NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

10. TGD.10

Bus kembali menderu, kali ini moncongnya menghadap ke arah selatan, menjauhi aroma tanah basah dan hamparan hijau yang baru saja memberi Shelly energi baru. Di dalam tas ranselnya, selain pakaian, kini terselip dua botol besar sambal teri buatan Ibu dan sebungkus besar emping melinjo titipan Bude.

Namun, yang paling berat sekaligus paling ringan ia bawa adalah tekad yang baru saja diperbarui.

---

Enam bulan lalu, Shelly berangkat dengan rasa takut akan ketidakpastian. Sekarang, ia duduk di kursi bus dengan punggung tegak. Ia membuka buku catatannya, menuliskan satu kalimat di halaman paling depan: Sawah itu tidak boleh dijual, dan keringat Bapak harus dibayar lunas.

Setibanya di terminal kota yang bising dan penuh asap, Shelly tidak lagi merasa terintimidasi. Ia berjalan menembus kerumunan dengan langkah pasti. Di asrama, ia disambut oleh teman-temannya yang sibuk bercerita tentang liburan mewah mereka ke luar negeri atau pusat perbelanjaan.

"Shel, kamu kok malah makin hitam? Habis dari pantai ya?" tanya salah satu teman sekamarnya, Cindy.

Shelly tersenyum bangga, "Bukan pantai, Cin. Aku habis membantu Bapak di sawah. Mataharinya lebih jujur di sana."

Semester kedua berjalan lebih berat. Mata kuliah mulai masuk ke ranah teori yang kompleks. Suatu malam, di perpustakaan yang dingin, Shelly dihadapkan pada pilihan sulit. Seorang teman dari keluarga kaya menawarinya sejumlah uang yang cukup besar—setara dengan biaya hidup Shelly selama dua bulan—hanya untuk mengerjakan tugas proyek akhirnya.

Shelly menatap uang itu, lalu teringat pada kemeja batik Bapak. Ia ingat bagaimana Bapak lebih memilih memakai baju lama agar uangnya bisa ditabung untuk Shelly.

"Maaf, aku tidak bisa," jawab Shelly tenang. "Aku di sini untuk belajar, bukan untuk menjual ilmuku dengan cara yang salah. Kalau kamu mau, aku ajari cara mengerjakannya, tapi aku tidak akan mengerjakannya untukmu."

Dua bulan berjalan, sebuah pengumuman tertempel di papan mading fakultas. Universitas sedang mencari perwakilan mahasiswa untuk program Student Exchange ke Jepang selama satu bulan, dengan fokus pada Teknologi Pertanian Modern.

Tanpa ragu, Shelly mendaftar. Ia menulis esai tentang desanya, tentang saluran irigasi yang dibersihkan Bapak, dan tentang mimpinya membawa teknologi agar petani di desanya tidak perlu lagi membungkuk terlalu lama di bawah terik matahari.

Saat wawancara, dewan juri bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan jika kamu gagal?"

Shelly menjawab dengan binar mata yang sama seperti saat ia melihat padi di sawahnya, "Kegagalan bagi saya hanyalah satu musim paceklik. Saya akan menanam kembali, belajar lagi, dan menunggu musim panen berikutnya. Karena saya anak petani, dan saya tahu cara bertahan hidup."

---

Satu minggu kemudian, sebuah email masuk ke ponsel Shelly. Ia diterima. Shelly segera berlari ke luar asrama, mencari tempat yang tenang untuk menelepon ke desa.

"Halo, Ibu? Bapak?" suara Shelly gemetar.

"Iya, Nduk? Ada apa? Kamu sehat?" suara Bapak terdengar khawatir di ujung sana.

"Pak, Bu... Shelly akan berangkat ke Jepang bulan depan. Semua dibayari kampus. Shelly mau belajar cara mengelola sawah yang lebih maju untuk kita semua di sini."

Hening sejenak di seberang telepon. Shelly bisa mendengar isak tangis haru Ibu dan suara napas Bapak yang berat karena menahan tangis bangga.

"Berangkatlah, Nduk. Terbanglah setinggi yang kamu bisa," ucap Bapak pelan. "Tapi ingat, sejauh mana pun kakimu melangkah, tanah tempatmu berpijak sekarang adalah tanah yang selalu menunggumu pulang."

Malam itu, di tengah hutan beton yang dingin, Shelly menatap langit. Meski bintang-bintang di kota tertutup polusi, ia tahu bahwa di desanya, bintang-bintang sedang bersinar terang untuknya. Ia tidak lagi hanya membawa nama dirinya sendiri; ia membawa harapan seluruh desanya di pundaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!