Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 17: ISTANA IBU SURI
Mei Zhiyi menyelinap keluar dari Istana Zhaoyang. Dia dengan cermat menghindari titik patroli, menemukan titik buta para penjaga sehingga dapat keluar dengan mudah.
Di malam hari, taman-taman istana memang sangat sepi. Terutama di kolam-kolam. Sangat cocok untuk dijadikan tempat menghabisi orang tanpa diketahui.
Dia berjalan melewati lorong sepi. Sampai kemudian kedua kakinya membawanya ke sebuah tempat yang ingin dia tuju saat ini: Istana Shuning.
Tempat itu tepat berada di depannya sekarang. Bangunannya megah dan taman istananya juga luas. Di balik tembok, Mei Zhiyi bersembunyi saat dia melihat beberapa kasim dan pelayan tampak hilir mudik sembari membawa ember.
Ember-ember itu berisi air. Tepat di depan istana, di pelataran jalan yang disinari lampu taman, sesosok gadis muda tergeletak bersimbah darah.
Gadis itu tak bergerak. Dia memakai seragam pelayan dan rambutnya acak-acakan. Wajahnya dipenuhi luka lebam yang membiru.
Mei Zhiyi tertegun. Itu adalah gadis yang siang tadi terlihat mengintip Istana Zhaoyang. Itu adalah gadis yang ia kira adalah mata-mata.
"Cepat, segera bersihkan tempat ini! Ibu Suri akan menghukum kita jika bau darah di sini masih tercium. Kalau tidak selesai, bisa-bisa kita yang bernasib sama dengan dia," ucap seorang kasim mengomandoi rekannya.
"Malam-malam begini kenapa Ibu Suri menghukum orang? Seperti tidak ada hari esok saja!" keluh yang lain.
"Tutup mulutmu! Memangnya kau bisa mengatur kapan Ibu Suri mau menghukum orang?" peringat lainnya.
Seorang pelayan terlihat mengeluh sembari terus menyiramkan air. Tampaknya gadis muda itu sudah mati. Tubuhnya diangkat dan dibawa entah ke mana.
"Gadis itu adalah pelayan yang diutus untuk melihat apakah Kaisar meminum sup dari Dapur Istana atau tidak. Dia bilang Kaisar sudah minum, padahal sup itu sama sekali tidak disentuh. Begitu mengetahuinya, Ibu Suri marah besar dan menganggap pelayan itu telah menipunya. Jadi, dia dihukum cambuk tiga puluh kali. Karena lemah, dua puluh cambukan sudah membuatnya tidak bisa bertahan. Kelak kau harus hati-hati, jangan sampai salah menyampaikan informasi."
"Cepat, nanti Bibi Wang datang menegur."
Mei Zhiyi diam memperhatikan. Pikirannya berkata bahwa Ibu Suri ini sepertinya memang agak menyeramkan. Hanya salah menyampaikan informasi, apakah harus sampai dipukul sampai mati?
Apakah nyawa pelayan bukan sebuah nyawa? Mei Zhiyi tak habis pikir mengapa seorang mantan ibu negara bisa bertindak begitu kejam hanya karena sebuah kesalahan kecil.
Dia berputar mencari jalan masuk ke dalam istana. Setelah beberapa saat, Mei Zhiyi berhasil masuk ke dalam melalui jendela yang kebetulan tidak dikunci.
Begitu masuk, harum aroma dupa wewangian langsung tercium. Ini adalah ruang samping yang berfungsi sebagai kamar mandi. Mei Zhiyi sempat merasa heran, mengapa jendela kamar mandi tidak dikunci?
Padahal, untuk seorang bangsawan istana berkedudukan tinggi sepertinya, keamanan istana adalah hal yang utama. Entahlah, Mei Zhiyi juga tidak tahu dan dia mungkin tidak perlu tahu.
Dia menyusup ke ruang dalam. Mei Zhiyi bersembunyi di balik pembatas kertas, mengintip ke arah dalam. Di sana, dia melihat ada seorang wanita setengah baya sedang duduk di sofa. Ada pelayan yang memijat kepalanya, tangannya memegang sebuah untaian kalung dari kuil.
"Sudah dibereskan?" tanya wanita itu.
"Sudah. Sekarang halaman depan sudah bersih."
"Bagus. Kelak semut seperti dia yang mengotori istanaku tidak perlu diampuni."
"Lalu bagaimana dengan supnya, Ibu Suri?"
Mata Ibu Suri langsung terbuka. Tersirat sebuah kemarahan di mata yang agak cekung itu. Tangannya tiba-tiba menegang memegang erat untaian kalung.
"Lupakan saja. Putraku tidak suka sup goji beri, tidak tahu cara menghargai. Teringat dulu sekali, bahkan meski aku memberinya semangkuk bubur basi, dia akan dengan senang hati memakannya sampai habis."
Ibu Suri membayangkan kembali sosok anak pertamanya di masa kecil. Kala itu dia pernah memberi Liu Yan semangkuk bubur basi yang mulai berjamur. Liu Yan menatapnya penuh dengan suka cita, meminumnya tanpa ragu.
"Kaisar mungkin lupa bahwa sup itu adalah niat baik dari Anda."
"Lupa? Ya, dia lupa sampai benar-benar lupa bahwa di harem ini, masih ada selir yang harus dia perhatikan. Dia lupa bahwa aku masihlah ibu kandungnya."
"Kaisar sehari-hari sibuk dengan urusan negara. Mungkin tidak ada waktu untuk mengunjungi para selir."
"Aku lihat dia tidak ingin mengunjungi selir karena ingin membuatku mati kesal. Tapi dia lupa bahwa aku masihlah ibunya. Tak peduli sekeras apapun dia menolak, dia tetap tak bisa melawan baktinya padaku."
"Ibu Suri benar. Setiap kali Anda memilihkan selir untuknya, Kaisar tidak melarang terang-terangan."
Ibu Suri menghela napas berat. Dia sudah bekerja keras sepanjang hidupnya menjaga keseimbangan harem dan pengadilan.
Tapi, para wanita itu sama sekali tidak berguna. Tidak ada satu pun yang bisa membuatnya tenang dan tidak merasa sia-sia telah merekrut mereka ke Istana Belakang.
"Carikan beberapa gadis bangsawan lagi. Saat perjamuan ulang tahun Ruoxi tiba, biarkan para gadis itu berjuang menentukan nasibnya sendiri. Berhasil atau tidak tergantung pada diri mereka sendiri."
"Baik, Ibu Suri. Daftarnya akan pelayan ini serahkan besok."
Mei Zhiyi agak merinding begitu dia mendengar percakapan barusan. Sosok wanita setengah baya itu adalah Ibu Suri, ibu kandung Liu Yan. Tapi, dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang ibu di mata Mei Zhiyi.
Tidak ada tatapan lembut di matanya. Setiap kali mengingat Liu Yan, matanya seperti dipenuhi dengan kebencian yang tidak jelas.
Kenapa dia merasa Ibu Suri ini sepertinya sedang 'menjual' Liu Yan?
Tiba-tiba saja dia mendengar suara derit engsel jendela. Seseorang telah datang. Mei Zhiyi bersembunyi di kegelapan, mengintip siapakah yang baru datang itu.
"Wang mama, kau keluarlah," ucap Ibu Suri.
Bibi Wang si pelayan setia Ibu Suri menuruti perintah. Di ruangan itu Ibu Suri merapikan pakaiannya, bersiap menyambut orang yang baru saja datang.
Seseorang bertudung kepala muncul. Dari langkahnya, orang itu adalah seorang pria. Mei Zhiyi tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu membelakanginya.
"Malam ini kenapa kau terlambat?" tanya Ibu Suri pada orang itu.
"Aku ada urusan. Jika bukan karena putramu membuat kekacauan dengan memotong jari Ming Zheng dan membongkar konspirasinya di depan pengadilan, aku tidak perlu membuang waktuku membersihkan jejak kotornya."
"Hanya seorang Ming Zheng saja, apa perlu membuatmu turun tangan sendiri?"
Orang bertudung kepala itu tidak menjawab. Mei Zhiyi mengernyit. Dari percakapan itu, sepertinya orang itu adalah salah satu pejabat istana. Lalu kenapa dia menyelinap masuk ke istana Ibu Suri tengah malam begini?
"Putramu akhir-akhir ini semakin masif membersihkan pengadilan. Satu per satu orang yang aku siapkan dipotong dan dibuang. Agak merepotkan."
"Biarkan saja. Dia memang agak haus darah beberapa waktu terakhir ini."
"Kudengar kau mencambuk mati seorang pelayan hari ini karena semangkuk sup."
"Dia menipuku. Membunuhnya sudah terlalu mudah."
"Kalau supnya tidak berhasil, gunakan cara lain saja. Beberapa hari lagi putra keduamu akan segera tiba. Kau bisa gunakan kesempatan itu untuk mengujinya lagi."
Mei Zhiyi semakin mengernyit. Kenapa mereka sepertinya sangat peduli soal sup goji beri?
Ibu Suri dan orang misterius itu jelas sedang menargetkan Liu Yan. Jika dia biarkan dan Liu Yan tahu atau terkena imbas, bukankah misinya menurunkan kebencian Liu Yan akan gagal?
"Ding! Misi sampingan terpicu. Tuan, silakan selidiki masalah sup!"
Sialan, pikir Mei Zhiyi. Kenapa misi sampingan malah muncul saat ini?
"Bukankah katamu kau tidak aktif jika malam hari?"
"Masih ada waktu satu menit menuju jam 11 malam. Jadi, sistem masih aktif."
Mei Zhiyi mendecih. Misi memang harus dijalankan. Tapi sebelum itu, biarkan dia bersenang-senang dulu.
Dia mengambil sebatang lilin yang menyala, lalu membakar ujung kain hias yang tergantung di dekatnya. Setelah apinya menyala, dia melompat keluar untuk melanjutkan misi.
Dari kejauhan, Mei Zhiyi kemudian mendengar keributan. Dia tertawa kecil, lalu pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei