Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Hari ini rapat pembahasan lanjutan program yang melibatkan kantor Alya dan Reyhan sebagai narasumber di gelar.
Ruang rapat itu dingin, meski pendingin ruangan tidak disetel terlalu rendah. Alya duduk di salah satu kursi tengah, map cokelat terbuka di hadapannya, halaman yang sama sudah ia baca tiga kali sejak rapat dimulai.
Alya sudah memasukkan ide Reyhan di dalamnya, ia tahu, cepat atau lambat, pembahasan itu akan sampai ke bagian yang ia khawatirkan.
Dan benar saja.
“Baik,” suara Kepala Bidang memotong alur presentasi, “kita masuk ke perubahan modul.”
Alya memindah slide berikutnya.
Pointer berhenti di satu slide. Judulnya sederhana: Sesi Refleksi Perencana.
Beberapa kepala terangkat. Beberapa alis berkerut.
“Ini tambahan baru?” tanya seseorang dari ujung meja.
“Iya,” jawab Alya, suaranya tenang meski telapak tangannya terasa lembap. “Tambahan durasi tiga puluh menit pada pertemuan.”
“Tiga puluh menit?” ulang pejabat lain, lebih skeptis. “Untuk apa?”
Alya menarik napas pelan. “Untuk memberi ruang evaluasi personal peserta. Bukan evaluasi kinerja, tapi refleksi proses.”
Ruangan hening sesaat.
“Refleksi seperti apa?” Kepala Bidang kembali bertanya, nadanya netral tapi menguji.
“Peserta diminta menuliskan—atau menyampaikan secara sukarela—tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan tugas perencanaan. Fokusnya bukan keluhan, tapi kesadaran beban kerja dan cara mengelolanya.”
Seseorang terkekeh kecil. Tidak keras, tapi cukup terdengar.
“Ini pelatihan perencanaan, bukan konseling,” katanya.
Alya menoleh ke arah suara itu. Ia mengenali wajahnya—pejabat senior yang dikenal lugas dan tidak suka hal-hal abstrak.
“Betul, Pak,” jawab Alya, tidak defensif. “Dan justru karena itu, kami melihat refleksi ini sebagai bagian dari efektivitas kerja. Perencana yang tidak menyadari batas dirinya cenderung membuat keputusan terburu-buru.”
“Dasarnya apa?” potong yang lain.
Alya membuka mapnya, menarik satu lembar. “Beberapa studi kebijakan publik menunjukkan bahwa kelelahan struktural pada ASN berdampak langsung pada kualitas dokumen perencanaan. Kami juga melihat tren serupa dari evaluasi program sebelumnya.”
Ia tidak menyebut nama Reyhan. Tidak menyebut kampus. Ia berbicara sebagai Alya—staf Bappeda yang setiap hari melihat dokumen itu lahir dari meja-meja lelah.
“Kita kejar output,” lanjut Alya, suaranya tetap datar. “Tapi sering lupa kondisi orang-orang di baliknya.”
“Jadi menurut Mbak Alya,” Kepala Bidang menyela, “selama ini perencana kita tidak siap mental?”
Alya menahan diri. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Bukan tidak siap, Pak,” katanya. “Tapi manusia. Dan manusia perlu jeda agar bisa bekerja lebih jernih.”
“Sesi ini memberi ruang agar mereka menyadari kondisi emosionalnya sendiri.”
Sunyi kembali turun.
Di sisi ruangan, Reyhan duduk dengan posisi sedikit menyamping. Ia tidak ikut bicara. Tangannya bertaut di atas meja, wajahnya tenang, nyaris tidak terbaca. Ia tahu, ini bukan bagiannya untuk masuk.
Ini panggung Alya. Dan Alya sedang berdiri sendirian.
“Kekhawatiran kami,” ujar seorang pejabat lain, “ini bisa jadi preseden. Nanti program lain minta hal serupa. Waktu kita terbatas.”
Alya mengangguk. “Kami paham. Karena itu kami membatasi durasi dan sifatnya opsional. Tidak semua peserta harus berbicara. Yang penting, ruang itu ada.”
“Dan kalau tidak efektif?”
“Kami evaluasi. Tidak ada lagi sesi ini jika memang tidak memberi dampak.”
Kejujuran itu membuat ruangan kembali senyap.
Beberapa detik berlalu sebelum Kepala Bidang menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Ini ide yang… tidak biasa,” katanya akhirnya. “Dan jujur, agak berisiko.”
Alya mengangguk pelan. “Kami menyadari itu.”
“Kamu yang akan bertanggung jawab di lapangan?” tanyanya langsung.
“Iya, Pak.”
Tidak ada penambahan kalimat. Tidak ada pembelaan diri. Hanya satu kata itu.
Reyhan menatap Alya sekilas. Bukan tatapan bangga, bukan juga kagum berlebihan. Lebih seperti pengakuan diam-diam bahwa Alya tahu apa yang sedang ia pertaruhkan.
“Kita coba satu siklus,” putus Kepala Bidang akhirnya. “Kalau tidak ada hasil signifikan, kita evaluasi ulang.”
Alya menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. “Baik, Pak.”
Rapat berlanjut ke agenda lain. Angka, tabel, target. Alya kembali mencatat, tapi pikirannya masih tertinggal di momen barusan.
Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa… bertahan.
“Baik, program ini akan berjalan satu minggu dari sekarang, saya memohon bantuan dari rekan-rekan semua dan Bapak Reyhan sebagai narasumber agar pertemuan itu berjalan dengan lancar” Bapak kepala Bidang menutup rapat ini.
Semua orang mengangguk, “Saya percayakan program ini kepada Mbak Alya sebagai PIC, semoga program ini membawakan manfaat untuk semua pihak, saya Akhiri rapat ini, silahkan melanjutkan pekerjaan untuk semuanya”
Setelah rapat usai, orang-orang beranjak keluar satu per satu. Alya merapikan mapnya, menunggu ruangan sedikit lengang.
Nampaknya ada satu orang yang melakukan hal yang sama dengan Alya.
“Kamu baik-baik saja?” suara Reyhan terdengar dari samping.
Alya menoleh. “Iya.”
Reyhan tidak langsung percaya, tapi tidak memaksa. “Kamu tahu,” katanya pelan, “tadi kamu tidak perlu sendirian.”
Alya menggeleng. “Kalau bapak yang bicara, kesannya jadi ide akademisi. saya perlu ini terdengar realistis sebagai orang lapangan.”
Reyhan tersenyum tipis. “Dan kamu melakukannya dengan baik.”
Alya menatapnya sebentar, lalu berkata jujur, “saya sempat ragu.”
“Tapi kenapa kamu tetap melanjutkan ide ini?”
Alya berpikir sejenak. “Karena kalau saya sendiri nggak berani bikin perubahan, siapa lagi?”
“Kadang-kadang kita perlu hal yang tak biasa kan? Dan katanya jadi beda itu baik” tambah Alya lagi, dan kali ini mereka tertawa.
“Saya senang kalau ide saya tidak memberatkan kamu, tapi lain kali kalau kamu mau kamu bisa minta bantuan saya, tidak perlu berjuang sendirian seperti tadi”
Kata-kata itu pelan-pelan masuk kedalam kepala Alya yang kini justru memikirkan hal lain, hatinya menghangat.
“Saya akan minta bantuan kalau saya memang perlu, terimakasih tawarannya Pak”
Reyhan tidak menjawab. Tapi di dadanya, ada sesuatu yang menguat—bukan karena Alya berani, melainkan karena Alya punya sisi lain yang kembali membuatnya kagum.
Mereka keluar ruang rapat bersamaan, tidak ada yang melihat karena ruang rapat itu ada di pojok gedung lantai paling atas.
Itulah kenapa Alya dan Reyhan tampak santai berjalan.
Saat mereka berjalan keluar ruangan bersama, Reyhan berkata pelan, hampir seperti catatan untuk dirinya sendiri.
“Aku suka caramu berdiri. Nggak keras, tapi nggak mundur.”
Alya menoleh, terkejut sesaat. Reyhan tidak menatapnya—seolah kalimat itu bukan pengakuan, melainkan kebenaran yang tak perlu ditegaskan.
“Saya gak mundur karena banyak orang yang percaya dan berharap saya bisa, juga selalu mendukung saya jadi lebih baik dari sebelumnya”
“Ya karena kamu memang pantas mendapatkan itu” jawab Reyhan sembari menatap Alya yang masih menatap lurus ke depan.
Dan Alya menyadari satu hal, di tengah sistem yang menuntut kuat, ada seseorang yang memilih melihatnya sebagai manusia.
TBC