Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~07
"Ayo masuk mas lihat apa sih?" tegur Astuti ketika suaminya berhenti di depan pintu padahal ia sudah sangat rindu kepada pria itu.
Joko pun segera masuk. "Marni sudah pulang dek?" ucapnya menatap sang istri.
"Hm baru tadi sore, dia itu sok kecaperan tahu ga mas masa taraweh yang lainnya sudah pulang dia malah asyik menggoda para pemuda disini." tukas Astuti mulai membuat gosip seraya menuntun suaminya itu untuk duduk di sofa baru mereka.
"Masa sih?" Joko nampak tak percaya karena yang ia tahu Marni seorang gadis sholehah yang tidak pernah macam-macam di kampung ini bahkan tadi saat ia lihat penampilan gadis itu masih sama seperti dulu saat sebelum berangkat merantau ke kota, istrinya paling salah sangka saja siapa tahu Marni sedang temu kangen bersama teman-temannya karena ia sendiri pun saat pulang seperti ini pasti banyak teman yang datang menemuinya.
"Iya mas dia bilang kerja jadi pelayan cafe di kota, itu adiknya dibelikan motor seharga 30juta." tukas Astuti lagi mulai berapi-api.
"Benarkah?" Joko sedikit terkejut mendengarnya karena setahunya gaji pelayan cafe di kota hanya berkisaran 2 juta saja dan itu berarti gaji dalam setahun habis untuk digunakan membeli motor buat adiknya, kasihan sekali gumamnya karena sebagai tetangganya selama bertahun-tahun ia tahu jika ibunya Marni memang sedikit pilih kasih terhadap anak-anaknya.
"Benar mas, tadi ku lihat dia juga pakai gelang dan cincin emas." Astuti kembali mengadu dan jika sudah seperti ini wanita itu pasti akan merengek minta suaminya belikan juga.
"Modelnya terbaru nanti belikan ya mas," imbuhnya lagi dan sudah Joko tebak itu pasti terjadi padahal bulan kemarin istrinya baru saja minta membeli sofa seharga 5 juta karena tetangga depan rumahnya baru juga beli sofa.
"Paling emas imitasi dek lagipula Marni dapat uang darimana orang semua gajinya habis untuk membeli motor adiknya," sahut Joko seraya beranjak dari duduknya.
"Lebih baik buatkan mas kopi ya mas mandi dulu," imbuhnya lagi seraya berlalu pergi.
Astuti yang masih berada di tempat duduknya nampak menyetujui perkataan suaminya. "Benar itu pasti emas imitasi, dasar sok kaya mau gaya tapi pakai barang palsu." gumamnya terkikik seraya beranjak dari duduknya untuk membuatkan suaminya itu kopi panas untuk persiapan tempur malam ini, bagaimana pun juga mereka pasangan muda Astuti berusia 30 tahun dan Joko berusia 33 tahun namun begitu tetap Joko yang bekerja keras setiap kali mereka main di ranjang karena badan Astuti yang besar membuatnya kurang lincah mau posisi diatas pun Joko bisa-bisa mati tergencet.
Menjelang subuh Marni kembali pergi ke mushola, ia sudah bertekad satu bulan ini akan rajin beribadah untuk menebus semua dosa-dosanya waktu di kota beruntung ada ayahnya yang selalu menemaninya mengingat jarak mushola dan rumah masih beberapa ratus meter sedangkan ibunya dan adik-adiknya memilih sholat di rumah lalu lanjut tidur.
"Maafkan ibu dan adik-adikmu ya nduk." ucap sang ayah ditengah langkah mereka.
"Tidak apa-apa pak Marni ikhlas kok membantu mereka." sahut Marni yang kini memang mulai ikhlas jika semua tabungannya habis untuk adiknya, ia akan kembali ke kota untuk memulainya lagi dari awal meskipun harus menahan perih di dada setiap kali melayani para tamu hidung belang itu.
Adzan subuh pun berkumandang dan mereka segera masuk ke dalam mushola untuk melaksanakan sholat wajib dua rakaat itu, selepas sholat Marni memilih untuk melanjutkan tadarus bersama para remaja di kampungnya. Suara merdu gadis itu terdengar indah di telinga hingga membuat seseorang nampak enggan pergi dan memilih duduk di ujung tempat sholat sembari sesekali melirik ke arah wanita itu.
"Kamu tidak berubah Marni, kamu masih Marni seperti dulu meskipun kini kamu bertambah cantik." gumam Firman, jujur Marni dulu dan sekarang memang jauh berbeda dulu Marni kurang memperhatikan penampilannya namun sekarang layaknya wanita kota meskipun wajahnya tak dibalut oleh makeup tapi terlihat jauh berbeda hingga membuatnya sedikit pangling saat pertama kali bertemu semalam dan subuh ini.
Ketika petang telah tergantikan oleh pagi yang menjelang kini Marni segera meninggalkan mushola karena ia harus membantu ibunya membereskan rumahnya, rencananya hari ini ia dan ayahnya akan mengecat rumah. Meskipun rumah papan paling tidak saat hari raya tiba nanti akan terlihat bersih hingga tamu yang datang tidak akan risih meskipun sepanjang ia hidup jarang ada tamu yang mau mampir ke rumahnya kalaupun mampir pasti hanya bersalaman lalu segera pulang.
"Tunggu Marni!" ucap Firman tiba-tiba hingga membuat Marni langsung menoleh ke belakang.
"Mas Firman?" ucapnya sedikit terkejut ia pikir pria itu sudah pulang selepas sholat subuh tadi.
Firman pun terseyum menatapnya. "Boleh mas bicara sebentar, Marni?" ucapnya kemudian.
Marni pun sedikit terkejut mendengarnya, apa gerangan yang akan dibicarakan oleh pria itu? apakah ada hal penting? mengingat ayahnya adalah seorang kepala desa jadi ia khawatir jika sebelumnya keluarganya terutama adiknya membuat masalah di kampungnya.
"Santai saja Marni jangan tegang begitu, aku bukan hantu aku hanya seorang pria yang sama seperti tahun lalu." tukas Firman sembari tersenyum tipis ketika melihat ketegangan di wajah cantik wanita itu.
Marni memang salah satu wanita tercantik di desanya, meskipun penampilannya sederhana tapi kecantikannya begitu alami apalagi kini setelah pulang dari kota terlihat semakin mempesona. Pantas saja semalam para pemuda yang sedang nongkrong di pos ronda depan rumahnya pada membicarakan wanita itu dan mereka berniat untuk mendekatinya bahkan ada yang siap untuk menjadikannya sebagai istri.
Sebagai pria yang sudah menyukai wanita itu sejak lama bahkan perasaannya pernah di tolak tentu saja ia takkan tinggal diam begitu saja karena sampai hari ini hatinya masih tetap sama bahkan makin menggebu saat melihatnya.
"Mas Firman mau bicara apa?" ucap Marni setelah mereka diam sejenak dengan pikiran masing-masing.
Lidah Firman tiba-tiba membeku ketika hendak mengeluarkan suaranya, apa sedahsyat ini efek jatuh cinta?
"Marni, se-sebenarnya mas ingin bicara jujur." ucapnya pada akhirnya, tak biasanya ia mati kutu dihadapan seorang wanita padahal ia sering mengisi pengajian dihadapan ratusan jamaah menggantikan pamannya ketika tidak bisa hadir atau juga terkadang membantu ayahnya memberikan penyuluhan kepada warga desa bahkan saat ini ia juga membantu pelatihan teknisi kepada para pemuda desanya yang putus sekolah agar mereka memiliki keterampilan.
"Iya mas, mau bicara apa?" Marni menatapnya lekat-lekat karena juga penasaran apa yang akan dibicarakan pria itu padanya, semalam ia dengar dari ibunya jika pria itu kini lumayan sukses di kampungnya bahkan ide-ide modern yang dibawanya saat mengenyam pendidikan S1 di kota diterima dengan baik di kampungnya intinya pria itu saat ini dianggap sangat berjasa bagi daerahnya.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu