Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PERMAINAN BAYANGAN DI KOTA KACA
Ibu Kota tidak pernah terasa seberbahaya ini. Saat kereta api fajar yang mereka tumpangi secara sembunyi-sembunyi memasuki stasiun, Kai merasakan setiap kamera pengawas di langit-langit seolah-olah sedang memindai retina matanya. Konsorsium itu bukan lagi musuh bayangan; mereka adalah entitas yang memiliki akses ke setiap sudut kota.
"Kita tidak bisa langsung ke gedung Lumina," bisik Kai sambil menarik syal untuk menutupi sebagian wajahnya. "Mereka pasti sudah memasang orang di setiap pintu masuk."
Elara mengangguk kecil. Ia memegang tas punggungnya yang berisi tabung 'Spektrum Biru' seolah-olah itu adalah jantungnya sendiri. "Lalu kita ke mana? Jika hotel dan apartemenmu tidak aman, kita terpojok."
"Ada satu tempat yang mereka lupakan," Kai tersenyum tipis. "Sebuah tempat yang tidak memiliki nilai komersial bagi mereka."
Tempat itu adalah sekolah seni tua di pinggiran distrik industri. Di sanalah Kai menghabiskan masa mudanya sebelum dunianya menjadi abu-abu. Ruang bawah tanah sekolah itu dulunya adalah laboratorium eksperimen cahaya milik mendiang ayahnya saat masih menjadi dosen tamu. Tempat yang berdebu, terlupakan, namun memiliki koneksi serat optik kuno yang langsung terhubung ke sistem utama kota.
Mereka menyelinap masuk melalui jendela ventilasi yang rusak. Di dalam, aroma cat minyak kering dan debu menyambut mereka.
"Sarah, kau mendengarku?" Kai menyalakan laptop tua di atas meja kerja yang penuh dengan noda cat.
Wajah Sarah muncul di layar, tampak sangat tegang. "Kai! Syukurlah kau masih hidup. Konsorsium itu... mereka sudah membekukan aset pribadimu dengan alasan penyelidikan internal. Mereka mencoba mengambil alih Lumina Corp melalui kudeta dewan direksi lusa nanti."
"Aku tahu," jawab Kai tenang. "Itulah sebabnya kita akan memajukan jadwalnya. Kita tidak akan menunggu lusa. Kita akan melakukan pameran 'Spektrum Hidup' malam ini."
"Malam ini?! Kau gila? Kita belum menyiapkan apa-apa!"
"Persiapannya ada di tanganku, Sarah," Kai mengangkat tabung biru itu ke arah kamera. "Aku butuh kau meretas papan iklan digital di seluruh pusat kota. Jangan hanya satu, tapi semuanya. Alirkan sinyal dari ruangan ini langsung ke frekuensi publik pada pukul sembilan malam."
Elara melangkah maju. "Dan pastikan saluran audionya terbuka di seluruh sistem transportasi publik. Suara adalah kuncinya."
Selama sisa hari itu, ruangan bawah tanah yang redup itu berubah menjadi pusat kreasi yang gila. Kai menyambungkan tabung pigmen itu ke sebuah perangkat dispersi cahaya yang ia rakit dari proyektor bekas. Cahaya biru itu mulai bereaksi dengan sinyal audio dari mikrofon Elara.
Namun, di tengah kesibukan itu, Kai menyadari sesuatu. Matanya menangkap sebuah pergerakan di layar monitor keamanan yang ia pasang di pintu masuk sekolah. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung.
"Mereka menemukan kita," bisik Kai.
"Bagaimana mungkin?" Elara memucat.
"Sinyal pelacak di tabung itu... Ayahku mungkin tidak memasangnya, tapi Yudha pasti sempat menanamnya sebelum dia dipenjara. Mereka membiarkan kita membawanya ke sini agar kita yang menemukan kuncinya untuk mereka."
Kai menatap pintu baja yang mulai bergetar karena hantaman dari luar. Ia menoleh ke arah Elara, lalu ke arah perangkat yang sudah siap.
"Elara, kita tidak punya banyak waktu. Kau harus mulai sekarang. Jangan berhenti apa pun yang terjadi."
"Tapi Kai, mereka akan mendobrak masuk!"
"Aku akan menahan mereka di koridor. Kau adalah suaranya, Elara. Jika dunia tidak melihat warna ini malam ini, maka semua yang kita lakukan akan sia-sia."
Kai mengambil sebatang besi tua dan berdiri di depan pintu, sementara Elara duduk di depan mikrofon, matanya terpejam.
*Brak!*
Pintu depan sekolah jebol. Suara langkah kaki sepatu bot militer bergema di lorong. Kai bisa merasakan getaran di lantai. Di belakangnya, Elara mulai bersenandung.
Awalnya, senandung itu hanya getaran kecil, namun saat pigmen biru itu mulai beraksi, cahaya di ruangan itu meledak. Biru itu bukan lagi sekadar warna di dalam tabung; ia mulai memancar keluar, menembus dinding, menembus kaca, dan melalui koneksi Sarah, ia mulai merayap ke seluruh penjuru ibu kota.
Di jalanan kota yang sibuk, ribuan orang mendadak berhenti. Papan iklan raksasa yang biasanya menampilkan iklan barang mewah, tiba-tiba berubah menjadi lautan biru yang sangat dalam dan menenangkan. Di dalam bus dan kereta bawah tanah, suara senandung Elara terdengar melalui pengeras suara, membawa frekuensi yang seolah-olah membersihkan pikiran dari segala kebisingan.
"Apa ini?!" teriak salah satu pengejar yang baru saja sampai di depan pintu ruang bawah tanah.
Ia hendak menembak, namun gerakannya terhenti. Cahaya biru yang memancar dari balik celah pintu begitu intens, begitu indah, hingga ia menurunkan senjatanya tanpa sadar. Air mata mulai mengalir di wajah pria yang biasanya dingin itu. Ia melihat warna untuk pertama kalinya—bukan dengan mata, tapi dengan jiwanya.
Kai, yang sudah bersiap untuk bertarung, tertegun melihat para pengejarnya justru berlutut di lorong, terpesona oleh radiasi kedamaian yang dipancarkan oleh Spektrum Biru.
"Inilah senjatanya, Elara," bisik Kai, menjatuhkan besinya. "Bukan kekuatan, tapi keindahan."
Malam itu, ibu kota yang biasanya penuh dengan konflik dan keabu-abuan, berubah menjadi kanvas biru yang bercahaya. Dan di tengah ruangan bawah tanah yang tua itu, Kai dan Elara menyadari bahwa mereka tidak hanya memenangkan pertarungan melawan konsorsium, mereka telah memulai revolusi kesadaran manusia.
Namun, saat cahaya itu mencapai puncaknya, tabung 'Spektrum Biru' mulai retak. Energi yang dihasilkan terlalu besar untuk wadah kacanya.
"Kai! Wadahnya akan pecah!" teriak Elara.
Kai berlari ke arah perangkat itu. Ia tahu jika pigmen itu menguap sepenuhnya tanpa kendali, efeknya bisa berbahaya bagi Elara. Ia harus membuat keputusan sulit: mematikan transmisi atau membiarkan dirinya terpapar radiasi warna murni itu untuk menyegelnya kembali.