NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Perubahan

Keesokan paginya, suasana di meja makan kediaman Maheswara terasa sangat canggung, hampir menyesakkan. Safira turun dengan seragam yang rapi, tas sekolah tersampir di bahu. Namun kali ini, sebuah pemandangan aneh tersaji. Raka sudah duduk di sana lebih awal, dan saat Safira muncul, Raka langsung berdiri dari kursinya.

"Safira, sarapan bareng. Kakak sudah pesankan roti gandum madu kegemaranmu," ajak Raka dengan nada suara yang sangat lembut, hampir terdengar asing di telinga anggota keluarga yang lain.

Maya yang baru saja turun bersama Ratih langsung merengut. Wajahnya yang cantik tampak masam. "Lho, Kak Raka? Kok malah Kak Fira yang diladenin? Aku kan juga mau roti itu. Kenapa cuma dipesenin satu?"

"Ambil sendiri ke dapur, Maya. Kamu punya kaki dan tangan yang sehat, kan?" jawab Raka ketus tanpa menoleh sedikit pun pada Maya.

Maya terperangah. Ibunya, Ratih, juga terkejut hingga menjatuhkan sendok tehnya. "Raka, kamu kenapa? Kok bicara begitu sama adikmu? Maya kan cuma tanya baik-baik."

"Safira juga adikku, Ma. Dan sudah saatnya kita berhenti memperlakukan dia seperti orang asing di rumah ini hanya karena keinginan Maya," tegas Raka.

Safira hanya duduk dengan tenang, mengabaikan drama di sekitarnya seolah-olah ia sedang menonton film bisu. Ia mengambil sepotong roti, mengunyahnya pelan, lalu berdiri. "Aku berangkat duluan. Calista sudah menungguku di depan gerbang."

"Abang antar kamu sampai depan," ucap Raka cepat, hendak mengambil kunci mobilnya.

"Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri," jawab Safira pendek tanpa menoleh.

Saat Safira pergi, Bima baru saja turun dengan wajah mengantuk. Ia melihat wajah Maya yang merah padam menahan tangis dan Raka yang tampak frustrasi. "Ada apa sih? Pagi-pagi udah tegang banget."

"Abang kamu itu, Bima! Dia mendadak membela Safira dan membentak Maya tanpa alasan!" adu Ratih dengan nada provokatif.

Bima menatap Raka dengan bingung. "Bang, lo kenapa sih? Gara-gara omongan Vian semalam lo jadi begini?"

Raka menatap Bima dengan tatapan yang sangat tajam, membuat adiknya itu terdiam. "Bim, kalau lo tahu apa yang Safira lakuin buat Vian kemarin, lo bakal ngerasa jadi kakak paling brengsek di dunia ini. Pikirkan itu baik-baik sebelum lo buka mulut buat ngehina dia lagi."

Di sekolah, Safira kembali menjadi pusat perhatian. Namun kali ini bukan lagi karena gosip tentang pesta, melainkan karena perubahan sikap Vian dan Raka. Vian, yang biasanya akan bersembunyi atau pura-pura tidak kenal jika berpapasan dengan Safira, kini justru terang-terangan menunggunya di depan koridor kelas 11.

"Kak, ini," Vian menyodorkan sebotol air mineral dingin dengan gaya kaku. "Tadi cuacanya panas, takutnya lo haus."

Teman-teman seangkatan Safira yang lewat mulai berbisik-bisik. "Eh, itu beneran Vian Maheswara? Bukannya dia paling anti sama kakaknya?"

Maya yang melihat itu dari kejauhan merasa dadanya sesak karena iri. Ia segera mencari Nathan, berharap mendapatkan dukungan moral. Namun, Nathan sendiri sedang dalam dilema besar. Ia berdiri di koridor saat melihat Safira berjalan menuju perpustakaan, namun langkahnya terhenti saat sebuah mobil mewah Rolls-Royce Phantom berhenti tepat di depan gerbang sekolah.

Abian Alvarazka Byaktkembali datang. Kehadirannya seperti magnet yang menarik seluruh perhatian siswa. Abian tidak masuk ke dalam gedung sekolah, ia hanya bersandar di pintu mobilnya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung, memancarkan aura dominan. Ia sedang menunggu satu orang: Safira.

Safira yang melihat Abian dari kejauhan menghela napas panjang, namun ia tetap melangkah menghampiri pria itu. "Kau benar-benar tidak punya kantor untuk dikunjungi, Arkan? Ini sekolah, bukan tempat nongkrong."

Abian tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat para siswi di sana histeris dalam diam. "Kantorku bisa menunggu. Tapi memastikan kau baik-baik saja setelah kejadian di gang kemarin sore adalah urusan yang jauh lebih mendesak."

Safira tertegun. "Kau... kau mengawasiku?"

"Aku memastikan keselamatanku, Safira. Dan karena kau adalah orang yang 'menandai' sapu tanganku, otomatis kau adalah bagian dari kepentinganku," ucap Abian pelan, suaranya rendah dan dalam. Ia mengulurkan tangan, merapikan helai rambut Safira yang tertiup angin.

Nathan yang melihat interaksi itu dari kejauhan merasa hatinya terbakar hebat. Ia tidak bisa menahan diri lagi dan berjalan cepat menghampiri mereka.

"Tuan Sudarso, Anda tidak bisa terus-menerus mendatangi sekolah kami dan mengganggu konsentrasi belajar Safira!" seru Nathan mencoba bersikap heroik.

Abian menoleh, tatapannya langsung berubah menjadi sedingin es. "Lagi-lagi kau. Apa kau tidak punya kelas untuk dihadiri, bocah?"

"Safira adalah teman masa kecilku! Kami semua tidak ingin dia terlibat dengan orang asing yang berbahaya seperti Anda!" Nathan meninggikan suaranya.

Safira menatap Nathan dengan tatapan yang sangat lelah, hampir kasihan. "Nathan, berhenti berakting. Di mana kau saat aku membutuhkan teman selama tiga tahun ini? Kau sibuk menertawakanku bersama Maya. Jadi, jangan berakting jadi pahlawan sekarang. Itu terlihat sangat memuakkan."

Abian merangkul bahu Safira secara protektif, sebuah gestur yang menegaskan kepemilikan. "Dengar itu? Dia tidak butuh pahlawan amatir sepertimu. Sekarang, menyingkirlah sebelum aku menyuruh keamanan sekolah ini mengeluarkanmu."

Nathan hanya bisa terdiam dengan tangan mengepal kuat. Ia melihat Safira masuk ke dalam mobil Abian tanpa menoleh sedikit pun padanya. Rasa sakit di hatinya kini bercampur dengan penyesalan yang mendalam.

Pengakuan di Restoran Eksklusif

Abian membawa Safira ke sebuah restoran yang sangat privat di puncak gedung tinggi. Tidak ada tamu lain, Abian telah memastikan privasi mereka terjaga.

"Kenapa kau selalu membantuku, Arkan? Kita baru bertemu beberapa kali," tanya Safira di tengah makan malam mereka.

Abian meletakkan garpunya, menatap Safira dengan intensitas yang membuat Safira tertegun. "Karena sejak pertama kali aku melihatmu di parkiran mall itu, aku melihat diriku sendiri di matamu. Kita sama-sama kesepian di tengah keramaian. Kita sama-sama membangun benteng untuk melindungi diri kita sendiri dari orang-orang yang seharusnya mencintai kita."

Safira terdiam. Kalimat Abian tepat sasaran, seolah pria itu bisa membaca jiwanya.

"Aku tidak butuh dikasihani, Arkan. Aku bisa berdiri sendiri."

"Aku tidak mengasihanimu, Safira. Aku mengagumimu," jawab Abian tegas. "Dan aku ingin menjadi orang yang berada di sampingmu saat kau meruntuhkan keluarga Maheswara itu. Aku ingin menjadi saksi kesuksesanmu, bukan sebagai majikan, tapi sebagai mitra."

Safira menatap Abian lama. Untuk pertama kalinya, ia merasa pertahanannya sedikit goyah. Pria ini berbeda. Ia tidak mencoba mengontrolnya, tidak mencoba membelinya dengan harta, tapi mencoba memahaminya sebagai manusia.

Malam itu, saat Safira pulang, ia menemukan Raka sedang menunggunya di depan pintu masuk rumah, bukan di ruang tamu, tapi di luar—menunggu adiknya pulang.

"Safira, Kakak mau bicara sebentar saja," ucap Raka lembut.

Safira berhenti. "Tentang apa lagi, Kak?"

"Kakak sudah bicara sama Papa tadi sore. Kakak mendesak Papa untuk mengembalikan semua fasilitasmu dan meminta Papa meminta maaf padamu secara terbuka di depan keluarga besar," ujar Raka.

Safira tersenyum pahit, hampir sinis. "Dan Papa setuju?"

Raka menunduk lesu. "Papa... Papa masih keras kepala. Tapi Kakak nggak akan menyerah sampai dia melakukannya."

"Sudahlah, Kak Raka. Jangan buang energimu untuk sesuatu yang mustahil," ucap Safira. "Tapi terima kasih karena sudah mulai bersikap seperti manusia tadi pagi. Setidaknya, jangan biarkan Vian tumbuh menjadi pria brengsek seperti kalian dulu. Biarkan dia punya nurani."

Safira masuk ke dalam rumah, meninggalkan Raka yang terpaku membisu. Kata-kata "pria brengsek seperti kalian" terasa sangat menyakitkan karena Raka tahu itu adalah kenyataan pahit yang harus ia terima. Safira sudah jauh di depan, dan mereka tertinggal dalam kubangan penyesalan.

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kalea rizuky
keren novelnya
shanairatih
ga sabar nunggu lanjutanny😍
Cty Badria
up y byk Dan panjang ceritany 💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
semoga UAS nya lancar dan hasilnya memuaskan ya 🙏🙏🙏
MataPanda?_
semangat trus kak.. 💪
Lala Kusumah
syukurlah Fira akhirnya keluar dari rumah Maheswara 👍👍👍💪💪😍😍😍
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
penyesalan pasti datng terlambat
Wahyuningsih
gas thor 💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
makasih updatenya, kalau bisa double atau crazy up ya 🙏🙏🙏
Yusrina Ina
author up nya tidak cukup ni 🤭🤭🤭 tambah lagi ya 🙏🙏🙏. terima kasih semangat 💪💪💪 lagi up nya.
MataPanda?_
bagus kak MC y gk neko"ceritanya bagus semangat trus kak 😄
Lala Kusumah
Safira emang hebaaaaaatt baik hati dan tidak sombong 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!