Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Arunika berdiri, menyampirkan tas kuliahnya di bahu dengan gerakan yang sangat mantap. Ia menatap Risa dengan sorot mata yang tak tergoyahkan. "Aku akan melewatinya sebagaimana dia melewatiku di kelas kemarin, Ris. Anggap saja dia tidak ada."
Begitu pintu kos dibuka, udara pagi yang segar namun lembap menyambut mereka. Arunika melangkah lebih dulu menuruni anak tangga, sementara Risa mengekor di belakang dengan perasaan waswas yang luar biasa.
Saat mereka sampai di balik gerbang besi, Arunika berhenti sejenak. Ia melihat pemandangan yang sanggup membuat wanita mana pun luluh: Abimana bersandar di pagar dengan kepala terkulai lemas di atas lengannya yang terlipat. Kemeja mahalnya yang kemarin tampak gagah kini kusut dan lembap oleh embun. Rambutnya berantakan, dan wajahnya yang biasanya bersih kini ditumbuhi bayangan janggut tipis yang menambah kesan menderita.
Klik!
Suara kunci gerbang yang dibuka membuat Abimana tersentak bangun. Ia mengerjapkan mata yang merah dan bengkak karena kurang tidur. Begitu melihat sosok Arunika berdiri tepat di hadapannya, Abimana langsung berusaha bangkit berdiri. Namun, karena kakinya yang sudah mati rasa akibat kedinginan semalaman, ia sempat limbung dan harus berpegangan pada tiang pagar agar tidak jatuh.
"Ni-Nika..." suara Abimana terdengar serak, hampir hilang. "Nika, syukurlah kamu keluar. Tolong... dengarkan aku sebentar saja."
Arunika tidak berhenti. Ia terus melangkah melewati suaminya seolah-olah Abimana hanyalah udara kosong. Ia berjalan lurus ke arah jalan raya untuk mencari taksi, tanpa memberikan lirikan sedikit pun.
"Nika! Tolong!" Abimana mengejar dengan langkah tertatih. Ia berhasil mencekal pergelangan tangan Arunika. "Aku minta maaf! Aku salah, aku pengecut, aku sudah menghancurkan semuanya. Tapi tolong, jangan diamkan aku seperti ini. Aku semalaman di sini karena aku ingin kamu tahu kalau aku menyesal."
Arunika berhenti mendadak. Ia membalikkan badannya dengan sentakan kasar hingga cekalan tangan Abimana terlepas. Ia menatap tepat ke manik mata Abimana yang sayu.
"Kamu menyesal karena kamu kedinginan semalaman, Mas? Atau kamu menyesal karena takut aku melaporkanmu pada Papa?" tanya Arunika, suaranya pelan namun menusuk.
"Bukan soal Papa, Nika! Ini soal kita!"
"Tidak ada 'kita' yang tertinggal di kelas kemarin, Mas." potong Arunika tajam. "Yang tertinggal di sana hanyalah seorang mahasiswi yang dipermalukan oleh dosennya sendiri. Sekarang, minggir. Aku ada kelas, dan aku tidak ingin suamiku—maksudku, dosen pengampuku—membuatku terlambat lagi."
Tepat saat itu, sebuah taksi berhenti di depan mereka. Arunika masuk ke dalam tanpa menoleh lagi.
Degh!
Dada Abimana terasa dihantam benda tumpul. Ia baru menyadari bahwa gadis yang selama ini ia anggap "gadis rumahan yang penurut" dan "mahasiswi diam" itu memiliki prinsip setebal dinding beton. Tatapan mata Arunika tadi... tidak ada amarah yang meledak-ledak, yang ada hanyalah kekecewaan yang sangat dalam. Dan bagi Abimana, itu jauh lebih mengerikan.
Abimana mematung di pinggir jalan, membiarkan debu dari knalpot taksi yang membawa Arunika menyapu wajah pucatnya. Kata-kata Arunika barusan bukan sekadar kalimat pedas, melainkan sebuah cermin yang dipaksa tegak di depan wajahnya.
Abimana terpaku di pinggir jalan, menatap taksi yang menjauh membawa istrinya. Ia merogoh saku jaketnya, menemukan ponselnya yang mati total karena kehabisan baterai. Ia baru menyadari satu hal: Arunika tidak lagi memandangnya dengan kebekuan. Dan kebekuan jauh lebih sulit dicairkan daripada amarah.
"Sial! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" umpatnya pada diri sendiri. Suaranya hilang ditelan bising kendaraan pagi. "Setelah semuanya berantakan... bodoh kamu, Abimana!"
Ia memukul tiang listrik di sampingnya dengan kepalan tangan yang gemetar. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Selama ini ia merasa sebagai pemegang kendali, merasa bahwa dialah yang berkorban dalam pernikahan ini. Namun kenyataannya, Arunika-lah yang menelan semua martabatnya demi menjaga nama baik Abimana di depan keluarga besar, sementara ia justru menginjak-injak martabat itu di depan orang luar.
Abimana tertatih menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari situ. Tubuhnya menggigil hebat, efek dari embun malam dan perut yang kosong mulai menyerang. Namun, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Kampus.
Ia harus sampai ke kampus sebelum jam kuliah Arunika berakhir. Ia tidak boleh membiarkan Arunika sendirian di sana, di tempat di mana kemarin ia menjadi bahan tontonan karena kelakuannya sendiri.
Satu jam kemudian, Abimana muncul di gedung fakultas. Ia sudah mengganti kemejanya dengan baju cadangan di mobil dan sedikit merapikan rambutnya, meski wajah pucat dan kantung mata hitamnya tidak bisa disembunyikan.
Langkahnya terhenti saat melihat kerumunan di depan perpustakaan. Di sana, Arunika sedang berdiri tenang, namun di hadapannya, Claudia kembali menghadang dengan wajah yang merah padam.
"Kamu pikir dengan membuat Abi tidur di depan kosanmu semalaman, kamu menang?" teriak Claudia, suaranya melengking hingga beberapa mahasiswa berhenti berjalan. "Kamu hanya menggunakan rasa kasihan untuk mengikatnya, Arunika! Kamu licik!"
Arunika hanya menatap Claudia dengan tatapan datar. "Mbak Claudia, jika Mas Abi memilih tidur di sana, itu adalah urusannya. Sama seperti dia memilih menikahiku, itu juga urusannya. Kenapa Mbak yang merasa harus mengurus semuanya?"
"Karena dia mencintaiku! Bukan kamu!" Claudia mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan.
"HENTIKAN!"
Suara bariton Abimana menggelegar di koridor. Ia berjalan cepat, bukan menuju Claudia, melainkan berdiri tepat di depan Arunika, membelakangi istrinya itu seolah menjadi tameng hidup.
Abimana menatap Claudia dengan tatapan yang belum pernah dilihat wanita itu sebelumnya—tatapan penuh kejijikan dan ketegasan mutlak.
"Pergi dari sini, Claudia. Detik ini juga. Jika kamu berani menyentuh atau menghina istriku lagi, aku sendiri yang akan memastikan kamu dikeluarkan dari kampus ini dan dilaporkan ke polisi atas tindakan tidak menyenangkan. Aku tidak bercanda." ucap Abimana dingin.
Claudia ternganga. "Abi... kamu membela dia? Setelah apa yang kita—"
"Tidak ada 'kita'!" potong Abimana telak. "Yang ada hanyalah aku yang berusaha menebus kesalahanku pada istriku. Pergi!"
Setelah Claudia pergi dengan langkah seribu karena malu, Abimana perlahan berbalik menghadap Arunika. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan istrinya, di hadapan banyak mahasiswa yang menonton.
"Nika... aku tahu ini tidak menghapus lukamu. Tapi biarkan aku mulai menjagamu. Tolong... jangan minta aku pergi lagi."
Arunika menatap puncak kepala suaminya. Ada sedikit getaran di matanya, namun ia belum memberikan jawaban. Namun kini Arunika berbeda, kekecewaan terhadap Abimana yang tidak memiliki prinsip perlu untuk diberi pelajaran.
"Terima kasih, Pak Dosen." ucap Arunika dingin lalu berjalan melewati Abimana begitu saja tanpa rasa iba.
Tidak ada binar haru, tidak ada air mata syukur karena telah diselamatkan, bahkan tidak ada satu pun sebutan 'Mas' yang tersisa. Arunika hanya memberikan anggukan sopan yang sangat formal—sebuah gestur yang biasa ia berikan kepada dosen-dosen lain di koridor ini.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪