Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Badai
Malam itu gerimis turun dengan lembut di atas kompleks Sarang Naga Patah. Tetesan air menyentuh batu batu yang dipanaskan seharian oleh terik matahari, mengeluarkan suara desis kecil dan mengirimkan uap tipis ke udara. Namun, kelembapan dan rintik rintik hujan sama sekali tidak meredakan semangat para pengunjung yang memadati warung warung dan penginapan di sekitar arena. Suara tawa, gelas yang berdentingan, dan debat sengit tentang pertarungan esok hari justru semakin menjadi jadi, seperti latar belakang yang tidak pernah berhenti bagi drama yang akan segera dimulai.
Di kamarnya, Xu Hao duduk bersila di lantai, tanpa bantalan. Punggungnya tegak, kedua tangannya terletak di atas lutut dengan telapak menghadap ke atas. Napasnya sangat pelan, sangat teratur, hampir tidak terdengar. Di dalam tubuhnya, lautan Qi yang luas dan stabil beredar mengikuti jalur jalur yang sudah sangat dia kuasai. Kekuatan Dao Awakening-nya yang sebenarnya, dengan Hukum Asal dan Dao Ruang yang mengintip di balik tirai, ditekan dan dikunci rapat di pusat inti dantiannya. Yang dia perlihatkan dan gunakan hanyalah lapisan permukaan, lautan Qi Soul Transformation tingkat akhir yang padat dan berwarna biru baja.
Di luar, di koridor, langkah kaki berat mendekat. Lalu ada ketukan di pintu.
"Masuk," kata Xu Hao tanpa membuka mata.
Pintu terbuka, dan Gor memasuki kamar. Pakaiannya yang biasanya cerah dan berlebihan diganti dengan jubah sederhana berwarna abu abu. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kegembiraan gila seperti biasanya, malah tampak agak lelah dan penuh pikiran.
"Hei Feng," sapanya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Xu Hao membuka mata. Cahaya bulan yang tertutup awan menerangi wajahnya yang dingin. "Gor. Ada masalah?"
"Bukan... bukan masalah, tepatnya." Gor menutup pintu di belakangnya, lalu duduk di bangku kayu di dekat meja. Dia menghela napas. "Aku hanya ingin bicara. Sebagai... pengelola arena, dan mungkin juga sebagai seseorang yang sudah cukup lama di dunia ini."
Xu Hao mengamatinya. "Bicaralah."
"Besok... pertarunganmu dengan Borong. Aku sudah mengatur semuanya. Tiket ludes. Taruhan mencapai angka yang bahkan aku sendiri merasa pusing melihatnya." Gor menggosok pelipisnya. "Tapi ada sesuatu yang menggangguku."
"Apakah itu?"
"Klan Xu. Perwakilan mereka tiba tadi sore. Dua orang. Seorang tua yang dingin seperti batu nisan, dan seorang muda yang matanya selalu memandang sekeliling seperti membeli budak." Gor menatap Xu Hao. "Mereka meminta akses ke tribun khusus. Dan mereka banyak bertanya. Tentangmu."
Xu Hao tidak bereaksi. "Apa yang mereka tanyakan?"
"Asal usulmu. Di mana kau pertama kali muncul. Teknik yang kamu gunakan. Bahkan... mereka bertanya apakah kau pernah menunjukkan kemampuan ruang atau waktu yang tidak wajar." Gor mengernyit. "Pertanyaan yang aneh, bukan? Untuk seorang kultivator Soul Transformation biasa?"
"Memang aneh," kata Xu Hao, hatinya berdetak sedikit lebih cepat. Cermin Silsilah Darah. Apakah mereka mencurigai sesuatu? Atau ini hanya prosedur standar mereka?
"Apa yang kau jawab?"
"Aku katakan yang kau tahu sendiri. Kau muncul sebagai tunawisma, bertarung dengan Minlie, lalu ikut arena. Teknikmu kuat tapi wajar. Tidak ada yang istimewa." Gor mencondongkan tubuh ke depan. "Tapi mereka tidak puas. Mereka... mereka mengancam secara halus. Menyebutkan kewajiban semua organisasi di Wilayah Seribu Pulau untuk melaporkan bakat bakat aneh kepada Klan Xu."
Xu Hao berdiri, berjalan perlahan ke jendela. Dia membuka tirai sedikit, melihat ke arah keramaian di bawah. Lampu lampu kristal berkilauan seperti kunang kunang yang terjebak dalam kabut basah.
"Dan kau? Apa yang akan kau lakukan?"
Gor terdiam lama. "Aku benci diperintah. Aku benci ancaman. Sarang Naga Patah adalah tempatku. Di sini, hukumnya adalah uang dan kekuatan, bukan perintah klan besar." Dia menghela napas lagi, lebih berat. "Tapi aku juga bukan bodoh. Klan Xu... mereka bukan lawan yang bisa aku hadapi. Jadi, aku akan beri mereka informasi yang sudah umum. Tidak lebih."
Dia berdiri, mendekati Xu Hao. "Tapi untukmu, Hei Feng. Aku punya nasihat. Besok, menang atau kalah, setelah pertarungan, pergi. Pergi dari sini secepat mungkin. Jangan terima tawaran mereka, jika mereka memberikannya. Jangan ikut dengan mereka."
Xu Hao menoleh, menatap mata Gor yang tiba tiba sangat serius. "Kenapa kau peduli?"
Gor tersenyum pahit. "Karena dalam bisnis pertarungan ini, terkadang kita menemukan mutiara di antara lumpur. Kau... kau punya cahaya yang berbeda. Aku tidak ingin cahaya itu dipadamkan hanya karena keserakahan dan ketakutan klan kaya. Itu akan membosankan."
Dia menepuk bahu Xu Hao. "Itu saja. Istirahatlah. Besok kau butuh semua tenaga."
Setelah Gor pergi, kamar kembali sunyi. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Beberapa saat kemudian, ada ketukan lain di pintu, lebih pelan kali ini.
"Masuk," kata Xu Hao, masih berdiri di jendela.
Pintu terbuka, dan Minlie muncul. Rambutnya basah oleh gerimis. "Boleh berbincang? Kamarku kebanjiran. Atapnya bocor."
Xu Hao mengangguk, dan Minlie masuk, menutup pintu. Dia tidak duduk, malah berdiri di samping Xu Hao, melihat ke luar jendela.
"Gor baru saja ke sini?" tanyanya.
"Iya."
"Dia juga datang ke kamarku. Memberi peringatan yang sama." Minlie melipat tangannya. "Dua ular dari Klan Xu sudah tiba. Aku melihat mereka. Yang tua itu beraura seperti pedang dalam sarung. Sangat berbahaya."
"Kau kenal mereka?"
"Tidak secara langsung. Tapi tipe seperti itu selalu sama. Angkuh, menganggap segalanya milik mereka." Minlie mendecakkan lidah. "Mereka pasti sudah mendengar tentang lima puluh kemenanganmu dan ingin merekrutmu. Atau... jika mereka merasa kau bukan sekadar Kultivator biasa, mereka akan mencurigaimu."
Xu Hao tidak menjawab. Dia memperhatikan gerimis yang semakin deras.
"Hei Feng," kata Minlie, suaranya tiba tiba sangat lunak, hampir seperti bisikan. "Siapa sebenarnya dirimu?"
Xu Hao menoleh, bertemu matanya yang tajam dan penuh pertanyaan. "Apa maksudmu?"
"Kau kuat. Terlalu kuat untuk Soul Transformation biasa. Caramu bertarung... awalnya kaku, tapi kau belajar dan beradaptasi dengan kecepatan yang tidak wajar. Seolah olah kau sudah terbiasa dengan tingkat yang lebih tinggi, dan sekarang hanya menurunkannya." Minlie mengambil langkah kecil mendekat. "Dan matamu. Terlalu tua untuk usiamu. Terlalu banyak yang sudah dilihat."
Xu Hao menghela napas pelan. "Setiap orang punya masa lalu, Minlie."
"Benar. Tapi tidak semua masa lalu membuat Klan Xu mengirimkan pengintai khusus hanya untuk menonton pertarungan arena." Minlie menatapnya tak berkedip. "Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya. Aku bukan orang yang suka ikut campur urusan orang. Tapi besok, di arena, kau akan terbuka. Setiap gerakan, setiap helaan napas, akan diamati oleh mereka. Jika kau punya rahasia, jika kau menyembunyikan kekuatan, waspadalah. Mereka akan tahu."
"Terima kasih untuk peringatannya," kata Xu Hao, mengalihkan pandangan.
Minlie mengangguk, lalu berjalan ke meja dan menuang sendiri segelas air dari kendi. "Aku akan menonton besok. Dari tribun depan yang mahal itu, berkat diskusiku yang sengit dengan Gor." Dia tersenyum kecil. "Jangan mengecewakanku, ya. Aku sudah bertaruh seratus kristal menengah untuk kemenanganmu."
"Kau percaya aku bisa menang?"
"Peluangnya kecil. Tapi hidup ini membosankan kalau selalu memilih pihak yang aman." Minlie meneguk airnya. "Omong omong, setelah ini, ke mana? Kalau menang, kau akan punya seribu kristal tinggi. Cukup untuk hidup mewah di pulau manapun."
"Ada urusan yang harus diselesaikan di tempat lain," jawab Xu Hao samar.
"Urusan dengan Tetua Hong dan Sekte Gunung Jati?" tebak Minlie tiba tiba.
Xu Hao berbalik dengan cepat, matanya menyipit. "Bagaimana kau tahu?"
Minlie mengangkat bahu. "Gor bukan satu satunya yang punya telinga. Ada desas desus, walau sangat samar, tentang seorang kultivator muda kuat yang terlibat dalam insiden dengan cabang Klan Xu di Kota Besar Angin beberapa waktu lalu. Dan ada juga kabar tentang Sekte Gunung Jati yang diserang oleh klan Xu. Tidak sulit untuk menghubungkan titik titiknya.
Xu Hao diam. Dia meremehkan Minlie. Perempuan ini jauh lebih tajam dari yang dia kira.
"Tenang," kata Minlie, meletakkan gelas. "Aku tidak akan memberitahu siapa siapa. Sekali lagi, ini bukan urusanku. Tapi itu membuatku mengerti mengapa kau sangat berhati hati dengan Klan Xu."
Dia mendekat lagi. "Nasihatku yang kedua, kalau kau berencana pergi ke Sekte Gunung Jati, lakukan dengan sangat diam. Wilayah itu sudah berada di bawah pengawasan ketat sejak insiden Xu Zhan."
"Kenapa kau membantuku?" tanya Xu Hao lagi, pertanyaan yang sama seperti yang dia tanyakan pada Gor.
Minlie memandangnya sekilas, lalu tersenyum, namun kali ini senyumnya tidak mengandung keceriaan, hanya sebuah kepahitan yang dalam. "Karena aku juga punya urusan dengan klan klan besar. Mereka merenggut sesuatu yang sangat berharga dariku bertahun tahun yang lalu. Jadi, melihat seseorang yang mungkin bisa menjadi duri di daging mereka... itu cukup menghibur."
Dia berjalan ke pintu. "Istirahatlah, Hei Feng. Atau siapapun namamu yang sebenarnya. Besok, jadilah duri yang sangat tajam. Robek keangkuhan si raksasa itu. Dan buat para penonton dari Klan Xu itu gelisah."
Minlie pergi, meninggalkan Xu Hao sendirian dengan pikiran yang bergejolak.
Dia kembali ke posisi meditasinya, tapi kali ini pikirannya tidak tenang. Gambar gambar dari masa lalu muncul. Wajah orang tuanya, darah yang menggenang di gubuk desa Batu. Wajah Lianxue yang tersenyum lembut di puncak Gunung Tianhe. Wajah Bingwan dan Xue Bing yang menangis saat dia pergi.
"Klan Xu..." gumamnya, giginya berderit. "Kalian mengambil segalanya dariku. Bakat. Orang tua. Ketenangan. Dan sekarang, kalian bahkan mengincar kebebasanku yang terakhir."
Dia berdiri, tangannya mengepal begitu keras hingga buku buku putihnya. Tapi kemudian, dia menarik napas dalam dalam, memaksa dirinya tenang.
"Tidak. Emosi hanya akan mengaburkan pikiran. Besok, aku harus sempurna. Tidak ada kesalahan. Setelah mendapatkan kristal itu, aku akan pergi. Mencari Tetua Hong. Mencari petunjuk tentang pedang hitam dan dunia bawah laut. Dan kemudian... kemudian, waktunya akan tiba."
Dia memandang ke arah cermin di dinding, melihat wajahnya yang disamarkan sebagai Hei Feng sejak pertama kali tiba di tempat ini. Wajah yang keras, berotot, dengan parut kecil di dagu. Tapi di balik mata itu, ada api abadi dari Xu Hao yang sebenarnya.
Dia duduk kembali, menutup matanya. Kali ini, dia tidak bermeditasi pada Qi atau teknik. Dia bermeditasi pada kesabaran. Pada disiplin. Pada kendali.
Di luar, gerimis berangsur berhenti. Awan berarak, membiarkan cahaya bulan purnama yang terang menerpa bumi. Suara keramaian mulai mereda sedikit, karena para penonton mulai beristirahat untuk persiapan hari besar esok.
Malam semakin dalam. Di sebuah penginapan mewah tidak jauh dari arena, di ruang terbaik, dua pria duduk berhadapan. Yang satu tua, rambutnya putih seperti salju, diikat rapi di belakang. Wajahnya seperti pahatan batu, tanpa ekspresi. Yang satu lagi muda, tampan, tapi matanya berkeliling seperti elang yang mencari mangsa.
"Penilaianmu, Penatua Xu Li?" tanya yang muda.
Yang tua, Xu Li, memegang secangkir teh tapi tidak meminumnya. "Hei Feng. Soul Transformation akhir. Fondasi kuat. Tapi ada sesuatu yang... tidak selaras."
"Tidak selaras?"
"Qi-nya terlalu sempurna. Terlalu stabil. Seolah olah itu hanya lapisan luar dari sesuatu yang lebih dalam." Xu Li menaruh cangkirnya. "Cermin Silsilah Darah bereaksi lemah beberapa waktu lalu di wilayah ini, mencatat keturunan liar dengan tingkat Dao Awakening di sektor ini. Sinyalnya singkat, lalu hilang."
"Mungkinkah dia?" tanya yang muda, Xu Jian, mata nya berbinar.
"Sangat tidak mungkin. Dao Awakening adalah tingkat yang berbeda. Seorang Dao Awakening tidak akan turun ke arena pertarungan Soul Transformation. Tapi..." Xu Li berhenti. "Tapi kita harus memastikan. Besok, amati baik baik. Jika dia menggunakan sedikit saja hukum yang tidak wajar, atau jika ada anomali dalam darahnya yang tercium oleh cermin kecil tiruan silsilah darah yang kita bawa... maka kita akan bertindak."
"Menangkapnya?"
"Atau menghilangkannya. Tergantung perintah pusat. Keturunan liar, terutama yang berbakat, adalah ketidakstabilan. Mereka harus dikendalikan." Xu Li berdiri, berjalan ke jendela. "Pertarungan besok menarik bukan hanya untuk tontonan. Itu adalah ujian bagi si Hei Feng. Mari kita lihat seberapa jauh dia bisa pergi."
Di kamarnya, Xu Hao akhirnya membuka mata. Fajar masih jauh, tapi dia sudah tidak bisa duduk diam. Dia berdiri, mulai melakukan peregangan pelan, memanaskan setiap otot, setiap sendi.
Besok, dia bukan hanya akan bertarung melawan Borong.
Besok, dia akan berjalan di atas tali tipis di atas jurang yang penuh dengan mata mata dari musuh bebuyutannya.
Dan dia harus menang. Tidak ada pilihan lain.
Lambat laun, warna jingga pertama mulai mengusir kegelapan di ufuk timur. Hari pertarungan telah tiba.
up up up