Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Runtuhnya Sang Tirani
Kegelapan total di dalam The Vault hanya terbelah oleh lampu darurat berwarna merah yang berputar liar. Suara sirene meraung, memantul di dinding-dinding granit, menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga. Richard Dirgantara berteriak murka di atas kursi rodanya, suaranya parau mencoba mengalahkan kebisingan alarm.
"Hentikan mereka! Bunuh mereka semua!"
Pasukan elit The Chrysanthemum bereaksi cepat. Moncong senjata mereka memuntahkan api ke arah balkon dan pilar tempat Arlan dan Maya berada.
"May, tiarap!" Arlan menyambar pinggang Maya, melompat ke balik konsol kendali baja yang tebal. Peluru-peluru berdesing di atas kepala mereka, menghantam peralatan elektronik hingga memercikkan bunga api.
"Lan, virusnya! Apa sudah berhasil?" teriak Maya di tengah dentuman tembakan.
Arlan melirik layar kecil di kopernya yang kini menyala oranye. "Sembilan puluh delapan persen! Sistem sedang melakukan penghapusan paksa seluruh data satelit Argus! Richard tidak akan punya apa-apa lagi selain rongsokan di luar angkasa!"
Namun, Richard tidak menyerah begitu saja. Di tengah kekacauan, ia menarik sebuah tuas manual di kursi rodanya. Tiba-tiba, lantai di bawah kaki Arlan dan Maya bergetar hebat. Dinding-dinding kaca di sekeliling Master Server mulai menutup, mengunci mereka di dalam ruang kendali utama bersama Richard.
"Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka tidak akan ada yang bisa keluar dari sini hidup-hidup!" Richard tertawa histeris. Wajahnya yang cacat tampak mengerikan di bawah cahaya merah. "Bunker ini akan meledak dalam tiga menit. Kita semua akan terkubur di bawah es Alpen selamanya!"
Yudha, yang berada di luar sekat kaca yang mulai menutup, mencoba menembak engsel pintu baja tersebut namun gagal. "Bos! Pintu ini tidak bisa dibuka dari luar! Kalian harus cari jalan keluar di bawah lantai!"
Arlan melihat ke sekeliling dengan cepat. Sebagai seorang arsitek, ia tahu setiap bangunan punya "titik lemah". Ia menatap pilar server yang mulai panas dan mengeluarkan asap.
"May, pegang ini." Arlan menyerahkan koper itu kepada Maya. "Lari ke arah saluran pembuangan pendingin di sudut sana. Aku akan mengurus Richard."
"Tapi Lan—"
"Lakukan, Maya! Demi anak kita!"
Maya berlari dengan napas tersenggal, melewati meja-meja yang hancur. Sementara itu, Arlan melangkah maju menghadapi kakeknya. Richard mengeluarkan sebuah pistol kecil dari balik selimutnya, namun Arlan lebih cepat. Dengan gerakan bela diri yang efisien meski bahunya terluka, Arlan menendang tangan Richard hingga pistol itu terlempar jauh.
Arlan mencengkeram kerah baju Richard, menatap pria tua itu dengan kebencian yang sudah mendarah daging. "Darah ayahku, penderitaan ibuku... semua berakhir di sini, Richard."
"Kamu... kamu tetaplah seorang Dirgantara, Arlan," bisik Richard dengan sisa kekuatannya. "Kehancuran ada di darahmu."
"Tidak lagi," jawab Arlan dingin. Ia melepaskan Richard dan berlari menyusul Maya.
Di sudut ruangan, Maya sudah berhasil membuka penutup saluran pendingin. Bau freon yang tajam menusuk hidung. "Lan, di sini! Cepat!"
Tepat saat Arlan melompat masuk ke dalam saluran, ledakan pertama mengguncang bunker. Pilar server Argus meledak, mengirimkan gelombang kejut yang menghancurkan seluruh sistem komputer di ruangan itu. Seluruh data yang dibangun Richard selama puluhan tahun lenyap menjadi nol.
Mereka meluncur turun di dalam pipa logam yang licin, sementara api mulai mengejar dari atas. Maya berteriak saat tubuhnya terlempar keluar dari ujung pipa, jatuh ke atas tumpukan salju yang empuk di lereng tebing bagian bawah. Arlan menyusul sedetik kemudian, menindih salju di sampingnya.
BOOM!
Puncak gunung di atas mereka seolah meledak. Salju dan bebatuan runtuh, menutup selamanya pintu masuk menuju The Vault. Bunker itu kini menjadi makam bagi Richard Dirgantara dan obsesi gilanya.
Maya terengah-engah, tubuhnya menggigil karena kedinginan dan syok. Ia menatap ke langit Alpen yang kelabu. Helikopter penyelamat milik The Outsiders yang dipandu Yudha tampak muncul dari balik kabut salju, mendekat ke arah mereka.
Arlan merangkak mendekati Maya, memeluknya erat. Darah merembes dari perban bahunya, mewarnai salju menjadi merah terang.
"Kita melakukannya, May..." bisik Arlan. Suaranya sangat lemah.
Maya menangis, ia memegang pipi Arlan yang membeku. "Ya, kita melakukannya. Kita tidak akan menjadi asing lagi. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi pelarian."
Saat mereka ditarik naik ke dalam helikopter, Maya melihat koper hitam itu tertinggal di bawah, perlahan tertimbun salju. Di dalamnya, layar kecil itu akhirnya menunjukkan angka: 100% - System Deleted.
Dunia mungkin tidak akan pernah tahu betapa dekatnya mereka dengan kehancuran malam itu. Namun bagi Maya dan Arlan, kemenangan sejati bukanlah menyelamatkan dunia, melainkan menyelamatkan sisa kemanusiaan di dalam diri mereka sendiri.