Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Donor Darah
Alfino memacu motornya tanpa peduli angin malam yang menusuk tulang. Rumah Reno—pria yang selama ini ia panggil ayah sambung—menjadi satu-satunya tujuan di kepalanya. Pria itu juga ayah kandung Aera, dan satu-satunya orang yang ia harap bisa membuka jalan di tengah kekacauan ini.
Pagar rumah itu terbuka, lampu teras menyala. Alfino turun dengan napas terengah dan langsung mengetuk keras.
Tok. Tok. Tok.
Seorang penjaga rumah membukakan pintu, wajahnya terkejut melihat kondisi Alfino. "Mas Alfino?"
"Papah Reno di mana?" tanya Alfino tanpa basa-basi.
Penjaga itu terdiam sesaat, lalu menjawab pelan,
"Bapak... sedang di rumah sakit, Mas."
Dada Alfino berdesir tak enak. "Rumah sakit?"
"Iya. Nyonya Belva sedang kritis."
Kata kritis itu menghantam kepala Alfino seperti petir di siang bolong.
"Apa...?" suaranya hilang.
Belva. Ibunya.
Kakinya melemas. Alfino mundur selangkah, punggungnya menabrak pagar besi. Dunia di sekelilingnya terasa berputar.
"Rumah sakit mana?" tanyanya akhirnya, nyaris tak bersuara.
Penjaga itu menyebutkan nama rumah sakit—nama yang sama dengan tempat Aera terbaring sekarang.
Alfino tertawa kecil, hampa. "Satu rumah sakit..."
Ia naik kembali ke motornya dengan tangan gemetar. Di perjalanan, pikirannya pecah menjadi dua arah yang sama-sama menyakitkan.
Aera sedang sekarat. Ibu nya sendiri sedang kritis.
Sesampainya di rumah sakit, langkah Alfino terhenti di pintu masuk. Gedung besar itu berdiri dingin, seolah menantangnya memilih.
Ia berdiri lama di sana. Tak bergerak. Tak berbicara. "Kenapa semuanya harus sekarang..." bisiknya.
Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh. Untuk pertama kalinya, Alfino benar-benar merasa sendirian—terjepit di antara dua nyawa yang sama-sama memanggil namanya, sementara ia hanya punya satu tubuh dan satu hati yang hampir hancur.
Dan di malam itu, Alfino sadar... kadang hidup tidak meminta kita untuk kuat— tapi memaksa kita memilih, meski pilihan itu akan melukai selamanya.
Langkah Alfino akhirnya bergerak menuju lantai tempat Belva dirawat. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya ditarik kenangan yang tak pernah selesai. Lorong itu lebih sepi, hanya suara alat medis yang berdetak seperti jam waktu yang kejam.
Di depan pintu ruang rawat intensif, Alfino berhenti. Tangannya terangkat... lalu ragu.
Perawat membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
Di dalam, ibunya terbaring lemah. Wajah Belva pucat, matanya terpejam, selang oksigen menempel di hidungnya. Tak ada riasan, tak ada senyum—hanya sosok perempuan yang dulu selalu terlihat kuat di mata Alfino.
"Mah..." suaranya pecah bahkan sebelum mendekat.
Ia duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang dingin. Tangannya jauh lebih kecil dari yang ia ingat, rapuh, seperti bisa hilang kapan saja.
"Maafin Alfino..." bisiknya lirih.
"Selama ini Fin keras kepala... jarang pulang... jarang dengerin Mamah."
Dadanya naik turun tak beraturan. Kenangan kecil berhamburan—ibu yang menunggu di teras, ibu yang selalu bangun paling pagi, ibu yang tetap tersenyum meski hidup tak pernah lembut padanya.
Air mata jatuh membasahi sprei putih.
Setelah selesai ia menangis di samping ibu kandungnya, akhirnya Alfino pun bergegas keluar kamar mencari seseorang yang akan ia temui.
Alfino melangkah keluar dari ruang rawat ibunya dengan mata sembab. Lorong rumah sakit terasa semakin dingin, seakan menyedot sisa tenaganya. Di ujung lorong, ia melihat sosok yang berdiri membelakanginya—bahu tegap namun terlihat menua oleh beban waktu.
Itu Reno.
Pria yang selama ini ia panggil ayah sambung. Pria yang menjadi pusat dari semua benang kusut hidupnya.
Reno menoleh perlahan saat menyadari kehadiran Alfino. Matanya merah, wajahnya pucat. Untuk beberapa detik, tak satu pun dari mereka bersuara.
"Fin..." suara Reno parau.
Alfino menggenggam tangannya sendiri. "Ibu kritis," ucapnya datar, tapi getar di suaranya tak bisa disembunyikan.
Reno mengangguk pelan. "Dokter bilang... kondisinya naik turun."
Hening kembali menyelimuti. Sampai akhirnya Alfino mengangkat wajahnya, menatap Reno lurus tanpa basa-basi.
"Pah..." Alfino akhirnya bersuara.
Reno menoleh. "Ada apa, Fin?"
"Ada satu hal lagi yang harus papah tau."
Reno mengernyit. "Hal apa?"
"Aera..." Alfino menarik napas dalam. "Dia juga masuk rumah sakit."
Jantung Reno terhenti seketika. "Aera?" suaranya meninggi.
Alfino mengangguk. "Kondisinya kritis."
Wajah Reno seketika berubah. Mata yang tadi basah kini dipenuhi ketakutan murni. "Kritis?" ia mengulang lirih.
"Kenapa nggak dari tadi kamu bilang?!"
"Fin baru tau barusan," jawab Alfino pelan. "Dan... kejadiannya hampir bersamaan dengan ibu."
Reno mengusap wajahnya kasar. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. "Di mana dia sekarang?"
"Ruang IGD lantai tiga," jawab Alfino.
Reno terduduk di kursi lorong. Tangannya mencengkeram lutut, suaranya nyaris tak keluar. "Aera itu... satu-satunya darah daging papah..."
Alfino menunduk. "Fin tau."
Beberapa detik hening. Lalu Reno mengangkat kepala, sorot matanya berubah—bukan hanya takut, tapi curiga.
"Fin..." suaranya rendah.
"Belva dan Aera... kenapa bisa celaka di waktu yang hampir sama?"
Alfino menatapnya, ikut merasakan keganjilan itu.
"Kecelakaan mereka beda. Tapi waktunya... terlalu dekat."
Reno mengepalkan tangan. "Belva sehat pagi tadi."
"Aera juga. Tadi pagi Afin liat dia lagi makan nasi goreng kesukaan nya." Balas Alfino.
"Terus kenapa tiba-tiba dua-duanya kritis di hari yang sama?" Reno berdiri, mondar-mandir gelisah.
"Ini bukan kebetulan."
Alfino menelan ludah. "Maksud om...?"
"Sudah lupakan!"
Mau bagaimanapun Reno adalah Ayah kandung Aera. Gadis kecil itu adalah anak satu-satunya dari darah Reno bersama Serena. Dengan langkah cepat Reno kembali melangkah menuju Ruang IGD di mana Aera sedang terbaring di sana.
...----------------...
Reno berdiri kaku di depan ruang IGD. Lampu merah masih menyala, menandakan nyawa kecil itu sedang bertarung dengan waktu. Tangannya gemetar saat dokter menyebut satu kalimat yang tak pernah ia sangka akan ia dengar.
"Golongan darahnya langka. Kami butuh donor segera. Ayah kandungnya... hanya Anda yang cocok."
Kata ayah menusuk lebih dalam dari pisau mana pun.
Aera. Anak yang dulu ia usir dari rumah. Anak yang pernah ia peluk putri kecil kesayangan nya sejak lahir. Anak yang selama ini ia banggakan, tapi dengan satu kesalahan kecil ia sampai harus membuang anak gadis kesayangannya itu. Amarahnya terlalu besar sampai dia tidak mencari tahu dulu kebenaran yang sesungguhnya,
Reno membenci anak gadisnya itu dengan satu kesalahan yang belum tentu itu benar, ia mengusir nya seolah darah yang mengalir di tubuhnya bukan berasal darinya.
Reno mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras.
"Apa tidak ada orang lain?" suaranya berat, nyaris berbisik.
Dokter menggeleng pelan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Reno menandatangani formulir donor. Bukan karena ia diminta. Tapi karena hatinya tak sanggup menolak.
Setelah Reno menandatangani formulir tersebut akhirnya Aera pun di pindahkan ke ruang UDD ( Unit Donor Darah).
...----------------...
Di ruang donor, jarum menembus lengannya. Ia menatap kantong darah yang perlahan terisi, merah—warna yang sama seperti darah Aera. Dadanya sesak.
"Maaf..." lirihnya pecah.
"Maaf karena Ayah terlalu pengecut untuk mempertahankanmu."
Kenangan saat ia mengusir Aera terlintas jelas. Tangisan itu. Tatapan mata yang memohon. Tapi saat itu egonya lebih besar dari rasa sebagai seorang ayah.
Reno memang mengusir Aera. Namun itu tak pernah berarti ia benar-benar membenci anak kandungnya.
Air mata jatuh diam-diam saat darahnya mengalir pergi, berpindah untuk menyelamatkan hidup yang dulu ia abaikan.
"Kalau ini satu-satunya caraku menebus dosa," gumamnya, "ambil semua darah Ayah... asal kamu hidup, Aera."
Beberapa jam kemudian, lampu ruangan pun akhirnya padam. Dokter keluar dengan senyum tipis.
"Operasinya berhasil. Anaknya selamat."
Reno terhuyung, lalu duduk lemas. Ia tak meminta bertemu. Tak meminta dipanggil Ayah. Ia hanya ingin tahu Aera bernapas.
Karena meski ia pernah mengusirnya dari rumah, darah di tubuh Aera selalu menjadi bukti—bahwa ia tak pernah benar-benar berhenti mencintainya.