NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Bertahan Tanpa Pilihan

Yuda terbangun bukan karena cahaya matahari, melainkan karena tubuhnya sendiri yang terasa nyeri dari ujung kaki hingga bahu.

Ia membuka mata perlahan dan langsung menyesal karena langit-langit batu yang menyambutnya sama suramnya dengan malam sebelumnya.

"Catatan penting," gumamnya pelan.

"Jika selamat dari tempat ini, jangan pernah mendaftar ke tempat latihan yang direkomendasikan orang tua berjanggut tanpa ekspresi." lanjut gumamnya.

Di sudut ruangan, Tara sudah bangun. Kucing putih kecil itu sedang menjilati kaki depannya dengan ekspresi santai, seolah mereka berada di penginapan murah, bukan di tempat yang bisa membunuh seseorang tanpa peringatan.

"Kau tidur seperti mayat yang ditinggal sebentar," kata Tara.

"Aku sempat memastikan kau masih bernapas."

"Terima kasih atas perhatiannya," jawab Yuda sambil duduk.

"Sungguh menenangkan."

Ia mencoba berdiri. Lututnya langsung bergetar.

"Oke," katanya.

"Ini jelas bukan hari yang baik untuk lari pagi."

Belum sempat ia menggerutu lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan, suara langkah yang berat dan teratur.

"Bangun," suara Guruh terdengar.

"Latihan dimulai."

Yuda menarik napas panjang.

"Aku baru saja bangun."

"Bagus," jawab Guruh dari balik pintu batu.

"Artinya kau belum mati."

Pintu batu terbuka. Udara dingin dari luar masuk bersama Guruh. Wajahnya tetap datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh kondisi Yuda yang jelas tidak prima.

"Hari ini kau akan belajar bertahan saat tubuhmu tidak mau menuruti perintah." kata Guruh.

"Sejujurnya aku sudah mulai mempraktikkan itu sejak bangun tidur." kata Yuda.

Tara tertawa kecil. Suara itu lebih mirip dengusan, tapi jelas bernada mengejek.

Latihan pun dimulai tanpa pemanasan.

Guruh memerintahkan Yuda berdiri di tengah lingkaran latihan.

Tekanan langsung terasa begitu telapak kaki Yuda menyentuh pusat lingkaran.

Tidak seperti hari sebelumnya, tekanan kali ini datang bertahap, seperti tangan tak terlihat yang menekan dari berbagai arah.

"Jangan melawan, dan jangan melarikan tenaga." kata Guruh.

"Kalau aku pingsan?" tanya Yuda.

"Bangun lagi," jawab Guruh.

Yuda hanya mendengus kesal karena mendengar jawaban itu yang sama sekali tidak membantu.

Tekanan pun meningkat. Yuda merasakan napasnya menjadi pendek. Dadanya sesak, seolah udara di sekitarnya menolak masuk ke paru-parunya.

"Tara, kalau aku mati, tolong bilang ke keluargaku bahwa aku sudah berusaha." katanya terengah.

"Tenang saja, kalau kau mati, aku akan memastikan mereka tahu kau mati dengan cara bodoh, Hihihi..." jawab Tara.

"Itu sama sekali tidak menenangkan." dengus Yuda kembali kesal.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin lebih lama. Yuda kehilangan rasa waktu.

Yang ia tahu hanyalah tubuhnya mulai gemetar hebat. Lututnya hampir menyerah.

"Cukup," kata Guruh akhirnya.

Tekanan menghilang mendadak dan Yuda jatuh berlutut hingga hampir mencium lantai batu.

"Bagus, kau tidak melepaskan tenaga." lanjut Guruh.

"Aku terlalu sibuk mencoba bernapas," balas Yuda.

Tara melompat mendekat.

"Ini termasuk kemajuan, kemarin kau sudah pingsan di titik ini." katanya

"Aku senang mendengar kata perkembangan positif itu," jawab Yuda datar.

Namun latihan tidak berhenti di situ.

Sesi kedua dimulai setelah Yuda hanya diberi waktu beberapa tarikan napas. Kali ini Guruh memerintahkan Yuda bergerak mengelilingi lingkaran tanpa keluar dari batasnya.

"Tekanan akan berubah, sesuaikan langkahmu." kata Guruh.

"Dan kalau aku tersandung?" tanya Yuda cepat

"Ya jangan sampai tersandung, dasar bocah bodoh" jawab Guruh dengan datar.

Yuda mendesah, lalu mulai melangkah. Setiap langkah terasa seperti berjalan melawan arus sungai. Tekanan kadang menarik kakinya, kadang mendorong bahunya. Beberapa kali ia hampir jatuh.

Sedangkan kini terlihat Tara yang sedang berjalan di tepi lingkaran.

"Kalau kau jatuh, aku akan tertawa." katanya

"Aku menghargai kejujuranmu." jawab Yudah dengan datar karena sudah terlalu kesal oleh ucapakan kucing buntal itu.

Waktu berlalu lambat. Keringat membasahi punggung Yuda.

Bajunya terasa berat dan lengket. Namun perlahan, ia mulai menemukan ritme. Ia tidak melawan tekanan, tapi membiarkannya mengarahkan langkahnya.

"Itu, kau sudah mulai memahami." kata Guruh.

Yuda hampir tersenyum, lalu terpeleset.

Ia akhirnya jatuh telentang.

"Atau belum," tambah Guruh setelah melihat kejadian itu dengan wajah yang terlihat sedikit menahan tawa.

Sedangkan Tara malah tertawa tanpa menahan diri.

"Aku bilang juga apa." ucap Tara lirih dengan tawanya.

Setelah sesi itu berakhir, Yuda terbaring di lantai, menatap langit-langit batu.

"Aku ingin tahu, apakah semua muridmu melalui latihan seperti ini?" tanya Yuda kepada Guruh.

"Tidak, hanya yang berpotensi menghancurkan tempat ini saja, sepertimu." jawab Guruh.

"Oh, jadi aku istimewa." jawab Yuda dengan sedikit menyunggingkan senyuman aneh.

"Hmm, ahanya dalam arti tertentu," jawab Guruh datar.

Siang di tempat itu tidak berbeda dengan pagi atau malam. Cahaya tidak pernah benar-benar masuk. Yang berubah hanyalah rasa lapar.

Yuda duduk bersandar sambil mengunyah makanan kering yang dibawa pengawas.

"Ini rasanya seperti kayu," katanya.

"Kayu mahal kan, aku pernah memakannya di alam lain." jawab Tara yang malah mengiyakan ucapan Yuda.

"Jawabanmu itu kenapa tidak pernah membuatku merasa lebih baik, dasar kucing buntal jelek." gumam Yuda lirih menjawabnya.

Sore hari, latihan kembali dimulai.

Kali ini Guruh tidak memberi instruksi rinci. Ia hanya berdiri di luar lingkaran.

"Bertahan," katanya.

Tekanan datang lebih kuat dari sebelumnya. Yuda menggertakkan gigi. Ia merasakan sesuatu bergerak di dalam tubuhnya, ingin keluar.

"Jangan," kata Tara cepat.

"Tahan."

Yuda menahan. Seluruh tubuhnya bergetar, membuat pandangannya akhirnya semakin berkunang.

"Hmm, ingatlah, aku tidak akan selalu di sini, dan mereka tidak akan selalu menguji dengan cara lembut." kata Guruh dengan tiba-tiba.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari tekanan apa pun.

Saat akhirnya latihan dihentikan, Yuda pun jatuh terduduk dengan napasnya yang sangat terengah.

"Aku benci tempat ini," katanya.

"Wajar," jawab Tara.

"Tapi nyatanya kau masih hidup, bahkan sampai sejauh ini, kau sepertinya menikmatinya, hihihi..." lanjut Tara menggodanya.

Malam kembali datang tanpa perubahan.

Yuda berbaring di lantai batu, tubuhnya terasa remuk.

"Tara, kenapa kau masih di sini?" katanya pelan.

Tara pun terdiam sejenak.

"Karena kalau aku pergi, kau pasti akan cepat mati." katanya akhirnya.

Yuda pun hanya tersenyum tipis.

"Jawaban yang jujur." gumamnya kemudian yang kemudian memejamkan matanya.

Di luar bangunan batu hitam, angin bergerak pelan meniup setiap daun yang jatuh, hingga menyebabkan suara lirih gemertak di udara.

Sedangkan jauh di tempat lain, yang terletak jauh dari lembah itu, sebuah keputusan yang besar pun akhirnya sudah mulai diambil.

Hari ini pun berakhir dengan satu hal yang jelas yaitu bahwa Yuda belum cukup kuat, namun ia belajar akan satu hal yang penting yaitu,

Bertahan adalah pilihan pertama sebelum menjadi apa pun yang lain.

......................

Malam pun turun tanpa suara angin.

Bangunan batu hitam yang selama ini terasa mati tiba-tiba bergetar pelan, seperti ada sesuatu yang bernafas di dalam dindingnya.

Yuda yang sedang duduk bersila langsung membuka mata. Aliran tenaga di tubuhnya tersendat, bukan karena ia gagal mengendalikan diri, melainkan karena ada tekanan asing yang masuk begitu saja, kasar dan tidak sopan.

Tara, yang sejak sore hanya berpura-pura tidur, berdiri dengan bulu leher sedikit mengembang.

“Ini bukan latihan,” katanya singkat. “Dan bukan juga kesalahan formasi.”

Retakan tipis muncul di lantai batu, membentuk garis yang tidak dikenal Yuda.

Garis itu berdenyut seperti urat nadi, mengalirkan energi yang sama sekali berbeda dari tenaga yang diajarkan Guruh.

Bau logam panas dan tanah basah bercampur menjadi satu.

Di kejauhan, lonceng peringatan yang seharusnya tidak pernah berbunyi di tempat ini, berdentang satu kali, lalu dua, lalu berhenti.

Itu jauh lebih menakutkan daripada bunyi terus-menerus.

Yuda berdiri perlahan. Tubuhnya masih lelah, napas belum sepenuhnya stabil, tetapi nalurinya mengatakan satu hal dengan jelas.

Apa pun yang datang kali ini tidak berniat menguji.

Di langit di atas bangunan batu hitam, awan mulai berputar membentuk lingkaran besar. Cahaya redup turun seperti tirai yang ditarik paksa. Dari celah formasi pelindung, terasa tekanan yang membuat lutut orang biasa langsung ambruk.

Tara pun menoleh ke arah Yuda.

“Kalau aku salah, tolong ingatkan aku untuk tidak pernah lagi menyebut tempat ini aman.” katanya, mencoba bercanda setengah hati.

Yuda yang mendengarnya tidak tertawa sama sekali.

Ia mengepalkan tangan, merasakan aliran tenaga yang selama ini ia tekan perlahan mulai bergerak sendiri, seolah menyambut sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.

Di balik awan berputar itu, sebuah kehadiran turun tanpa menyentuh tanah.

Dan untuk pertama kalinya sejak kelahirannya, Yuda merasa bahwa langkah kecilnya selama ini akhirnya sampai di ambang sesuatu yang tidak bisa dihindari.

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!