Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.
Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!
Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas Dan Janji Pulang
Matahari baru saja mengintip malu-malu dari ufuk timur, menyelinap masuk lewat celah gorden jendela kamar tidur. Rizky sudah bangun sejak pukul lima pagi, gerakannya sigap dan teratur. Dia sedang mempersiapkan diri untuk pergi bekerja—pekerjaan yang kali ini menuntutnya untuk berada di luar kota selama beberapa hari.
Di meja rias, dia melihat pantulan dirinya di cermin: pria dengan kemeja rapi, dasi yang tersusun sempurna, dan wajah yang terlihat lelah namun tetap memancarkan semangat. Pekerjaannya memang menuntut banyak waktu dan tenaga, tapi Rizky tidak pernah mengeluh. Baginya, setiap lelah yang dia rasakan adalah harga yang pantas dibayar untuk kebahagiaan keluarganya—Kezia dan Rania.
"Sayang, kamu sudah bangun?" terdengar suara lembut dari pintu kamar.
Rizky menoleh dan melihat Kezia berdiri di sana, masih mengenakan baju tidurnya, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap terlihat cantik di mata Rizky.
"Iya, Kak. Aku sudah siap nih. Taksi yang bakal nganterin aku ke stasiun sebentar lagi sampai," jawab Rizky sambil menutup koper kecilnya. Dia berjalan mendekati Kezia, lalu memeluk pinggang istrinya dengan lembut.
Kezia menyandarkan kepalanya di dada Rizky, mendengar detak jantung suaminya yang teratur. "Hati-hati di jalan ya, sayang. Jangan lupa makan, dan kalau ada waktu luang, hubungin aku ya."
"Pasti, Kak. Janji deh," ucap Rizky, dia mencium puncak kepala Kezia. "Nanti tiga hari lagi, aku bakal pulang. Pas hari Minggu, aku bakal sampai di rumah tepat waktu buat nemenin Rania main di taman, kayak janjiku."
"Rania pasti senang banget dengarnya. Dia sudah nungguin kamu pulang dari kemarin," kata Kezia, dia mengangkat wajahnya dan menatap mata Rizky. "Kamu jangan terlalu keras sama diri sendiri ya di sana. Ingat, kami di rumah selalu nungguin kamu."
"Aku tahu, Kak. Itu yang bikin aku semangat kerja," jawab Rizky tersenyum.
Tak lama kemudian, suara klakson taksi terdengar dari luar rumah. Rizky menghela napas pelan, lalu melepaskan pelukannya dari Kezia. Dia mengambil kopernya, lalu menoleh ke arah pintu kamar Rania.
"Aku pamit sama Rania sebentar ya," bisik Rizky.
Dia membuka pintu kamar Rania perlahan, melihat putrinya yang masih terlelap pulas dengan bebek karet kesayangannya di samping bantal. Rizky tersenyum lembut, lalu dia mendekat dan mencium pipi Rania dengan sangat pelan agar tidak membangunkannya.
"Sampai ketemu hari Minggu, sayangku. Ayah bakal pulang bawa hadiah buat kamu," bisiknya pelan.
Rizky kemudian kembali ke samping Kezia, menggenggam tangan istrya erat-erat sebelum akhirnya melangkah keluar pintu. "Aku pergi dulu ya, Kak. Jaga diri baik-baik."
"Hati-hati, Rizky. Sampai jumpa hari Minggu," ucap Kezia, melambaikan tangannya sampai taksi yang membawa Rizky menghilang di tikungan jalan.
Di dalam taksi, Rizky menatap ke luar jendela, melihat pemandangan kota yang mulai sibuk. Hatinya penuh dengan semangat dan harapan. Dia tidak sabar menunggu hari Minggu tiba, hari di mana dia bisa kembali ke pelukan keluarganya, ke rumah yang penuh dengan cinta dan kehangatan.
Hari Minggu akhirnya tiba. Langit di luar terlihat cerah, biru dan bersih tanpa awan mendung. Kezia sudah bangun lebih pagi, membersihkan rumah, dan menyiapkan makanan kesukaan Rizky. Rania juga sudah bersiap dengan baju terbaiknya, wajahnya berseri-seri penuh antusiasme menunggu kepulangan Ayahnya.
"Ibu, kapan Ayah sampai sih? Rania sudah nggak sabar nih," tanya Rania sambil mondar-mandir di ruang tengah, memegang bebek karetnya dengan erat.
"Sabar ya, sayang. Pesawat Ayah kan mendarat jam dua siang nanti. Terus dari bandara ke rumah juga butuh waktu sedikit. Kita tunggu ya sebentar lagi," jawab Kezia sambil tersenyum, meskipun di dalam hatinya dia juga merasa tidak sabar. Dia sudah menyiapkan kejutan kecil untuk Rizky, sebuah kue ulang tahun yang sebenarnya bukan ulang tahun siapa-siapa, cuma alasan buat merayakan kebersamaan mereka lagi.
Jam dinding berdetak pelan, tik-tok... tik-tok... Waktu terasa berjalan lambat bagi mereka yang sedang menunggu. Kezia sesekali melirik ponselnya, berharap ada pesan dari Rizky yang memberitahu bahwa dia sudah mendarat dengan selamat.
Pukul dua lewat sepuluh menit, belum ada kabar dari Rizky. Kezia mulai merasa sedikit gelisah. Mungkin pesawatnya terlambat mendarat? Atau mungkin Rizky sedang sibuk mengambil bagasi? Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri, meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun, pukul dua lewat tiga puluh menit, ketenangan itu mulai runtuh. Ponsel Kezia tidak bergetar sama sekali. Hati kecilnya mulai merasa tidak enak. Rania yang tadinya ceria sekarang mulai terlihat lesu dan mengantuk.
"Ibu... Ayah mana ya? Kenapa lama banget?" tanya Rania dengan suara kecil.
Kezia baru saja ingin menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering keras. Nama "Sayangku❤️" tidak muncul di layar, melainkan nomor yang tidak dikenal. Jantung Kezia berdegup kencang, ada firasat buruk yang melanda dirinya. Dengan tangan gemetar, dia mengangkat panggilan itu.
"Halo..." suaranya terdengar ragu.
"Selamat siang, apakah ini Ibu Kezia, istri dari Bapak Rizky?" terdengar suara pria dari seberang sana, suaranya terdengar formal dan serius.
"Iya, betul. Saya Kezia. Ada apa, Pak? Suami saya ada di sana?" tanya Kezia, suaranya mulai naik satu oktaf karena cemas.
"Ibu, kami minta maaf menyampaikan kabar ini. Kami dari pihak maskapai penerbangan dan tim penyelamat. Pesawat yang ditumpangi oleh suami Ibu, penerbangan nomor... mengalami kecelakaan fatal. Pesawat itu meledak sesaat setelah lepas landas, dan..." suara pria itu terhenti sejenak, seolah-olah sedang mencari kata-kata yang tepat.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Kezia. Telinganya berdenging, matanya terbelalak tak percaya. Apa yang baru saja dia dengar? Meledak? Tidak... itu tidak mungkin. Itu pasti salah orang. Rizky berjanji akan pulang hari ini. Rizky berjanji akan bermain dengan Rania.
"Maksud Bapak apa?" potong Kezia, suaranya bergetar hebat, air mata sudah mulai membasahi pipinya tanpa sadar. "Jangan bercanda ya, Pak! Suami saya bilang dia bakal pulang hari ini! Dia berjanji sama saya dan anak saya!"
"Kami sangat menyesal, Ibu. Ini bukan lelucon. Tim kami sudah berada di lokasi kejadian, dan sampai saat ini belum ada penumpang yang ditemukan selamat. Kami mohon Ibu tetap tenang dan segera datang ke kantor kami untuk proses selanjutnya..."
Sisa percakapan itu tidak lagi terdengar jelas di telinga Kezia. Ponselnya terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara buk yang keras. Dia berdiri mematung, tubuhnya lemas seolah semua tulangnya dicabut. Pandangannya kabur karena air mata yang mengalir deras.
"Ibu... kenapa Ibu nangis?" tanya Rania yang melihat ibunya menangis, dia mulai merasa takut dan mendekati Kezia. "Ibu... Ayah mana? Ayah nggak jadi pulang ya?"
Kezia menunduk melihat putrinya yang polos dan penuh harapan. Dadanya sesak, rasanya ingin berteriak sekuat tenaga melepaskan rasa sakit yang mendera hatinya, tapi dia tidak bisa. Bagaimana dia bisa memberitahu Rania bahwa Ayahnya yang begitu dicintai tidak akan pernah pulang lagi? Bahwa janji-janji manis itu kini hanyalah kenangan yang menyakitkan?
"Rania..." panggil Kezia dengan suara yang pecah, dia berjongkok dan memeluk putrinya dengan erat, seolah-olah takut kehilangan apa pun lagi di dunia ini. "Ayah... Ayah sedang pergi ke tempat yang jauh, sayang. Tempat yang sangat indah..."
Rania mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung. "Terus kapan Ayah pulang, Bu? Ayah janji bawa mainan buat Rania..."
Kezia tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis, membenamkan wajahnya di bahu putrinya, sementara di luar sana, matahari masih bersinar terang, seolah tidak peduli bahwa dunia Kezia baru saja hancur berkeping-keping. Pesawat yang seharusnya membawa Rizky pulang ke pelukan mereka, kini telah menjadi serpihan besi dan api yang membawa serta cinta dan harapan mereka pergi selamanya.