NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Obrolan Tengah Malam

Lentera yang Menggigil

Lantai marmer paviliun terasa seperti lempengan es yang menembus sol sepatu satin Elara saat ia melangkah masuk. Keheningan di dalam ruangan itu terasa mencekik, hanya dipecahkan oleh suara napas Rina yang memburu di belakangnya. Di luar jendela, langit telah kehilangan warna merah darahnya, berganti menjadi hitam pekat yang dingin, seolah-olah dunia sedang mempersiapkan diri untuk menyimpan rahasia paling gelap malam ini. Elara berhenti di depan cermin besar berbingkai perak, menatap bayangannya sendiri yang tampak asing.

"Nyonya, biarkan saya membantu Anda melepas jubah ini," bisik Rina, tangannya gemetar saat menyentuh pundak Elara.

"Tidak perlu, Rina. Ambilkan aku sarung tangan sutra hitam yang baru. Dan minyak mawar Asteria yang paling pekat," perintah Elara. Suaranya datar, tanpa emosi, namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah.

Rina bergegas melakukan perintah itu. Elara perlahan melepas sarung tangan lamanya. Ujung-ujung jemarinya kini tidak lagi hanya sekadar menghitam; pola abu-abu pekat itu mulai menjalar ke arah punggung tangan, berdenyut pelan seiring dengan aliran energi Void yang tidak stabil di dalam tubuhnya. Rasa nyeri itu konstan, sebuah pengingat bahwa kekuatannya adalah racun yang perlahan memakan wadahnya sendiri. Ia mengoleskan minyak mawar dalam jumlah banyak ke pergelangan tangannya. Bau wangi yang sangat kuat itu menusuk hidung, namun ia membutuhkannya untuk menutupi bau belerang yang samar—bau khas dari energi hampa yang selalu mengikutinya setelah konfrontasi dengan sihir logam.

"Apakah Anda benar-benar harus pergi ke sana malam ini?" Rina bertanya sambil menyerahkan sarung tangan baru. "Kaisar sedang dalam suasana hati yang buruk sejak sidang tadi siang. Penjaga bilang dia terus menghancurkan barang di kamarnya."

"Itu sebabnya aku harus pergi, Rina. Pria yang ketakutan adalah pria yang paling mudah dijinakkan, atau paling mudah dihancurkan," Elara mengenakan sarung tangan sutra itu dengan hati-hati, memastikan setiap inci kulitnya yang menghitam tertutup sempurna. "Pastikan semua pintu terkunci. Jika ada pesan lagi dari perbatasan, simpan di tempat biasa. Jangan biarkan siapa pun masuk."

Elara melangkah keluar menuju sayap utama istana. Setiap langkah yang ia ambil adalah perjuangan melawan saraf kakinya yang mulai lemas. Begitu ia tiba di depan pintu besar kamar pribadi kaisar, dua penjaga elit segera membungkuk dalam, membukakan pintu tanpa suara. Elara menarik napas panjang, mengunci seluruh emosinya di balik peti besi dalam jiwanya, lalu melangkah masuk.

Ruangan itu sangat luas, namun terasa sempit karena banyaknya bayangan yang menari di dinding. Hanya ada tiga lilin besar yang menyala di sudut ruangan, memberikan cahaya remang-remang yang kekuningan. Elara membeku di ambang pintu. Pupil matanya melebar, dan dadanya mendadak terasa dihantam godam berat. Api lilin itu bergetar ditiup angin, dan bagi Elara, api itu seolah membesar, berubah menjadi lidah-lidah raksasa yang menjilat langit-langit istananya yang lama. Aroma hangus yang imajiner mulai memenuhi tenggorokannya.

Bernapaslah, Aurelia. Itu hanya lilin. Itu bukan api yang membunuhmu, batinnya memerintah dengan keras.

Ia menggigit bibir bawahnya begitu kuat hingga rasa besi dari darah mulai terasa di lidahnya. Rasa sakit fisik itu membantunya menarik kembali kesadarannya dari jurang trauma. Di ujung ruangan, di atas kursi tinggi yang menghadap ke jendela besar, Valerius duduk dengan secangkir anggur di tangannya. Jubah kaisarnya tersampir sembarangan di lantai, dan rambut hitamnya tampak berantakan.

"Kau terlambat, Elara," suara Valerius terdengar parau, menggema di ruangan yang sunyi itu.

"Saya harus memastikan tidak ada mata yang mengikuti saya, Yang Mulia," Elara berjalan mendekat, langkahnya dibuat seringan mungkin agar tidak menunjukkan kelemahan fisiknya. "Hening malam adalah waktu yang berbahaya di istana ini."

Valerius berbalik. Matanya merah, bukan hanya karena anggur, tapi karena kurang tidur yang kronis. Saat tatapannya jatuh pada Elara, ekspresinya berubah. Ada kilatan obsesi yang mengerikan, bercampur dengan kerinduan yang sangat dalam. Ia berdiri, melangkah mendekat hingga aroma lavender yang tajam dari pakaiannya menyerbu indra penciuman Elara.

"Bau ini... kau memakai parfum mawar Asteria lagi," Valerius menyentuh dagu Elara dengan jarinya yang dingin. "Mengapa setiap kali kau mendekat, kau membawa aroma masa lalu yang ingin kukubur, tapi sekaligus ingin kupeluk erat?"

"Mungkin karena masa lalu tidak pernah benar-benar mati, Yang Mulia. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk menagih apa yang menjadi miliknya," Elara menjawab pelan, menatap langsung ke dalam mata gelap sang kaisar.

Gema di Balik Keheningan

Valerius melepaskan dagu Elara dan berjalan limbung kembali ke kursinya. Ia menuangkan anggur lagi, tangannya sedikit gemetar. "Elena bilang kau adalah iblis yang dikirim dari neraka untuk merusak pikiranku. Dia bilang sihirmu adalah kutukan."

Elara tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung racun manis. "Selir Elena menyebut setiap hal yang tidak bisa ia kendalikan sebagai kutukan. Dia takut, Yang Mulia. Dia takut karena dia tahu bahwa sihir hitam yang ia banggakan tidak bisa lagi menenangkan badai di kepala Anda. Hanya saya yang bisa melakukannya, bukan?"

"Kau sombong sekali," Valerius tertawa pahit, lalu meneguk anggurnya. "Tapi kau benar. Sejak kau datang, suara-suara di kepalaku... suara teriakan wanita di tengah api itu... terkadang mereda saat kau ada di dekatku. Mengapa?"

Elara melangkah lebih dekat, hingga ia berdiri di belakang kursi Valerius. Dengan keberanian yang dipaksakan, ia meletakkan tangannya yang terbungkus sarung tangan di bahu kaisar. Melalui kain sutra itu, ia bisa merasakan betapa tegangnya otot-otot pria itu. Resonansi Void di dalam tubuhnya mulai bekerja, menganalisis aura Valerius yang retak dan penuh dengan lubang kegelapan.

"Karena saya memahami rasa sakit itu, Yang Mulia. Saya memahami bagaimana rasanya dikhianati oleh ingatan sendiri," Elara berbisik di dekat telinga Valerius. "Anda tidak butuh obat-obatan Elena. Anda butuh seseorang yang tidak takut pada kegelapan di dalam diri Anda. Seseorang yang tetap berdiri di samping Anda saat dunia menganggap Anda gila."

Valerius memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada perut Elara. Elara merasakan gelombang jijik yang luar biasa membual di perutnya, namun ia memaksa jemarinya untuk bergerak lembut di dahi sang kaisar, seolah sedang memijat titik-titik stresnya. Di dalam batinnya, Elara membayangkan jemari ini adalah kawat berduri yang sedang melilit leher Valerius, perlahan menariknya hingga napas pria itu terhenti.

"Katakan padaku, Elara... apakah kau mengenalnya? Aurelia?" Valerius bertanya secara tiba-tiba, suaranya hampir menyerupai bisikan anak kecil yang ketakutan.

Jantung Elara berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan keras. "Saya hanyalah putri dari Asteria yang kalah, Yang Mulia. Nama Permaisuri Aurelia adalah legenda yang terlalu besar untuk saya sentuh."

"Jangan berbohong padaku!" Valerius mendadak berdiri dan mencengkeram kedua bahu Elara, memaksanya mundur hingga punggungnya membentur tiang tempat tidur yang dingin. "Tatapanmu, cara kau menentangku, bahkan cara kau diam... itu persis dengannya. Katakan! Apakah kau reinkarnasinya? Apakah kau datang untuk menuntut balas atas apa yang kulakukan padanya?"

Elara merasakan nyeri yang hebat di bahunya, namun ia tidak meringis. Ia menggunakan kecerdasan taktisnya untuk mencari jalan keluar ketiga. Jika ia mengaku, ia akan dibunuh sebagai ancaman. Jika ia mengelak secara pengecut, ia akan kehilangan pengaruhnya.

"Jika saya adalah dia, apakah saya akan berada di sini untuk menenangkan tidur Anda?" Elara bertanya dengan nada tenang yang mematikan. "Jika saya adalah permaisuri yang Anda khianati, saya tidak akan membuang waktu dengan kata-kata. Saya akan membiarkan api lilin ini membakar seluruh istana ini sementara Anda tertidur. Anda melihatnya dalam diri saya karena Anda merindukannya, Yang Mulia. Anda merindukan satu-satunya orang yang mencintai Anda dengan tulus sebelum Anda menjadi monster yang penuh dengan kecurigaan."

Cengkeraman Valerius melonggar. Matanya yang tadinya penuh amarah kini berganti dengan keputusasaan yang hancur. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah-olah masih ada sisa abu di sana yang tidak bisa dibersihkan.

"Aku mencintainya... tapi dia mengkhianatiku. Begitu kata Elena. Begitu kata bukti-bukti yang kutemukan," gumam Valerius lirih.

"Bukti bisa dipalsukan, Yang Mulia. Tapi perasaan di dalam sini," Elara menyentuh dada kiri Valerius dengan ujung jarinya, "tidak bisa dibohongi. Anda tahu dia tidak bersalah. Dan pengetahuan itu sedang memakan jiwa Anda hidup-hidup."

Valerius menatap Elara lama sekali, seolah-olah ia sedang mencoba menembus daging dan tulang untuk melihat jiwa yang ada di dalamnya. Kesunyian di antara mereka menjadi sangat berat, sarat dengan hal-hal yang tidak terucapkan. Elara tahu ia sedang berjalan di atas tali tipis di atas jurang. Satu kata salah, dan ia akan hancur. Namun, ia juga tahu bahwa saat ini, ia telah memenangkan pertempuran mental malam ini.

"Duduklah di sini, di sampingku," perintah Valerius, suaranya kini melunak, namun tetap tidak bisa dibantah. Ia menepuk sisi tempat tidur yang luas itu.

Elara ragu sejenak. Dilema martabatnya menjerit. Duduk di tempat tidur pria ini terasa seperti penghinaan terakhir bagi harga dirinya sebagai Aurelia. Namun, ia teringat wajah Kaelen yang kecewa, ia teringat rakyat Asteria yang kelaparan, dan ia teringat dendamnya yang belum tuntas. Ia duduk dengan kaku, menjaga jarak yang aman.

"Ceritakan padaku tentang matahari di Asteria," bisik Valerius sambil merebahkan dirinya, kepalanya tepat di samping paha Elara. "Elena bilang matahari di sana dingin, tapi aku ingat dia pernah bilang padaku bahwa matahari di sana terasa seperti pelukan seorang ibu."

Elara menelan ludah. Ia memejamkan mata, memanggil kembali memori masa kecilnya yang paling indah, saat ia masih menjadi putri kecil yang berlari di ladang lavender sebelum beban mahkota jatuh di pundaknya.

"Matahari di Asteria tidak pernah benar-benar membakar, Yang Mulia," Elara mulai bercerita, suaranya mengalun rendah dan melodis, mengisi sudut-sudut kamar yang gelap. "Ia berwarna kuning keemasan yang lembut, seperti madu yang tumpah di atas perbukitan. Saat sinarnya menyentuh kulit Anda, rasanya bukan panas, melainkan rasa hangat yang menjalar perlahan ke dalam tulang, seolah memberitahu Anda bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan di dunia ini. Angin yang membawa aroma garam dari laut selatan akan mendinginkan udara, menciptakan keseimbangan yang sempurna."

Valerius mendengarkan dengan mata terpejam, napasnya mulai teratur. Elara terus bercerita, mendeskripsikan setiap detail tanah airnya yang kini telah hancur. Ia bercerita tentang pohon-pohon perak yang daunnya gemerincing ditiup angin, tentang sungai-sungai jernih di mana batu-batunya berkilau seperti permata. Tanpa ia sadari, air mata dingin mengalir di pipinya sendiri. Ia merindukan rumah itu. Ia merindukan saat-saat ketika ia belum menjadi seorang pembunuh yang penuh dengan kepalsuan.

"Suaramu... sangat mirip dengannya saat dia membacakanku puisi sebelum tidur," Valerius bergumam pelan, hampir tidak terdengar.

Elara berhenti sejenak, menatap wajah kaisar yang kini tampak damai dalam tidurnya. Ia meraba pergelangan tangan Valerius, merasakan denyut nadinya yang stabil. Untuk sesaat, ruangan itu terasa seperti dunia yang berbeda, jauh dari intrik racun dan pengkhianatan militer. Namun, saat Elara melihat tangannya sendiri yang terbungkus sutra, ia teringat bahwa kedamaian ini adalah ilusi yang ia bangun dari kebohongan.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit, dan sesosok bayangan pelayan mengintip dengan cemas. Itu adalah salah satu mata-mata Elena. Elara segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin dan waspada. Ia menatap pelayan itu dengan tatapan mengintimidasi, memberi isyarat agar dia pergi. Pelayan itu segera menghilang ke dalam kegelapan koridor.

Elara tahu, besok pagi Elena akan menerima laporan bahwa kaisar tidur dengan kepala di pangkuan tawanan Asteria. Dan itu akan memicu badai yang jauh lebih besar.

"Tidurlah, Valerius," bisik Elara, tangannya tetap memijat dahi pria itu dengan lembut. "Tidurlah, karena saat kau bangun nanti, aku akan memastikan duniamu sedikit demi sedikit mulai runtuh di bawah kakimu."

Malam semakin larut, dan lilin di sudut ruangan mulai habis, menyisakan bau asap yang tipis dan menyesakkan. Elara tetap duduk di sana, membiarkan kakinya mati rasa, membiarkan jiwanya tenggelam dalam kebencian yang ia pelihara seperti api abadi.

Topeng yang Retak

Detak jantung Valerius yang stabil di bawah jemari Elara terasa seperti ejekan yang sunyi. Setiap denyutnya adalah bukti kehidupan dari pria yang seharusnya sudah mati ribuan kali jika keadilan benar-benar ada di dunia ini. Elara menatap langit-langit kamar yang dihiasi lukisan kemenangan kekaisaran, di mana para ksatria menginjak-injak bendera Asteria yang robek. Matanya terasa panas, bukan hanya karena kelelahan, tetapi karena beban dari memori yang terus-menerus mencoba mendobrak pintu kesadarannya.

Keheningan malam ini mulai terasa mencekam. Elara merasakan energi Void di dalam tubuhnya merespons kegelapan di ruangan itu, berdenyut dengan frekuensi yang menyakitkan. Ia bisa merasakan sirkuit energinya bergesekkan dengan aura Valerius yang mulai tenang. Ini adalah bagian dari kutukan kekuatannya; ia tidak hanya menyerap energi, tetapi juga mulai menyerap sisa-sisa emosi dari orang-orang di sekitarnya. Dan saat ini, ia bisa merasakan rasa bersalah Valerius yang amat sangat, sebuah perasaan yang terasa seperti cairan hitam yang kental dan busuk.

"Yang Mulia?" Elara berbisik, mencoba memastikan apakah kaisar itu benar-benar telah terlelap atau hanya sedang mengujinya.

Tidak ada jawaban. Hanya tarikan napas panjang dan berat. Valerius, sang kaisar yang ditakuti seluruh benua, kini tampak begitu rapuh di pangkuan tawanan perangnya sendiri. Elara menurunkan pandangannya pada sarung tangan sutranya. Ia tahu, di balik kain hitam itu, tanda-tanda kematian sedang merayap. Luka bakar di punggung Elara—bekas penyiksaan di penjara bawah tanah—mulai berdenyut sinkron dengan pusat sihir Void di dadanya.

"Kau tidur dengan begitu tenang, seolah tanganmu tidak pernah berlumuran darah," bisik Elara dengan nada yang hanya bisa didengar oleh hantu-hantu di ruangan itu.

Tiba-tiba, tubuh Valerius tersentak kecil. Ia meracau dalam tidurnya, sebuah gumaman tidak jelas yang menyebut-nyebut nama yang paling dibenci sekaligus dirindukan Elara. "Aurelia... jangan... api itu... Elena bilang kau..."

Elara membeku. Tangannya yang semula memijat dahi Valerius kini berhenti tepat di atas pelipis pria itu. Jika ia menekan jarinya sedikit saja ke arah titik saraf yang tepat dan melepaskan satu lonjakan energi Void, ia bisa menghancurkan otak Valerius dalam hitungan detik. Kematian kaisar akan terlihat seperti pecah pembuluh darah akibat kelelahan. Godaan itu begitu kuat hingga ia merasakan air liurnya mengering.

Lakukan sekarang, bisikan gelap di dalam benaknya bergema. Balaskan dendammu, balaskan Asteria yang hangus, balaskan permaisuri yang dikhianati.

Namun, akal sehatnya yang dingin segera menariknya kembali. Ia teringat akan peringatan yang ia berikan pada Kaelen beberapa jam lalu di bawah pohon ginkgo. Membunuh Valerius sekarang tanpa menghancurkan fondasi kekuasaan Elena dan sekte di baliknya hanya akan membuat segel Void di bawah istana ini pecah. Ia tidak ingin menjadi ratu dari sebuah dunia yang hancur. Ia ingin menjadi penguasa dari sebuah kekaisaran yang bertekuk lutut di bawah kakinya.

Elara menarik tangannya perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan sirkuit energinya yang liar. "Belum waktunya. Kau harus melihat semua yang kau cintai runtuh terlebih dahulu, seperti aku melihat kotaku terbakar."

Siasat di Balik Kelambu

Waktu seolah berhenti berputar. Elara tetap pada posisinya hingga kaki kirinya benar-benar mati rasa dan punggungnya terasa kaku. Ia tidak berani bergerak, takut akan membangunkan monster yang sedang bermimpi ini. Hingga akhirnya, cahaya biru pucat mulai merambat masuk melalui celah gorden, menandakan fajar akan segera tiba. Inilah saatnya ia harus pergi sebelum para pelayan istana mulai beraktivitas secara penuh.

Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Elara mengangkat kepala Valerius dan meletakkannya kembali ke atas bantal beludru. Ia berdiri perlahan, menahan rasa sakit yang menusuk di lututnya saat ia meluruskan kakinya. Ia merapikan jubahnya dan memastikan sarung tangannya masih menutupi jejak Void dengan sempurna.

Saat ia berbalik untuk pergi, matanya menangkap sebuah laci kecil yang sedikit terbuka di meja samping tempat tidur. Di dalamnya, ia melihat secercah warna yang sangat ia kenali—sebuah lencana kecil dengan simbol bunga lili perak, lambang keluarga kerajaan Asteria. Itu adalah lencana milik Aurelia yang seharusnya sudah musnah dalam api.

Elara merasakan kemarahan yang dingin menjalar di tenggorokannya. Dia menyimpannya? Dia menyimpan kenang-kenangan dari wanita yang ia bakar?

Tanpa berpikir panjang, Elara mendekati laci itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh lencana tersebut, sebuah suara dingin memecah keheningan fajar.

"Jangan sentuh itu jika kau masih ingin memiliki tanganmu."

Valerius tidak membuka matanya, namun suaranya terdengar sangat terjaga. Elara segera menarik tangannya kembali dan membungkuk dalam, menyembunyikan keterkejutannya di balik ketenangan palsu.

"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya hanya ingin memastikan lilin di meja Anda benar-benar sudah padam agar tidak membahayakan tidur Anda," Elara menjawab dengan suara yang sangat stabil, meskipun jantungnya berdegup kencang.

Valerius membuka matanya perlahan, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. "Lilin itu tidak akan membahayakanku. Yang membahayakanku adalah apa yang tidak bisa kulihat, Elara. Kembalilah ke paviliunmu. Dan ingatlah satu hal... kau adalah penasihatku karena aku mengizinkannya. Jangan pernah berpikir kau bisa mengambil apa yang bukan milikmu."

"Saya sangat memahami posisi saya, Yang Mulia," Elara menjawab, nadanya mengandung subteks kepatuhan yang pahit.

"Pergilah. Katakan pada Rina untuk menyiapkan air mandiku dua jam lagi. Dan jangan biarkan Elena tahu kau berada di sini sampai matahari benar-benar naik," Valerius berbalik, membelakangi Elara seolah-olah percakapan mereka semalam tidak pernah terjadi.

Elara berjalan keluar dari kamar itu dengan langkah yang tetap tenang, meskipun di dalam hatinya badai sedang berkecamuk. Begitu pintu besar itu tertutup di belakangnya, ia bersandar sejenak pada dinding koridor yang dingin. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia telah berhasil melewati malam ini, namun ia tahu bahwa mulai detik ini, kewaspadaan Elena akan meningkat sepuluh kali lipat.

Di ujung koridor, ia melihat bayangan pelayan yang sama seperti semalam, sedang berbisik dengan seorang penjaga di balik pilar. Elara tidak menghindar. Sebaliknya, ia berjalan melewati mereka dengan kepala tegak dan tatapan yang sangat tajam, sebuah tatapan seorang permaisuri yang sedang menandai wilayahnya.

"Sampaikan pada nyonyamu," Elara berhenti sejenak di depan pelayan itu tanpa menoleh, "bahwa kaisar sedang tidur dengan sangat nyenyak setelah saya menenangkan jiwanya. Mungkin dia harus belajar bagaimana cara melayani, bukan hanya cara meracuni."

Pelayan itu tampak pucat pasi dan segera membungkuk ketakutan saat Elara melangkah pergi menuju paviliunnya. Matahari mulai muncul di ufuk timur, membawa cahaya keemasan yang pucat ke koridor istana. Elara menatap cahaya itu dengan mata menyipit.

Hari ini adalah awal dari sabotase yang sesungguhnya, pikirnya saat ia melihat hamparan taman istana yang akan segera menjadi medan tempur politik berikutnya. Ia tahu bahwa Elena tidak akan tinggal diam setelah laporan ini sampai ke telinganya. Dan itulah yang diinginkan Elara. Ia butuh Elena melakukan kesalahan impulsif agar ia bisa menggunakan strategi selanjutnya untuk menghancurkan faksi militer lama yang mendukung sang selir utama.

Sesampainya di paviliun, Rina sudah menunggu dengan wajah cemas yang luar biasa. "Nyonya! Anda kembali! Saya pikir..."

"Jangan banyak bicara, Rina. Siapkan penawar yang kita buat kemarin. Aku merasa energi Void di tanganku mulai tidak terkendali," Elara masuk ke kamarnya dan segera melepas jubahnya yang berat.

"Apakah terjadi sesuatu yang buruk dengan kaisar?" Rina bertanya sambil bergegas mengambil botol kaca berisi cairan bening.

"Tidak. Semuanya berjalan sesuai rencana," Elara duduk di depan meja riasnya, menatap bayangannya sendiri. "Valerius sudah terperangkap dalam jaringnya sendiri. Sekarang, kita hanya perlu menunggu Elena untuk menarik tali yang salah."

Elara meminum penawar itu dalam satu tegukan. Rasa pahit yang menyengat menyebar di lidahnya, diikuti oleh sensasi dingin yang mulai meredakan denyut menyakitkan di jemarinya. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan fajar membungkusnya sejenak sebelum badai besar berikutnya melanda istana.

Matahari Asteria yang ia ceritakan pada Valerius semalam mungkin hanyalah memori, namun api dendam yang ia bawa pagi ini adalah kenyataan yang akan membakar habis siapa pun yang menghalangi jalannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!