NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dimana Istriku?

Nina menatap langit-langit kamar yang kini dia tempati. Nina sedang menyakinkan dirinya, untuk mempercayai lelaki pemilik mata biru itu.

Damian membawanya ke unit apartemen, yang katanya pernah menjadi tempat tinggalnya sebelum melepas masa lajang.

Lelaki yang juga mengaku sudah memiliki seorang putri itu. Damian sempat mengisi lemari pendingin dengan bahan makanan untuk beberapa hari kedepannya.

Damian memberikan wejangan, agar Nina untuk sementara waktu tidak keluar dari apartemen. Termasuk soal komunikasi dengan dunia luar. Ponsel Nina bahkan dinonaktifkan oleh pria itu.

Jadi sekarang, Nina dikurung lagi?

Unit apartemen milik Damian tidak terlalu besar. Katanya tipe studio. Hanya saja pemandangan di sini tak kalah indah dengan Penthouse milik Ammar.

Dinding kaca tinggi, dari lantai hingga langit-langit unit apartemen ini. Dan kerennya, kaca tersebut bisa dibuat terang dan gelap. Nina sempat ternganga melihatnya. Jadi tidak ada gorden di sana.

Meski tak terlalu besar, tapi unit ini memiliki dua lantai. Lantai atas hanya digunakan untuk menaruh kasur dan lemari pakaian saja.

Lalu untuk komunikasi, Damian meminjamkan ponsel jadul yang hanya bisa untuk mengirim SMS dan telepon. Ponsel yang tidak ada jaringan internetnya. Dan hanya ada nomor Damian yang tertera di kontak.

Sebelum pergi tadi sore, Damian mengingat soal ucapan Nina yang akan melakukan segalanya untuk pria itu.

Tak ada prasangka buruk, Nina hanya berpikir Damian mungkin akan menjadikannya pembantu tanpa dibayar.

Tapi siapa yang tau dengan isi pikiran dari lelaki blasteran Amerika-Indonesia itu?

***

Selepas mengantarkan sendiri istrinya ke bandara, Ammar datang ke tempat koleganya yang berprofesi sebagai seorang pengacara.

Bukan untuk sparing di atas ring. Ammar hanya ingin memiliki teman minum atau sekedar berbincang.

Lelaki yang Ammar ketahui sudah memiliki seorang anak berusia remaja itu, terlihat kusut. Sama seperti dirinya.

"Saya hanya lelah saja, Tuan!" Alex menggoyangkan gelas berkaki tinggi. Beberapa menit lalu, dia membuka salah satu koleksi wine berharga puluhan juta guna menjamu tamu istimewanya. "Pekerjaan saya cukup banyak Minggu ini." Alex menenggak sedikit cairan berwarna merah gelap itu, dia memejamkan matanya sejenak merasakan rasa sedikit pahit tapi terasa manis setelahnya. "Apa anda akan lama di sini, Tuan?" Tanyanya usai sebelumnya membuka mata.

Ammar menenggak sekaligus wine yang ada di gelasnya. Masa bodoh dengan sikap elegan. Dia hanya ingin melupakan sejenak kekesalan di hatinya.

Asistennya belum juga mau mengangkat panggilannya. Pun pesan hanya dibaca dan dibalas dengan "jam kerja saya sudah selesai."

Asisten macam apa yang dengan seenaknya mengacuhkan bosnya. Sialnya diantara semua asistennya hanya Damian yang nyaris tak memilik kesalahan.

"Entahlah ..." Ammar menaikan bahunya. Dia ingin melihat wajah istri kontraknya, sebelum dirinya melanjutkan jadwal kerjanya. Semoga saja Damian tidak mengkhianatinya hanya karena seorang perempuan.

Alex menuangkan sedikit wine pada gelas tamunya. "Bagaimana soal rencana renovasi resort anda, tuan?" Tanyanya. Bos sekaligus sahabat Alex, adalah arsitek langganan Ammar yang tinggal di Amerika.

"Ben mengatakan akan mengirim Nando kali ini." Ammar kembali menenggak minuman yang disajikan untuknya.

Dahi Alex mengernyit, dia menatap curiga lelaki asal Timur Tengah itu. "Apa anda sedang ada masalah, Tuan?" Tanya memastikan. "Apa perlu saya menghubungi Damian?"

Ammar menggeleng, "tidak usah." Tolaknya.

Keduanya terlibat obrolan tentang rancangan resort yang akan direnovasi, tepatnya di salah satu pulau pribadi milik Ammar.

***

Ammar mendesis, memegangi kepalanya. Kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit menyesuaikan cahaya yang menyinari wajahnya.

Hal pertama yang dia lihat, siapa lagi kalau buka asistennya. Damian berdiri tak jauh dari ranjang tempatnya tidur.

Seingatnya, semalam dia minum-minum bersama Alex. "Jam berapa, Dami?" Tanyanya seraya memijat kepalanya yang berdenyut.

Damian mengangkat pergelangan tangannya. "Pukul sebelas siang, Tuan! Dan jika and tidak segera bergegas, pertemuan anda dengan Tuan Blade akan tertunda." Dia mengingatkan jadwal penting.

"Kepalaku pusing, Dami!" keluhnya menggerutu.

"Saya tidak meminta anda untuk minum, Tuan!" Damian memasang wajah datar. Dia ingat ocehan tuannya semalam, ketika dirinya dihubungi oleh Alex. Sepanjang perjalanan menuju Penthouse, Ammar merancau. Intinya dia kesal karena telah menyembunyikan istri kontrak.

Dari ocehan itu juga, Ammar sempat mengaku jika dirinya meminta Alex untuk melacak keberadaan Nina. Sialnya tidak ditemukan.

Tentu saja, Damian sudah mengantisipasi hal seperti ini. Bos-nya itu tak akan bisa menemukan Nina, yang sengaja dia sembunyikan.

Damian tau cara kerja Alex yang juga seorang detektif. Jadi tentunya dia tau cara agar tidak terlacak.

"Dimana istriku, Dami?" Ammar mulai bangkit dan berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi.

Tapi bukannya menjawab, Damian justru melangkah menuju ruang Wardrobe guna menyiapkan pakaian formal untuk tuannya bekerja.

Ammar menaikan bahunya, dia berpikir mungkin asistennya itu tidak mendengar pertanyaannya tadi.

Dalam perjalanan, Ammar kembali menanyakan hal yang sama. Tapi Damian justru membahas tujuan pertemuan dengan kolega bisnis mereka.

Intinya setiap Ammar bertanya soal istrinya, Damian akan mengalihkannya pada hal lain. Pemilik netra biru itu terlihat enggan menjawab.

Hari beranjak malam, usai berbagai pertemuan yang cukup padat hari ini. Damian kembali mengantarkan tuannya ke Penthouse.

Merasa tidak ditanggapi seharian soal istrinya. Pada akhirnya Ammar menahan asistennya.

Lalu jawaban Damian hanya, "istri anda sedang berada di New York kalau anda lupa." Damian membetulkan letak dasinya. "Jam kerja saya telah usai, saya haru pulang karena putri saya sedang menunggu."

Ammar berdecak, "maksudku Nina!" rasanya mulai tidak sabar. "Dimana Nina kamu sembunyikan?" Nada suaranya meninggi. "Kamu kan yang menyembunyikannya?"

"Saya harus pulang, Tuan!" Damian berbalik menuju elevator.

"Damian berhenti." Ammar kembali meninggikan suaranya. "Katakan dimana kamu sembunyikan istriku, Nina?"

"Selamat beristirahat, Tuan! Saya pergi."

Belum sempat melangkah, lengan Damian ditarik oleh Ammar. Kerah kemejanya dicengkeram. Mata hitam itu mendelik marah.

"Dimana Nina istriku?"

Damian melirik ke arah tangan yang mencengkram kerah kemejanya. "Beliau hanya istri kontrak anda, Tuan! Jadi saya sarankan untuk meminimalisir interaksi. Supaya anda tidak mengkhianati nyonya Leti. Bukankah anda sangat mencintai beliau?" Dia menyeringai.

Skakmat ...

Ammar merasa tertampar. Secara tidak langsung asistennya itu memberi peringatan padanya, agar setia. Seperti yang selalu dia katakan sendiri. Tapi entah mengapa, Ammar ingin sekali bertemu dengan istri kontraknya. Apa mungkin dia Rindu?

Dia melepas cengkraman tangannya. "Dia belum hamil, bukan? Aku ingin memastikan saja." Ammar mulai merasa resah.

"Anda bisa datang ke rumah sakit esok hari dan menjalani prosedur pengambilan benih terbaik yang akan menjadi calon anak anda. Jadi sekarang, silahkan beristirahat dan jangan meminum alkohol. Agar mendapatkan kualitas sper** yang bagus." Damian merapihkan kerah kemejanya yang kusut dan membenarkan posisi dasinya.

"Apa aku bisa menemui Nina, besok?"

"Itu tidak perlu, Tuan! Anda akan menjalani proses ini terpisah. Jadi persiapkan diri anda." Setelahnya, Damian masuk ke elevator. Dia meninggalkan tuannya itu. Tak peduli raut wajah kesal sekaligus bingung Tuan yang dilayaninya.

Sepeninggal Damian, Ammar menghubungi Alex. Dia meminta untuk mencari keberadaan Nina tanpa sepengetahuan Damian.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!