Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Clara
Pak Seno sudah hanyut sejak Clara membaca setengah esainya. Suara Clara tidak lagi terdengar seperti suara mahasiswi yang sedang membacakan tugas, melainkan seperti gema dari masa lalu yang lama ia simpan.
Ia teringat pada ayahnya.
Lelaki kurus dengan tangan kasar dan bau keringat pabrik yang tak pernah benar-benar hilang. Ayah yang bekerja siang malam demi empat anak. Ibu mereka telah meninggal saat melahirkan adik ketiga. Sejak itu, pak Seno sebagai anak sulung lebih banyak melihat kenyataan dibanding adik-adiknya yang masih kecil.
Ia tahu bagaimana ayahnya sering pulang larut, menahan batuk, lalu tetap tersenyum.
“Nak, belajar yang rajin agar kamu bisa menjadi orang yang sukses. Jangan pernah kamu berpikir ingin seperti bapak.”
Kalimat itu selalu terngiang.
“Kalau suatu hari bapak sudah tiada, tolong jaga adik-adikmu seperti bapak menjagamu.”
Pak Seno mengingat malam ketika ayahnya tetap bekerja meski matanya mulai menguning. Ia mengingat bagaimana ayahnya menolak berobat karena biaya sekolah anak-anak lebih penting. Dan ketika pak Seno hampir lulus kuliah, ayahnya meninggal karena penyakit liver.
Ia tak pernah melihat anaknya memakai toga.
Tak pernah melihat dirinya berdiri sebagai dosen.
Tak pernah melihat adik-adiknya tumbuh mapan.
Mata Pak Seno berkaca-kaca.
Semua kenangan itu kembali hanya karena sebuah esai.
“Pak… saya sudah boleh duduk?” tanya Clara pelan, menghentikan lamunannya.
Pak Seno seperti tersadar dari perjalanan panjang yang baru saja ia tempuh. Ia menatap Clara beberapa detik, lalu bertanya dengan suara lebih lembut dari biasanya.
“Dari mana kalian mendapatkan ide seperti itu?”
Clara menoleh ke arah teman-temannya yang tak berhenti tersenyum mendukung.
“Kami ke rumah sakit untuk observasi, Pak,” jawab Clara tenang.
Ruangan langsung riuh pelan. Beberapa mahasiswa saling berbisik. Bagi mereka, itu hanya tugas esai. Turun ke lapangan? apakah perlu sejauh itu?
Pak Seno tertawa kecil, bukan karena lucu, tetapi karena kagum.
“Kelompok kalian memang unik,” ucapnya.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Kalian mendapatkan nilai A+.”
Wajah Agnes langsung melengos sinis. Ia kesal karena nilai kelompoknya sama dengan Clara, harga dirinya terasa terinjak, ia tak ingin disejajarkan apalagi hanya karena orang kecil, menurutnya.
Clara tersenyum lebar, begitu pula Wulan, Zita, Rio, dan Adit.
“Terima kasih, Pak,” ucap Clara sambil merapikan kertas esainya.
Ia kembali ke tempat duduk dan langsung disambut tos heboh dari Wulan. Rio mengacungkan jempol, Adit tersenyum puas, Zita hampir memeluk Clara karena terlalu bangga.
Kelas berlanjut dengan kelompok lain dan penjelasan singkat dari Pak Seno tentang esai reflektif. Namun suasana sudah berubah. Ada kesadaran baru yang menggantung di udara.
Tiga puluh menit kemudian, mereka keluar kelas.
“Gue sama Adit duluan, mau ke warnet,” ucap Rio santai.
Clara, Wulan, dan Zita mengangguk.
“Gue mau pulang. Kakek gue mau berkunjung hari ini,” ujar Wulan.
Kini mereka berjalan di lorong kampus yang mulai sepi.
“Kamu gimana, Clar?” tanya Zita.
“Kosong,” jawab Clara ringan.
“Berarti cuma aku dong yang masih ada mata kuliah,” keluh Zita sambil memanyunkan bibir.
“Yaudah gue pergi duluan ya, bye,” kata Wulan melambaikan tangan.
“Aku duluan ya, Zit,” ucap Clara.
Clara berjalan menuju taman favoritnya. Di bawah pohon trembesi besar yang rindang, ia duduk sambil membalas pesan Thalia di aplikasi hijau. Sesekali ia tertawa kecil melihat emotikon aneh dan foto wajah konyol yang dikirim sahabatnya itu.
Kamu kapan pulang, Thalia? Aku udah kangen nih, ketik Clara cepat.
Tak lama kemudian balasan masuk.
Aku juga huhu, Kamu mau oleh-oleh apa, Clar?
Clara tersenyum sambil mengetik kembali, jari-jarinya bergerak ringan di layar ponsel.
Terserah kamu aja, enggak usah juga nggak papa, ketik Clara.
Beberapa detik kemudian ia menambahkan pesan yang lebih panjang.
Kemarin sore aku menghubungi Bu Raisa. Aku ingin menerima kontrak itu hari ini. Doakan aku, Thal, semoga niatku bisa berjalan lancar.
Kini Clara jauh lebih terbuka pada sahabatnya. Bahkan kejadian saat ia datang ke gedung Forrer pun sudah ia ceritakan. Dan tentu saja, Thalia sempat kesal bukan main saat mendengarnya.
Tak lama balasan masuk dari Thalia.
Aku doakan yang terbaik untuk kamu, Clara. Aku senang melihat perubahanmu. Terima kasih sudah selalu terbuka denganku.
Clara tersenyum hangat.
Iya, aku sekarang makin cantik loh, balasnya dengan nada narsis.
Tak sampai lima detik, Thalia mengirim stiker tamparan besar.
Clara tertawa lepas. Tawa yang ringan, tanpa beban. Sangat berbeda dengan Clara yang dulu sering duduk di bangku ini dengan wajah murung.
Saat hendak mengantongi ponselnya, notifikasi lain masuk. Dari Natan.
Clara membuka pesan itu. Sebuah foto bangunan satu lantai yang tak kecil terpampang di layar. Papan nama hitam minimalis bertuliskan: Lumen Workshop terpasang di depan.
Clara mengernyit, Tak lama pesan berikutnya masuk.
Kamu lagi sibuk? Ada yang ingin aku bicarakan. Mau ketemu di tempat ini?
Hari ini belum bisa, Kak. Aku sudah bikin janji dengan Bu Raisa, ketik Clara.
Oke. Nanti kalau kamu sudah punya waktu, hubungi aku.
Beberapa detik kemudian muncul pesan lagi dari Natan.
Semangat ya bahas kontraknya. Apa mau aku temenin?
Clara tersenyum kecil.
Aku sudah dewasa loh, Kak. Masa dikit-dikit minta ditemenin, balasnya dengan emotikon tertawa.
Iya iya, hehe. Nanti kalau aku nggak sibuk lagi, aku mampir ke toko buku, balas Natan.
Clara membaca pesan terakhir itu beberapa detik, lalu menyimpan ponselnya. Ia melirik jam tangannya dan langsung berdiri. Ia berjalan ke sisi jalan raya dan menghentikan taksi. Kali ini ia memilih naik taksi agar tidak membuat Bu Raisa menunggu. Ia sempat lupa waktu karena berkirim pesan dengan Thalia dan Natan.
“Mau ke mana, Neng?” tanya sopir taksi saat Clara masuk.
“Ke Jalan xxx, Pak. Gedung Aksara Langit.”
Sopir mengangguk dan menjalankan mobil.
Perjalanan tidak terlalu lama karena jalanan sedang lenggang. Tak lama kemudian Clara sampai di depan gedung Aksara Langit, ia membayar ongkos taksi dan turun.
Mata Clara berbinar saat melihat gedung impiannya berdiri tepat di hadapannya. Gedung itu tampak elegan namun tidak berlebihan, dengan logo Aksara Langit terpampang di bagian depan.
“Maaf mbak, mau ada keperluan apa?” tanya petugas keamanan membuyarkan lamunannya.
Clara menoleh. “Saya ada janji dengan Ibu Raisa Maheswari, Pak.”
“Baik, silakan masuk. Nanti Mbak bisa ke resepsionis dulu untuk konfirmasi,” ujar petugas itu ramah.
“Terima kasih, Pak.”
Pintu otomatis terbuka saat Clara melangkah masuk. Lobi luas dengan rak-rak buku tinggi menyambutnya, aroma kertas dan tinta memenuhi udara. Tangannya terasa gatal ingin membuka setiap buku yang tersusun rapi di sana.
Ia berjalan ke meja resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis dengan senyum profesional.
“Saya ada janji dengan Ibu Raisa Maheswari.”
“Atas nama siapa?”
“Clara Ayudita.”
Resepsionis mengecek daftar tamu di komputernya. Tak lama kemudian ia mengangkat wajahnya kembali.
“Baik, terima kasih atas konfirmasinya. Nanti Pak Budi akan menjemput Ibu. Mohon menunggu sebentar.”
Clara mengangguk dan duduk di sofa empuk. Sembari menunggu, ia mengambil sebuah buku biografi tentang Aksara Langit dari meja sampingnya dan mulai membaca.
Baru tiga halaman ia baca, suara Budi membuatnya menoleh.
“Clara…”
Ia menutup buku dan berdiri.
“Maaf sudah membuatmu menunggu. Tadi Bu Raisa masih meeting,” ucap Budi.
“enggak papa, saya juga baru datang,” sahut Clara sambil tersenyum.
“Ayo, sekarang kita ke ruangan beliau.”
Clara mengangguk dan mengikuti Budi. Mereka naik ke lantai lima menggunakan lift khusus tamu. Sesampainya di lantai tujuan, mereka berjalan menyusuri lorong hingga ke ujung.
Budi mengetuk pelan lalu membuka pintu.
Ruangan minimalis berwarna putih menyambut Clara. Rak-rak buku tinggi menghiasi setiap sudut. Di belakang meja bu Raisa terdapat jendela kaca besar yang menghadap ke hamparan gedung-gedung Jakarta. Raisa duduk di sofa sambil menatap grafik penjualan di layar tablet.
Saat menyadari kedatangan Clara, Raisa langsung berdiri dan tersenyum ramah.
“Silakan duduk, Clara.”
Clara duduk di sofa. Budi segera memanggil staff nya untuk menyiapkan minuman.
“Apa kabar, Clara?” tanya Raisa ringan. Ia sedikit terkejut melihat perubahan Clara, wajahnya jauh lebih segar, sorot matanya tak lagi dipenuhi beban.
“Saya sangat baik, Bu. Kalau Ibu bagaimana?” Clara balik bertanya.
“Seperti yang kamu lihat, sehat dan bugar," jawab Raisa disertai tawa. Clara ikut tersenyum.
“Saya sangat senang kamu mau menerima tawaran ini,” lanjut Raisa dengan nada yang kini lebih serius, meski tetap hangat.
Clara tersenyum tulus. “Terima kasih atas kesempatannya untuk bisa bekerja sama dengan Aksara Langit.”
Staff Budi masuk membawa kopi panas. Budi mengambil nampan dan menyajikannya di depan Clara dan Raisa.
“Harusnya saya yang bilang begitu. Kamu kan sekarang terkenal. Pasti banyak penerbit yang menghubungi kamu,” ujar Raisa.
Clara tersenyum malu. “Saya kurang tahu, Bu. Karena waktu daftar kompetisi itu, Kak Natan memasukkan kontaknya, bukan kontak saya.”
Raisa mengangguk-angguk pelan. “Mungkin kita memang berjodoh, Clara.”
“Budi, tolong ambilkan berkasnya.”
Budi segera mengambil map berisi dokumen kontrak dan menyerahkannya pada Clara, lengkap dengan pulpen yang diletakkan di sampingnya.