NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 : Diantara Do'a dan Realita

Pagi itu, suasana SMA Kusuma Bangsa terasa lebih tegang dari biasanya. Di ruang kepala sekolah, nasib Bela berada di ujung tanduk. Skorsing berat atau Drop Out sudah di depan mata. Selain Bela dan kepala sekolah di ruangan itu juga ada ketua dan wakil ketua OSIS.Ramdan berdiri tegap di samping ketua OSIS. Saat kepala sekolah hampir menanda tangani surat keputusan, Ramdan angkat bicara dengan suara baritonnya yang tenang namun mutlak.

"Pak maaf, tunggu sebentar jangan dulu tanda tangan, izinkan saya dan ketua OSIS untuk berdiskusi lagi sebentar ". Pak Ardi pun menganggukkan kepalanya tanda memberikan izin. Ramdan dan Arga pun keluar sebentar dari ruangan kepala sekolah, mereka berbincang di depan pintu ruangan kepala sekolah.

"Ada apa lagi sih Ndan? Kok kamu ngajak aku diskusi lagi sih " kata Arga penasaran dengan apa yang di lakukan Ramdan

"Ga, gue tahu pelanggaran Bela udah ada di batas maksimal, tapi menurut gue kalau ngasih hukuman pada Bela dengan cara di D.O itu bukan solusi yang terbaik. Maaf ya Ga , jangan sampai kamu ada pikiran karena Bela suka sama gue terus sama gue di belain , bukan gitu maksudnya, tapi apa sebaiknya kita itu ngasih Bela hukuman dengan skorsing selama 3 Minggu , menghapal surat An-Naba dengan tajwid dan makhraj yang benar , jabatan sebagai bendahara OSIS dicabut, serta di keluarkan secara langsung dari kepengurusan OSIS,serta menjadi donatur buat acara Jum'at berkah untuk para warga sekolah,jadi setiap minggunya Bela yang menghandle semuanya. Gue rasa itu hukuman yang bisa mendidiknya untuk lebih baik dari pada di D.O yang mungkin akan kehilangan hak untuk sekolahnya apalagi kan beberapa bulan lagi Bela akan menghadapi Ujian Nasional, jadi tetap ada masa depannya " Kata Ramdan serius

"Ndan kamu serius? Padahal Bela udah mau menghilangkan nyawa seseorang "Arga menatap Ramdan

"Seriusan Ga, dan ini murni karena kemanusiaan,dan tolong rahasiakan ini semua dari Bela maupun para guru begitu juga Tari, kalau ada yang nanya ya ini kesepakatan kita berdua " kata Ramdan penuh harap. Ramdan tahu Arga sangat bisa untuk di andalkan.

"Okelah kalau begitu,yuk Ndan kita masuk lagi ke dalam" Ajak Arga. Di dalam ruang kepala sekolah,Arga menatap Bela sebentar kemudian beralih menatap kepala sekolah terakhir Arga menatap Ramdan seolah - olah meminta izin setelah Ramdan menganggukkan kepalanya, Arga menarik napas panjang

"Pak , maaf kami meralat hukuman untuk Bela,kami berdua setelah berdiskusi ulang memutuskan untuk menghukum Bela bukan di D.O tapi hukumannya adalah menghapal surat An-Naba dengan tajwid dan makhraj yang benar, dicabut jabatannya di OSIS , dikeluarkan langsung dari kepengurusan OSIS tim inti ,dan menjadi donatur Jum'at berkah tiap minggunya untuk para warga sekola**h, serta skorsing selama 3 minggu " Kata Arga dengan serius dalam hatinya dia bermonolog"betapa mulianya hatimu Ndan"

"Loh kenapa ga jadi di D.O? Padahal pelanggarannya berat sekali" Tanya Pak Ardi

"Karena bentuk kemanusiaan pak kalau di D.O hak sekolah Bela terputus di karenakan sudah kelas XII jadi kalaupun nanti pindah sekolah tetap aja sekolah lain tidak akan menerima karena data siswa kelas XII ke pusat sudah ready. Kan sebentar lagi mau Ujian Nasional jadi biarkan Bela tetap bersekolah " Kata Arga

" Oke baiklah, Bela kamu tidak jadi di D.O karena teman-teman kamu memikirkan masa depan kamu " Ucap pak Ardi

"iya Pak. Arga, Ramdan makasih ya" Ucap Bela sambil menunduk

"Iya Bela tapi ingat nanti kalau kamu sudah beres skorsing kamu harus minta maaf kepada Tari di depan umum "Ucap Arga

"Baiklah " kata Bela

Karena hukuman untuk Bela sudah deal, maka Ramdan langsung pamit pergi ke luar dari ruang kepala sekolah dan menuju ke UKS.Di UKS Tari duduk di temani oleh Alvin, Tiara dan Karin. Muka Tari masih pucat. Tari masih memakai hoodie hitam punya Ramdan sehingga itu membuat Tari sedikit nyaman.

Sore harinya, langit berubah mendung. Tari terlihat pucat di gerbang sekolah. Tari dan Ramdan jalan beriringan namun masih ada jarak. Ramdan hanya menjaganya takutnya nanti Tari jatuh lagi. Di parkiran, Ramdan baru menyadarinya bahwa tidak mungkin kalau membawa Tari memakai motornya bagaimana nanti kalau dia jatuh? akhirnya Ramdan mengirimkan chat pada Arga

"Ga , kamu pulang tolong bawa motor aku ya , kamu gak bawa motor kan? Soalnya aku gak liat motor kamu di parkiran , motorku balikinnya besok aja di sekolah "

Arga Typing"iya gue gak bawa motor. Oke gue bawa motormu , kuncinya titipin aja di mang Udin "

Ramdan typing" thanks ya. Gue ma Tari pulang pake taxi online, kunci gue titipin di mang Udin "

Beres chat an sama Arga, Ramdan langsung menatap pada Tari

" Ri, sekarang kita pulang naik taksi online ya ,no debat no penolakan" kata Ramdan

" iya udah, padahal aku juga bisa pulang sendiri naik ojol " kata Tari

" Ri, dengerin kamu itu lagi sakit gue ga mau kamu kenapa - napa jadi gue pastiin kamu selamat sampai tujuan,udah jangan ngebantah " kata Ramdan

" Motor kamu gimana?"kata Tari

" gampang itu,bisa di atur" kata Ramdan

Sepanjang jalan, Tari hanya bisa bersandar lemas di jok mobil . Sesampainya di rumah, Ramdan mengantarkan Tari ke kamarnya kemudian Ramdan kembali ke dapur untuk mengambil air hangat untuk mengompres Tari. Dengan cekatan dan telaten, Ramdan mengompres Tari.Namun Ramdan bingung karena di rumah Tari sendirian dan gak mungkin Ramdan ninggalin Tari sendirian dalam keadaan demam. Akhirnya Ramdan pun bilang pada Tari

" Ri, aku boleh pinjem hp kamu gak buat telpon papa kamu, soalnya aku gak mungkin ninggalin kamu sendirian dalam keadaan demam" Kata Tari

" Boleh banget Ndan, ponselnya ada di tas nama kontak nya papa" ucap Tari deg-degan.Ramdan pergi ke luar dari kamar Tari,dan langsung saja menelpon ayah Tari

" Iya Tari kenapa Nak" kata di ujung sana

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Om ini aku Ramdan,maaf om aku lancang. Ini om tadi ada insiden di sekolah, dan sekarang Tari keadaannya demam tapi tadi aku sudah mengompresnya cuma aku gak bisa ninggalin Tari begitu saja apalagi dia dalam keadaan demam. Jadi kalau om mengizinkan bolehkah aku menemani dan menjaga Tari sampai keadaan dia stabil. Tenang kok om saya tidak akan berbuat yang aneh - aneh, saya hanya ingin menjaga Tari,gitu aja om" Ucap Ramdan

" Oh Ramdan yah??hmm Ramdan yang anak brotherhood bukan sih? Hmm makasih banyak ya Ram, kamu udah jagain Tari.Maaf om ngerepotin kamu. Kamu boleh menemani Tari dan kamar tamu ada di sebelah kamar Tari kuncinya ada di atas pintunya " ucap ayah Tari di seberang sana

"makasih banyak ya om insyaallah saya akan menjaga kepercayaan dari om" Ucap Ramdan

"Justru om yang harus bilang makasih sama kamu om ngerepotin kamu oh iya kalau Tari kenapa -napa jangan sungkan-sungkan untuk kabarin om ya " ucap ayah Tari

"Baik Om , pastinya saya kabarin "ucap Ramdan

Beres nelpon ayah Tari, Ramdan masuk lagi ke kamar Tari

"Kamu istirahat ya aku akan jagain kamu di sini soalnya papa kamu udah ngizinin aku untuk jagain kamu jadi kamu sekarang tidur, istirahat,jauhkan hp nya. Tenang aku gak akan berbuat aneh - aneh, aku di kamar tamu kok" Kata Ramdan sambil membetulkan posisi selimut Tari supaya menutupi seluruh tubuhnya

"Makasih ya Ndan, maaf aku ngerepotin kamu terus" Kata Tari

" Aku gak pernah merasa di repotin sama kamu" kata Ramdan.

Mendengar kata-kata Ramdan seperti itu membuat hati Tari semakin terharu dan kagum. Dia merasa di jaga dan membuatnya aman.

"Ri mendingan sekarang Lo tidur. Gue jagain di sini tenang gue gak akan berbuat yang aneh - aneh" ucap Ramdan sambil duduk di kursi belajar Tari, sibuk dengan laptopnya sendiri. Ada rasa aman yang menjalar di hati Tari saat melihat punggung cowok itu dari balik selimut. Tari terus aja memandangi punggung Ramdan yang sedang sibuk duduk di kursi meja belajar Tari, Ramdan sedang sibuk mengerjakan tugas OSIS. Semakin lama ,mata Tari semakin gak kuat untuk di buka . Tari pun terlelap tidur dalam rasa aman. Di sepertiga malam yang begitu dingin

Tari terbangun dan berusaha membuka matanya, berusaha mengumpulkan nyawa yang masih berceceran. Tenggorokannya terasa kering. Saat tangannya meraba nakas, dia baru sadar kalau sebuah tas ransel hitam yang sangat dia kenali sebagai milik Ramdan tergeletak rapi di atas kursi , tapi pemiliknya tidak ada di sana.

"Ndan?" bisik Tari lirih, suaranya masih parau.

Hening. Rasa penasaran mengalahkan rasa pusingnya. Dengan langkah pelan dan sedikit gemetar, Tari berjalan keluar kamar. Dia melihat celah cahaya lampu yang mengintip dari bawah pintu kamar tamu. Mengikuti instingnya, Tari memutar knop pintu itu perlahan tanpa menimbulkan suara

Ceklek.

Pintu terbuka sedikit, dan pemandangan di dalamnya sukses membuat napas Tari tertahan. Di sana, di tengah sunyinya malam, Ramdan sedang bersimpuh di atas sajadah. Cowok itu tidak sedang tidur lelap seperti dugaannya. Ramdan justru sedang tenggelam dalam sujud yang sangat lama, lalu bangun dengan wajah yang basah oleh air mata.

Tari terpaku di ambang pintu. Dia melihat sisi Ramdan yang belum pernah ditunjukkan pada siapa pun di sekolah. Tidak ada wajah sangar Waketos, tidak ada nada bicara yang ketus. Yang ada hanyalah seorang hamba yang sedang mengadu dengan penuh kepasrahan. Melihat pundak Ramdan yang bergetar saat

Menengadahkan tangan ke langit, hati Tari mendadak tersenyum sekaligus perih.

Ada rasa malu yang tiba-tiba menyerang Tari. Malu karena selama ini dia terlalu sibuk mengejar dunia, sementara orang yang menjaganya justru sedang sibuk "menjaga" hubungannya dengan Sang Pencipta. Air mata Tari ikut jatuh, mengalir melewati pipinya yang masih hangat karena demam. Di depan kamar tamu itu, Tari berjanji satu hal: dia ingin dibimbing oleh laki-laki ini.

Ramdan menghela napas panjang, mengakhiri doanya dengan usapan tangan ke wajah yang masih menyisakan bekas air mata ketulusan. Dia berdiri, melipat sajadahnya dengan gerakan pelan dan rapi. Namun, saat dia berbalik untuk meletakkan sajadah itu, langkahnya terhenti seketika.Sosok Tari berdiri mematung di ambang pintu yang sedikit terbuka. Wajah cewek itu pucat, tapi matanya yang sembab tampak berkaca-kaca, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ramdan tersentak kecil, sedikit kaget rahasia spiritualnya "tercyduk". "Eh, Ri? Kok kamu di sini?" tanyanya dengan suara bariton yang mendadak lembut. Dia berjalan mendekat, menatap Tari dengan cemas. "Kenapa? Kamu pusing lagi? Perlu bantuan sesuatu?"

Tari nggak menjawab. Dia cuma diam membeku, tapi air mata harunya malah makin deras menetes melewati pipinya. Melihat Tari yang menangis tanpa suara seperti itu, pertahanan Ramdan runtuh. Dia nggak tega.

"Ri, jangan nangis... Ada yang sakit?" tanya Ramdan lagi, kali ini tangannya hampir terangkat untuk menenangkan, tapi dia urungkan karena sadar akan batasannya.

Tari menggeleng pelan, lalu akhirnya

Bersuara di tengah isak tangisnya. "Ndan...aku ingin berubah lebih baik lagi, liat kamu tadi khusyuk berdo'a rasanya aman dan nyaman jadi aku ingin seperti kamu. Kamu mau kan bimbing aku? Aku mau berubah seperti kamu. Pantesan liat kamu dalam menghadapi masalah selalu tenang." Kata Tari

"Hah apa Ri? Aku juga sama seperti yang lain aku masih dalam proses pembelajaran Ri, tapi kalau kamu yang minta ya udah kita belajar bersama - sama " kata Ramdan

"Makasih ya Ndan" Kata Tari

"sama-sama Ri, yuk sekarang kamu tidur lagi ya karena ini masih jam 02.00 dini hari. Nanti kamu gak usah sekolah dulu ya kamu harus istirahat, urusan kelas insyaallah aku bisa handlenya kok" Kata Ramdan

"Ya udah deh kalau kamu yang nyuruh, aku gak bisa nolak, kalau gitu aku kembali ke kamar ya aku mau tidur lagi "Kata Tari

Grup Chat: "Geng Receh (Anti D.O D.O Club)" 📱

Alvin: "EH EH EH! GUE GAK SALAH LIAT KAN??"

Alvin:( mengirimkan foto)

"[Screenshot SW Ramdan yang isinya foto langit sepertiga malam dari balkon]"

Alvin: "Woi @Ramdan, itu bukannya balkon kamar tamu rumah Tari ya? soalnya gue hafal gordennya? 👀"

Boby: "ANJAY! Detective Alvin @Alvin beraksi! 😂" Boby: "Wah parah sih Ndan@Ramdan, udah main nginep-nginep aja. Gak bilang-bilang lagi sama kita - kita

Bara: "Pantesan tadi malem ditanya tugas OSIS jawabnya 'nanti'. Ternyata lagi sibuk jagain bidadari yang lagi demam ya? 😎"

Pajar: "Wah, Waketos kita ternyata diam-diam menghanyutkan. Background balkonnya estetik banget, Ndan. Seestetik cinta lo yang terpendam? Wkwk."

Karin: "Heh cowok-cowok mulutnya! Tapi beneran itu rumah Tari? @Tiara coba cek, bener gak?"

Tiara: "Eh iya bener! Itu balkon samping yang deket pohon mangga. Wah, Ramdan... beneran lo di sana?"

Arga: "Sudah-sudah, jangan digodain terus. Nanti pawangnya ngamuk, laporan kita gak di-acc mampus lu pada. 😂"

Ramdan: "Salah kirim. Tadi mau kirim ke grup keluarga."

Ramdan: "Tari lagi sakit, gue cuma bantuin jagain sebentar karena kan kalian tahu orangtuanya Tari kan di Singapura "

Alvin: "Alasan klasik! Bilang aja 'nyaman' Ndan, susah amat. 🤪"

Alvin: "Baru juga semalem, eh popularitas lo di dashboard udah tembus 195 aja. Efek jagain Tari emang beda!"

Ramdan: "Berisik. @Alvin besok lari 10 putaran sebelum masuk kelas."

Alvin: "Yahhh ngambek! Kaburrrr! 🏃💨"

Tari: "Waduh, kok rame banget nih? 😂"

Tari: "Iya bener @Alvin, itu emang balkon rumah gue. Tapi baru tau Waketos kita hobi foto estetik pada dini hari ya? Wkwk."

Alvin: "NAH KAN! Tuan putri sudah bersabda! 👑 Ayo Ndan @Ramdan, klarifikasinya ditunggu di persidangan rakyat Geng Receh."

Boby: "Sikat Ri! Jangan kasih kendor! 😂"

Ramdan: "@Tari Ri, tidur. Jangan gadang." Ramdan: "Masih demam kan? HP-nya ditaruh sekarang atau gue ke sana lagi?"

Pajar: "ANJAYYYYY! 'Atau gue ke sana lagi' katanya! 📈🔥"

Pajar: "Gak ada obat emang Waketos kalau udah ngancem. Langsung mode pawang!"

Karin: "MAMPUS! Wkwk, mending lo tidur deh Ri daripada disamperin beneran sama singa OSIS."

Tiara: "WKWK bener Ri, nurut aja napa sih. Biar kita aja yang lanjutin nge-bully Ramdan di sini. 😂"

Tari: "Dih, kok jadi gue yang kena semprot? 🙄" Tari: "Iya-iya, ini merem. Bye guys! 💤"

Ramdan: "Good."

Chat Pribadi: Ramdan 🧊 & Tari 🌸

Ramdan: "Udah ditaruh belum HP-nya?" Ramdan: "Kenapa masih online?"

Tari: "Ih galak banget sih, Waketos."

Tari: "Tanggung tadi lagi seru di grup, lagian gue udah mendingan kok."

Ramdan: "Mendingan bukan berarti sembuh total, Ri."

Ramdan: "Gue gak mau besok denger lo pingsan lagi di sekolah. Capek gendongnya."

Tari: "Dih, sombong! Siapa juga yang minta digendong 🙄"

Tari: "Tapi makasih ya buat yang sepertiga malamnya.. Aku liat kok."

Ramdan: "..." Ramdan: "Liat apa?"

Tari: "Liat kamu sholat di kamar tamu. Khusyuk banget sampai nangis gitu. kamu lagi ada masalah ya, Ndan?"

Ramdan: "Bukan urusan mu Fokus aja sama kesehatan mu dulu."

Ramdan: "Satu hal lagi, Ri..."

Tari: "Apa?"

Ramdan: "Janji sama gue. Jangan gampang nangis cuma gara-gara urusan sekolah. Ada gue yang bakal beresin semuanya. Sekarang tidur."

Tari: "Ndan... makasih ya. (Read)"

Sesudah chatan sama Ramdan,maka Tari pun langsung mencoba untuk memejamkan matanya kembali. Sementara itu di kamar tamu, Ramdan lagi duduk di atas kasur sambil memegang ponselnya tak berapa lama dia mengirimkan chat pada seseorang ternyata dia mengirimkan chat pada Arga

Ramdan: Ga sory Yach nanti pas jaga gerbang kamu sama yang lain dulu, sepertinya gue agak telat tapi tenang jam 07.00 udah ada di sekolah. Maaf ya pak ketua yang ganteng 🤭💪🏻"

Arga Typing"Okey siap Waketos ku yang baik hati dan tidak sombong, tenang nanti gue ajak si arka aja "

Ramdan typing"good , eh mulai nanti bendahara OSIS langsung di ganti saja sama Anisa biar sekertaris kita cari pengganti Anisa "

Arga Typing"Siap Waketos, udah aja gantinya Tari untuk sementara kan nanti juga bakal ada pemilihan OSIS baru "

Ramdan typing"nanti aja dulu jangan kasih tahu dulu Tari nya ,gue liat situasi dan kondisi Tari"

Arga Typing"🤭😅☺️"

Sesudah chatan sama Arga, Ramdan pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas karena sudah jam 04.00 Ramdan pergi ke dapur untuk membuat bubur agar Tari bisa sarapan sebelum Ramdan berangkat ke sekolah. Jadi Ramdan tenang berangkat sekolah meninggalkan Tari sendirian di rumah meskipun ada sedikit khawatir

Pagi hari yang cerah dan indah namun tidak secerah wajahnya Waketos SMA Kusuma Bangsa. Pagi itu Tari terpaksa izin tidak masuk sekolah karena badannya masih sedikit lemes.Dan juga pagi itu Ramdan terpaksa harus berada di ruang OSIS dari mulai pagi karena sedang menyusun panitia pelaksana pentas seni maka kekacauan pun terjadi di kelas XI-IPA 1. Masalahnya, draf pertanyaan wawancara untuk majalah sekolah belum disetor ke Bu Melly. Padahal hasil wawancara harus segera di setorkan ini jangankan hasilnya draf pertanyaan aja belum ada. Bu Melly sebagai wali kelas XI IPA 1 dan juga sebagai guru bahasa Indonesia datang ke kelas XI IPA 1

Bu Melly masuk dengan wajah sangar. "Siapa penanggung jawab draf ini? Kalau belum ada di meja saya dalam 10 menit, nilai praktek kalian saya kosongkan satu semester! Jangan karena Tari sakit dan Ramdan sibuk di OSIS terus kalian tidak ada yang ngerjain masa semua harus mereka berdua yang ngerjain. Kalian di sini

"Gimana sih Tari! Gara-gara dia, sekelas kena semprot Bu Melly!" gerutu salah satu teman sekelas.

Tepat saat itu, pintu kelas diketuk. Ramdan berdiri di sana dengan wajah lempengnya.

"Mohon maaf, Bu Melly. Saya yang salah," ucap Ramdan tegas. Satu kelas melongo. "Tari izin karena masih sakit akibat insiden kemarin. Drafnya ada di saya, maaf karena saya dari tadi pagi ada di ruang OSIS maka maaf saya terlambat menyerahkannya pada meja ibu dan ini draf nya Bu " Kata Ramdan sambil menyerahkan draf pertanyaan wawancara nya

Bu Melly, yang biasanya sulit luluh, hanya bisa menghela napas melihat keberanian sang Waketos pasang badan.

" Oke Terima kasih banyak ya Ramdan,maaf ibu tadi marah - marah kepada teman-teman kamu. Karena ibu pikir kalian belum ada yang bikin" ucap Bu Melly

" iya Bu sama-sama " Kata Ramdan

Setelah Bu Melly keluar membawa draf tersebut, suasana kelas yang tadinya mencekam langsung pecah. Alvin, yang memang punya nyawa sembilan, langsung melompat dari kursinya.

"WIDIIIH! Pahlawan draf kita muncul! Senggol dong!" sorak Alvin sambil merangkul bahu Ramdan. "Tapi gue kepikiran deh, Ndan. Kok drafnya bisa di lo? Bukannya harusnya di Tari? Apa jangan-jangan draf ini lo kerjain sambil jagain 'tuan putri' tadi malem di balkon?"

Ramdan hanya melirik Alvin dengan tatapan sedingin es. "Draf ini gue ambil dari tas Tari tadi subuh sebelum gue berangkat "

"Terus lho bawa bubur buat apa?kan biasanya kamu sarapan nasi " Tanya Alvin

"gue tadi gak sempet sarapan jadi gue beli bubur dan di makan di ruang OSIS "Kata Ramdan serius

Bara, yang sedari tadi hanya diam, ikut menyahut dengan nada sinis, "Halah, bilang aja emang lagi sehati sama Tari. Gak usah sok murni deh jadi orang, pake alasan bubur segala."

Mendengar itu, langkah Ramdan yang hendak keluar kelas terhenti. Dia berbalik, menatap Bara dengan intensitas yang membuat cowok itu salah tingkah.

"Gue emang murni, Bar," ucap Ramdan pelan namun menusuk. "Setidaknya gue nggak perlu sembunyi di balik pohon taman sekolah cuma buat cari 'suasana baru' sama orang lain sementara ada hati yang lagi nunggu kabar di rumah. Hati-hati, Bar. Kadang apa yang kita kira aman di bawah pohon, sebenarnya ada mata yang liat dari kejauhan."

Seketika kelas hening. Alvin dan yang lain tidak ngeh dengan maksud Ramdan, tapi wajah Bara langsung pucat pasi. Dia tahu persis apa yang dimaksud Ramdan: Wulan.

Ramdan tidak menunggu balasan dari Bara yang sudah kaku seperti patung. Dia melangkah keluar kelas dengan tenang, meninggalkan tanda tanya besar di kepala teman-temannya yang lain. Namun, baru beberapa langkah di koridor, ponsel di saku celananya bergetar hebat.

Grup Brotherhood meledak. Alvin baru saja mengirimkan foto candid punggung Ramdan saat sedang tersenyum menatap chat dari Tari tadi pagi.

Ramdan berhenti sejenak di depan jendela koridor. Dia melihat ke langit yang mulai cerah, kontras dengan suasana hatinya yang masih dipenuhi kekhawatiran tentang kondisi Tari di rumah. Dia membuka grup itu, jempolnya bergerak cepat.

Ramdan: "Alvin kamu dasar cctv sekolah."

Dan hampir di detik yang sama, sebuah pesan muncul tepat di bawah pesannya.

Tari: "Alvin kamu dasar cctv sekolah."

Ramdan tertegun. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tulus. Bukan senyum sinis yang dia berikan pada Bara tadi, melainkan senyum yang hanya bisa dipancing oleh satu orang. Di tengah riuhnya godaan teman-temannya di grup tentang "telepati" itu, Ramdan memilih untuk tidak membalas lagi.

Dia memasukkan ponselnya kembali ke saku. Realitanya, dia adalah Waketos yang harus memimpin rapat pentas seni dan menghadapi kemarahan guru. Namun, dalam doanya—dan dalam setiap tindakan kecilnya—dia adalah pelindung bagi gadis yang sedang terlelap di balik selimut hoodie hitam miliknya.

Bagi Ramdan, tidak masalah jika seluruh sekolah menganggapnya dingin atau terlalu tegas. Karena baginya, cukup satu orang yang tahu bahwa di balik seragam OSIS yang kaku itu, ada hati yang sedang belajar untuk membimbing dan menjaga dengan cara yang paling tulus.

Ramdan menarik napas panjang, memantapkan langkahnya menuju ruang OSIS. Babak baru antara dia, Tari, dan rahasia yang tersimpan di balik pohon taman sekolah baru saja dimulai.

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!