Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunung es yang sulit di taklukan.
Puncak masih sangat jauh. Tapi aku telah melihat kemustahilan untuk mampu menaklukan gunung es ini...
🥀
🥀
🥀
Zahra tak bisa berkutik ketika dirinya kepergok masuk kamar yang sejak awal sudah di wanti-wanti untuk tidak memasukinya. Namun kali ini ia melanggarnya seteah terkalahkan oleh rasa penasaran.
Tangannya mengusap basahnya pipi karena air mata yang jatuh tanpa ia sengaja. Rasanya sakit yang mengantam ulu hati hanya karena melihat bara api masalalu yang sepertinya tak akan pernah padam. Zahra melihat kemustahilan itu dengan jelas sekarang.
"Aku bilang apa yang kamu lakukan di sini?!" suara Adnan meninggi.
Zahra membalik badan. Sedangkan Adnan kini sudah berdiri dengan jarak kurang dari satu meter dengan setangkai bunga mawar merah di tangannya. Sementara ia sempat melihat sebuah vas yang terdapat banyaknya bunga mawar. Dimana sebagian besar telah layu dan mati. Tapi masih ada beberapa juga yang segar.
Ia pun kembali menitikkan air mata yang sama sekali tak bisa dibendung lagi menatap lurus ke tangan yang memegang bunga itu. Kemudian perlahan terangkat naik ke arah wajah yang terlihat dingin namun penuh emosi.
"Kak?" Zahra mendekat, dan hendak meraih tangan Adnan, namun pria itu justru menepisnya. Membuat kedua bola mata Zahra melebar karena penolakan itu.
"Apakah sebuah peringatan yang masuk padamu harus selalu di perbaharui setiap saat?"
Tatapan dingin Adnan membuat Zahra hampir tak bisa membalasnya. Perempuan itu menggeleng pelan.
"Aku minta maaf, Kak," lirih wanita itu dengan suara parau.
"Lancang!" tandasnya tanpa menimbang-nimbang. Memandang Zahra seakan sebagai pencuri yang masuk ke dalam rumahnya tanpa izin.
"Kak, Aku?"
"Keluar!" hentak sang suami sambil menunjuk ke arah pintu kamar yang terbuka.
Bulir-bulir bening berjatuhan semakin deras. Zahra bahkan sudah tidak memiliki daya untuk berbicara. Di samping rasa tidak nyaman karena tengah hamil muda. Ia juga tidak kuasa mendengar suara Adnan yang sedikit menghardik.
Perempuan itu melangkah keluar kamar. Melewati Adnan yang bahkan tak menatapnya. Dada pria itu naik turun karena menahan emosi yang sudah sangat meluap. Dan saat Zahra keluar ia segera menutup pintu kamar dengan cara di banting. Zahra yang masih mendengarnya beristigfar. Tangannya menutup mulut sambil terus menaiki anak tangga sambil terisak.
"Aaaaarrrggghhh!"
Adnan menghantam cermin di meja rias milik Marwah. Pria itu meremas kepala sembari meraung-raung seperti kesetanan dengan tangan yang berdarah karena terkena pecahan cermin.
"Sayang maafkan aku... maafkan aku Marwah... Maaf..." Adnan menangis, menatap wajah Marwah yang terlihat cantik di foto yang bertengger di meja rias.
Malam itu perasaan keduanya benar-benar hancur karena dua hal yang berbeda. Zahra yang baru saja menjatuhkan hatinya untuk sang suami kini harus di suguhkan fakta yang membuatnya merinding. Ia bahkan bagaikan seorang pendaki yang telah melihat kemustahilan itu sebelum mencapai puncak.
Sementara Adnan, Ia yang sejak awal menolak untuk menikah lagi. Justru harus menyiksa dirinya demi sebuah kata patuh. Ia tak bisa terus mendengar celotehan ibunya yang terus membicarakan soal cucu teman-teman sebayanya demi agar Adnan merasa tersindir dan akhirnya bersedia mencari pasangan hidup. Dan ia sempat berpikir semua akan mudah. Tapi ternyata tidak. Semua wanita tidak ada yang ingin menjadi yang kedua. Ujung-ujungnya pasti menuntut menjadi yang pertama dan satu-tunya. Sementara bagi pria itu. Hanya ada satu wanita yang akan selamanya menduduki singgasana hatinya. Yakni Marwah. Istri yang paling ia cintai, yang tak akan tergantikan oleh siapapun. Bahkan Zahra sekalipun.
...🍂🍂🍂...
Semalam, Zahra sebenarnya sengaja tetap terjaga demi menunggu suaminya datang dan tidur di kamar mereka. Tapi, ia ia dapati. pintu itu tetap tertutup rapat tanpa tanda-tanda akan terbuka. Bahkan, hingga pagi datang. Ia justru mendapati jika Adnan sudah tidak ada di rumah.
"Bapak berangkat sebelum subuh tadi, Bu. Katanya ada kerjaan di luar kota. Emang Bapak nggak ngomong sama ibu?" ujar Mak Rini sambil menuangkan air mineral.
"Kayanya saya yang nggak denger waktu suami pamit, Mak," jawab Zahra ngarang. Meskipun ia berharap itu benar.
Ia menyantap roti dengan selai coklat dengan tenggorokan yang terasa penuh. Sampai-sampai ia kesulitan untuk bernafas. Kedua matanya kembali menghasilkan kristal bening yang siap jatuh kapan saja.
"Ibu baik-baik aja?" tanya Mak Rini yang peka dengan kedua mata Zahra yang basah.
"Hemmm?" Air mata itu jatuh. "Ini cuma karena kepedasan." Zahra mengusapnya cepat sambil terkekeh sekaligus bangkit meninggalkan sisa roti yang baru ia makan satu gigitan.
Mak Rini menghela nafas saat melihat roti yang di makan majikannya. Itu sama sekali tidak mungkin pedas karena hanya roti isi selai coklat. Pasti sedang ada masalah dalam rumah tangga majikannya itu. Tapi, Mak Rini tak bisa apa-apa. Siapapun pasti pernah mengalami polemik di dalam rumah tangganya. Tidak terkecuali Pak Adnan dan Bu Zahra yang usia pernikahannya baru seumur jagung. Dan Ia pun berharap semua masalah bisa segera terselesaikan dengan baik.
moga aja otor beri penyiksaan yang lebih sakit dari sakit hatinya zahra😭😭😭😭
untung ketemu faqih,kalo ngak ngak kebayang gimana padahal zahra perlu penangan cepat.
pdhl mending khlngan suami drpd anak/Cry/
semoga saja otor memberi kamu kesengsaraan dan penyesalan yang lebih dari kamu kehilangan istri pertamamu.