NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB I : FOTO KEMBARAN

Lantai semen dingin di halaman belakang rumah sakit memantulkan sinar matahari pagi yang mulai menyinari kota Medan. Udara masih segar dengan sedikit embun yang menempel pada permukaan bak cuci besar yang terbuat dari beton bertulang. Lia duduk bersandar pada tembok bata yang sudah lapuk akibat paparan cuaca selama bertahun-tahun, tangan kirinya masih basah dan berlendir deterjen setelah menghabiskan satu jam mencuci sepuluh karung pakaian pasien yang dikumpulkan dari berbagai ruangan rawat inap. Di mejanya yang hanya terbuat dari papan kayu bekas yang disambung-sambungkan, sebuah bingkai foto kecil berbentuk hati terpampang jelas – tiga bayi yang tertidur berdampingan di bak mandi plastik berwarna biru muda, wajah mereka masih kusam akibat efek kamera jadul yang digunakan oleh teman kerja suaminya saat lahirnya delapan tahun silam.

Setiap garis pada wajah bayi itu tertanam jelas di ingatan Lia. Mal yang terletak di sisi kiri foto memiliki lekukan kecil di bibir bawahnya yang sama persis dengan Lia, sementara Rini di sisi kanan memiliki alis yang sedikit miring ke atas seperti ayahnya. Namun yang paling membuat hatinya terasa sakit adalah bayi di tengah – Adit – yang memiliki bintik merah kecil berbentuk hati di bagian punggung kanannya, sebuah ciri khas yang tidak akan pernah dia lupakan meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Foto itu ditempelkan pada bingkai kayu yang dia buat sendiri dari potongan kayu bekas yang dia temukan di belakang rumah sakit, dilapisi dengan kain flanel merah muda yang menjadi hadiah dari Mal saat ulang tahunnya yang ke-7.

Bayangan itu selalu menghiasi malam-malam Lia sejak Supriyanto meninggal dalam kecelakaan konstruksi, tepat seminggu sebelum ia melahirkan kembar tiga. Saat itu, ia hanya memiliki cukup uang untuk biaya persalinan dasar dan obat-obatan sederhana yang diberikan oleh rumah sakit. Tanpa keluarga yang bisa membantu – orang tuanya sudah meninggal jauh di Dusun Wonosari, Kabupaten Jombang, Jawa Tengah dan saudara-saudaranya sibuk dengan kehidupannya masing-masing di berbagai kota – Lia terpaksa tinggal di kontrakan kecil milik Bu Warsih, seorang ibu tunggal yang juga bekerja sebagai penjaga malam di rumah sakit tersebut. Kontrakan yang hanya berukuran empat kali lima meter itu menjadi tempat tinggal mereka berempat selama beberapa bulan sebelum Lia terpaksa membuat keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.

“Siang sudah, Lia. Udara mulai panas nih, kamu istirahat sebentar saja,” ucap Pak Joko, kepala bagian cuci yang telah mengenalnya selama lima tahun, sambil membawa segelas air putih hangat yang diberikan oleh Bu Siti dari bagian makanan rumah sakit. Pak Joko yang sudah berusia lima puluhan tahun memiliki wajah yang penuh kerutan akibat bekerja di bawah sinar matahari setiap hari, namun senyumnya selalu hangat seperti ayah bagi Lia dan rekan kerja lainnya. “Kamu sudah menyelesaikan semua pakaian dari ruangan perawatan intensif dan anak-anak. Istirahat sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan sore – ada pesanan cuci dari ruangan dokter yang harus diselesaikan sebelum jam empat sore.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut, menerima gelas air putih dengan tangan yang penuh dengan kapalan akibat sering bersentuhan dengan deterjen dan air panas. Dia menyimpan bingkainya yang penuh dengan catatan kecil tentang setiap pasien yang pernah dia rawat – mulai dari nama, jenis kelamin, hingga kondisi pakaian yang perlu diperhatikan khusus. Di halaman terakhir buku catatan itu, terdapat catatan khusus tentang kondisi Adit saat lahir – berat badan 1,8 kilogram, panjang badan 45 sentimeter, denyut jantung stabil pada angka 140 kali per menit, dan bintik merah berbentuk hati kecil di bagian punggung kanan, dekat tulang belikat. Catatan itu ditulis dengan pena yang sudah aus di bagian ujungnya, hasil dari bertahun-tahun mencatat setiap detail yang mungkin bisa membantunya menemukan anaknya kelak.

Di depan pagar rumah kontrakan yang terletak tidak jauh dari gerbang belakang rumah sakit, Mal dan Rini – yang kini berusia delapan tahun – sedang bermain dengan tali loncat yang diberikan oleh tetangga sebelah yang bekerja sebagai perawat di bagian anak-anak. Rambut mereka yang lurus dan hitam seperti ibunya tertiup angin pagi yang membawa aroma bunga melati dari taman rumah sakit. Wajah mereka yang hampir sama persis membuat setiap orang yang melihatnya terkadang bingung membedakan siapa yang mana – hanya lekukan kecil di bibir Mal dan alis yang miring pada Rini yang bisa membedakannya.

“Bu, kamu sudah selesai kerja belum? Kita mau makan bubur ayam yang Bu Warsih masak lho,” teriak Mal dengan suara ceria saat melihat ibunya mulai membersihkan alat-alat cuci yang digunakan. Dia membawa mangkuk plastik berisi bubur ayam hangat yang masih mengeluarkan uap panas, disertai dengan kerupuk udang yang digoreng sebentar saja agar tetap renyah.

“Sebentar lagi Nak, ibu baru mau menyelesaikan beberapa pakaian terakhir ini,” jawab Lia sambil menyiram pakaian putih dokter dengan air bersih untuk menghilangkan sisa deterjen yang menempel. Namun saat Mal mendekat lebih dekat, dia melihat foto kecil itu yang masih terpampang di mejanya dan tiba-tiba menjadi tenang. Matanya yang biasanya ceria kini penuh dengan rasa ingin tahu yang sudah tidak bisa dia tahan lagi setelah bertahun-tahun melihat foto itu setiap kali mengunjungi ibunya di tempat kerja.

“Bu, kenapa Kak Adit selalu hanya ada di foto? Kapan dia akan datang ke rumah kita? Saya ingin main bareng dia, belajar bersama, dan berbagi makanan seperti teman-teman di sekolah yang punya saudara kandung,” ucap Mal dengan suara lembut, tangannya masih memegang mangkuk bubur ayam yang mulai dingin akibat udara pagi yang semakin panas. Di matanya terlihat sedikit kebingungan dan rasa rindu yang sama dengan yang pernah Lia rasakan selama bertahun-tahun.

Rini yang sebelumnya sibuk bermain dengan tali loncat juga mendekat, mendengar pertanyaan kakaknya yang sama dengan yang selalu muncul di benaknya. Dia duduk di sisi Lia dengan hati-hati, tidak berani berbicara namun matanya yang besar dan gelap penuh dengan harapan akan jawaban dari ibunya. Lia menarik kedua anaknya ke pangkuannya, menghirup aroma rambut mereka yang masih wangi karena sampo murah rasa melati yang dia beli dari kios dekat pasar Cikini. Kulit mereka yang hangat membuat hati Lia terasa lebih tenang, seperti selalu terjadi setiap kali dia memeluk anak-anaknya.

“Kita akan bertemu dengannya suatu hari nanti, sayang,” ucapnya dengan suara yang penuh keyakinan meskipun hati terkadang merasa goyah ketika memikirkan kemungkinan tidak akan pernah bertemu dengan anaknya lagi. “Ibu selalu berusaha mencari tahu keberadaannya melalui semua cara yang mungkin, dan ibu yakin kita akan bertemu lagi – tidak peduli seberapa lama waktu yang diperlukan atau seberapa jauh dia berada dari kita.”

Di sudut mejanya yang sudah mulai lapuk akibat sering terkena air dan sabun, sebuah buku catatan kecil yang sudah lapuk tergeletak rapi di bawah tumpukan kain bersih yang baru saja dia jemur. Buku itu dibungkus dengan plastik bening agar tidak rusak akibat kelembaban udara Medan yang tinggi. Di dalamnya tercatat semua informasi yang dia kumpulkan selama delapan tahun – dari nama lembaga adopsi yang tidak bisa dia jejaki hingga alamat-alamat rumah sakit di berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Palembang yang pernah dia kunjungi untuk menanyakan anak yang hilang dengan ciri khas sama seperti Adit. Setiap halaman buku itu dihiasi dengan gambar kecil yang dia lukis sendiri menggunakan pulpen bekas – gambar tiga bayi yang tertidur berdampingan, dengan hati kecil yang menggambarkan bintik merah di punggung salah satu di antaranya, serta nama masing-masing anak yang ditulis dengan huruf yang rapi dan jelas.

Saat matahari mulai berpindah ke arah barat dan sinarnya semakin menyinari halaman belakang rumah sakit, Lia mulai membersihkan alat-alat kerjanya yang sudah aus akibat sering digunakan. Dia menyimpan foto kecil itu ke dalam amplop kertas coklat yang sudah dia gunakan selama bertahun-tahun, kemudian menyimpannya dengan hati-hati di dalam laci mejanya yang selalu terkunci rapat dengan kunci kecil yang diberikan oleh Supriyanto sebelum dia menikah. Kunci kecil itu selalu berada di sekitar lehernya, bersama dengan kalung kecil berbentuk hati yang terbuat dari perak – hadiah dari Supriyanto saat pertama kali mereka bertemu di pasar Cikini lima tahun sebelum menikah.

“Besok kita akan pergi ke kantor komunitas pencari anak hilang yang baru saja dibuka di Jalan Gatot Subroto,” ucap Lia kepada Bu Warsih yang baru saja datang membawa makanan untuk anak-anak. Udara sore yang semakin panas mulai terasa lebih sejuk dengan hembusan angin dari arah kebun raya yang terletak tidak jauh dari rumah sakit. “Mereka punya banyak informasi tentang anak-anak yang hilang dan mungkin bisa membantu kita menemukan jejak Adit dengan cara yang lebih baik dan sesuai hukum.”

Bu Warsih mengangguk dengan senyum hangat, tangannya yang juga penuh kapalan menepuk bahu Lia dengan lembut. Dia sudah melihat betapa keras Lia bekerja selama bertahun-tahun tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan Mal dan Rini, tetapi juga untuk mencari anaknya yang hilang. “Aku akan selalu mendukungmu dalam segala cara yang bisa aku lakukan, Lia,” ucapnya dengan suara yang penuh kasih sayang seperti ibu bagi Lia yang sudah tidak punya keluarga lagi di kota ini. “Kamu sudah bekerja keras cukup lama untuk anak-anakmu. Semoga kamu menemukan jawaban yang kamu cari dan bisa bersama anakmu kembali seperti yang kamu impikan.”

Lia mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, kemudian melihat ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan saat matahari mulai terbenam. Di kejauhan, dia bisa melihat anak-anak yang sedang bermain di taman rumah sakit dengan orang tuanya yang datang menjenguk mereka. Setiap kali melihat momen seperti itu, hatinya selalu terasa sakit namun juga semakin kuat untuk terus mencari Adit – karena dia tahu bahwa anaknya pasti juga merindukan kehangatan keluarga yang sama seperti yang diberikan kepada Mal dan Rini setiap hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!