanya. "Selamat pagi, Bidan Dahlia," jawab Davin sembari tersenyum canggung.
Sementara, Dahlia merasa hatinya berbunga-bunga Davin masih mengingat namanya. "Wah...! Nggak nyangka ya, Anda masih mengingat nama saya," sahutnya dengan gayanya yang dibuat-buat.
"Tentu ingat, karena yang bertugas di Puskesmas Pembantu itu hanya ada satu bidan yaitu Anda," jawab Davin.
Hati Dahlia semakin melambung tinggi. Ia pun menawarkan diri untuk mengajak Davin berangkat bersama. "Oh ya, Dok. Gimana kalau Anda bareng sama saya saja sampai ke Puskesmas?"
Lumayan setidaknya nanti bisa pamer pada yang lain, bahwa dirinya berangkat bareng bersama dokter tampan yang dikagumi banyak gadis-gadis di desa itu. Begitulah pemikirannya sambil senyum-senyum sendiri membayangkannya.
Davin mengernyit heran melihatnya, maka dia pun menolaknya dengan halus. "Terima kasih tawarannya. Tapi maaf, saya lebih suka jalan kaki. Lagipula hanya tinggal beberapa meter lagi sampai, kok."
Dahlia merasa kecewa, harapannya yang sempat membumbung tinggi, kini ditolak. "Baiklah kalau Anda tidak berkenan. Mungkin karena motor saya butut ya, Dok?" ucapnya dengan senyum dipaksakan menunjukkan kekecewaannya karena usahanya gagal total.
"Oh, bukan karena itu. Tapi saya memang lebih suka jalan kaki, lebih sehat." Davin beralasan.
Tak ada pilihan lain, Dahlia pun berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Davin menghela napas lega lalu kembali melangkahkan kakinya menuju Puskesmas Pembantu yang tinggal beberapa meter lagi.
.
Melodi menyandarkan sepedanya di bawah pohon jambu, di depan rumah seseorang yang ia datangi untuk melakukan pekerjaannya yakni mencuci dan menyetrika.
"Assalamualaikum, Bu Murni," serunya ketika akan memasuki rumah.
Pemilik rumah adalah orang kaya tetapi tidak sombong. Memiliki tiga anak dan masih kecil-kecil, salah satunya bayi berusia enam bulan.
Sesaat kemudian, seorang wanita berusia sekitar empat puluhan keluar sambil menggendong bayinya. "Waalaikumsalam. Masuk--masuk, Mel. Nggak usah sungkan gitu, lah," sambutnya ramah disertai senyuman, membuat hati Melodi terasa hangat.
"Tumben masih pagi udah sampai sini, biasanya agak siangan, Mel?" lanjutnya bertanya.
Melodi hanya tersenyum getir, mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
Namun, Murni rupanya sangat jeli sehingga bisa melihat wajah Melodi yang sembab dan memerah. "Loh, kamu kenapa, Mel? Wajahmu sembab, kamu habis nangis, ya? Ada apa?" cecarnya kemudian sambil mengangkat dagu Melodi. "Bilang sama saya, ada masalah apa?"
Sesaat Melodi merasa bimbang juga ragu. Ia merasa takut jika bercerita justru akan memperbesar masalah. Akan tetapi, dia juga butuh seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.
Apa yang akan dilakukan Melodi? Apa ia akan memilih terbuka, atau justru menyimpannya rapat-rapat?