Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Previlliage
"Ngapain?" tanya Rendra pada Ryan yang sudah duduk di sofa di salah satu sudut kamar Rendra. Ryan tersenyum.
"Mampir. Liat lo masih idup ngga," kata Ryan. Rendra tersenyum kecut.
"Gimana Miss Dawai?" tanya Ryan. Rendra menggeleng.
"Well, gue rasa dengan lo minta maaf ke dia itu sudah membuat sedikit perubahan," komentar Ryan.
"Perubahan?" tanya Rendra tak paham. Ryan mengangguk.
"Gue yakin, sedikit demi sedikit, mulai sekarang, Miss Dawai akan penasaran sama lo," kata Ryan. Rendra mengerutkan kedua alisnya.
"Asal..."
"Asal apa?" tanya Rendra penasaran. Ryan tersenyum.
"Asal lo bisa tahan ngga deketin dia di sekolah," lanjut Ryan.
"Hah?!"
"Susah kan lo?" tanya Ryan.
"Kenapa gue harus nahan diri?" tanya Rendra. Ryan berdiri dari duduknya.
"Pertama, tadi pagi lo udah minta maaf sama Miss Dawai. Itu udah sedikit memancing rasa penasaran dia ke lo," jelas Ryan.
"Kedua, kalo lo sampe terbawa emosi lagi, gue yakin Miss Dawai bakal kembali ke mode acuhnya. Sebaliknya, kalo lo bisa tahan emosi lo dan nggak terlalu nagging ke dia, gue yakin, dia bakal sedikit demi sedikit deketin lo," kata Ryan. Rendra manggut-manggut, menilai kata-kata Ryan ada benarnya.
"Bukannya lo saingan gue? Kenapa ngasih saran ke gue?" tanya Rendra curiga. Ryan tersenyum kecut lalu duduk di sebelah Rendra di atas ranjang.
"Saingan lo cuma dua," kata Ryan.
"Dua?" tanya Rendra sambil mengerutkan kedua alisnya. Ryan mengangguk.
"Siapa?" tanya Rendra.
"Cowoknya Miss Dawai," kata Ryan.
"Sama?"
"Kak Adit,"
Rendra seketika menoleh menatap Ryan. Ryan mengangguk pasti.
"Gue rasa lo juga tau," kata Ryan santai.
Rendra menghela nafas panjang. Dari sekian cowok, dia benar-benar tak ingin bersaing dengan Adit, apalagi soal wanita.
"Gimana? Lanjut?" tanya Ryan pada Rendra, melihat reaksi Rendra yang kelabu.
"Lanjut," kata Rendra setelah diam cukup lama. Ryan tersenyum sambil menepuk bahu Rendra.
"Tumben lo ikutan?" tanya Rendra pada Ryan, merasa aneh melihat Ryan ikut sibuk memikirkan tentang permainannya yang selama ini tak menarik minatnya.
"Seems fun," jawab Ryan singkat.
"Psycho lo!" kata Rendra. Ryan hanya menaikkan kedua bahunya dan tersenyum lalu merebahkan diri di ranjang super empuk milik Rendra.
Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Ryan. Rendra merasa lega, dia masih memiliki Ryan setelah Adit memutuskan untuk keluar dari rumah. Hanya Ryan, satu-satunya orang yang bisa Rendra percaya dalam hal apapun.
'Lucky to have you,'
***
Beberapa hari telah berlalu sejak Rendra meminta maaf pada Dawai. Sejak saat itu juga, Rendra tak pernah terlihat dimanapun Dawai berada.
Dawai, entah mengapa, merasa ada sesuatu yang salah. Dia terbiasa diikuti Rendra diam-diam saat berjalan dari lobi menuju ruang guru. Dia terbiasa dengan kemunculan Rendra yang tiba-tiba setiap kali dia terlihat berjalan bersama guru pria. Sekarang, tak ada apapun. Sepi.
Dawai berulang kali menghilangkan pikirannya tentang Rendra. Entah mengapa sikap diam Rendra membuat Dawai tak nyaman.
'Aku kenapa sih? Bukannya ini yang aku mau? Tapi, kenapa rasanya aneh?'
Dawai berjalan gontai menuju ke perpustakaan saat jam istirahat siang tiba. Dia sama sekali tak tertarik untuk makan siang atau bahkan sekedar menyantap camilan.
Setelah mengambil satu buku novel Indonesia klasik, Dawai duduk di bangku baca sambil perlahan membaca novel yang diambilnya. Halaman demi halaman Dawi baca dengan seksama.
"Serius amat, Miss?" sebuah suara memecah konsentrasi Dawai. Ryan, entah sejak kapan, sudah duduk di hadapan Dawai.
"Eh?"
"Wah! Vintage banget bacaannya," komentar Ryan. Dawai tersenyum kikuk lalu menutup novel yang dibacanya.
"Eh, lanjutin aja, Miss. Saya juga bawa bacaan," kata Ryan sambil membuka buku tebal tentang coding.
"Kamu mau jadi programmer?" tanya Dawai.
"Mmmm... mungkin," jawab Ryan, terdengar ragu.
"Mungkin? Kamu punya cita-cita kan?" tanya Dawai.
"Cita-cita?" tanya Ryan, retoris. Dawai mengangguk.
"Sepertinya, satu-satunya kekurangan, calon-calon pewaris seperti saya dan Rendra adalah ngga punya previlliage buat punya cita-cita, Miss," kata Ryan sambil membaca buku di hadapannya.
"Eh?"
"Hidup kita sudah ditentukan akan kemana dan jadi apa bahkan sebelum kita dilahirkan," kata Ryan. Entah mengapa, Dawai merasa ada kesedihan dalam kalimat Ryan.
"Terlebih, kami putera tunggal. Otomatis beban kami lebih berat dibandingkan kalau kami memiliki saudara," lanjut Ryan masih sambil membaca bukunya.
Dawai terdiam. Berpikir. Dawai tak pernah menyangka kehidupan tuan muda-tuan muda ini sesedih itu. Dia pikir, menjadi anak orang kaya akan lebih bahagia dibandingkan dengan lahir dalam keluarga yang biasa saja. Ternyata, mereka merasakan tanggung jawab yang lebih besar.
"Ayah Rendra terbilang lebih fleksibel dibandingkan ayah saya," kata Ryan. Dawai menatap Ryan.
"Tapi, untungnya mama bisa sedikit melunakkan ayah. Saya diberi kebebasan untuk melakukan apapun yang saya mau hingga saatnya mewarisi perusahaan tiba," kata Ryan.
"Tetap saja, saya harus menyiapkan diri untuk menjadi pewaris," lanjut Ryan. Dawai menatap murid di hadapannya itu dengan rasa kagum dan iba menjadi satu.
"Eh? Saya baik-baik saja, Miss," kata Ryan saat melihat ekspresi sedih Dawai.
"Oh! Maaf," kata Dawai.
Dawai mulai memikirkan Rendra yang pasti juga memiliki tanggung jawab yang besar. Dia teringat kata-kata Pak Raharja yang tak ingin memanjakan Rendra karena Rendra adalah pewaris tunggalnya.
"Rendra, mungkin terlihat menyebalkan," kata Ryan tiba-tiba, seperti membaca pikiran Dawai.
"Eh?"
"Dia memang suka menentukan target untuk dia taklukkan, untuk dia permainkan, sebagai bentuk balas dendam terhadap mamanya," lanjut Ryan. Dawai mengerutkan kedua alisnya.
"Balas dendam terhadap mamanya?" tanya Dawai bingung.
"Mamanya pergi saat Rendra masih SD. Saya ingat waktu itu, Kak Adit terus menemaninya bermain berhari-hari karena Rendra terus mencari mamanya," kata Ryan.
"Mamanya pergi?" tanya Dawai tak paham. Ryan mengangguk.
"Selingkuh," jawab Ryan singkat, seperti enggan mengatakan hal menjijikkan itu. Dawai terdiam. Dia tak pernah menyangka pria sebaik Pak Raharja ternyata masih kurang baik di mata mama Rendra.
"Tapi, target Rendra kali ini..." Ryan menjeda kalimatnya. Dawai menanti apa yang akan Ryan katakan. Ryan menatap Dawai dalam-dalam.
"Sepertinya bukan lagi sebuah permainan," lanjut Ryan.
"Kriiiing...." bel tanda masuk berbunyi. Jam istirahat telah habis.
"Saya masuk kelas dulu, Miss," pamit Ryan pada Dawai yang masih mencerna kata-kata Ryan.
Dawai tenggelam dalam pikirannya. Apa yang selama ini Dawai pikirkan tentang Rendra —anak orang kaya yang manja, tempramen dan bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan— seketika menguap.
Dawai pikir, sikap tempramen Rendra mungkin adalah bentuk luapan emosi yang dia pendam saat anak-anak, ketika mamanya meninggalkannya. Dawai terhenyak. Di balik segala kekayaan dan kemewahan yang Rendra punya, ternyata ada hal-hal yang bagi Dawai terlihat biasa, namun terkesan mewah bagi Rendra, seperti yang Ryan katakan padanya.
'Cita-cita adalah satu-satunya previlliage yang nggak mereka punya,'
***
semngaatt ya thorrr