NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:40.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Emosi Personal Menyeruak

Matahari semakin tinggi saat Sawitri kembali ke bawah pohon jati.

Jenazah Wartinah sudah selesai dijahit. Kain putih menutupi seluruh tubuhnya. Hanya wajah yang terbuka, tenang, seolah tidur.

Tapi Sawitri tidak pergi.

Ia duduk di atas akar pohon. Tas kulit di pangkuannya. Matanya menatap kosong ke arah mayat itu.

Cakrawirya berdiri beberapa langkah di belakang. Diam.

Dari kejauhan, suara tangis mulai terdengar.

Seorang perempuan tua berlari tertatih. Rambutnya putih semua. Bajunya lusuh, penuh tambalan.

“Wartinah! Ndhuk!”

Perempuan itu jatuh tersungkur di samping jenazah. Tangannya meraba wajah dingin itu. Air matanya membasahi kain kafan.

“Wis, Bu... tenang... tenang...”

Kerabat yang mengantar berusaha menahan, tapi perempuan tua itu tak bisa ditenangkan.

Ratapannya memecah kesunyian hutan.

Sawitri masih duduk membatu.

Tangannya menggenggam tas kulit. Buku-buku jarinya memutih.

“Anakku... anakku... ninggalake ibu...”

Suara itu.

Parau. Bergetar. Penuh kepedihan.

Sawitri mendengar suara yang sama. Bertahun-tahun lalu.

---

“Bu, tenang... kita akan temukan pelakunya. Saya janji.”

Suara Tari menggema di ruang tunggu RS Polri yang dingin.

Seorang ibu paruh baya duduk di kursi plastik. Wajahnya sembap. Matanya bengkak. Tangannya memeluk baju terakhir anaknya, kaus oblong lusuh berlumur darah.

Sawitri berdiri di sudut ruangan. Sikut menyandar ke dinding. Jas putihnya masih kusut setelah 12 jam di ruang autopsi.

Ibu itu menangis. Bukan teriak. Bukan histeris. Tapi tangis yang dalam. Tangis yang merobek jiwa.

“Anakku... anakku... ninggalake ibu...”

Logat Jawanya kental. Sama persis dengan ibu Wartinah.

Sawitri mengepalkan tangan. Kukunya menusuk telapak.

Di atas meja logam tadi, ia baru saja selesai membedah mayat ketiga. Semua korban perempuan. Semua diperkosa. Semua dicekik. Semua dibakar.

Dan ibu ini, ia tak bisa memberikan kepastian.

“Kasus ini... rumit, Bu. Tapi kami akan, ”

“Janji kosong! Janji kosong kabeh!” Ibu itu meledak. Tangannya menunjuk Sawitri. “Anakku wis mati! Lan kowe mung iso omong kosong!”

Tari mencoba menenangkan. Tapi Sawitri diam.

Dia memang hanya bisa janji kosong. Sampai hari ini, kasus itu tidak pernah terungkap.

---

“Sawitri.”

Suara Cakrawirya memanggil dari jauh.

Sawitri tidak bergerak.

Matanya masih kosong menatap mayat Wartinah. Tapi yang ia lihat bukan Wartinah.

Ia melihat ruang tunggu RS. Ibu yang menangis. Dan Tari yang memegang bahu ibu itu dengan wajah lelah.

“Kita akan temukan pelakunya, Bu. Saya janji.”

Tari selalu bisa berkata seperti itu. Dengan tulus. Dengan keyakinan.

Sawitri tidak pernah bisa.

Dia hanya bisa berkata, “Ini luka tusuk. Ini racun. Ini waktu kematian.”

Fakta. Data. Angka.

Tapi janji? Harapan?

Itu bukan spesialisasinya.

“Sawitri.”

Cakrawirya kini di sampingnya. Tangannya menyentuh bahu Sawitri.

Sawitri menoleh.

Cakrawirya terkejut.

Mata Sawitri basah.

Bukan kabut. Bukan keringat.

Air mata.

Untuk pertama kalinya, Cakrawirya melihat Sawitri menangis.

Diam-diam. Tanpa suara. Tapi air mata itu mengalir di pipinya yang pucat.

“Kau...”

Sawitri cepat mengusap pipinya dengan punggung tangan.

“Debu.”

Suaranya datar. Tapi ada getaran halus yang tak bisa disembunyikan.

Cakrawirya tidak berkata apa-apa.

Ia duduk di samping Sawitri. Di atas akar pohon yang sama. Jarak mereka hanya satu kepal.

Diam.

Ibu Wartinah masih menangis di dekat jenazah. Ratapannya kini melemah, berganti isak tersedu.

Sawitri menatap ke depan. Tangannya masih menggenggam tas.

Monolog batinnya bekerja cepat. Sensasi terbakar di area prekordial. Produksi kelenjar lakrimal meningkat. Respon fisiologis terhadap stimulus emosional. Normal.

Tapi ini bukan waktunya. Tidak di sini. Tidak di depan orang.

“Dia anakku satu-satunya,” isak ibu tua itu. “Bapake wis mati setahun kepungkur. Saiki Wartinah... ninggalake aku dewe.”

Sawitri menutup mata.

Napasnya ditarik dalam. Satu. Dua. Tiga.

“Janji kosong! Janji kosong kabeh!”

Suara ibu itu masih menghantui.

Sawitri membuka mata.

Ia berdiri.

Melangkah mendekati ibu Wartinah.

Semua orang di sekitar jenazah menoleh. Beberapa mundur memberi jalan.

Sawitri berjongkok di depan perempuan tua itu.

“Nama ibu?”

Perempuan itu terisak. “Tumirah, Ndara.”

“Bu Tumirah, kulo Sawitri. Tabib yang memeriksa jenazah putri ibu.”

Mata Tumirah membelalak. Ia menatap Sawitri dengan campuran takut dan harap.

“Ndara... anakku... apa benar...”

“Dia dibunuh, Bu.”

Tumirah meremas kain sarungnya. Tangisnya pecah lagi.

Sawitri menunggu.

Setelah tangisnya reda, ia bicara lagi.

“Kulo akan menemukan pembunuhnya. Janji.”

Tumirah menatapnya. Matanya merah. Tapi ada secercah harapan.

“Leres, Ndara?”

“Nggih.”

Satu kata. Tegas. Tak tergoyahkan.

Tumirah meraih tangan Sawitri. Diciumnya punggung tangan itu.

Sawitri tidak menarik. Ia diam membiarkan.

Tapi di dalam dadanya, sesuatu bergemuruh.

Janji ini bukan hanya untuk Wartinah.

Untuk ibu yang di ruang tunggu RS itu juga.

Untuk semua korban yang tak pernah mendapat keadilan.

Untuk Tari, yang selalu bisa berjanji dengan tulus. Sementara Sawitri hanya bisa memberi fakta.

Tapi hari ini, aku belajar.

Belajar berjanji.

Cakrawirya mengamati dari belakang.

Ia melihat bagaimana tubuh Sawitri sedikit bergetar saat tangannya dicium. Hanya sedikit. Hampir tak terlihat.

Tapi ia melihatnya.

Setelah ibu Tumirah dibawa pergi kerabatnya, Sawitri kembali ke sisi Cakrawirya.

“Kau menangis tadi.”

Sawitri tidak menoleh. “Debu.”

“Di hutan? Subuh? Tidak ada debu.”

Sawitri diam.

Cakrawirya menatapnya lama. Lalu berkata pelan.

“Kau ingat seseorang. Bukan di sini. Di tempat lain.”

Sawitri menoleh. Matanya dingin, tapi ada sesuatu di balik dingin itu.

“Kau tidak tahu apa-apa.”

“Kulo tahu.” Cakrawirya tersenyum kecil. “Karena kau melihat ibu itu dan kau teringat janji yang pernah kau ingkari. Atau janji yang tak pernah bisa kau tepati.”

Sawitri menarik napas.

Untuk beberapa detik, ia ingin menjelaskan. Tentang Tari. Tentang ruang tunggu RS. Tentang ibu yang menangis dan kasus yang tak pernah terungkap.

Tapi ia tidak bisa.

“Ayo. Kita masih punya prajurit yang harus diinterogasi.”

Sawitri berbalik. Melangkah meninggalkan pohon jati.

Cakrawirya mengikuti.

Di belakang mereka, jenazah Wartinah mulai diangkat kerabatnya untuk dibawa pulang.

Sawitri berhenti. Menoleh sekali lagi.

Mayat itu melintas di depan matanya. Kain putih menutupi tubuh. Hanya ujung kaki yang terlihat.

Lalu ia melihatnya.

Sebuah gerakan kecil. Di sela-sela jari kaki Wartinah.

Sehelai rambut. Panjang. Hitam. Bukan rambut Wartinah, rambut korban sebahu, sedangkan ini panjang hingga pinggang.

Sawitri berlari kembali.

“Hentikan!”

Para pengusung jenazah terkejut. Mereka berhenti.

Sawitri berlutut. Membuka kain penutup kaki. Mengambil pinset dari tas.

Dengan hati-hati, ia menjepit helai rambut itu.

Mengangkatnya ke cahaya.

Rambut lurus hitam. Ujungnya bercabang. Ada akarnya, tercabut paksa, bukan rontok alami.

“Ini bukan rambut korban.”

Cakrawirya mendekat. “Pelaku?”

Sawitri mengamati rambut itu. Akarnya masih segar. Masih ada folikel menempel.

“Dia berkelahi dengan pelaku. Mencabut rambutnya.”

Ia memasukkan rambut itu ke dalam kain kasa, lalu ke tas.

“Sekarang kita punya bukti fisik. Bukan hanya benang merah.”

Cakrawirya mengangguk. “Komandan Sarkati. Kita cek rambutnya.”

Sawitri bangkit. Matanya kembali fokus.

Tapi Cakrawirya masih bisa melihat jejak basah di sudut matanya.

“Sawitri.”

Ia menoleh.

“Siapa yang kau ingat tadi? Waktu kau menangis?”

Sawitri diam sejenak.

Lalu untuk pertama kalinya, ia menjawab pertanyaan pribadi Cakrawirya.

“Seorang ibu. Di tempat lain. Yang pernah kudengar tangisnya. Bertahun-tahun lalu.”

“Dan janji yang belum kau tepati?”

Sawitri tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.

Cakrawirya tersenyum. “Kau bisa menepati janji ini. Untuk ibu ini.”

Sawitri menatapnya.

“Kita akan menepatinya bersama.”

Sawitri tidak menjawab.

Ia melangkah pergi.

Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang hangat merambat.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sendiri menghadapi janji yang berat.

Tari dulu selalu ada di sampingnya.

Dan sekarang...

“Cakrawirya.”

Pemuda itu menoleh.

“Kulo mboten bilang terima kasih. Tapi...”

Sawitri berhenti sejenak.

“Kulo senang kau di sini.”

Lalu ia terus berjalan. Meninggalkan Cakrawirya yang mematung.

Pemuda itu tersenyum lebar.

Angin subuh membawa bisikannya.

“Kulo juga senang, Sawitri. Kulo juga senang.”

1
Astuti Puspitasari
Apakah salah nulis..yg di maksud istri sultan yg mau ngasih racun di wedang jahe itu Nyai Selir Wetan, ibuknya Jatmiko?
Astuti Puspitasari
Sukmawati itu istrinya Tumenggung Danurejo ibuknya Ratih kan? atau istri Sultan ya? kok aku jadi bingung kak 😄
INeeTha
iya Ka, itu Miss, harusnya jalur distribusi ke kraton dari Danurejan yang diserahkan, makasih. sudah diperbaiki, masih di review. 🙏🙏🙏
Astuti Puspitasari
Sukmawati yang memegang paviluan medis keraton selama ini? kok dia yang menyerahkan? bukankah selama ini dia hanya istri tumenggung?
Darti abdullah
luar biasa
Astuti Puspitasari
selalu sambil tahan nafas ketika baca setiap babnya 😄 seruuu sekali
sahabat pena
yah sesuai dengan analisis mu pangeran.. pangeran angka Wijaya lah.. yg sdh bikin hati tabib ini merasakan nano2 🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
pertahanan nya sdh dibobol.. salah sendiri sultan dikit-dikit masukin ke sel ga langsung dihukum ditempat. sdh tau byk penghianat.. hayukk semangat berangkat penghianat.
gina altira
👍👍👍
gina altira
Sawitri ini tenang banget, yg lain lg ketar ketir
fredai
miris banget nasip kau🤣🤣🤣
sahabat pena
yaelah di kasih senyum joker pangeran perang aja sawitri jantung nya dag dug ser🤣🤣🤣🤣apalagi klo pangeran menyatakan cinta. wkwkwk 🤣🤣🤣 sawitri kesemsem sama pangeran 🤣🤣😱
sahabat pena: iya ya betul kak🤣🤣🤣
total 2 replies
gina altira
Sukmawati blicin bener otaknya itu licik luar biasa.
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sedih banget pastinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "nyalinya tinggi juga ya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "haha, galak bener sih"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/NosePick/ "lebih bagus yang sekarang atau sebelumnya?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Toasted/ "belum lega nih pastinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Speechless/ "sakit banget tuh pasti, apalagi dipukul bagian belakang kepala"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sly/ "hayooo, coba pikir pakai logika"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!