NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: KEKACAUAN MELUAS

Tiga minggu sejak pertemuan dengan Roh Perang di gudang belakang.

Tiga minggu sejak Namgung Jin memberikan strategi pada Magyo: serang target kecil, sebarkan api ke mana-mana, buat Delapan Sekte sibuk memadamkan.

Dan hasilnya... di luar dugaan.

---

Di Perbatasan Utara, Sekte Baja (Cheolmun) — 5 hari setelah pertemuan

Malam itu, Sekte Baja sedang merayakan kemenangan kecil atas perampok gunung. Para pendekar mereka tertawa lepas, minum arak, dan bercerita tentang pertarungan. Tak satu pun dari mereka menyadari bayangan-bayangan hitam yang merayap di balik pagar.

Saat tengah malam, api berkobar dari gudang persediaan.

"Kebakaran! Kebakaran!"

Para pendekar berlarian, berusaha memadamkan api. Tapi di tengah kekacauan itu, para algojo Magyo menyerang. Hitam. Cepat. Mematikan.

Pagi harinya, Sekte Baja kehilangan setengah anggota mereka. Pemimpin sekte tewas dengan luka khas jurus Magyo.

Kabar itu menyebar seperti api.

---

Di Wilayah Timur, Serikat Pedagang Persilatan (Mujangdong) — 9 hari setelah pertemuan

Serikat ini bukan sekte, tapi organisasi pedagang yang memiliki hubungan dekat dengan Delapan Sekte Besar. Mereka menguasai jalur perdagangan penting di wilayah timur.

Serangan terjadi di siang bolong—saat pasar paling ramai. Puluhan orang bertopeng hitam turun dari atap, menebas siapa pun yang mencoba melawan. Target mereka: pemimpin serikat, yang sedang bertransaksi di gedung utama.

Dua menit. Hanya butuh dua menit. Pemimpin serikat tewas, dan para penyerang menghilang seperti hantu.

Kekacauan. Pedagang ketakutan. Jalur perdagangan macet.

---

Di Selatan, Sekte Pedang Awan (Ungeommun) — 12 hari setelah pertemuan

Sekte ini adalah sekutu setia Wudang. Mereka tidak terlalu kuat, tapi posisi mereka strategis—di jalur utama menuju markas Wudang.

Serangan terjadi saat fajar, saat para pendekar paling lemah karena kurang tidur. Magyo tidak membunuh semua orang. Mereka hanya menghancurkan gudang senjata dan melukai beberapa tetua.

Tapi pesannya jelas: "Kami bisa mencapai kalian kapan saja."

---

Di Markas Shaolin, Gunung Song — 15 hari setelah pertemuan

Bahkan Shaolin—sekte terkuat di Murim—mendapat kiriman "hadiah".

Pagi itu, para biksu menemukan kepala manusia di depan gerbang utama. Kepala itu milik salah satu biksu muda yang dikirim untuk menyelidiki beberapa minggu lalu.

Tidak ada catatan. Tidak ada pesan. Hanya kepala itu, dengan mata terbuka lebar, seolah mati dalam ketakutan luar biasa.

Biksu Hyewon—yang pernah mengunjungi Klan Namgung—menerima laporan itu dengan wajah tenang. Tapi tangannya gemetar saat memegang tasbih.

"Ini... ini peringatan."

---

Di Klan Namgung — 21 hari setelah pertemuan

Namgung Jin duduk di atap paviliunnya, membaca laporan dari Pemburu Kwon.

Dua puluh satu hari. Tujuh serangan. Tujuh target berbeda. Tujuh luka di tubuh Murim.

Delapan Sekte Besar panik. Mereka mengadakan pertemuan darurat di Shaolin, mengerahkan semua penyelidik, dan mengirim utusan ke setiap sekte sekutu. Tapi Magyo selalu selangkah lebih maju. Setiap kali mereka mendekat, para algojo menghilang, meninggalkan jejak palsu yang membuang-buang waktu.

"Strategi yang bagus." Ia tersenyum. "Tapi mereka terlalu bersemangat."

Tujuh serangan dalam tiga minggu. Itu terlalu sering. Terlalu mencolok.

"Mereka akan kehabisan napas. Dan saat itu, Delapan Sekte akan menyerang balik."

Ia harus mengingatkan Cheon Wu-gun. Tapi bagaimana? Tidak bisa lewat surat—terlalu berisiko. Mungkin Heuksim...

"Tuan Muda."

Pemburu Kwon muncul dari bayangan, seperti biasa. Tapi kali ini, wajahnya tegang.

"Ada apa?"

"Utusan dari Magyo datang lagi. Bukan Heuksim. Lainnya."

"Di mana?"

"Di hutan belakang. Mereka minta Tuan Muda datang sendiri."

Namgung Jin mengerutkan kening. Ini tidak biasa. Biasanya mereka menemuinya di gudang. Kenapa sekarang di hutan?

"Awas."

---

Hutan di belakang Klan Namgung gelap di malam hari.

Pohon-pohon tua menjulang tinggi, menutupi cahaya bintang. Angin berdesir di antara dedaunan, menciptakan suara-suara aneh. Di tempat seperti ini, mudah bagi bayangan untuk bersembunyi.

Namgung Jin berjalan perlahan, matanya mengamati setiap sudut. Ia tahu ini bisa jadi jebakan. Tapi jika Magyo ingin membunuhnya, mereka sudah bisa melakukannya berkali-kali. Jadi mungkin ini bukan jebakan.

Atau mungkin ini ujian lain.

Di tengah hutan, di sebuah clearing kecil, dua sosok menunggu.

Bukan Roh Perang. Bukan Heuksim. Tapi dua pria berjubah hitam dengan topeng—topeng perak yang sama dengan Tiga Roh.

Salah satu dari mereka membuka topeng.

Wajahnya... dingin. Bekas luka di pipi kiri. Mata tajam seperti elang. Usia sekitar empat puluhan.

"Namgung Jin." Suaranya dalam. "Aku Roh Rahasia."

Yang satu lagi tidak membuka topeng. Tapi posturnya—lebih kecil, lebih ramping—menunjukkan bahwa ia mungkin wanita.

"Kami datang dengan perintah langsung dari Cheon Wu-gun."

"Apa perintahnya?"

Roh Rahasia tersenyum—senyum tipis yang tidak ramah. "Atasan ingin kau bergabung dengan Magyo."

Namgung Jin tidak terkejut. Ia sudah menduga ini akan datang.

"Sebagai apa?"

"Sebagai penasihat. Kau punya otak yang luar biasa. Strategimu berhasil—mungkin terlalu berhasil." Ia menatap Namgung Jin tajam. "Tapi kau juga berbahaya. Di luar kendali. Lebih baik kau di dalam, agar bisa diawasi."

"Dan jika aku menolak?"

"Maka kau adalah ancaman."

Ancaman terselubung. Tapi jelas.

Namgung Jin diam sejenak. Bergabung dengan Magyo... itu bisa menguntungkan. Akses lebih besar ke sumber daya, informasi, dan kekuatan. Tapi juga berarti kehilangan kebebasan. Ia akan diawasi, dikendalikan, dan jika suatu saat identitas aslinya terbongkar...

Tapi menolak juga berisiko. Magyo bisa menganggapnya musuh. Dan dengan kekuatan saat ini, ia belum siap menghadapi mereka.

"Apa posisiku nanti?"

"Penasihat khusus. Langsung di bawah Tiga Roh. Kau bisa datang dan pergi relatif bebas, tapi harus siap dipanggil kapan saja."

"Dan kewajibanku?"

"Memberi saran strategis. Kadang membantu merencanakan operasi. Sebagai imbalan, kau dapat perlindungan Magyo—untuk dirimu dan klanmu."

Perlindungan. Itu menarik. Dengan Delapan Sekte yang mulai curiga, perlindungan Magyo bisa jadi tameng yang berguna.

Tapi ada satu syarat yang tidak disebutkan.

"Apa yang tidak kau katakan?"

Roh Rahasia tersenyum. "Kau pintar. Ya, ada satu hal lagi. Kau harus menjalani ritual inisiasi."

"Ritual?"

"Ritual darah. Untuk membuktikan kesetiaan."

"Dan ritual itu?"

"Kau harus membunuh seseorang. Seseorang yang dekat dengan Delapan Sekte. Sebagai tanda bahwa kau tidak bisa kembali."

Namgung Jin diam. Membunuh orang tak bersalah? Itu bukan masalah moral—ia sudah membunuh ribuan dalam hidupnya. Tapi masalah strategi. Jika ia membunuh seseorang yang dekat dengan Delapan Sekte, maka ia akan menjadi buruan mereka. Dan jika suatu hari identitasnya terbongkar, ia tidak punya jalan mundur.

Tapi di sisi lain, itulah intinya: Magyo ingin memastikan ia tidak bisa kembali.

"Siapa korbannya?"

"Kami akan menentukan. Tapi untuk saat ini... ada satu target yang cocok."

Roh Rahasia mengeluarkan gulungan kecil, menyerahkannya pada Namgung Jin.

Ia membuka gulungan itu. Di dalam, sebuah nama dan lukisan wajah.

Pendekar Seo Jin-ho — penyelidik Wudang yang pernah menginterogasinya.

"Dia masih di daerah ini. Menyelidiki jejak Magyo. Dalam tiga hari, ia akan melewati hutan ini sendirian. Bunuh dia, dan buktikan kesetiaanmu."

Namgung Jin menatap gulungan itu lama.

Seo Jin-ho. Pria sombong itu. Bukan orang baik, tapi juga bukan penjahat. Hanya pendekar yang menjalankan tugas.

Tapi di dunia Murim, tidak ada yang hitam putih.

"Aku perlu waktu berpikir."

"Kau punya satu hari. Besok malam, kami tunggu jawabanmu di sini."

Kedua sosok itu menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan Namgung Jin sendirian di tengah hutan.

---

Kembali di paviliunnya, Namgung Jin duduk merenung.

Keputusan sulit. Bukan karena moral—ia sudah melewati fase itu ribuan tahun lalu. Tapi karena strategi.

Jika ia membunuh Seo Jin-ho, ia akan terikat pada Magyo selamanya. Tidak ada jalan mundur. Tapi ia juga akan mendapatkan akses ke kekuatan besar.

Jika ia menolak, Magyo bisa menganggapnya musuh. Dengan kekuatan saat ini, ia belum siap.

"Atau..."

Mungkin ada jalan ketiga.

Ia memanggil Pemburu Kwon.

"Cari tahu di mana Seo Jin-ho menginap. Dan selidiki juga—apa kelemahannya, kebiasaannya, siapa orang-orang terdekatnya."

"Tuan Muda mau membunuhnya?"

"Mungkin. Tapi aku ingin punya pilihan."

---

Dua hari kemudian, Namgung Jin kembali ke hutan.

Roh Rahasia sudah menunggu, sendirian kali ini.

"Kau punya jawaban?"

"Ya."

"Apa?"

Namgung Jin mengeluarkan sesuatu—sebuah kantong kecil berisi... darah?

"Ini darah Seo Jin-ho."

Roh Rahasia terkejut. "Kau sudah membunuhnya?"

"Tidak. Tapi kau minta bukti kesetiaan, kan? Ini darahnya—cukup untuk ritual."

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak membunuhnya. Tapi aku membuatnya tidak akan pernah mengganggu Magyo lagi."

Roh Rahasia mengerutkan kening. "Jelaskan."

Namgung Jin tersenyum. "Seo Jin-ho punya kelemahan: adik perempuannya. Gadis itu tinggal di desa terpencil, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Aku menculiknya—jangan khawatir, dia aman dan tidak terluka. Lalu aku memberi Seo Jin-ho pilihan: berhenti menyelidiki Magyo dan pulang ke Wudang, atau adiknya mati."

"Dia setuju?"

"Dia tidak punya pilihan." Namgung Jin mengeluarkan surat. "Ini surat pengunduran dirinya dari tim penyelidik. Ditulis tangan, dengan darahnya sebagai tanda. Mulai besok, ia akan kembali ke Wudang dan tidak akan ikut campur lagi."

Roh Rahasia membaca surat itu. Wajahnya berubah—campuran kagum dan takut.

"Kau... kau tidak membunuhnya, tapi membuatnya tidak berguna. Itu lebih baik dari sekadar mati."

"Tepat. Mayat akan memancing penyelidikan lebih lanjut. Tapi orang yang hidup dan ketakutan? Ia akan diam, dan tidak ada yang curiga."

Roh Rahasia menatapnya lama.

"Cheon Wu-gun benar. Kau bukan manusia biasa."

"Terima kasih."

"Tapi ritual darah tetap harus dilakukan."

"Ini darahnya." Namgung Jin menunjuk kantong itu. "Bukankah ritual darah hanya butuh darah?"

Roh Rahasia tersenyum. "Kau benar. Ini cukup."

Ia mengambil kantong itu, menyimpannya.

"Selamat datang di Magyo, Penasihat Namgung."

---

Malam itu, Namgung Jin duduk di atap paviliunnya, menatap bintang.

Langkah keenam selesai. Ia kini secara resmi bagian dari Magyo, dengan akses ke informasi dan kekuatan mereka. Tapi ia juga terikat—setidaknya secara formal.

"Tapi ikatan hanya berlaku untuk mereka yang takut melanggarnya."

Ia tidak takut.

Pemburu Kwon muncul. "Tuan Muda, gadis itu—adik Seo Jin-ho—sudah kami kembalikan ke desanya. Ia tidak tahu siapa penculiknya."

"Bagus."

"Tapi Tuan Muda... apa yang akan terjadi jika Seo Jin-ho ingkar janji?"

"Dia tidak akan ingkar. Cinta pada keluarga lebih kuat dari apa pun."

Pemburu Kwon mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya mengerti.

"Ada lagi, Tuan Muda. Delapan Sekte mengadakan pertemuan besar di Shaolin. Mereka membahas serangan Magyo. Dan... mereka membahas tentang 'utusan iblis'."

"Oh?"

"Cerita itu sudah menyebar luas. Banyak yang percaya bahwa utusan itu nyata. Beberapa bahkan mengaitkannya dengan kemunculan kembali Iblis Murim."

Namgung Jin tersenyum. "Bagus. Semakin banyak yang percaya, semakin mudah mengendalikan mereka."

"Tapi Tuan Muda, jika mereka mulai mencari—"

"Biarkan mereka mencari. Mereka tidak akan menemukan apa pun. Karena utusan itu tidak ada."

"Tapi—"

"Utusan itu adalah bayangan. Dan bayangan tidak bisa ditangkap."

Pemburu Kwon diam. Ia mulai mengerti—atau setidaknya, berpura-pura mengerti.

"Pergilah. Istirahat. Besok kita mulai langkah berikutnya."

"Langkah apa, Tuan Muda?"

"Membangun fondasi." Namgung Jin menatap ke kejauhan, ke arah markas Delapan Sekte. "Saat badai datang, mereka yang punya fondasi kuat akan bertahan. Yang lain akan hancur."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!