Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Dihadang
"Lama sekali..." Keluh Kalla didepan gerbang sambil bersandar pada mobil.
"Sabar, sebentar lagi pasti sudah keluar." Ucap Aurora dengan wajah yang mulai memerah sambil mengibas-ibas kan tangannya menghalau panas sekaligus gerah karena terlalu lama dibawah matahari.
"Nah... Itu Dia!" Teriak Aurora dengan wajah yang berbinar.
"Berhenti!" Teriak Kalla yang diikuti oleh Aurora dan Saka.
"Ada apa?" Sahut Bintang datar dan berdiri sedikit menjauh dari saudaranya itu.
Jujur saja, tiba-tiba ada rasa khawatir dalam hatinya, apa lagi melihat wajah Saka yang memerah bertanda sedang emosi, dia tidak tahu apa saja yang sudah dikatakan Aurora pada Kakaknya itu
Sejenak Bintang mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya, sekolah itu ternyata sudah tampak sepi. Hanya menyisakan beberapa siswa saja, itupun didepan gerbang karena sedang menunggu jemputan datang.
Bintang tidak bisa begitu saja menghilangkan rasa trauma dan takutnya, karena penyiksaan demi penyiksaan itu telah menyatu dalam hidupnya, hingga batas akhir nafasnya.
"Ternyata baru beberapa hari saja Kau tinggal di kelurga Alexander sudah bisa membuatmu sombong dan melupakan siapa keluarga kandung mu." Sarkas Saka sambil melangkah maju.
Dan tanpa sadar Bintang melangkah mundur dan meremas tali tasnya.
"Mengapa kau diam, apa kau sudah menjadi bisu? Mana kesombongan mu tadi, bukankah tadi pagi kau bisa berteriak lantang?" Sinis Kalla.
"Ada perlu apa kalian padaku?!" Ucap Bintang datar setelah didinya bisa mengendalikan diri.
"Hei itukah ucapanmu setelah kau bertemu kakakmu?" Ucap Saka sambil menunjuk Bintang.
"Kak... Sudahlah jangan memarahi Bintang, mungkin Dia belum terbiasa saja, ingat apa pesan Daddy?" Aurora maju menengahi dengan suaranya yang dibuat selembut mungkin.
"Bintang... Daddy memintamu untuk pulang, Daddy merindukan mu, bukankah kau sudah lama tidak bertemu dan berkumpul bersama kami?" Bujuk Aurora sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Bintang.
"Akh...!!!" Teriak Aurora lalu tampak dirinya terjatuh sambil memegang tangannya yang memerah.
"Jalang sialan! Apa yang telah kau lakukan brengsek!" Teriak Saka lalu dengan cepat dirinya menghampiri Aurora yang masih terduduk di tanah sambil meneteskan air mata.
"Kak sudah... Mungkin Bintang tidak sengaja." Ucap Aurora memprovokasi.
"Lo!!! Harus minta maaf pada Aurora, setelah itu ikut kami untuk kembali ke kediaman Miller." Saka berkata sambil membantu Aurora berdiri.
"Minta maaf? Apa salah ku? Sampai aku harus minta maaf pada Dia!" Sahut Bintang geram degan mata yang berkilat tajam
"Kau bertanya apa salahmu? Kau sudah mengintimidasi Aurora, Kau tahu jika fisiknya lemah, tapi kau masih saja mendorongnya, Brengsek." Kalla berkata sambil melangkah maju dan melayangkan tangannya pada wajah Bintang.
Bintang yang nasih dalam posisi yang sama dan hati yang kembali kecewa tidak sempat lagi menghindari pukulan Kalla, dan tidak butuh waktu yang lama pukulan itu mendarat di wajah Bintang dan menghasilkan suara yang kencang.
"Selalu begini," Ucap Bintang dengan tawa getir.
"Dengan mata yang mana kalian melihat aku mendorong Aurora, kalian lihat, posisiku bahkan tanganku saja tidak bergerak dari tempatnya, bagai mana caranya aku terlihat mendorongnya." Ucap Bintang keras sambil menunjuk Aurora yang tampak menangis dalam pelukan Saka.
"Jika bukan kau yang mendorongnya lalu siapa lagi, tidak mungkin kan Aurora rela menyakiti dirinya sendiri," Sahut Saka emosi.
"Tapi kenyataannya aku memang tidak mendorongnya," Sahut Bintang dengan datar.
"Bintang... Sudahlah jangan keras kepala, kak Saka dan Kak Kalla hanya tidak ingin kau menjadi liar dan salah jalan, jangan membantah lagi, aku juga sudah tidak apa-apa," Sahut Aurora cepat saat melihat Bintang akan kembali menjawab.
"Aurora... Apa kau tidak lelah terus bersandiwara dan bermain peran begitu, kau tahu aku sudah muak melihat sikapmu ini," Sahut Bintang sambil tersenyum sinis.
"Apa yang kau katakan brengsek...!" Kalla kembali emosi saat melihat tatapan mata Bintang pada mereka, tatapan kecewa dan terluka itu lagi.
Sejujurnya tatapan itu sangat mengusiknya dan terasa sangat tidak nyaman dihatinya. Tapi, Kalla kembali mengabaikan itu semua, baginya tidak ada tempat dan rasa iba untuk Bintang
"Aku katakan sekali lagi, minta maaf dan ikut kami kembali ke keluarga Miller." Ucap Saka.
"Tidak... Itu bukan rumahku, semenjak aku keluar dari kediaman dan dari KK, bagiku kalian tidak lebih orang asing," Ucap Bintang.
" Baik... Jika cara baik-baik kau tidak mau, maka kami dengan terpaksalah harus menggunakan cara yang kasar." Ucap Saka lalu membantu Aurora masuk kedalam mobil.
"Apa yang kalian lakukan." Ucap Bintang.
"Membawamu kembali,"
"Iya... Hari ini kau harus kembali, Rumah itu sedah seperti kapal pecah, dan cucian jiga sudah menumpuk," Lanjut Saka maju sambil mencengkram tangan Bintang erat
"Aku kembali kesana, jangan mimpi," Tegas Bintang.
" Berhenti! Apa yang kalian lakukan!!!"
"
"Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah kembali lagi kesana." Sahut Bintang tegas.
"Kau!!!"