NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Dekapan Sang Naga

Malam di pegunungan selalu membawa kesunyian yang mencekam, hanya menyisakan suara derik jangkrik dan desau angin yang menabrak kaca jendela penthouse. Rebecca Sinclair duduk di tepi ranjangnya, menatap nanar ke arah cermin. Tubuhnya terasa remuk. Seragam taktis yang tadi siang membuatnya tampak gagah kini telah berganti dengan kaus longgar yang memperlihatkan beberapa lecet kemerahan di lengan dan lehernya—bekas pergulatan sengit dengan Erica tadi siang.

Baru saja ia hendak mengambil salep dari kotak obat, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.

Maximilian berdiri di sana. Kemeja hitamnya kini tidak lagi terkancing sempurna di bagian atas, dasinya sudah menghilang, dan rambutnya sedikit berantakan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah botol bourbon yang tinggal separuh. Aroma alkohol dan tembakau mahal langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Rebecca.

"Om? Anda ... Anda mabuk?" tanya Rebecca cemas, ia sedikit bergeser saat Maximilian masuk dan menutup pintu dengan punggungnya.

Maximilian tidak menjawab. Matanya yang biasanya tajam dan waspada kini terlihat sedikit sayu, namun tetap memiliki intensitas yang mampu mengunci pergerakan Rebecca. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit tidak stabil, lalu duduk di kursi kayu tepat di hadapan Rebecca.

"Kemari," perintahnya rendah. Suaranya sedikit serak, tanda alkohol mulai menguasai sarafnya.

Rebecca menurut dengan ragu. Ia mendekat, dan tanpa peringatan, Maximilian menarik lengan Rebecca, memeriksa lecet kemerahan di sana. Max mengeluarkan sebuah botol kecil antiseptik yang entah sejak kapan sudah ada di saku celananya.

"Aku bisa melakukannya sendiri, Om," bisik Rebecca.

"Diam," gumam Max. Tangan besarnya yang biasanya digunakan untuk menghancurkan musuh, kini bergerak dengan sangat teliti. Ia membasahi kapas dan mulai menyeka luka lecet di lengan Rebecca.

Rebecca meringis pelan saat cairan itu menyentuh kulitnya. Maximilian mendongak, menatap mata Rebecca sejenak sebelum meniup luka itu dengan lembut—sebuah tindakan yang sangat manusiawi, sangat jauh dari citra "Om Mafia" yang kejam. Dalam kondisi setengah mabuk ini, tembok pertahanan Maximilian seolah sedikit retak, memperlihatkan sisi rapuh yang ia sembunyikan rapat-rapat.

"Om ..." Rebecca memberanikan diri berbicara. "Terlalu banyak merokok dan minum alkohol itu tidak baik untuk kesehatan Om. Jika Om terus seperti ini, siapa yang akan memimpin markas ini?"

Maximilian berhenti bergerak. Ia menatap botol wiski di sampingnya, lalu kembali menatap Rebecca. Ia tampak sedang mencerna perkataan itu, seolah-olah saran tentang "kesehatan" adalah bahasa asing yang baru pertama kali ia dengar. Biasanya, orang hanya peduli apakah ia masih bisa menembak atau menandatangani cek, bukan apakah paru-parunya masih sehat.

"Kau mengkhawatirkanku, Sinclair?" Max menyeringai tipis, namun bukan seringai merendahkan.

"Tentu saja. Anda sudah menyelamatkanku berkali-kali," sahut Rebecca jujur. Rasa nyaman mulai merayap di hatinya.

Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Maximilian tidak terlihat seperti monster. Ia terlihat seperti pria yang memikul beban dunia di bahunya sendirian.

Maximilian meletakkan kapasnya. Ia bersandar pada kursi, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. "Katakan padaku ... kenapa gadis sepertimu bisa dikejar oleh anjing-anjing Valenti semalam? Apa yang sebenarnya dilakukan ayahmu?"

Rebecca menunduk, memainkan jemarinya. "Ayahku ... dia pecandu judi. Dia kehilangan segalanya di meja kasino milik keluarga Valenti. Uang, rumah, bahkan kehormatannya. Karena dia tidak bisa membayar bunga hutangnya yang menumpuk, dia ... dia menjadikanku jaminan. Dia menjualku pada Enzo Valenti untuk menebus nyawanya sendiri."

Suasana kamar mendadak menjadi sangat dingin. Maximilian mencengkeram botol wiskinya hingga buku jarinya memutih. Amarah yang dingin terpancar dari matanya. "Seorang ayah yang menjual anaknya sendiri ... dia lebih rendah dari sampah."

Max berdiri, ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia memegang dagu Rebecca, memaksa gadis itu menatapnya. "Dengar baik-baik, Rebecca. Mulai detik ini, tidak akan ada Valenti, dan tidak akan ada ayahmu yang bisa menyentuhmu lagi. Kau bukan lagi bagian dari keluarga Sinclair."

Rebecca mengerutkan kening. "Maksud Om?"

"Aku akan mengatur identitas barumu. Sinclair akan mati dalam catatan publik. Kau akan memakai nama belakangku. Kau akan berada di bawah perlindungan hukum dan kekuasaanku sepenuhnya," ucap Maximilian dengan nada mutlak.

"Identitas baru? Tapi bagaimana dengan hidupku? Pendidikanku?"

"Aku sudah mengatur semuanya. Kau akan kuliah di kampus terbaik yang kau mau. Aku akan membiayai seluruh pendidikanmu, fasilitasmu, dan keamananmu. Kau tidak perlu lagi bersembunyi di gang gelap. Kau akan berjalan di bawah sinar matahari sebagai seseorang yang tak tersentuh," lanjut Max.

Rebecca tertegun. Kebaikan ini terlalu besar. Ini bukan lagi sekadar menyelamatkan nyawa, ini adalah memberikan hidup yang baru. "Om ... kenapa? Kenapa Om melakukan semua ini untukku? Aku bingung bagaimana harus membalas semua kebaikan Om. Aku tidak punya apa-apa untuk diberikan."

Maximilian meletakkan botol wiskinya ke meja. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Rebecca, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Kali ini tidak ada kekasaran, hanya sebuah dekapan yang posesif namun protektif. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Rebecca, menghirup aroma sabun yang menenangkan.

"Cukup jadi milikku saja," bisik Maximilian, suaranya bergetar karena pengaruh alkohol dan emosi yang tertahan. "Jangan pernah mengabaikanku. Jangan pernah berpaling pada pria lain. Dan yang terpenting ... jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Itu sudah lebih dari cukup untuk membayar segalanya."

Jantung Rebecca berdebar kencang. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Maximilian dan napasnya yang mengenai kulit lehernya. Rasa nyaman yang muncul sejak tadi kini berubah menjadi debaran yang lebih dalam. Ia menyadari bahwa pria ini, dengan segala kegelapannya, adalah satu-satunya orang yang benar-benar menginginkannya bukan sebagai barang taruhan, melainkan sebagai seseorang yang berharga.

Rebecca perlahan mengangkat tangannya, memberanikan diri untuk membalas pelukan Maximilian. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu. "Aku tidak akan pergi, Om. Aku berjanji."

Maximilian melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap wajah Rebecca. Dalam keremangan malam, wajah mereka begitu dekat. Max mengusap bibir bawah Rebecca yang masih memiliki sedikit bekas luka dengan ibu jarinya.

"Ingat janjimu, Rebecca," gumam Max.

Malam itu, di kamar yang sunyi di puncak gunung, sebuah kontrak tanpa kertas telah ditandatangani. Bukan kontrak hutang darah, melainkan kontrak hati. Rebecca Sinclair mungkin telah mati malam itu, namun seorang wanita baru telah lahir di bawah bayang-bayang Maximilian—seorang wanita yang tidak lagi takut pada kegelapan, karena ia adalah milik sang penguasa kegelapan itu sendiri.

Maximilian akhirnya beranjak berdiri, meskipun gerakannya masih sedikit goyah. Ia berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi. "Tidurlah. Besok identitas barumu akan siap. Jangan terlambat latihan dengan Vargo."

Pintu tertutup. Rebecca jatuh terduduk di ranjangnya, menyentuh dadanya yang masih bergemuruh. Ia percaya sekarang, bahwa di balik botol wiski dan asap cerutu itu, ada seorang pria yang sangat kesepian yang hanya ingin memiliki sesuatu untuk ia jaga. Dan Rebecca bersedia menjadi hal itu.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐡 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐨𝐧𝐠𝐨𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐧𝐜𝐚 𝐥𝐠𝐬𝐧𝐠 𝐤𝐢𝐜𝐞𝐩 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐤𝐥𝐨 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐲𝐚𝐫 𝐥𝐨 𝐛𝐢𝐚𝐧 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐤 𝟏𝐛𝐚𝐛 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
EsKobok: waduh🤣
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐚𝐱😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐡𝐫 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐩 𝟑𝐛𝐚𝐛 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚/𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐭𝐩 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐫𝐤𝐧𝐥, 𝐥𝐛𝐡 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐪 𝐥𝐡𝐭 𝐝𝐢 𝐟𝐢𝐥𝐦𝟐 😘😘😘🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐫𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐨𝐫 🦾🦾😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧, 𝐦𝐚𝐱 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐦𝐢𝐰𝐢𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐐 𝐤𝐬𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐬𝐚𝐦𝐚𝟐 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐫𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐌𝐫𝐬 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐝𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐰𝐭 𝐤𝐭𝟐 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐫𝐧𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡😭😭😭

𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐩 𝐣𝐠, 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😁😁😁👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐛𝐧𝐠𝐭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬 😁😁😁
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚😁😁😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡 😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!