Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Dekapan Sang Naga
Malam di pegunungan selalu membawa kesunyian yang mencekam, hanya menyisakan suara derik jangkrik dan desau angin yang menabrak kaca jendela penthouse. Rebecca Sinclair duduk di tepi ranjangnya, menatap nanar ke arah cermin. Tubuhnya terasa remuk. Seragam taktis yang tadi siang membuatnya tampak gagah kini telah berganti dengan kaus longgar yang memperlihatkan beberapa lecet kemerahan di lengan dan lehernya—bekas pergulatan sengit dengan Erica tadi siang.
Baru saja ia hendak mengambil salep dari kotak obat, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.
Maximilian berdiri di sana. Kemeja hitamnya kini tidak lagi terkancing sempurna di bagian atas, dasinya sudah menghilang, dan rambutnya sedikit berantakan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah botol bourbon yang tinggal separuh. Aroma alkohol dan tembakau mahal langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Rebecca.
"Om? Anda ... Anda mabuk?" tanya Rebecca cemas, ia sedikit bergeser saat Maximilian masuk dan menutup pintu dengan punggungnya.
Maximilian tidak menjawab. Matanya yang biasanya tajam dan waspada kini terlihat sedikit sayu, namun tetap memiliki intensitas yang mampu mengunci pergerakan Rebecca. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit tidak stabil, lalu duduk di kursi kayu tepat di hadapan Rebecca.
"Kemari," perintahnya rendah. Suaranya sedikit serak, tanda alkohol mulai menguasai sarafnya.
Rebecca menurut dengan ragu. Ia mendekat, dan tanpa peringatan, Maximilian menarik lengan Rebecca, memeriksa lecet kemerahan di sana. Max mengeluarkan sebuah botol kecil antiseptik yang entah sejak kapan sudah ada di saku celananya.
"Aku bisa melakukannya sendiri, Om," bisik Rebecca.
"Diam," gumam Max. Tangan besarnya yang biasanya digunakan untuk menghancurkan musuh, kini bergerak dengan sangat teliti. Ia membasahi kapas dan mulai menyeka luka lecet di lengan Rebecca.
Rebecca meringis pelan saat cairan itu menyentuh kulitnya. Maximilian mendongak, menatap mata Rebecca sejenak sebelum meniup luka itu dengan lembut—sebuah tindakan yang sangat manusiawi, sangat jauh dari citra "Om Mafia" yang kejam. Dalam kondisi setengah mabuk ini, tembok pertahanan Maximilian seolah sedikit retak, memperlihatkan sisi rapuh yang ia sembunyikan rapat-rapat.
"Om ..." Rebecca memberanikan diri berbicara. "Terlalu banyak merokok dan minum alkohol itu tidak baik untuk kesehatan Om. Jika Om terus seperti ini, siapa yang akan memimpin markas ini?"
Maximilian berhenti bergerak. Ia menatap botol wiski di sampingnya, lalu kembali menatap Rebecca. Ia tampak sedang mencerna perkataan itu, seolah-olah saran tentang "kesehatan" adalah bahasa asing yang baru pertama kali ia dengar. Biasanya, orang hanya peduli apakah ia masih bisa menembak atau menandatangani cek, bukan apakah paru-parunya masih sehat.
"Kau mengkhawatirkanku, Sinclair?" Max menyeringai tipis, namun bukan seringai merendahkan.
"Tentu saja. Anda sudah menyelamatkanku berkali-kali," sahut Rebecca jujur. Rasa nyaman mulai merayap di hatinya.
Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Maximilian tidak terlihat seperti monster. Ia terlihat seperti pria yang memikul beban dunia di bahunya sendirian.
Maximilian meletakkan kapasnya. Ia bersandar pada kursi, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. "Katakan padaku ... kenapa gadis sepertimu bisa dikejar oleh anjing-anjing Valenti semalam? Apa yang sebenarnya dilakukan ayahmu?"
Rebecca menunduk, memainkan jemarinya. "Ayahku ... dia pecandu judi. Dia kehilangan segalanya di meja kasino milik keluarga Valenti. Uang, rumah, bahkan kehormatannya. Karena dia tidak bisa membayar bunga hutangnya yang menumpuk, dia ... dia menjadikanku jaminan. Dia menjualku pada Enzo Valenti untuk menebus nyawanya sendiri."
Suasana kamar mendadak menjadi sangat dingin. Maximilian mencengkeram botol wiskinya hingga buku jarinya memutih. Amarah yang dingin terpancar dari matanya. "Seorang ayah yang menjual anaknya sendiri ... dia lebih rendah dari sampah."
Max berdiri, ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia memegang dagu Rebecca, memaksa gadis itu menatapnya. "Dengar baik-baik, Rebecca. Mulai detik ini, tidak akan ada Valenti, dan tidak akan ada ayahmu yang bisa menyentuhmu lagi. Kau bukan lagi bagian dari keluarga Sinclair."
Rebecca mengerutkan kening. "Maksud Om?"
"Aku akan mengatur identitas barumu. Sinclair akan mati dalam catatan publik. Kau akan memakai nama belakangku. Kau akan berada di bawah perlindungan hukum dan kekuasaanku sepenuhnya," ucap Maximilian dengan nada mutlak.
"Identitas baru? Tapi bagaimana dengan hidupku? Pendidikanku?"
"Aku sudah mengatur semuanya. Kau akan kuliah di kampus terbaik yang kau mau. Aku akan membiayai seluruh pendidikanmu, fasilitasmu, dan keamananmu. Kau tidak perlu lagi bersembunyi di gang gelap. Kau akan berjalan di bawah sinar matahari sebagai seseorang yang tak tersentuh," lanjut Max.
Rebecca tertegun. Kebaikan ini terlalu besar. Ini bukan lagi sekadar menyelamatkan nyawa, ini adalah memberikan hidup yang baru. "Om ... kenapa? Kenapa Om melakukan semua ini untukku? Aku bingung bagaimana harus membalas semua kebaikan Om. Aku tidak punya apa-apa untuk diberikan."
Maximilian meletakkan botol wiskinya ke meja. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Rebecca, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Kali ini tidak ada kekasaran, hanya sebuah dekapan yang posesif namun protektif. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Rebecca, menghirup aroma sabun yang menenangkan.
"Cukup jadi milikku saja," bisik Maximilian, suaranya bergetar karena pengaruh alkohol dan emosi yang tertahan. "Jangan pernah mengabaikanku. Jangan pernah berpaling pada pria lain. Dan yang terpenting ... jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Itu sudah lebih dari cukup untuk membayar segalanya."
Jantung Rebecca berdebar kencang. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Maximilian dan napasnya yang mengenai kulit lehernya. Rasa nyaman yang muncul sejak tadi kini berubah menjadi debaran yang lebih dalam. Ia menyadari bahwa pria ini, dengan segala kegelapannya, adalah satu-satunya orang yang benar-benar menginginkannya bukan sebagai barang taruhan, melainkan sebagai seseorang yang berharga.
Rebecca perlahan mengangkat tangannya, memberanikan diri untuk membalas pelukan Maximilian. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu. "Aku tidak akan pergi, Om. Aku berjanji."
Maximilian melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap wajah Rebecca. Dalam keremangan malam, wajah mereka begitu dekat. Max mengusap bibir bawah Rebecca yang masih memiliki sedikit bekas luka dengan ibu jarinya.
"Ingat janjimu, Rebecca," gumam Max.
Malam itu, di kamar yang sunyi di puncak gunung, sebuah kontrak tanpa kertas telah ditandatangani. Bukan kontrak hutang darah, melainkan kontrak hati. Rebecca Sinclair mungkin telah mati malam itu, namun seorang wanita baru telah lahir di bawah bayang-bayang Maximilian—seorang wanita yang tidak lagi takut pada kegelapan, karena ia adalah milik sang penguasa kegelapan itu sendiri.
Maximilian akhirnya beranjak berdiri, meskipun gerakannya masih sedikit goyah. Ia berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi. "Tidurlah. Besok identitas barumu akan siap. Jangan terlambat latihan dengan Vargo."
Pintu tertutup. Rebecca jatuh terduduk di ranjangnya, menyentuh dadanya yang masih bergemuruh. Ia percaya sekarang, bahwa di balik botol wiski dan asap cerutu itu, ada seorang pria yang sangat kesepian yang hanya ingin memiliki sesuatu untuk ia jaga. Dan Rebecca bersedia menjadi hal itu.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣