Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Pengkhianatan dibalas Pengkhianatan
Raka berdiri dan meraih tangan Liora.
"Iya, sayang. Kebetulan tadi aku mau bertemu dengan rekan kerjaku, ternyata Salsa ada di sini jadi kami memutuskan untuk makan siang bersama." jelas Raka dengan nada meyakinkan.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu silakan lanjutkan makan siang kalian karena aku juga akan makan siang bersama bos dan rekan kerjaku." balas Liora sambil menekan kalimatnya di akhir, menunjukkan bahwa ia juga akan makan siang bersama rekan kerjanya, yaitu Kevandra.
Sementara itu, Kevandra menatap Salsa tanpa mengalihkan pandangannya.
"Setelah ini aku ingin bicara denganmu. Tunggu aku di rumah." ucap Kevandra dingin dan datar.
Salsa hanya mengangguk pelan. "Baik, Mas."
Setelah itu, Liora meninggalkan Salsa dan Raka. Ia menarik tangan Kevandra tepat di hadapan mereka, yang seketika membuat Salsa geram dan cemburu.
"Berani sekali dia memegang tangan suamiku." batin Salsa dengan amarah yang siap meledak kapan saja. Namun, ia dengan susah payah menahannya, meremas jarinya di bawah meja dengan kuat.
Kini Liora dan Kevandra melangkah menuju kursi yang sudah ditempati Bagaskara lebih dulu.
"Sepertinya ada pertengkaran rumah tangga yang terjadi, Pak Kevandra?" tanya Bagaskara yang melihat percakapan mereka dari tempat duduknya yang tidak jauh dari tempat Raka dan Salsa.
"Hanya salah paham saja, Pak Bagaskara." jawab Kevandra datar.
Liora justru tersenyum manis, mencoba mencairkan suasana namun dengan maksud terselubung. "Tidak ada yang terjadi, Pak. Kebetulan mereka adalah istri dari pak Kevandra dan tunangan saya." ujar Liora, menjatuhkan bom informasi yang membuat suasana makan siang itu semakin berat.
"Wah, ternyata mereka pasangan kalian. Sangat kebetulan sekali, ya." ujar Bagaskara.
Liora hanya memberikan anggukan kecil yang misterius.
"Baiklah, sebaiknya kita mulai saja makan siangnya." putus Bagaskara.
Di sudut lain, Salsa dan Raka tidak bisa menelan makanan mereka dengan tenang. Mata mereka terus tertuju pada Liora dan Kevandra. Melihat Liora yang tertawa kecil dan Kevandra yang tampak merespons dengan akrab—pemandangan yang sangat langka—membuat perasaan Salsa dan Raka terbakar api cemburu yang semakin memanas.
Sepuluh menit berlalu, kini mereka telah menyelesaikan makan siang bersama. Mereka bangkit dari tempat duduk dan pergi bersama untuk kembali menuju kantor.
Di arah lain, Salsa dan Raka masih mematung, tak sanggup beranjak dari tempat duduk mereka. Saat Liora dan Kevandra melangkah keluar melewati kembali meja mereka, Liora mendadak berhenti. Ia mendekat ke arah Salsa dan membisikkan sesuatu yang membuat Salsa ingin memaki dan memarahi Liora saat itu juga.
"Kenapa kita tidak tukaran tempat saja, Sa? Kamu jauh lebih pantas bersamanya." bisik Liora.
Sebelum Salsa sempat membalas, Liora berpaling dan melemparkan senyuman paling manis—namun paling palsu—kepada Raka.
Kini Liora tidak lagi bermain di balik bayangan: ia secara terang-terangan menantang Salsa.
Tanpa menoleh lagi setelah membisikan sesuatu pada Salsa, Liora melangkah pergi meninggalkan Salsa dan Raka. Di sampingnya, Kevandra mengikuti dengan aura dingin yang tak tersentuh.
"Aku semakin yakin kamu sudah mengetahui hubunganku dengan tunanganmu, Liora, tapi kamu tetap memilih diam. Baiklah, cukup menarik permainannya. Sekarang kamu sudah menunjukkan secara langsung bahwa kamu mengajakku perang secara terbuka." batin Salsa.
Salsa terus menghujamkan tatapan tajam ke punggung Liora, seolah-olah pandangan matanya itu bisa menembus kulit lawannya.
Namun di tempat lain, Liora dan Kevandra sudah kembali tenggelam dalam kesibukan proyek mereka. Di sela-sela pekerjaannya, Liora sesekali melirik pria di sampingnya itu dengan rasa heran yang tak terbendung.
"Apa dia benar-benar tidak curiga pada istrinya sendiri?" batin Liora bertanya-tanya. "Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu setelah melihat istrinya makan siang berduaan dengan pria lain—walaupun pria itu adalah tunanganku?"
"Laki-laki aneh." gumam Liora, namun suaranya masih bisa didengar oleh Kevandra.
"Siapa yang aneh?" tanya Kevandra. tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.
Liora tersentak dengan cepat mengubah raut wajahnya. "E-eh, itu... maksudku soal proyek yang akan kita kunjungi besok." kilah Liora cepat, otaknya berputar mencari alasan yang masuk akal. "Aku merasa ada yang aneh dengan pemilihan lokasi untuk bagian bangunan yang tidak terlalu penting itu."
Kevandra hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah lima belas menit berlalu, kini Kevandra memutuskan untuk mengakhiri rapat dan kembali pulang untuk menemui istrinya.
"Baiklah, Pak Bagaskara. Rapat ini sudah kita putuskan. Saya dan Liora yang akan turun langsung melihat proyek ini bekerja. Kalau begitu, saya pamit lebih dulu. Saya rasa ini semua sudah cukup jelas."
"Terima kasih, Pak Kevandra, atas kepercayaan dan kerjasamanya." balas Bagaskara sambil menjabat tangan Kevandra, dan disambut baik oleh Kevandra.
Kevandra melangkah lebar menghampiri asisten pribadinya. "Rio!" panggilnya dengan nada rendah namun penuh otoritas.
Rio segera berdiri tegak, menyadari aura dingin yang memancar dari tuannya. "Iya, Tuan. Bagaimana? Apa urusan di sini sudah selesai?"
"Sudah. Kita pulang sekarang juga!" perintah Kevandra tanpa ekspresi, memberikan kesan bahwa ada urusan yang jauh lebih mendesak di rumah daripada sekadar bisnis.
Rio tidak berani banyak bertanya. Ia hanya menunduk patuh. "Baik, Tuan."
Setelah itu, Rio mengikuti langkah Kevandra dari belakang menuju mobil yang terparkir di depan kantor. Rio membukakan pintu untuk Kevandra lebih dulu sebelum ia masuk ke kursi pengemudi.
Kini Rio mengendarai mobilnya, membelah jalanan kota di tengah kesibukan orang-orang yang berlalu-lalang.
Sementara itu di kafe, Salsa dan Raka masih di tempat yang sama.
"Aku harus segera pulang, Rak! Aku yakin sebentar lagi Kevandra akan pulang." pamit Salsa di tengah rasa khawatirnya.
Raka justru terkekeh kecil, seolah tidak melihat bahaya yang sedang mengintai. "Jangan terlalu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah selama ini kamu sangat ahli bersandiwara di depannya?" ucap Raka dengan nada setengah menggoda.
"Kamu malah menggodaku. Bagaimana kalau Kevandra sampai tahu tentang kita?" rajuk Salsa, mencoba terlihat rapuh dengan nada manja yang dibuat-buat.
Raka menariknya ke dalam pelukan, mengelus pucuk kepala Salsa dengan lembut. "Percayalah, Kevandra tidak akan pernah tahu. Selama ini kita aman-aman saja, kan?" bisik Raka.
Salsa menyandarkan kepalanya, mengangguk pelan dalam dekapan Raka. Namun, sorot matanya tidak menunjukkan ketenangan. "Kamu tidak tahu, Raka, kalau Liora sudah memegang kartu as kita. Tapi ini justru lebih menarik. Aku akan merebutmu sepenuhnya dari dia secara terang-terangan." batinnya dengan senyum sinis yang tersembunyi.
"Ya sudah, kalau kamu mau pulang sebaiknya hati-hati di jalan." lanjut Raka sambil melepaskan pelukannya, lalu mencium kening Salsa dengan sayang.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag