NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: KEBENARAN DI DEPAN KOMPENI

Van der Berg turun dari kuda. Matanya dingin menyapu kebun yang porak-poranda. Darah. Tangis. Papan VOC terpacak sembarangan.

"Wat is hier aan de hand?" suaranya keras memecah keheningan.

(Apa yang terjadi di sini?)

Maringgih menatapnya tenang. Tidak takut. Tidak gentar.

"Mijnheer Van der Berg. Ik heb u al verwacht."

(Tuan Van der Berg. Saya sudah menunggu Anda.)

Van der Berg tersenyum tipis. "Datuk Maringgih. Ik ben niet verbaasd u hier te zien."

(Datuk Maringgih. Saya tidak heran melihat Anda di sini.)

---

Van der Berg berjalan di antara warga yang terluka. Ia melihat papan-papan VOC yang terpacak sembarangan. Wajahnya semakin dingin. Ia memanggil Sulaiman.

"Sulaiman, kom hier."

(Sulaiman, ke sini.)

Sulaiman mendekat dengan langkah gontai. Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi keningnya. Van der Berg menatapnya tajam.

"Wat heb je gedaan, Sulaiman? Kijk naar deze chaos. Kijk naar deze mensen. Bloed. Tranen. En dit?" Ia menunjuk papan-papan VOC. "Wat is dit?"

(Apa yang kau lakukan, Sulaiman? Lihat kekacauan ini. Lihat orang-orang ini. Darah. Tangis. Dan ini? Apa ini?)

Sulaiman membuka mulut. Ingin bicara. Tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.

"Ik... ik heb alleen..."

(Saya... saya hanya...)

---

Maringgih melangkah maju. Ia berdiri di samping Sulaiman, tapi matanya hanya pada Van der Berg.

"Mijnheer Van der Berg, mag ik uitleggen wat er werkelijk is gebeurd?"

(Tuan Van der Berg, izinkan saya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?)

Van der Berg mengangguk. Ia memandang Maringgih dengan rasa hormat. Bukan orang sembarangan. Ia tahu Maringgih dekat dengan para petinggi di Batavia. Bahkan Gubernur Jenderal pun mungkin kenal dengannya.

"Ga uw gang, Datuk Maringgih. Ik luister."

(Silakan, Datuk Maringgih. Saya dengarkan.)

Maringgih mulai berbicara. Bahasa Belandanya fasih, tanpa aksen, tanpa ragu.

"Vanmorgen kwamen de mannen van Sulaiman naar dit land. Ze sloegen de boeren. Ze schopten hun manden om. Ze sloegen een oude man—Pak Rahmat—tot hij bloedde. Zijn hoofd was open. Hij ligt nu bij de dokter."

(Pagi ini, anak buah Sulaiman datang ke tanah ini. Mereka memukuli para petani. Mereka menendang keranjang-keranjang mereka. Mereka memukul seorang tua—Pak Rahmat—sampai berdarah. Kepalanya terbuka. Ia sekarang di tabib.)

Van der Berg mendengarkan. Wajahnya tidak berubah, tapi matanya semakin tajam.

"En deze borden?" tanya Van der Berg menunjuk papan VOC. "Wat doen die hier?"

(Dan papan-papan ini? Apa yang mereka lakukan di sini?)

"Ze zeiden dat dit land van VOC is. Ze hadden een kaart. Ze zeiden dat ze orders hadden."

(Mereka bilang tanah ini milik VOC. Mereka punya peta. Mereka bilang mereka punya perintah.)

Van der Berg mengerutkan dahi. "Orders? Van wie?"

(Perintah? Dari siapa?)

Maringgih tidak menjawab. Ia hanya menatap Sulaiman.

Van der Berg mengerti. Ia berbalik pada Sulaiman.

"Sulaiman, waar is de kaart?"

(Sulaiman, di mana petanya?)

---

Sulaiman gemetar. Ia memberi isyarat pada Samsul. Samsul berlari mengambil peta dari dalam tasnya. Peta itu diserahkan pada Van der Berg.

Van der Berg membuka peta itu. Ia mengamatinya sebentar. Lalu dari dalam mantelnya, ia mengeluarkan peta lain. Peta besar dengan stempel VOC Batavia. Ia membentangkannya di atas batu besar.

"Dit is de officiële kaart van VOC Batavia."

(Ini adalah peta resmi dari VOC Batavia.)

Ia membandingkan kedua peta itu. Matanya menyipit. Wajahnya semakin dingin.

"Dit klopt niet."

(Ini tidak cocok.)

Ia menunjuk batas-batas tanah di peta Sulaiman.

"Hier. En hier. Dit is niet hetzelfde. Dit land staat niet op onze kaarten."

(Di sini. Dan di sini. Ini tidak sama. Tanah ini tidak tercatat di peta kami.)

Ia menatap Sulaiman. Tatapan dingin yang lebih menakutkan dari teriakan.

"Sulaiman, wat is dit? Leg uit."

(Sulaiman, apa ini? Jelaskan.)

---

Sulaiman pucat pasi. Keringat mengalir deras. Tangannya gemetar hebat.

"Ik... ik dacht... de papieren..."

(Saya... saya pikir... surat-suratnya...)

"Je dacht? Je dacht?! Je hebt geen papieren! Je hebt geen recht! En kijk wat je hebt gedaan!"

(Kau pikir? Kau pikir?! Kau tidak punya surat! Kau tidak punya hak! Dan lihat apa yang kau lakukan!)

Van der Berg menunjuk ke arah warga yang terluka. Ke arah darah di tanah. Ke arah tangis yang masih terdengar.

"Dit is niet van VOC! Dit is van hen! En jij—jij hebt ons gebruikt! Je hebt de naam van VOC misbruikt!"

(Ini bukan milik VOC! Ini milik mereka! Dan kau—kau menggunakan kami! Kau menyalahgunakan nama VOC!)

Sulaiman terhuyung. Lututnya lemas. Ia hampir jatuh.

"Mijnheer Van der Berg, ik..."

(Tuan Van der Berg, saya...)

"Genoeg!" bentak Van der Berg. "Ik wil niets meer horen!"

(Cukup! Saya tidak mau dengar lagi!)

---

Van der Berg berbalik pada Maringgih. Wajahnya masih dingin, tapi ada rasa hormat di matanya.

"Datuk Maringgih, u had gelijk. Dit land is niet van ons. Het spijt me dat dit heeft kunnen gebeuren."

(Datuk Maringgih, Anda benar. Tanah ini bukan milik kami. Saya minta maaf karena ini bisa terjadi.)

Maringgih mengangguk pelan. "Dank u, Mijnheer Van der Berg. Ik waardeer uw eerlijkheid."

(Terima kasih, Tuan Van der Berg. Saya hargai kejujuran Anda.)

Van der Berg menghela napas. Ia menatap Sulaiman sekali lagi.

"Sulaiman, dit is nog niet voorbij. Je zult hiervoor boeten. Ik zal dit rapporteren aan Batavia. En je weet wat dat betekent."

(Sulaiman, ini belum selesai. Kau akan membayar untuk ini. Saya akan melaporkan ini ke Batavia. Dan kau tahu apa artinya.)

Sulaiman tidak bisa menjawab. Ia hanya diam. Hancur.

Van der Berg memberi isyarat pada serdadunya.

"Haal deze borden weg. En breng deze man—" ia menunjuk Samsul, "—naar het kantoor. We hebben vragen."

(Cabut papan-papan ini. Dan bawa orang ini—ke kantor. Kita punya pertanyaan.)

Serdadu bergerak. Samsul digiring paksa. Centeng-centeng lain menunduk tak berdaya.

Van der Berg naik ke kudanya. Ia melambai pada Maringgih.

"Tot ziens, Datuk Maringgih. Ik hoop dat we elkaar onder betere omstandigheden ontmoeten."

(Sampai jumpa, Datuk Maringgih. Saya harap kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik.)

"Tot ziens, Mijnheer."

(Sampai jumpa, Tuan.)

Van der Berg dan serdadunya pergi. Meninggalkan debu dan keheningan.

---

Sulaiman masih berdiri di tempatnya. Terpaku. Hancur. Tidak bisa bergerak.

Warga mulai berbisik. Mata mereka penuh kebencian tertuju pada Sulaiman.

"Penghianat!"

"Anjing kompeni!"

"Bunuh dia!"

Beberapa pemuda mulai mendekat. Amarah mereka memuncak. Tinju mereka mengepal.

Sulaiman mundur. Ia takut. Bukan pada Maringgih, tapi pada amukan warga yang kini tak terkendali.

Maringgih melihat itu. Ia melangkah maju. Berdiri di antara Sulaiman dan warga.

"STOP!" bentaknya. "BERHENTI!"

Warga terkejut. Mereka menatap Maringgih tak percaya.

"Datuk, dia—"

"Dia hampir membunuh Pak Rahmat!"

"Biarkan kami menghajarnya!"

Maringgih mengangkat tangan. Semua diam.

"Ini bukan caranya," katanya tegas. "Kebenaran sudah terbuka. Van der Berg akan mengurusnya. Kalian main hakim sendiri, kalian jadi sama seperti dia."

Warga terdiam. Maringgih benar.

Tapi Sulaiman masih di sana. Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetar.

Maringgih berbalik. Ia mendekati Sulaiman. Matanya tajam, tapi ada sesuatu di sana—bukan amarah, tapi kekecewaan yang dalam.

Ia menarik lengan Sulaiman. Membawanya agak menjauh dari kerumunan. Tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat pembicaraan mereka tidak terdengar warga.

Sulaiman menatapnya. Menunggu. Takut.

Maringgih mulai berbicara. Dalam bahasa Belanda. Bahasa yang hanya dipahami Sulaiman—dan Halimah di kejauhan.

"Verrader."

(Penghianat.)

Satu kata. Cukup untuk membuat Sulaiman tersentak.

"Je hebt het land van deze mensen gestolen. Niet voor VOC. Voor jezelf."

(Kau mencuri tanah orang-orang ini. Bukan untuk VOC. Untuk dirimu sendiri.)

Sulaiman ingin membela diri. Tapi Maringgih belum selesai.

"Je gebruikte de naam van VOC om je eigen zakken te vullen. Je sloeg onschuldige mensen. Je liet ze bloeden. Voor wat? Voor een stuk land dat je nooit toebehoorde?"

(Kau menggunakan nama VOC untuk mengisi kantongmu sendiri. Kau memukuli orang-orang tak bersalah. Kau membuat mereka berdarah. Untuk apa? Untuk sebidang tanah yang tidak pernah menjadi milikmu?)

Sulaiman menunduk. Tidak bisa menjawab.

"Je bent een verrader, Sulaiman. Niet alleen van deze mensen. Maar van ons allemaal. Van je eigen volk."

(Kau penghianat, Sulaiman. Bukan hanya terhadap orang-orang ini. Tapi terhadap kita semua. Terhadap bangsamu sendiri.)

Tapi Maringgih tidak berhenti.

"En weet je waarom ik dit in het Nederlands zeg?"

(Dan kau tahu kenapa aku mengatakan ini dalam bahasa Belanda?)

Sulaiman mengangkat wajah. Bingung.

"Omdat ik je niet wil vernederen voor deze mensen. Ondanks alles wat je hebt gedaan, ben je nog steeds een Datuk. Je hebt nog steeds een positie. En ik—ik wil niet dat ze je hier zien als een gebroken man."

(Karena aku tidak ingin mempermalukanmu di depan orang-orang ini. Meskipun semua yang telah kau perbuat, kau tetap seorang Datuk. Kau masih punya jabatan. Dan aku—aku tidak ingin mereka melihatmu sebagai pria yang hancur di sini.)

Sulaiman tertegun. Ia tidak menyangka.

"Dit is voor jouw waardigheid. Al heb je die misschien niet verdiend."

(Ini untuk harga dirimu. Meskipun kau mungkin tidak pantas menerimanya.)

Maringgih menghela napas. Amarahnya mulai reda. Tapi kekecewaannya tetap ada.

"Ga naar huis, Sulaiman. Ga naar huis en denk na over wat je hebt gedaan. Zorg voor je gezin. En bid dat deze mensen je ooit kunnen vergeven."

(Pulanglah, Sulaiman. Pulang dan pikirkan apa yang telah kau perbuat. Jaga keluargamu. Dan berdoalah agar orang-orang ini suatu hari bisa memaafkanmu.)

Ia melepaskan lengan Sulaiman. Berbalik. Meninggalkannya.

Sulaiman berdiri terpaku. Tapi ia tidak jatuh. Ia masih berdiri.

Karena Maringgih memberinya ruang untuk tetap berdiri.

---

Di pinggir kebun, Halimah menyaksikan semuanya.

Ia melihat ayahnya yang hancur. Ia melihat Maringgih yang memarahi ayahnya dalam bahasa yang tidak dimengerti warga. Tapi ia mengerti. Ia paham setiap kata.

Dan ia paham alasan Maringgih memilih bahasa itu.

Ia melindungi harga diri ayahku. Di depan semua orang ini, ia memilih untuk tidak menghancurkannya sepenuhnya.

Air mata Halimah jatuh. Bukan sedih. Tapi haru.

Ia melihat Maringgih berjalan mendekat. Berhenti beberapa langkah darinya. Menjaga jarak. Menjaga kehormatan.

"Halimah."

"Datuk..."

"Pulanglah. Jaga dirimu. Jaga ayahmu."

Halimah mengangguk. Ia ingin bicara, ingin mengucapkan sesuatu. Tapi kata-kata tidak keluar.

Maringgih tersenyum tipis. Lalu pergi.

Meninggalkan Halimah dengan tatapan kosong, ayahnya yang hancur di kejauhan, dan kebenaran yang kini terbuka lebar.

Tapi juga dengan pelajaran berharga: bahwa seorang lelaki sejati tidak hanya menegakkan kebenaran, tapi juga menjaga martabat lawannya—bahkan saat lawan itu salah.

---

[Bersambung ke Bab 30...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!