Sebuah rumah kontrakan tua di pinggiran kota terlihat seperti rumah biasa.
Catnya kusam, halamannya sepi, dan harganya sangat murah. Terlalu murah untuk ukuran rumah sebesar itu.
Karena kebutuhan dan kondisi keuangan, tiga sahabat Raka, Bima, dan Siska memutuskan untuk menempatinya tanpa banyak bertanya.
Namun sejak malam pertama, mereka mulai menyadari bahwa rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
Pintu sering terbuka sendiri.
Kursi goyang bergerak tanpa ada yang menyentuh. Terdengar suara langkah dari loteng setiap tengah malam.
Dan yang paling mengejutkan… rumah itu ternyata sudah lama dihuni oleh makhluk tak kasat mata.
Pocong yang suka memasak mie di dapur. Kuntilanak yang gemar menonton sinetron.
Hingga sosok misterius dari kamar belakang yang jarang muncul, namun selalu membuat bulu kuduk berdiri.
Di rumah itu, manusia dan hantu hidup berdampingan… meski tidak selalu damai.
Karena satu per satu rahasia rumah tersebut mulai terungkap.
ini bukan rumah biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Cinta di Tengah Perang
Bayangan Cinta di Tengah Perang
Langit malam tampak kelabu. Awan hitam berarak perlahan di atas rumah tua tempat Raka dan para penghuni gaib berkumpul.
Angin dingin berhembus melewati pepohonan yang bergoyang pelan. Suasana terasa tenang, tetapi semua tahu ketenangan ini hanyalah sementara sebelum badai besar datang.
Di halaman belakang rumah tua itu, para makhluk gaib sedang berlatih.
Pocong Ucup yang masih dibalut perban mencoba melompat-lompat sambil mengumpulkan energi hitam di kedua tangannya.
“Arrgh… masih sakit sebenarnya…” keluhnya.
Kuntilanak yang berdiri di sampingnya tertawa kecil.
“Kalau sakit ya istirahat, Cup. Jangan sok kuat.”
“Enggak! Aku harus kuat! Vampir-vampir itu hampir membunuh kita waktu itu!”
Di sisi lain, Lodra dan Kakek Penjaga Rumah sedang melatih pengendalian energi gaib mereka.
Aura hitam perlahan berputar di sekitar tubuh mereka.
Sementara itu di tengah halaman…
Raka berdiri dengan mata terpejam.
Tubuhnya memancarkan aura hitam pekat bercampur cahaya merah gelap — tanda kekuatan Raja Penguasa Kegelapan semakin bangkit.
Bondan, pangeran siluman harimau, memperhatikannya sambil menyilangkan tangan.
“Energinya makin stabil,” katanya.
Ratu Kumbang mengangguk pelan.
“Dia benar-benar pewaris yang dipilih.”
Namun perhatian Raka tidak sepenuhnya pada latihan.
Di kejauhan…
Neli berdiri di bawah pohon besar.
Rambut panjangnya tertiup angin malam.
Matanya yang indah memancarkan cahaya perak khas siluman serigala.
Raka membuka mata perlahan.
Tatapan mereka bertemu.
Entah kenapa jantung Raka tiba-tiba berdetak lebih cepat.
“Kenapa… setiap lihat dia rasanya aneh…” gumam Raka dalam hati.
Neli berjalan mendekat.
“Latihanmu bagus,” katanya lembut.
Raka langsung salah tingkah.
“I-iya… biasa saja…”
Bondan yang melihat dari jauh menyeringai.
“Heh… raja kegelapan ternyata bisa salting juga.”
Ratu Kumbang tertawa kecil.
Neli berdiri di depan Raka sambil menatapnya serius.
“Tapi kita tidak boleh lengah.”
“Pasukan vampir pasti akan kembali.”
Wajah Raka kembali serius.
“Aku tahu.”
“Tapi kali ini… kita akan siap.”
Neli mengangguk.
Namun tiba-tiba…
Kakek Penjaga Rumah menoleh ke arah langit.
Wajahnya berubah tegang.
“Ada sesuatu…”
Semua langsung waspada.
Di langit yang gelap…
Tiba-tiba muncul bayangan hitam yang melintas sangat cepat.
Bondan langsung mengeluarkan aura harimau.
Ratu Kumbang menyiapkan energi siluman macan kumbangnya.
Neli menggeram pelan.
Namun bayangan itu tidak menyerang.
Ia hanya berhenti di udara, jauh di atas rumah tua.
Seolah sedang mengamati.
Raka menatap tajam ke langit.
Aura kegelapan perlahan muncul di sekeliling tubuhnya.
“Siapa pun kau…” katanya pelan.
“Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan dunia ini.”
Bayangan itu perlahan menghilang di balik awan hitam.
Di tempat yang sangat jauh…
Di dalam kastil gelap yang dipenuhi lilin merah…
Raja Dracula tersenyum tipis.
“Jadi itu dia… pewaris raja kegelapan.”
Di sampingnya, pimpinan iblis yang dulu dikalahkan
Raka menatap penuh kebencian.
Dracula berkata pelan,
“Perang besar… akan segera dimulai.”
Matanya menyala merah.
“Dan kali ini… dunia manusia akan menjadi medan perangnya.”
Kembali ke rumah tua…
Raka masih menatap langit dengan perasaan tidak tenang.
Neli berdiri di sampingnya.
“Kau merasakan sesuatu?”
Raka mengangguk.
“Ya.”
“Kegelapan yang sangat besar… sedang mendekat.”
Angin malam kembali berhembus.
Pertanda…
“Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan dunia ini.”
Bayangan itu hanya berhenti sejenak di udara, seolah sedang mengamati.
Lalu perlahan menghilang di balik awan hitam.
Tidak ada yang berbicara beberapa saat.
Semua merasakan satu hal yang sama.
Sebuah kekuatan besar sedang bergerak.
perang terbesar belum benar-benar dimulai.
Jika rasa penasaran kalian sudah tak tertahan, pastikan kalian terus mengikuti perjalanan ini… dan jangan lupa mampir untuk membaca, karena setiap halaman menyimpan rahasia yang tak akan kalian lihat sebelumnya. 🙏
Tulis di komentar ya 👇 Jangan lupa like dan vote supaya cerita ini terus lanjut ke session 2 ya...👍