Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan penulis : Di balik tinta, tawa dan air mata
Kepada kalian, jiwa-jiwa yang telah bersedia melangkah bersama di jalan setapak Pesantren Al-Fatih sejak baris pertama dimulai, terima kasih.
Menyelesaikan setiap lembar naskah Mawar Kota di Mihrab Sunyi bagaikan merawat sebuah taman rahasia di tengah pergantian musim yang tak menentu. Buku ini tidak lahir dari sekadar ketukan jemari pada papan ketik atau deretan tinta di atas kertas putih yang dingin. Ia lahir dari musim-musim yang berganti di dalam batin saya, dari gejolak rasa yang seringkali membuat saya terdiam di sepertiga malam, merenungi setiap langkah yang diambil oleh Zayna dan Gus Haidar. Menulis kisah ini adalah sebuah perjalanan spiritual bagi saya, sebuah proses di mana saya pun ikut belajar tentang arti "pulang" yang sesungguhnya.
Ketahuilah, bahwa selama proses kreatif ini berlangsung, ruang kerja saya telah menjadi saksi bisu atas kontrasnya emosi yang meluap. Ada hari-hari di mana jemari saya menari dengan ringan, diiringi oleh gelak tawa yang jernih yang pecah begitu saja. Tawa itu hadir saat saya merajut polosnya tingkah para santri, hangatnya persahabatan yang tulus, hingga momen-momen canggung yang manis di antara dua insan yang sedang belajar saling mengenal dalam rida-Nya. Tawa itu laksana sinar matahari pagi yang menembus celah-celah daun jati, memberikan energi dan cahaya bahwa hidup, meski seberat apa pun, selalu memiliki sisi jenaka yang patut disyukuri.
Namun, sebagaimana alam yang tak selalu benderang, buku ini juga lahir dari tangis haru yang luruh tanpa permisi. Ada malam-malam yang menjadi sangat sunyi, di mana saya harus berhenti menulis karena pandangan saya kabur oleh air mata. Haru itu meledak saat saya harus menyelami perihnya luka Zayna—seorang mawar yang durinya adalah bentuk pertahanan diri dari dunia kota yang kejam. Saya menangis bersamanya saat ia merasa tidak layak untuk bersujud, dan saya ikut merasakan sesaknya dada Gus Haidar saat ia harus berdiri sebagai gunung yang tenang di tengah badai amarah wanita yang dicintainya. Tangis itu bukanlah tanda kesedihan yang hampa, melainkan tangis syukur karena menyadari bahwa kasih sayang Tuhan selalu lebih luas daripada samudera dosa manusia.
Setiap kata dalam Mawar Kota di Mihrab Sunyi adalah detak jantung saya yang saya titipkan pada karakter-karakternya. Melalui Zayna, saya ingin bercerita bahwa masa lalu, sekelam apa pun itu, hanyalah pupuk yang akan membuat akar iman kita tumbuh lebih kuat. Melalui Gus Haidar, saya ingin menunjukkan bahwa cinta yang paling tinggi adalah cinta yang dijaga dengan doa dalam diam, bukan dengan kepemilikan yang memaksa. Saya tidak sekadar sedang menulis sebuah cerita fiksi; saya sedang ikut membasuh jiwa saya sendiri, belajar tentang pemaafan, dan tentang bagaimana sebuah kelembutan sanggup meruntuhkan tembok kesombongan yang paling tebal sekalipun.
Saya seringkali merasa bahwa karakter-karakter dalam buku ini bukan lagi sekadar imajinasi. Mereka menjadi hidup, berbisik di telinga saya saat saya sedang ragu, dan menuntut untuk dikisahkan dengan penuh kejujuran. Menulis naskah ini adalah sebuah zikir panjang. Saya berharap, wangi bunga tanjung yang saya lukiskan dalam narasi ini tidak hanya berhenti di indra penciuman kalian sebagai pembaca, melainkan mampu meresap ke dalam palung hati yang paling dalam.
Terima kasih karena telah bersedia menjadi bagian dari samudera takdir ini. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk mendengarkan bisikan angin dari balik pohon tanjung dan merasakan dinginnya air sungai taubat yang mengalir di sepanjang bab demi bab. Jika dalam membaca kisah ini kalian sempat tertawa di satu halaman, lalu sedetik kemudian menyeka air mata di halaman berikutnya, maka getaran emosi yang saya rasakan selama berbulan-bulan ini telah sampai pada tujuannya. Artinya, kita telah berbagi jiwa yang sama.
Akhir kata, buku ini saya persembahkan untuk siapa saja yang merasa dirinya telah "hilang" dan sedang mencari arah untuk kembali. Jangan pernah takut pada gelapnya malam, karena di sanalah bintang-bintang akan nampak paling terang. Tetaplah menjadi mawar yang harum, meski kalian harus tumbuh di antara aspal yang panas atau di dalam mihrab yang paling sunyi sekalipun.
Hingga kita bertemu di persimpangan cerita selanjutnya, tetaplah menjadi cahaya bagi sekitar. Karena sejatinya, setiap kita adalah pengelana yang sedang mencari jalan pulang menuju pelukan-Nya yang abadi.
Dengan ketulusan sedalam doa dan cinta yang melangit,
[istimariellaahmad]
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp