NovelToon NovelToon
ISTRIKU TERNYATA SULTAN

ISTRIKU TERNYATA SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
​Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
​Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
​Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
​Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18: Ranjang Pesakitan dan Palu yang Mengetuk Takdir

​Trotoar jalan raya itu terasa semakin dingin, tapi tubuh Rio terasa seperti terbakar.

​"Panas... Bu, panas..." racau Rio. Matanya terpejam rapat, tapi bola matanya bergerak-gerak gelisah. Giginya beradu kencang, tak-tak-tak, suara gemeretuk yang mengerikan di tengah bisingnya lalu lintas.

​"Tahan, Yo! Tahan!" Bu Ratna menepuk-nepuk pipi anaknya dengan tangan yang bau terasi sisa makan nasi bungkus tadi. "Jangan mati dulu! Kamu belum minta warisan! Bangun!"

​Bahkan di saat anaknya sekarat, prioritas Bu Ratna tetaplah uang.

​Tiba-tiba, tubuh Rio mengejang. Matanya memutih sebentar, lalu lemas. Kepalanya terkulai berat ke samping, menghantam ubin trotoar.

​"RIO!" jerit Bu Ratna histeris. "TOLONG! ANAK SAYA PINGSAN! TOLONG!"

​Sebuah mobil patroli Satpol PP yang kebetulan lewat melambat. Dua petugas turun, melihat kondisi Rio yang menyedihkan—kucel, bau keringat, dan pingsan di sebelah tumpukan koper plastik.

​"Kenapa ini, Bu? Mabuk?" tanya petugas curiga.

​"Sakit, Pak! Demam tinggi! Tolong bawa ke rumah sakit! Anak saya manajer, nanti dia bayar!" bohong Bu Ratna, masih berusaha menjaga gengsi.

​Petugas itu meraba dahi Rio. "Waduh, ini mah mendidih. Ayo angkat, bawa ke RSUD."

​Mereka menggotong tubuh kurus Rio ke bak belakang mobil patroli terbuka. Bu Ratna ikut naik sambil memeluk tas KW-nya erat-erat, meninggalkan koper berisi baju-baju mereka di titipkan ke tukang parkir ruko.

​Malam itu, Rio dibawa membelah jalanan Jakarta, bukan dengan ambulans VIP, tapi dengan mobil bak terbuka, terguncang-guncang seperti barang rongsokan.

​Keesokan Harinya.

​Bau karbol menyengat hidung Rio.

Disusul bau minyak kayu putih, bau ompol, dan bau keringat manusia yang bercampur aduk.

​Rio membuka matanya perlahan. Pandangannya buram.

Dia melihat langit-langit yang penuh bercak air dan jaring laba-laba. Sebuah kipas angin gantung berputar pelan dengan suara kreek... kreek... seolah mau copot.

​"Udah sadar kamu?"

​Suara ketus Bu Ratna terdengar dari samping.

Rio menoleh. Dia berada di sebuah bangsal besar. Di kanan kirinya berjejer ranjang besi tua yang jaraknya hanya dipisahkan tirai hijau kusam.

​Di ranjang sebelah kiri, seorang bapak tua sedang batuk-batuk berdahak yang suaranya basah menjijikkan. Di ranjang sebelah kanan, anak kecil menangis melengking minta susu.

​"Ini... di mana, Bu?" tanya Rio lemah. Tangannya terasa sakit. Ada jarum infus murahan menancap di sana.

​"RSUD. Kelas 3," jawab Bu Ratna sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kardus bekas. "Panas banget di sini, Yo. Ibu nggak bisa tidur semaleman. Nyamuknya ganas-ganas."

​Rio ingin menangis. Dia biasa berobat di klinik swasta yang wangi dan ber-AC. Kenapa sekarang dia berakhir di tempat penampungan ini?

​"Kenapa nggak minta VIP, Bu? Rio punya asuransi kantor..."

​"Asuransi gundulmu!" semprot Bu Ratna. "Kartu asuransi kamu udah diblokir sama kantor! Tadi HRD kamu telepon pas Ibu daftarin, katanya kamu udah di-SP dan polis asuransinya dibekukan sementara. Kita masuk sini pake SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) tau rasa kamu!"

​Rio memejamkan mata. Malu. Hina.

Manajer proyek yang dulu menyuruh bawahannya membelikan kopi Starbucks, sekarang berobat pakai jalur orang miskin.

​"Suster!" teriak Bu Ratna tiba-tiba pada perawat yang lewat. "Ini infus anak saya macet! Darahnya naik! Gimana sih kerjanya? Lelet banget!"

​"Sabar ya, Bu. Pasien bukan anak Ibu doang. Yang lain juga antre," jawab perawat itu ketus tanpa menoleh.

​"Dih! Dasar pelayan masyarakat belagu!" Bu Ratna menggerutu.

​Sementara itu, di belahan Jakarta yang lain.

​Suasana hening, dingin, dan berwibawa menyelimuti Ruang Sidang 1 Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

​Lantai marmer mengkilap, meja hijau hakim yang tinggi, dan lambang Garuda Pancasila di dinding depan menjadi saksi bisu.

​Kara duduk di kursi penggugat.

Dia mengenakan dress hitam sederhana namun elegan, dipadu dengan blazer senada. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya tenang, tidak ada jejak kesedihan.

​Di kursi tergugat—kursi Rio—kosong.

​"Saudara Tergugat, Rio Pratama, telah dipanggil secara patut namun tidak hadir dan tidak mengirimkan wakilnya," ucap Hakim Ketua sambil membaca berkas. "Keterangan dari pihak rumah sakit menyatakan Tergugat sedang dirawat, namun proses hukum tetap harus berjalan mengingat bukti-bukti yang diajukan Penggugat sudah sangat kuat dan tidak terbantahkan."

​Kara menatap kursi kosong di sebelahnya.

Dulu, di kursi pelaminan, dia berjanji untuk menemani pria itu dalam suka dan duka.

Tapi pria itu telah melanggar semua janjinya.

​"Mengadili," suara Hakim Ketua menggema.

​Kara menegakkan punggungnya.

​"Satu, mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya."

"Dua, menjatuhkan talak satu ba'in shughra Tergugat Rio Pratama bin Syaiful terhadap Penggugat Kara Anindita binti Gunawan Anindita."

"Tiga, membebankan biaya perkara kepada Tergugat."

​TOK. TOK. TOK.

​Suara palu kayu yang diketuk tiga kali itu terdengar sangat indah di telinga Kara. Lebih indah dari lagu cinta manapun.

​Rasanya seperti ada rantai besi berat yang lepas dari kakinya. Bebas.

Dia bukan lagi istri Rio. Dia bukan lagi wanita bodoh yang menunggu di kontrakan. Dia kembali menjadi Kara Anindita yang utuh.

​Kara berdiri, menyalami Majelis Hakim, lalu berbalik memeluk Papanya yang duduk di bangku pengunjung.

​"Selamat, Nak," bisik Pak Gunawan. "Selamat datang kembali di hidupmu."

​"Makasih, Pa." Kara tersenyum. Senyum yang benar-benar lepas.

​Sore harinya di bangsal RSUD.

​Rio sedang melamun menatap TV tabung kecil yang digantung di pojok ruangan. Gambarnya banyak semutnya, suaranya kresek-kresek.

​Tiba-tiba, tayangan berita selebriti sore muncul.

Headline besar berwarna merah:

RESMI BERCERAI! PUTRI TUNGGAL ANINDITA GROUP KEMBALI MENJOMBLO.

​Layar menampilkan foto Kara yang keluar dari gedung pengadilan, dikawal bodyguard, tersenyum cantik ke arah wartawan.

​"Ya, alhamdulillah sudah selesai. Saya lega," suara Kara terdengar jernih dari TV itu. "Saya ingin fokus ke bisnis keluarga dan melupakan masa lalu yang... kurang berkelas."

​Rio terpaku.

Jantungnya serasa diremas.

"Kurang berkelas". Itu kata ganti untuk dirinya.

​Di layar TV, terlihat Kara masuk ke mobil Rolls-Royce-nya. Pintu ditutup. Mewah. Berkilau.

​Rio menunduk melihat dirinya sendiri.

Baju pasien rumah sakit yang kancingnya copot satu. Selimut bolong. Tangan bengkak diinfus. Dan Ibunya yang sedang tidur mengorok di kursi plastik dengan mulut terbuka.

​Air mata Rio menetes jatuh ke selimut lusuh itu.

​"Harta gue..." isak Rio pelan, sangat pelan agar tidak didengar pasien sebelah. "Harta gue pergi..."

​Dia menangisi uangnya. Dia menangisi masa depannya yang hancur.

Dan palu hakim tadi pagi telah memastikan bahwa pintu gerbang istana itu tertutup selamanya. Tidak ada lagi jalan kembali.

​Rio Pratama resmi menjadi duda miskin dengan utang menumpuk dan penyakit di badan.

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...

...****************...

1
Arieee
mantap🤣
stela aza
lanjut thor
Night Watcher
😆😆😆🤭
Night Watcher
lah.. selama ini, ibunya rio gak punya rumah thor?
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏
Night Watcher
asyik keknya.. satset gak byk meleber.. 👌
Night Watcher
ngintip dulu...
Ma Em
Makanya Rio jadi orang jgn banyak tingkah , baru merasa senang sedikit sdh belagu selingkuh sekarang menyesal saja kamu sampai mati tapi Kara tdk akan pernah kembali lagi pada lelaki mokondo .
Ma Em
Kara kalau Rio datang langsung usir saja jgn dikasih kesempatan untuk bilang apapun .
Ma Em
Rio baru jadi menejer saja sdh sombong ga ingat waktu hdp susah bersama Kara setelah hdp nya baru senang sedikit sdh lupa sama istri yg nemenin dari nol dan malah selingkuh , Rio kamu pasti akan menyesal setelah tau siapa Kara Anindita yg selalu kamu hina itu .
tanty rahayu: emang gak tau diri tuh cowok 😔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!