Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bel istirahat pertama baru saja berdering, tapi suasananya sudah seperti pasar kaget. Tasya baru saja akan menyeretku ke kantin saat bayangan jangkung muncul di ambang pintu kelas XI-IPA 2.
Seketika, bisik-bisik di dalam kelas yang tadinya riuh mendadak senyap, lalu meledak menjadi sorakan.
"Waduh, ada tamu agung! Salah alamat ya, Capt? Lapangan basket belok kiri, ini mah lapangannya Nara!" teriak salah satu teman sekelasku dari pojok belakang.
Arkan hanya menanggapi dengan lambaian tangan santai, seolah ejekan itu adalah musik di telinganya. Ia berjalan tenang melewati barisan meja, mengabaikan tatapan penasaran anak-anak lain, dan berhenti tepat di depan mejaku.
"Belum ke perpus, kan?" tanyanya sambil menyandarkan pinggul di pinggiran mejaku. Gayanya yang kasual namun dominan membuat beberapa siswi di barisan depan curi-curi pandang.
Aku menghela napas, berusaha tetap tenang meski tanganku sibuk merapikan kotak pensil yang sebenarnya sudah rapi. "Tadinya mau ke sana sebelum lo dateng."
"Untung gue gerak cepat," Arkan meletakkan sebuah kotak makan plastik berwarna biru di atas tumpukan bukuku. "Buatan Mama. Katanya buat 'calon asuransi' gue biar nggak pusing ngerjain soal terus."
Tasya yang masih berdiri di sampingku langsung tersedak ludahnya sendiri. "Mama? Calon? Wah, Ra, lo udah dapet restu jalur langit ya?"
"Tas, diem," desisku, tapi wajahku tetap saja mengkhianatiku dengan rona merah yang makin menjadi.
Arkan tertawa kecil, suara renyah yang biasanya kudengar dari balik pintu kamar Kak Pandu kini terasa begitu dekat. "Ayo makan di koridor belakang aja. Di sini terlalu banyak 'CCTV' manusia," bisiknya sambil melirik teman-temanku yang pura-pura sibuk tapi telinganya memanjang ke arah kami.
Aku sempat ragu. Menuruti ajakannya berarti memvalidasi semua gosip di sekolah. Tapi saat melihat Arkan yang menatapku dengan binar penuh harap—seperti anak kecil yang memamerkan hasil gambarnya—aku tidak bisa berkata tidak.
"Lima belas menit. Setelah itu gue mau ke perpus," kataku akhirnya sambil berdiri.
"Siap, Tuan Putri," Arkan memberi hormat dengan jari telunjuk di pelipisnya.
Kami berjalan beriringan keluar kelas. Setiap langkah yang kami ambil seperti panggung sandiwara yang ditonton seluruh penghuni koridor. Arkan dengan sengaja berjalan sedikit lebih lambat agar bisa sejajar denganku, sesekali bahunya menyentuh bahuku pelan.
Di koridor belakang yang lebih sepi, kami duduk di bangku panjang. Arkan membuka kotak makannya—nasi goreng dengan telur ceplok berbentuk hati yang sedikit gagal bentuknya.
"Gue yang goreng telurnya. Mama cuma masak nasinya," akuinya jujur sambil memberikan sendok plastik padaku. "Jangan diketawain kalau rasanya agak asin."
Aku menyuap satu sendok kecil. Rasanya... memang agak asin, tapi ada rasa hangat yang tidak bisa dijelaskan dengan lidah.
"Enak," bohongku, tapi aku tersenyum.
Arkan terpaku melihat senyumku. Ia berhenti menyuap nasinya sendiri. "Tahu nggak, Ra? Itu senyum paling mahal yang pernah gue liat. Kayaknya cicilan gue hari ini lunas, bahkan sisa kembalian."
"Gombal lo basi, Arkan," jawabku, meski dalam hati aku mulai bertanya-tanya: sampai kapan aku bisa menahan diri untuk tidak jatuh seutuhnya ke dalam pesona laki-laki ini?
Tiba-tiba, seorang siswi dari kelas sebelah lewat dan menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara iri dan tidak suka. Arkan yang menyadari itu langsung menggeser duduknya lebih dekat denganku, seolah sedang memproklamirkan bahwa aku adalah wilayah yang sedang ia jaga.
"Nara," panggilnya lembut di tengah kunyahan nasinya.
"Hmm?"
"Nanti pulang sekolah... temenin gue ke satu tempat ya? Bukan rumah, bukan sekolah. Cuma tempat gue."