NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 2 - CH 10 : DONE

Di tengah ruangan yang sudah berubah jadi ring WWE Royal Rumble, waktu seolah membeku di sudut tempat Bara mencekik kerah jas Adrian yang sudah robek.

Tiga ajudan berbadan tegap yang menahan lengan dan leher Adrian saling berpandangan. Mereka bingung. Ini koki dari mana tiba-tiba nyelip minta tagihan di tengah eksekusi mati?

"Mas..." Adrian terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Matanya yang sudah bengkak sebelah menatap Bara dengan tatapan memelas yang menjijikkan. "Lo... lo nggak liat gue lagi mau mati, hah?!"

"Gue liat," jawab Bara dingin. Wajahnya yang celemotan krim putih dan ganache cokelat membuatnya terlihat seperti badut psikopat di film thriller. "Tapi bank gue nggak peduli lo hidup atau mati. Listrik ruko gue jatuh tempo besok. Buka hape lo. Transfer. Sekarang."

Salah satu ajudan berambut cepak menyela, suaranya berat dan mengancam. "Woi, Mas Koki. Mundur. Ini urusan keluarga Jenderal. Cowok bajingan ini mau kita bawa ke belakang."

Bara menoleh perlahan ke arah sang ajudan. Tatapannya kosong, sisa-sisa kewarasan dan empatinya sudah menguap bersama asap knalpot Si Putih di tanjakan tadi. "Pak, saya hargai instansi Bapak. Bapak mau buang dia ke kandang buaya atau direbus pakai kuah soto, silakan. Tapi setelah tagihan kue tiga tingkat saya lunas. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, BENAR?"

Ajudan itu terdiam. Logika tukang tagih memang kadang lebih kuat dari hukum militer. Dia akhirnya melonggarkan sedikit pitingannya di leher Adrian. "Kasih dia waktu satu menit buka hape. Abis itu, urusan kita," gerutu si ajudan.

Adrian dengan tangan gemetar merogoh saku celananya. Beruntung, HP mahalnya belum hancur. Dengan jari yang bergetar hebat dan berlumuran sedikit darah, dia membuka aplikasi M-Banking. Layarnya memantulkan wajahnya yang hancur.

"Sisa... sisa pelunasan tiga juta... plus... uang tutup mulut lima juta... total delapan juta, kan?" suara Adrian bergetar, lebih mirip isak tangis.

"Nomor rekening gue udah ada di history lo. Jangan pura-pura lupa," desis Bara, matanya mengawasi layar HP Adrian seperti elang mengawasi mangsa.

Ting.

Sebuah notifikasi pop-up muncul di layar HP Adrian, disusul getaran di saku celana jins Bara.

Transfer Berhasil. Rp 8.000.000,00.

Bara melepaskan cengkeramannya dari kerah Adrian, merapikan sedikit jas cowok itu yang sudah tak berbentuk, lalu menepuk pundaknya dua kali. "Transaksi selesai. Makasih buat tip-nya, Mas Adrian. Selamat menikmati after-party Anda."

Bara mundur selangkah. Tiga ajudan itu langsung menyeret Adrian kembali menuju kegelapan ruang belakang rumah mewah tersebut. Sayup-sayup terdengar teriakan Adrian yang makin lama makin menghilang, ditelan suara tangisan Sarah dan makian Ibu Jenderal di tengah ruangan.

Bara berbalik. Dia melihat Mang Ojak sudah bersembunyi di bawah meja dessert, memeluk toples permen loli erat-erat. Sementara Lintang masih berdiri di atas kursi, kameranya menyorot ke segala arah, merekam ibu-ibu sosialita yang lari pontang-panting menyelamatkan tas Dior mereka dari lemparan piring prasmanan.

"LINTANG! MANG OJAK! EVAKUASI SEKARANG!" raung Bara, suaranya membelah kekacauan.

Mendengar komando itu, Mang Ojak langsung merangkak keluar dari bawah meja dengan kecepatan yang tak terduga untuk pria berumur lima puluhan. Lintang melompat dari kursi, nyaris terjerembap karena menginjak sisa kelopak mawar di karpet.

"Tas alat, Tang!" Bara mengingatkan.

"Udah aman, Mas!" balas Lintang sambil memeluk tas ransel itu di dadanya.

Mereka bertiga berlari menuju pintu utama. Ini bukan kabur yang estetik ala film action. Ini murni insting bertahan hidup mamalia. Bara sempat terpeleset genangan kuah sop dari panci pemanas yang terguling, tapi berhasil menyeimbangkan diri berkat skill keseimbangan yang terlatih dari membawa nampan licin.

"Misi, Bu! Misi, Pak! Orang miskin mau lewat!" teriak Lintang tanpa dosa, menyingkirkan kerumunan tamu yang berdesakan di pintu keluar. Begitu udara pagi yang mulai terasa terik menerpa wajah mereka, kelegaan yang luar biasa terasa. Halaman depan sudah dipenuhi tamu yang berhamburan mencari mobil masing-masing di bawah sinar matahari jam sembilan pagi. Valet parking kewalahan. Di pojok paling ujung dari halaman itu, Si Putih, Espass tua mereka, berdiri dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Mang, panasin mesin! Kita cabut sebelum polisi dateng!" perintah Bara sambil membuka pintu geser mobil dengan kasar.

Mereka bertiga masuk. Mang Ojak di kursi kemudi, tangannya masih gemetar mencari lubang kunci kontak. Lintang meringkuk di kursi tengah, napasnya ngos-ngosan. Bara duduk di kursi penumpang depan, bajunya masih lengket oleh whipped cream dan darah (sedikit darah Adrian, sisa banyak krim cokelat).

Cek-cek-cek... ngiiiiiik. Mesin Si Putih tidak mau menyala.

"MANG! JANGAN BERCANDA MANG!" jerit Lintang panik. "Ini bukan sinetron yang mobilnya mogok pas lagi dikejar pembunuh!"

"Sabar, Neng! Si Putih kaget tadi abis nanjak dipaksa mati, sekarang dipaksa hidup lagi!" Mang Ojak memompa pedal gas. Keringatnya bercucuran membasahi setir. "Ayo dong, Manis... demi bensin pertamax besok, nyala dong!"

BRRRM! BUP BUP BUP BUP.

Mesin menderu kasar, menyemburkan asap hitam tebal dari knalpot yang langsung membuat batuk satpam di dekat gerbang.

"Gas, Mang!" teriak Bara.

Si Putih melesat, meninggalkan halaman istana neraka itu. Mereka berbelok tajam ke arah Jalan Melati, kembali menghadapi tanjakan maut yang kini menjadi turunan maut. Beruntung, karena jalanan sepi, Mang Ojak bisa membiarkan mobil itu meluncur turun hanya dengan mengandalkan rem yang berdecit nyaring.

Di dalam kabin, keheningan menyergap. Suara yang terdengar hanya deru mesin dan gesekan ban botak dengan aspal.

Bara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang buram. Angin pagi masuk dari celah jendela yang rusak, mendinginkan wajahnya yang kaku oleh sisa gula. Dia menatap layar HP-nya. Angka Rp 8.000.000 terpampang jelas di mutasi rekening.

Uang ini... haram nggak ya? Pikir Bara sejenak. Lima jutanya murni uang sogokan untuk menutupi perselingkuhan. Tapi secara teknis, dia sudah melakukan tugasnya: mengubah nama di atas kue. Tapi, kebohongan itu akhirnya terbongkar dan itu bukan salahnya. Lagipula, kue Black Forest itu hancur menimpa dadanya. Anggap saja lima juta itu kompensasi dry cleaning kemeja flanelnya dan asuransi jiwa dadakan.

"Gila..." suara Lintang memecah keheningan. "Bener-bener gila."

Bara menoleh ke belakang. Wajah Lintang diterangi cahaya dari layar HP-nya. Gadis berambut pink itu sedang mengedit videonya dengan kecepatan jari setingkat gamer e-sports.

"Dapet footage bagus lo?" tanya Bara sinis.

"Bukan sekadar bagus, Mas. Ini mah masterpiece!" Mata Lintang berbinar terang. "Gue dapet adegan si selingkuhan ngelabrak. Gue dapet adegan Bapak Jenderal ngamuk. Dan yang paling epic... gue dapet adegan lo sliding tackle nangkep kue Black Forest kayak kiper timnas! Mas, sumpah demi kerang ajaib, ini kalau gue upload pake sound jedag-jedug, views-nya tembus sejuta besok pagi!"

Bara memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Jangan lo upload muka gue, Tang. Blur muka gue sama plat nomor Si Putih. Gue nggak mau ruko kita didatengin PM (Polisi Militer) besok buat jadi saksi."

"Aman, Mas. Gue profesional soal sensor-menyensor. Yang penting engagement!" Lintang tertawa kegirangan, sudah lupa dengan rasa takut sepuluh menit yang lalu. FOMO (Fear Of Missing Out) memang obat penenang terbaik buat Gen Z.

Mang Ojak melirik dari kaca spion tengah. Senyum tipis mengembang di bibir keriputnya. "Jadi, kita teh kaya dadakan, Den?"

Bara mengunci layar HP-nya dan memasukkannya kembali ke saku. Dia melihat sisa-sisa krim di tangannya. Lengket dan manis. Sangat kontras dengan realita hidup yang baru saja dia saksikan.

"Kaya sih nggak, Mang. Tapi seenggaknya besok kita bisa ganti kampas kopling Si Putih, bayar token listrik, dan..." Bara melirik Lintang, "Lo bisa beli skincare mugwort lo yang setahun itu."

Lintang bersorak girang.

Mobil itu melaju santai membelah jalanan kota yang mulai macet oleh orang-orang sibuk berangkat kerja dan ke pasar. Sinar matahari pagi memantul terik di kaca depan.

Bara merenung. Peristiwa pagi ini memberikan satu pelajaran berharga buatnya. Orang-orang di luar sana rela menghancurkan hidup, mengeluarkan uang puluhan juta, dan menyakiti satu sama lain... hanya demi sesuatu yang bernama 'Cinta'. Sebuah konsep abstrak yang bahkan lebih rapuh dari whipped cream di suhu ruangan.

Adrian hancur karena cinta (atau nafsu, lebih tepatnya). Sarah patah hati karena cinta. Mona marah karena cinta. Semuanya kacau. Semuanya chaos.

"Makanya gue bilang apa, Tang," gumam Bara memecah kesunyian, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Nikah itu mahal. Cinta itu scam terbesar abad ini. Mending kita fokus bikin adonan. Terigu nggak pernah selingkuh, dan oven nggak pernah bohong soal panasnya."

Lintang yang sedang sibuk mengetik caption TikTok mendengus pelan. "Halah. Bacot, Mas. Bilang aja lo takut disakitin lagi. Trauma lo tuh valid, tapi denial lo ketinggian."

Bara terdiam. Skakmat dari asistennya sendiri. Dia memilih untuk pura-pura memejamkan mata dan tertidur. Di luar, matahari pagi semakin menyengat, seakan ikut menertawakan kekacauan hari ini. Arc kedua dari buku menu Bara's Kitchen resmi ditutup dengan saldo rekening yang membengkak, kemeja yang bau amis telur, dan sebuah keyakinan baru di hati Bara: Jangan pernah terima pesanan dari cowok yang ngasih nama pake chat subuh-subuh.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!