Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19 Mengintai
"Loh, Nak. Kenapa jalanmu pincang seperti itu?" Baskara menatap Gio dengan tajam.
Vania tersenyum kaku. "Ini, Pa. Tadi aku terpeleset di kamar mandi. Tapi sudah di urut Gio,"
"Nanti kami juga akan pergi ke Dokter." sahut Gio cepat, dia bisa membaca ekspresi wajah Baskara saat ini.
Pria paruh baya itu menghela napas panjang, berarti yang mereka dengar tadi bukanlah hal pribadi. Begitulah pikirnya.
"Ya sudah, lain kali hati-hati. Ayo," ajaknya.
Saat mereka sedang sarapan, Gio tidak bisa tidak memandang Vania dengan rasa cinta yang mendalam. Dia berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan selalu menjaga dan membahagiakan kedua orang terkasihnya itu.
Setelah sarapan, Gio mengajak Vania untuk pergi ke dokter, karena kakinya yang masih sakit. Vania tidak bisa menolak, karena Gio sangat perhatian.
Baskara dan Risna memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Axel, sambil menunggu Vania dan Gio kembali.
Di dalam mobil, Vania bertanya pada Gio, "Gio, apa kau yakin kita harus pergi ke dokter? Aku merasa sudah lebih baik."
Gio tersenyum, "Aku hanya ingin memastikan, sayang. Aku tidak ingin kau mengalami sesuatu yang tidak diinginkan."
Vania tersenyum, hatinya merasa hangat karena perhatian dari suaminya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" Gio tetap fokus menyetir, tetapi sesekali dia melirik ke arah Vania.
"Aku begitu beruntung karena di cintai oleh pria sepertimu. Terima kasih, untuk semuanya."
Gio berusaha tenang, entah apa yang akan terjadi jika Vania sampai tahu kalau Gio adalah Ayah kandung Axel. Apakah wanita itu akan bersikap acuh, marah, atau malah bahagia?
Mereka berdua akhirnya sampai dirumah sakit. Dokter memeriksa kondisi kaki Vania, kemudian dia mengatakan jika Vania hanya perlu istirahat dan tidak ada yang harus dikhawatirkan. Mereka berdua merasa lega mendengarnya.
"Aku izin ke toilet dulu,"
"Aku akan mengantarmu." Gio hendak menyusul Vania tetapi wanita itu melotot ke arahnya.
"Tidak perlu, Gio Abraham. Kau tunggulah dimobil, aku akan menyusul. Lagipula, kata dokter tidak ada yang harus dikhawatirkan bukan? Aku baik-baik saja," Vania tersenyum manis kemudian berlalu ke toilet.
Setelah selesai menuntaskan hajatnya, wanita itu berjalan menuju ke parkiran. Dia merasa ada yang mengawasinya. Vania berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Namun, tidak ada yang mencurigakan. Bola matanya bergulir ke seluruh penjuru rumah sakit. Tidak ada tanda-tanda bahaya disana.
"Tapi aku merasa di ikuti," dia mencoba membuang rasa curiganya itu. Dia kemudian melanjutkan perjalanan ke parkiran, tetapi tidak bisa menghilangkan perasaan was-was nya.
Saat dia tiba di parkiran, Gio sudah menunggu di samping mobil. "Kau lama sekali, apa kau baik-baik saja?" tanya Gio, sambil memandang Vania dengan khawatir.
Vania tersenyum, "Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedikit aneh."
Gio memandang Vania dengan serius, "Aneh? Apa yang terjadi? Kakimu sakit, atau..."
Vania menggelengkan kepalanya, "Tidak, Gio. Mungkin aku hanya terlalu banyak pikiran."
Gio memandang Vania sejenak, kemudian membuka pintu mobil. "Masuklah, kita pulang."
Vania masuk ke dalam mobil, dan Gio menutup pintu. Saat dia berjalan ke sisi pengemudi, dia tidak bisa tidak memandang sekeliling parkiran, mencari tanda-tanda bahaya. Tetapi tidak ada apa-apa.
"Aku harus lebih waspada," kata Gio kepada dirinya sendiri.
...
BERSAMBUNG